Anak Jenius: My Triplets Smart Kid

Anak Jenius: My Triplets Smart Kid
Ada Apa Dengan Kei


__ADS_3

"Pokoknya jangan panggil dia ayah di depan bunda! Bunda tak mau kamu panggil dia sebagai ayah kamu! Dia bukan ayah kamu dan kita tidak tau apa maksud dari kebaikannya pada kita selama ini! Kamu dengar itu, Nak!?"


Andre tidak mengatakan apapapun. Anak itu menunduk dengan air mata membasahi pipinya.


Andre, walau usia anak itu masih 5 tahun tapi dia sudah mengerti apa itu perasaan.


Dan Andre merasa sangat bersalah karena ia telah membuat Bundanya selalu dalam masalah besar yang pastinya membuat sang Bunda menahan setiap rasa kesal yang muncul dalam hatinya setiap kali mendatangi lokasi syuting.


Mulai dari dibenci rekan kerjanya yang lain, menjadi patung hidup yang kerjanya hanya disuruh-suruh sutradara buat ini, buat itu. Gerakannya seperti ini, gerakannya harus seperti itu. Seolah-olah Kei menjadi wanita paling tidak memiliki pikiran dalam layar kaca film tanah air tersebut.


"Dan satu lagi!" ucap bundanya yang masih berkata dalam mode berbisik.


Andre menangangkat kepala.


"Kalau pria pelupa asal itu mengajakmu kemana-mana, jangan ikuti!"


"T-tapi Bunda…"


"Tidak ada tapi-tapian! Bunda tidak mau menerima masukan dari kamu! Bunda lagi pusing! Jangan tambah pikiran Bunda dengan perkataanmu itu!"


Andre kembali menunduk. Dalam hati ia berkata, yah kalau besok ada adegan yang mengharuskan aku dan ayah bersama, bagaiamana? Hatinya bersedih.


***


"Ini uangnya. Terima kasih ya, pak," Kei memberi ongkos pada supir yang mengantar Kei dan Andre sampai tujuan dengan selamat.


Kei berjalan rada kesal, tidak menunggu sang anak yang membuatnya begini selama perjalanan.


Andre dibiarkan turun dari taxi sendiri walau Kei juga yang menutup pintunya.


Hari sudah hampir malam, Kei hanya membawa tas perlengkapan sang anak dimana berupa pakaian dalam ganti dan beberapa kotak makanan.


"Bunda… Tunggu Andre," lirih anak yang selalu digendong Kei itu hampir menangis.


Tapi tiada respon dari Kei. Membuat anak itu berhenti melangkah dan duduk dengan kaki mengangkang di halaman.

__ADS_1


"Huaaaa…" Andre menangis.


Tetapi Kei belum juga peka akan tanda-tanda Andre bahwa ia perlu perhatian dari bundanya tersebut.


Hingga Kei berdiri di depan pintu rumahnya. Ia menghela napas akan segala keresahan satu hari yang membuat kepalanya pening dan tubuhnya pegal semua apalagi kaki.


Telapak tangan perempuan itu menyentuh gagang pintu.


Belum diambil kunci, pintu yang tertutup sudah di buka.


Memperlihatkan raut wajah tersenyum Bibi Gin yang belum mengetahui Andre menangis. "Kei? Kau sudah dat–" ucapan bibi Gin terhenti.


Bibi Gin berjalan lalu dari hadapan Kei dan mengangkat tubuh Andre seraya membersihkan bokong anak itu.


"Cup, cup, cup. Berhenti menangis ya, cucu Nenek. Haduh… Andre, kasihan sekali kamu nangis gini malah biarkan."


Bibi Gin berbalik dan mendekati Kei yang malah dengan tanpa bebannya berjalan memasuki rumah dan duduk menatap langit-langit ruang tamu.


Bibi Gin menggeleng kepala. "Ada apa dengan putriku itu ya Tuhan," gumamnya tidak mengerti.


Ya, Bibi Gin merasa ada sesuatu yang terjadi di lokasi syuting.


Tetapi bibi Gin memutuskan untuk membiarkan Kei tenang dahulu dengan tidak mengusik wanita muda itu untuk saat ini.


Bibi Gin memasukkan cucunya Andre ke dalam kamar.


Bersama Anna dan Alice yang menatap Andre dengan pandangan bingung sebab penampilan Andre benar-benar berantakan.


Rambutnya kunyel dan pakaiannya seperti habis bermain tanah.


"Nek, kenapa adek Andre?" tanya Alice mendekati Andre dan Bibi Gin yang baru menaruh tubuh kecil Andre di kursi milik Alice yang tergeletak di sudut ruangan dekat pintu keluar masuk.


"Adik kalian tak apa. Hm, tapi apa bisa kalian memandikannya?"


"Bisa Nek!" ucap girang Anna menyanggupi sedang Alice hanya mengangguk mengiyakan.

__ADS_1


"Soalnya Nenek perlu bicara dengan bunda kalian."


Senyuman Anna dan Alice langsung pudar saat perkataan sang Nenek terlontar. "Kenapa dengan Bunda, Nek?" tanya keduanya secara bersama-sama.


Bibi menggeleng, "Masalah orangtua. Kalian jangan menguping pembicaraan ya. Setelah memandikan Andre, kalian lanjutkanlah pekerjaan kalian."


"Baik, Nek."


***


Bibi Gin duduk di sofa samping tubuh Kei setelah menaruh minuman dingin berupa es melon telur kodok di meja hadapan Kei.


Bibi Gin sengaja menyajikannya karena ia tahu orang pusing akan merasa baikan jika meminum yang dingin-dingin.


Setidaknya meredakan emosi.


"Kei, minumlah dulu. Ada yang mau bibi bicarakan denganmu," ucap Bibi.


Kei menurut. Diminumnya segelas es melon dan bibi menunggu hingga tiga menit, baru ia memulai pembicaraan.


"Kau ada masalah, jangan tinggalkan anak. Sekalipun mungkin berat untukmu memikulnya."


"Huh… Tapi bukan karena itu Bi," Kei menatap sang Bibi dengan wajah lelahnya.


"Terus apa?"


"Jeremy."


"Kenapa dengan ayah anakmu itu?"


Kei mengerutkan kening. "Bukannya Kei sudah kata kalau dia bukan ayah anaknya Kei! Dia itu orang lain! Pria paling brengsek di dunia!" kesal Kei berteriak seperti orang yang tidak waras.


"Iya-iya. Bibi tak akan bilang kalau dia ayah anak-anakmu. Tapi… Memangnya, Jeremy buat apa sama kamu sampai begitu kesalnya dengan dia?"


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2