Anak Jenius: My Triplets Smart Kid

Anak Jenius: My Triplets Smart Kid
Will You Marry Me?


__ADS_3

Mendengar ucapan keempat orang yang kini memelas minta maaf supaya mereka bisa bersama itu, sedikit membuat hatinya pilu.


Namun Ia tidak boleh begini. Kei menghela napas kemudian mulai berkata. "Hm, begini."


Mendengar satu kata mulai muncul kembali dari mulut Kei, Jeremy, Anna, Alice dan Andre diam dan memperhatikan seksama.


"Sebenarnya bukan tanpa asalan aku melakukan ini," ia memulai ucapan.


"Tapi kalian yang sungguh kejam membuatku tinggal sendiri dalam kehampaan," ia berkata lirih.


Kemudian menatap Jeremy. "Aku ragu, kamu–Jeremy bisa melakukan perkataanmu tadi. Yang mengatakan akan menjagaku dan melindungiku. Kalian pergi tanpa mengabari aku… Itu seperti menusukku dengan pedang!"


Mata ketiga anak-anaknya ikut membulat lebar.


"Lagipun," lanjut Kei. "Bukankah karena orangtuamu yang membuat semua ini menjadi rumit? Dia membuat hidupku yang susah tambah susah! Kamu tidak tau bagaimana menjadi aku, Jeremy! Kamu tidak mengerti…"

__ADS_1


Jeremy tetap terdiam. Meski pikirannya masih bertanya-tanya, mengapa Kei tiba-tiba menyerangnya seperti ini. Bukankah Jeremy sudah meminta maaf? Lagipun, semuanya sudah bisa dijawab dengan kepalanya kenapa orangtuanya seperti itu dan hidup Kei yang rumit tambah kacau kena imbas kelakuannya yang tidak diketahui mengapa bisa seperti itu.


Namun Jeremy bingung dengan cara pemikiran Kei. Jeremy tau ia salah, datang kemari untuk meminta maaf dan bersama sebagai keluarga, karena tiada cara yang lain selain itu…


Anak-anak mereka tambah besar. Semakin besar, semakin banyak pelajaran dari sekolah yang tidak pernah mereka gapai selama ini, seumur hidupnya. Tiba-tiba memasuki sekolah, Jeremy tidak bisa bayangkan gimana mereka setres dan bingung sendiri.


Tapi jangankan lah dulu sekolah, tanpa pernikahan yang melibatkan Kei dan Jeremy sebagai dua insan yang terpaksa ditakdirkan bersama…


Hey! Apa Jeremy perlu memaksa wanita ini? Rasanya lelah juga menunduk di depan wajahnya walau memang sudah seharusnya begitu. Menunggu dan menunggu akan membuat semuanya semakin kacau. Jeremy tidak ingin terjadi hal seperti itu.


Jika marah, semua ditarik ulur waktu bahkan kejadian enam tahun dimana semuanya bermula, Kei bisa mengingatnya meski Jeremy tidak terlampau mengingatnya.


Ia saat itu mabuk, apa yang bisa diingat? Selain bercak darah perawan yang ditinggalkan perempuan itu yang akhirnya membuat Jeremy sedikit merasa bersalah…


Se-playboy-playboy-nya dia sebagai lelaki, Jeremy tidak pernah memasuki perempuan yang masih perawan, dan jujur, Kei adalah gadis pertama yang memecahkan skor itu.

__ADS_1


Jeremy merasa lelah dengan semua omelan disertai tangisan yang semakin pilu di telinga Jeremy, membuat pria itu segera berdiri dan meraih tangan Kei.


Hal ini berhasil membuat Kei berhenti berbicara, dan melihat ke arah Jeremy. Jeremy mengambil ancang-ancang khas orang mau melamar, ia mengeluarkan cincin dari saku jaket yang lelaki ini masih gunakan, kemudian melamar dengan senyum manis meski merasa begitu canggung.


Meski ini bukan yang pertama kalinya, ada wanita yang terdahulu sebelum ini. Hanya saja ada suatu alasan membuat mereka berpisah… Ah, canggung itu merasa sampai ke ubun-ubun kepalanya.


"Will you marry me?" tanyanya.


Kei tetap terdiam dengan raut wajah terkejutnya. Hati Jeremy rasanya ingin bersorak, pasti Kei terkejut benar dengan hal ini.


Hingga…


"Kamu benar-benar tidak sakit, Jeremy?" tanya Kei ternyata karena alasan itulah maka wanita ini terkejut.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2