
Hallo kakak-kakak. Author punya satu novel baru judulnya LEBIH BAHAGIA SETELAH BERCERAI. Cerita baru author ini, akan memunculkan salah satu tokoh dalam novel Anak Jenius: My Triplets Smart Kid.
Siapakah itu? Yuk langsung baca novelnya. Cari di kolom pencarian boleh, klik profil author juga boleh.
Bab 1. Minta Izin Menikah?
POV Mia.
"Mas mau nikah sama Sarah, Mia."
"Uhuk, apa?!" aku terkejut. Semudah itu kah suamiku meminta menikahi perempuan lain?
"Siapa Sarah, Mas?" aku berusaha bertanya, bersuara selembut mungkin berharap Mas Dimas tidak marah.
"Dia cinta pertamaku," jawab mas Dimas singkat.
Tiba-tiba hati ini sakit, "Cinta pertama?" tanyaku tidak percaya. "Bukannya aku dan Audrey cinta pertama Mas?"
"Dia cinta mas yang sebenarnya," kata mas Dimas enteng.
Oh Tuhan … aku tidak percaya Mas Dimas mampu mengatakan hal itu semudah membalikkan telapak tangan!
Apa mas Dimas tidak memperhatikan perasaanku yang berusaha menjadi istri berbakti untuknya?
"Aku punya kekurangan ya Mas?"
Dimas menggeleng, "Tidak. Kamu Mama yang baik untuk Audrey."
Mendengar kata mas Dimas aku mengoreksi kata 'Mama yang baik untuk Audrey'.
__ADS_1
"Berarti aku kurang jadi istri yang baik untuk mas ya?" Hatiku mulai tidak nyaman. Ingin marah, tapi aku takut suamiku main tangan dan malah beneran meninggalkan rumah.
Mas Dimas menggeleng.
"Lalu?"
"Sarah sudah dicerai suaminya, karena Mas masih cinta sama Sarah, Mas mau nikah sama Sarah. Kamu mau kan Sarah jadi istri Mas?"
Aku tidak tahu Mas Dimas sedang meminta izin atau apa. "Jadi mas, mau minta izin sama aku biar bisa nikah sama Sarah?"
Lagi-lagi Mas Dimas menggeleng, yang membuatku menggaruk kepala, antara bingung dan kesal dengan sikap yang ditunjukkan suamiku.
"Ayolah mas. Jangan mempermainkan perasaanku. Atau mas lagi nge-prank, ya?"
Lagi-lagi mas Rach menggeleng. Wajahnya yang datar tanpa ekspresi itu sangat mendukung jika saja dia sedang mempermainkan ku.
"Coba jelaskan, Mas. Mas mau apa?"
Aku tercengang mendengar jawabannya, "Tapi kenapa Mas? Aku ada salah, atau ada sedikit kelakuanku yang membuat Mas kurang nyaman? Coba jelaskan, Mas! Aku menunggu, nih." aku mengulang pertanyaan. Mas Dimas sungguh membuatku sedikit emosi.
"Maaf Mia. Tapi cinta di hati Mas sudah tidak ada untukmu."
Aku terdiam. Bingung, dan merasa aneh dengan keadaan. "Ga ada cinta di hati Mas untukku?"
"Ya. Jujur, Mas tidak pernah menaruh cinta untuk kamu di hati ini. Berat sekali memang, tapi Mas berusaha. Hanya saja, wajah Sarah semakin terbayang dalam setiap detik kedipan mata Mas."
Sesak, sedih, kecewa memang. Tapi aku bersyukur Mas Dimas sudah jujur.
"Jadi Mas mau mengakhiri semua sandiwara ini?" tanyaku memastikan.
__ADS_1
Mas Dimas malah mengangguk. Sebuah ekspresi sungguh-sungguh yang dia tampilan di wajahnya membuat dadaku sakit.
"Tidak ada sedikitpun cinta mas untuk Mia, Mas?" aku bertanya padanya untuk kedua kali.
"Tidak. Tidak ada."
Berkali-kali kucoba bertanya hal sama, tapi jawabannya tidak ada. Akhirnya aku yakin dia tidak memiliki cinta di hatinya untukku ketika kucoba menyentuh tangannya dan melakukan beberapa sentuhan yang mengundang gairah, sekarang aku tahu dia hanya bernafsu padaku, bukan mencintaiku.
Tidak apa.
Aku berusaha tegar.
"Okelah kalau mas tidak mencintaiku, tapi apa mas tidak bahagia selama tujuh tahun hidup bersamaku dan adanya Audrey? Mas, tidak kasihan sama Audrey? Dia masih kecil loh, mas. Audrey perlu kamu dalam masa perkembangannya."
Aku masih berusaha mempertahankan suamiku dari keputusan gilanya. Menikahi perempuan lain di saat kami tidak sedang berselisih bukankah hal yang aneh dan langka?
"Jadi kamu menolak niatan Mas dengan mengatasnamakan Audrey, begitu Mia?" suara Mas Dimas mulai meninggi.
"Bukan … bukan begitu, Mas. Mia hanya–"
"Hanya apa? Mas mau menikah ya terserah Mas, kalau mas tidak mau bisa saja mas nikah tanpa izin dari kamu. Sudah cukup semua sandiwara ini. Kita hanya pasangan perjodohan, dan mas sama sekali tidak bahagia dengan pernikahan ini. Mas muak, Mia. Muak!"
Suara Mas Dimas terdengar begitu kecewa, aku cukup mengerti. Tujuh tahun lalu juga aku pernah merasakannya.
Masa itu masih di minggu-minggu pertama pernikahan kami. Aku merasa sangat berbeda dan kurang nyaman berada dalam rumah orang lain. Tidak peduli jika orang lain itu adalah suamiku.
Tapi aku berusaha menenangkan diri dan menerima takdir. Berusaha melakukan pekerjaan sesuai kemampuanku dan belajar mencintai suamiku. Kami memang tidak saling mengenal, karena pernikahan ini dimulai karena perjodohan. Dan sekarang, aku yang dahulu berusaha kini menuai hasilnya. Aku berhasil mencintai suamiku.
Tapi mengapa suamiku tidak dapat melakukannya?
__ADS_1
Yuk, mampir siapa tahu suka. Author tunggu ya😁