
Semua demi putriku supaya dia tidak mengganggu tidurku. Semua bukan karena aku mulai menyukai anak dari wanita perebut lelaki orang itu! Walau sudah berjalan lebih dari 30 tahun, tetap saja dendam ini harus kepertahankan! Enak saja dia malah menghancurkan kehidupanku dan keluargaku. Pakai dahulu harus anak itu pula yang menjadi pancinganku supaya mendapatkan Kara, sekarang anakku sendiri pula yang memaksaku untuk dekat dengannya. Ah, sial! Mengapa hidupku malah seperti ini!
Medya terus bersungut-sungut di dalam hati. Semua demi dirinya dan bukan karena dia suka terhadap Kei seperti ungkapan lewat suara hatinya tersebut.
Setelah sempat ia berkata iya, saya setuju, wanita paruh baya itu tampaknya mulai menyesali keputusan yang telah dibuatnya.
Namun ia tidak bisa mundur sebelum berperang, wanita itu masih memiliki gengsi, dan gengsi tersebut terbilang besar untuk porsi wanita yang memang adalah wanita paling angkuh dan tak tahu diri seperti Medya itu.
Hari sudah siang.
Tidak ada hal spesial yang dilakukan Medya di rumah Celica selain melihat kegiatan yang dilakukan Kei di rumah itu.
Kadang Kei membersihkan rumah milik Celica, membantu Celica menjaga anaknya sementara Celica sendiri istirahat, kemudian mengawasi ketiga anak-anaknya sendiri, dan Medya sungguh tidak mengerti mengapa Kei bisa melakukan semuanya tanpa banyak bersungut-sungut seperti dirinya.
Sekarang Kei bahkan sedang masak makanan untuk siang. Tepat pukul 12:00 akan terjadi sejam lagi. Melihat Kei yang memasak di dapur, Medya mendatangi dapur dan memperhatikan segala pekerjaan yang dilakukan Kei di sana seperti orang yang sama sekali tidak memiliki pikiran.
__ADS_1
"Alice," seru Kei pada Alice yang masih bermain dengan catatannya bersama dua saudaranya yang lain.
Alice mendatangi sang bunda, "Yes, mom?" [Iya, bunda?"
"Get some tea for grandma." [Ambilkan dulu teh buat nenek]
Alice mengangguk, dan mulai menuangkan teh ke dalam cangkir serta memberikannya pada Medya.
"It's grandma, have a drink." [Ini nenek, minumlah] ucap, suara mungil milik Alice yang sungguh menggemaskan di telinga Medya.
"Grandma?" [Nenek?] seru gadis kecil itu bingung. Lantaran Medya sama sekali tidak menerima cangkir berisi teh yang disodorkannya pada wanita itu.
"O-oh, yes. T-thank you." [O-oh, iya. T-terima kasih] akhirnya Medya merimanya. Alice tersenyum bahagia, kemudian ingin beranjak pergi dari sana.
Namun sebelum itu, Medya malah menarik tangan Alice, membuat gadis kecil Kei itu menoleh. "Why grandma?" [Kenapa nenek?]
__ADS_1
"Hm, can grandma talk to you?" [Hm, apa nenek bisa berbicara denganmu?] tanya Medya meminta izin.
Alice mengangguk, tanpa berkata apapun, dia menarik tangan nenek ke taman belakang rumah bersama kedua saudaranya yang lain.
"It's more convenient here," [Di sini lebih nyaman] ucap Alice sembari membawa Medya duduk bersampingan dengannya. Medya mengikut saja. Keduanya bahkan terdiam untuk sementara. Sebelum akhirnya Andre datang, dan mendekati Alice kakaknya.
"Why are you sitting with him!" [Untuk apa kakak duduk dengannya!] ucap Andre tampaknya pria kecil Kei itu sama sekali tidak menerima keberadaan Medya di sini.
"Why the hell, Ndre? She's our grandma," [Kenapa sih, Ndre? Dia nenek kita.] Alice membela Medya.
"She is evil! Bad people can't be friends with us!" [Dia itu jahat! Orang jahat tidak boleh berteman dengan kita!] balas Andre.
"Why is grandma bad? It's not that grandma is nice, she didn't hurt Alice," [Kenapa nenek jahat? Bukannya nenek baik, dia tidak menyakiti Alice]
Andre menarik tangan kakaknya tersebut. "Sister Anna, bring sister Alice with sister," [Kakak Anna, bawa kak Alice dengan kakak] titah Andre segera membuat Anna berdiri dan meninggalkan lukisannya.
__ADS_1
Andre memindah tangankan Alice ke Anna, kakaknya itu. "Here, Alice!" [Sini, Alice!]