ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu

ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu
Membalut Luka


__ADS_3

Hanya dalam beberapa menit saja semua items yang disediakan untuk dijual hari ini ludes terjual karena promo discount yang diberikan oleh Dirga membuat banyak pengunjung yang memesan buket bunga.


" Ya Allah, Nin. Tadi itu Tuan Dirga ganteng banget, ya? Istrinya juga cantik banget, pakai hijab lagi. Terus juga nggak sombong dan ramah banget ya, Allah ..." ucap Yeti terkagum pada sosok Dirga dan Kirania, setelah acara grand opening selesai dan pengunjung pun mulai menyusut.


" Iya, Cici juga kagum sama keramahan Tuan dan Nyonya Dirga, Nin. Semoga kedatangan mereka di sini bawa berkah buat toko ini dan membuat Alabama Florist semakin terkenal ya, Nin." ucap Lucy penuh harap.


" Aamiin, Ci." Anindita, Yeti dan Mita menyahuti bersamaan.


" Tuan Dirga kelihatan sayang sekali sama istrinya ya, Mbak Anin? Iihh ... beruntung sekali yang jadi istrinya Tuan Dirga. Aku juga mau deh, dijadikan istri kedua Tuan Dirga." Mita terkikik membuat semua orang yang ada di sana memusatkan pandangan kepadanya.


" Astaghfirullahal adzim, Mbak Mita ..." Anindita sampai menggelengkan kepalanya.


" Kamu mau jadi bibit peka*kor, Mit?" sindir Lucy.


" Ngaca juga kali, Mit. Mau jadi istri Tuan Dirga pasti nggak sembarang. Nggak hanya cantik doang! Pasti kaya raya juga dan orang terpandang. Sama-sama anak sultan lah pokoknya" Yeti berpendapat melihat sosok Kirania tadi.


" Tapi yang saya dengar dari Bu Rania, beliau itu orang biasa seperti kita-kita lho, Mbak. Dan Tuan Dirga itu sudah cinta banget sama Bu Rania sejak masih kuliah. Katanya Tuan Dirga itu idola di kampusnya sedangkan Bu Rania hanya mahasiswi kuper. Bu Rania bilang dia itu seperti Cinderella yang bertemu dengan pangeran." Anindita mengingat cerita Kirania tentang kisahnya dengan Dirga saat dia berkunjung ke tempat kerja Ricky beberapa hari lalu.


" Wah, kalau gitu aku juga mau dong berharap bertemu dengan pangeran. Nggak mesti yang bos seperti Tuan Dirga, seperti Tuan Ricky juga nggak apa-apa, aku mau ..." Mita kembali tertawa kecil membuat Anindita langsung mengeryitkan keningnya saat nama Ricky disebut oleh Mita.


" Bangun, Mit! Sudah siang jangan mimpi terus!!" sindir Yeti di telinga Mita hingga membuat Mita semakin tertawa karena merasa kegelian.


" Nin, kamu kalau mau istirahat, istirahat saja. Ada tamu juga 'kan di atas. Barangkali mau mengobrol sama Nyonya Dirga lagi." Lucy yang melihat Anindita nampak sedikit kelelahan menyuruh Anindita menghentikan aktivitasnya.


" Iya, Ci. Nggak apa-apa ya, saya istirahat dulu?" tanya Anindita kepada Lucy karena banyaknya pengunjung tadi membuat dia agak sedikit kerepotan.


" Iya, boleh saja dong, Nin." Lucy pun mengijinkan karena dia memang sudah diberi amanat Ricky untuk menjaga, agar Anindita jangan sampai merasa kelelahan.


" Makasih, Ci, Oh iya, saya mau beli ini, Ci " Anindita mengambil satu buket mawar merah yang ditaruh di vas kaca bening yang memang sejak awal sudah dia simpan karena dia berniat membelinya.


" Ini juga discount tujuh puluh lima persen 'kan, Ci?" tanya Anindita kemudian.

__ADS_1


" Iya, itu juga discount, Nin." Lucy menganggukkan kepalanya.


" Ya sudah saya mau ya, Ci. Mau saya taruh di kamar," ujar Anindita.


" Cieee, Mbak Anin kepengen seperti istrinya Tuan Dirga dikasih buket mawar, bilang sama Tuan Ricky dong, Mbak. Biar dikasih buket mawar juga sama Tuan Ricky," celetuk Mita membuat Anindita langsung mendelik ke arahnya.


" Hush, ngaco kamu, Mit!" sergah Yeti menimpali ucapan Mita.


" Iya, kamu ini ada-ada saja, Mit. Kenapa bawa-bawa nama Tuan Ricky segala?" Lucy yang sebenarnya menyadari Ricky memang memberi perhatian ekstra kepada Anindita, tapi dia tidak ingin mengartikan itu terlalu cepat, apalagi mengatakan langsung kepada Anindita karena Anindita baru saja kehilangan suami yang dicintainya.


" Hmmm, Ci Lucy sama Mbak Yeti nggak tahu, sih! Mereka berdua itu kalau bertemu suka saling pandang-pandangan, lho!" ucap Mita kembali.


Apa yang dikatakan Mita seketika membuat wajah Anindita bersemu karena menahan malu telah ketahuan pernah beradu pandang dengan Ricky.


" Hmmm, Ci. Mbak Yeti ... saya permisi duluan, ya! Ini buketnya saya bayar nanti ya, Ci. Assalamualaikum ..." Anindita bergegas meninggalkan toko bunga daripada akan terus menjadi bulan-bulanan Mita.


***


Dia mendengar suara Ricky dan Dirga lah yang ada di dalam apartemen itu. Anindita tidak menduga jika mereka berdua mengobrol di apartemen yang dia tinggali saat ini.


" Karena aku ingin kalian, kau, Rama dan Anindita itu menjadi keluarga yang seutuhnya. Karena aku ingin kau segera menikahi Anindita sebelum ada pria lain lagi yang akan menikahinya!"


Deg


Anindita tersentak kaget mendengar ucapan Dirga. Seketika itu juga tubuhnya terhuyung ke belakang, bahkan vas kaca berisi buket mawar yang ada di tangannya terlepas hingga menimbulkan bunyi.


Praannngg


Suara vas bunga berbahan kaca yang terjatuh hingga mengeluarkan bunyi kencang itu akhirnya membuat Dirga dan Ricky terperanjat, apalagi saat melihat sosok Anindita yang kini sedang berjongkok mengambil pecahan kaca dengan dada yang bergejolak.


" Anin, kamu nggak apa-apa?" Ricky yang melihat Anindita sedang berjongkok langsung menghampiri wanita itu dan ikut membantu Anindita mengambil pecahan vas kaca itu.

__ADS_1


" Hati-hati nanti terkena pecahannya! Sudah biar saya saja yang membersihkan pecahannya!" Ricky meminta Anindita berhenti mengambil serpihan kaca itu. Namun Anindita tidak memperdulikan apa yang diminta Ricky.


" Aaaww ...!" Anindita meringis karena jarinya ternyata tergores pecahan kaca itu hingga mengeluarkan cairan berwana merah.


" Jari kamu terluka?" Ricky yang melihat jari telunjuk Anindita berdarah dengan cepat mengambil tangan Anindita dan langsung menghisap jari Anindita yang berdarah itu dengan mulutnya.


Tentu saja sikap yang ditunjukkan Ricky kepadanya membuat Anindita terkesiap bahkan melebarkan bola matanya. Dia ingin menarik jarinya dari mulut Ricky namun pria itu tak mau melepaskannya.


Tak lama kemudian Ricky bangkit seraya menarik tangan Anindita untuk mengikutinya ke arah dapur. Ricky lalu membilas jari Anindita yang tadi tersayat pecahan kaca dengan air yang mengalir dari kran. Kemudian dia menarik kursi di meja makan dan menyuruh Anindita duduk. Dia lalu mengambil obat luka dan meneteskan obat itu di luka yang ada di jari Anindita kemudian membalut jari Anindita dengan plester luka.


Sementara Anindita seketika termangu dengan tindakan cepat yang dilakukan Ricky kepadanya. Dia menatap pria di hadapannya tanpa berkedip yang kini telah selesai membalut luka di jarinya.


Setelah pertolongan yang dia lakukan untuk mengobati Anindita selesai, Ricky pun kini menaikan pandangannya ke arah Anindita yang juga sedang menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Entah untuk yang keberapa kalinya mereka melakukan aktivitas adu pandang seperti ini.


Tentu saja aktivitas yang dilakukan Ricky sejak mendekati Anindita, menghisap jari Anindita yang terluka, hingga mengobati Anindita itu terekam jelas di mata Dirgantara yang kini berdiri di pintu dapur seraya menyandarkan tubuhnya di dinding dengan berlipat tangan di dada.


" Eheemm, apa kalian tidak menyadari ada mahluk hidup lain di ruangan ini selain kalian berdua?" Suara bariton Dirga seketika membuat Anindita dan Ricky memutuskan pandangannya, dan mereka berdua menjadi salah tingkah.


" Kau tau, Anin? Asistenku ini tidak hanya ahli dalam mengurusi masalah yang terjadi di perusahaan tapi juga ahli dalam membalut luka, luka di luar maupun luka di hati. Benar 'kan, Rick?" Dirga menyeringai melirik ke asistennya itu.


Tentu saja apa yang dikatakan Dirga membuat Anindita tidak kuasa berada di ruangan itu lebih lama, hingga membuat dirinya bergegas menuju kamarnya dengan dada yang bergemuruh tak karuan.


*


*


*


Bersambung ...


Abang biang kerok, nih!🤭

__ADS_1


Happy Readingā¤ļø


__ADS_2