Anak Jenius: My Triplets Smart Kid

Anak Jenius: My Triplets Smart Kid
Kehebohan Sam


__ADS_3

Masih dalam suasana bertelepon.


"Jadi kakak sekarang tinggalnya dimana? Kakak tidak diculik 'kan?" tanya Sam khawatir.


Jeremy menggeleng. "Tidak. Sama sekali tidak. Siapa yang mau menculikku? Kecuali aku yang meminta untuk diculik," aku Jeremy.


Disebrang sana Sam mengerutkan kening. Ia merasa bingung sendiri.


"Oh, ayolah kak. Jangan buat adikmu ini penasaran…" tuntut Sam.


"Baik, baik. Aku lagi di rumah Kei. Se–" kalimat Jeremy terhenti.


"Kakak dimana!?"


Di sebrang sana, Sam benar-benar terkejut bukan main.


Bahkan pria yang sedang memasak makanan sendiri sebelum memulai aktivitasnya kembali itu hampir menjatuhkan telenan yang isinya potongan sayur mayur untuk ditumis.


Beruntung ia cekatan hingga telepon genggam yang ia pakai dan diselipkan antara kepala dan bahunya itu tidak ikut terjatuh.


"Di rumah Kei," jawab Jeremy simple.


Sam di apartemennya tersebut segera mematikan kompor dan meletakkan telenenan di atas meja asal.


Lelaki itu benar-benar tidak percaya… "G-gimana ceritanya? Bukannya biasa kakak sama sekali tidak peduli dengan wanita? Sekarang…" Sam menutup mulut tidak berani berkata.

__ADS_1


"Jangan berpikir macam-macam dulu ya," ancam Jeremy dengan mengekeh kembali.


"Kakak hanya kasihan. Dan sudah banyak yang terjadi di sini. Kalau kakak ceritakan satu persatu pasti kamu akan terkejut! Bukan main," Jeremy memberi kisi.


"Apalah itu kak?"


"Ada–"


"Ayah," sebuah seruan dari Alice.


Jeremy menoleh ke arah putri kedua Kei tersebut dengan pandangan penasaran, apa yang ingin dikatakan Alice padanya. "Kenapa nak?"


"Ayah? … Anak? Ka-kakak! Jelaskan, apa yang kakak maksud dengan Ayah … Anak itu!?" Sam di telepon merasa semakin heboh.


Jeremy tidak menjawab.


Jeremy pikir, hanya akan merusak citra baik Sam jika terdengar ia berteriak seperti orang gila di dalam panggilan suara tersebut apalagi jika didengar Andre yang memiliki pendengaran telinga yang cukup jeli.


Jeremy mendekati Alice yang sedang menulis dalam buku diary-nya tersebut.


"Kenapa putri Ayah?" tanyanya penasaran.


Tetap, pandangan mata pria itu melihat selembar halaman berisi tulisan gaya anak TK--seperti usia Anna, Alice dan Andre yang tidak Jeremy ketahui sampai sekarang belum sekolah.


Yah, semua disebabkan karena dokumen yang belum lengkap. Hanya ada nama Bunda yaitu Kei, dan ayahnya, kosong.

__ADS_1


Takutnya malah dicap anak haram… Anak yang hingga kini tidak diketahui siapa ayahnya dan malah diledek habis oleh siswa bahkan kemungkinan guru yang berpikiran bahwa Kei adalah wanita malam.


Alice yang duduk di samping Jeremy yang berdiri menyamping, menoleh.


Buku setebal hampir dua ratus lembar itu terangkat oleh tangan kecil dan mungil Alice yang terlihat cukup menggemaskan untuk disentuh.


"Ini yah! Alice buat cerita kita!"


Kening Jeremy sontak berkerut, "Cerita kita?"


Alice mengangguk. "Iya, Yah! Cerita kita. Alice buat Ayah jadi pahlawan supernya disana! Alice pernah lihat di TV tentang ayah dan putrinya melawan monster! Jadi Alice sengaja buat ayah punya cerita sendiri!" penjelasan dari Alice.


Jeremy mengangguk dengan senyuman cukup lebar, "Wah, sepertinya bagus. Apa boleh, ayah membacanya?"


Senyuman Alice mengambang begitu lebarnya. Pasalnya Alice tidak pernah mendapat apresiasi sebesar ini walau hanya sekedar pujian lewat kata-kata.


Sebenarnya bukan karena kata-katanya, tetapi siapa yang berbicara.


Pria dewasa yang dianggapnya sebagai ayah! Seseorang yang dirindukannya!


Walau Alice merasa cukup tahu diri, jika sebenarnya Jeremy bukanlah ayahnya. Dan kemungkinan itulah kenyataan paling menyakitkan untuk sekarang ini.


Tetapi selama Jeremy merasa tidak keberatan untuk sebutan ajaib itu, Alice tetap merasa senang begitu juga dengan saudara-saudaranya yang lain.


"Boleh, Yah! Boleh," Alice memperbolehkannya.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2