Anak Jenius: My Triplets Smart Kid

Anak Jenius: My Triplets Smart Kid
S2 Bab 13


__ADS_3

Huh.


Jeremy menghela napas. Ingatannya sedari tadi berfokus pada ucapan kedua anaknya yang mendadak buka suara dan membuatnya bungkam itu.


"Aku salah ya, selama ini?" gumam pria itu sembari duduk di sofa dan melihat ke satu arah, tanpa berkedip.


Jeremy, meski selama ini selalu merasa baik dengan Kei setelah Kei membuka hatinya untuk Jeremy, Jeremy merasa ia terlalu mengabaikan ketiga anak-anaknya yang lain.


Mereka memang selalu tampak baik-baik saja. Tapi jika dilihat-lihat dari kondisi hati mereka, Jeremy tidak tau kalau mereka kesepian karena Jeremy terlalu sibuk dengan Kei dan melupakan Anna, Alice dan Andre secara berkala.


Seolah ketiga anak-anaknya itu hanya sebagai perantara untuk mendapatkan hati Bundanya saja, dan itu terjadi tidak lebih dari memanfaatkan tanpa membalas budi.


Jeremy merasa dia gagal! Lihatlah, wajahnya kini terlihat sangat sedih dan bersalah.


"Apa aku perlu memberi mereka hadiah tanpa pergi menyusul kolegaku? Keluarga lebih penting, bukan? Aku tidak ingin mereka membenciku, meski aku tidak punya kemampuan baik untuk membujuk hati seseorang…" Jeremy memutuskan.

__ADS_1


Di sisi lain.


Di kamar Jeremy dan Kei, Anna dan Andre terlihat memandangi Bunda mereka dalam diam.


"Bunda…" seru Andre berbisik kecil.


"Bunda bisa bangun sekarang, tidak?" bisik Andre lagi.


Namun seolah tiada jawaban. Mereka tampak khawatir.


"Bunda, tidak bangun dari tadi," ucapnya. Padahal baru kurang dari tiga menit sejak Jeremy memutuskan keluar dari kamar itu. "Bunda tidak apa kan kak?" lanjut Andre.


Anna mengangguk. "Bunda pasti baik-baik saja," ia menenangkan. "Kamu ingat kan kata dokter? Bunda hanya perlu istirahat. Tidak perlu khawatir karena isi suntikan yang tadi kita lihat waktu dokter menyuntikkan cairan itu ke kulit bunda hanya vitamin," Anna menerangkan seperti gadis cerdas pada umumnya.


Andre mengangguk. "Tapi sampai kapan bunda baru bangun?"

__ADS_1


Anna terdiam. Dia menatap Kei bundanya dalam diam. Wanita yang berbaring di ranjang dengan napas teratur dan wajah damainya itu, terlihat sangat nyaman dalam tidurnya, meski Anna tau bisa saja membangunkan bundanya secepat yang ia bisa, tapi tetap saja, Anna tidak tega.


Perlahan pandangannya beralih ke perut bundanya. Anak itu memandangi perut Bundanya dalam pertanyaan mendasar, bagaimana bisa ada orang dalam perut serata yang akan mengembang suatu waktu itu.


Anna menyentuh perut bundanya, sedikit ke bawah, terasa ada tenjolan kecil yang terasa lumayan keras berbeda dari yang lainnya.


Namun Anna tidak berani menyentuhnya lebih dalam dan menekannya, teringat dahulu, Celica–Bibinya masa hamil anak keempat, ia pernah melihat dan merasakan ini sebelumnya.


Rasa penasaran membuatnya menekan sedikit lebih kuat bagian perut itu, Nenek Gina langsung memperingatinya, supaya tidak melakukan hal kecil yang berdampak besar untuk kelangsungan kehidupan seseorang yang bahkan belum melihat dunia dengan mata kepalanya sendiri.


Memang tidak mengerti gimana cara Tuhan membuat semua manusia ini awalnya berawal dari dalam perut, ia hanya sering mendengar dongeng dari Gina sang Nenek tentang berbagai awal mula terjadinya sesuatu.


Maka ketika bertanya, Nenek Gina menerangkan tanpa peduli Anna, Alice dan Andre yang mengerti atau justru sebaliknya.


"Kenapa Bunda bisa tidur di sini? Apa yang terjadi?" suara khas orang baru bangun tidur itu menyadarkan Anna dari menyentuh perut bundanya itu. Ia melepaskan elusan lembut yang dilakukannya untuk bagian kecil dari perut yang tidak tertutup pakaian itu.

__ADS_1


__ADS_2