ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu

ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu
Bertemu Keluarga Besar Arya


__ADS_3

Anindita menarik nafas dalam-dalam. Hari ini adalah hari pembahasan soal rencana pernikahan dirinya dengan Arya. Dan hari ini dia akan dipertemukan dengan keluarga besar Arya. Tentu saja dia akan dipertemukan dengan kedua adik Arya dan juga Putri, anak Arya pun akan hadir di acara itu.


" Semangat ..." Anindita terkesiap saat tangan kokoh Arya menggenggam jemari tangannya dan suara bisikan Arya terdengar jelas di telinganya bahkan hembusan nafas Arya terasa hangat terasa di pipinya.


Anindita tersenyum seraya menganggukkan kepalanya.


" Ayo kita turun." Arya kemudian turun dari mobilnya. Kemudian berputar membukakan pintu mobil untuk Anindita.


" Tita, tolong kamu temani Ramadhan ya nanti di dalam." Arya meminta ART yang sengaja dia bawa untuk nenemani Ramadhan di saat dia berbincang dengan keluarganya.


Di dalam rumah dinas Arya tentu saja Anindita selalu disambut hangat oleh Mama Arya yang sudah menunggu di ruangan tamu bersama beberapa orang yang sudah berkumpul di sana.


Setelah menyalami Mama Arya, Anindita lalu diperkenalkan dengan adik-adik dan juga ipar dari Arya satu persatu.


" Anin, kenalkan ini adik-adik dan juga iparnya Arya. Ini adik Arya yang paling besar namanya Ria dan suaminya Fadli. Kalau yang ini adik bungsu Arya namamya Lanny dan suaminya Eko. Mereka ini tidak tinggal di Jakarta. Kalau Ria di NTT karena suaminya angkatan darat dan bertugas di sana. Kalau Lanny sekarang ini tinggal di Penang," Mama Arya memperkenalkan satu-persatu anak dan menantunya.


" Mbak Anin ke sini sendiri?" tanya Ria setelah mereka saling bersalaman.


" Hmmm, saya sama anak saya, Ramadhan." Anindita nampak gugup menjawab pertanyaan Ria.


" Itu saya tahu, maksud saya ... keluarga Mbak Anin tidak ikut datang kemari? Bukannya kita ini mau membicarakan soal pernikahan Mas Arya dan Mbak Anin?"


Deg


Dada Anindita terasa bergemuruh, satu pertanyaan adik dari Arya itu saja sudah membuat dirinya menegang.


" Anindita ini yatim piatu dan tidak punya adik dan kakak. Keluarga lainnya ... Anin sendiri tidak tahu keberadaannya di mana." Arya mencoba memberi penjelasan.


" Sebatang kara?" tanya Lanny ikut menimpali.


" Anin punya anak, dia juga punya teman-teman yang sudah menganggap dia seperti saudara." Arya nampak tidak suka dengan kata-kata yang dilontarkan adiknya.


" Tetap saja dia nggak punya sanak saudara 'kan, Mas?" Lanny memutar bola matanya.

__ADS_1


" Kalau boleh tahu kenapa Mbak Anin berpisah dengan suaminya dulu?" tanya Ria lagi.


Lidah Anindita seketika tarasa kelu, dia seakan sulit menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang ditujukan kepadanya. Dia sendiri bingung harus menjawab apa? Rasanya saat ini dia sedang berada di ruang sidang dan didakwa atas kesalahan yang tidak dia lakukan.


" Anin dan ayah Rama berpisah karena sudah tidak berjodoh, sudah tidak ada kecocokan dalam rumah tangga mereka." Arya mengarang cerita demi menyelamatkan Anindita dari pertanyaan Ria.


" Mas, aku sama Lanny itu tanya ke Mbak Anin, kenapa Mas Arya terus yang dari tadi menjawab pertanyaan kita?" protes Ria karena Anindita hanya terlihat diam dan meremas gaun dengan jemarinya sedangkan untuk setiap pertanyaan yang dilemparkan untuk Anindita justru kakaknya lah yang menjawab.


" Masalahnya kalian ini bertanya sudah seperti wartawan yang sedang memburu berita. Terang saja bikin Anin grogi," keluh Arya.


" Wajar dong, Mas! Mas ini 'kan ingin menghadirkan anggota keluarga baru. Jadi mesti jelas bibit bebet bobotnya!" tegas Lanny membela kakak perempuannya.


Deg


Anindita menelan salivanya, bahkan tarikan nafas yang dia hirup terasa tercekat di tenggorokan sementara dadanya terasa sesak mendengar kata bibit bebet bobot. Karena tentu saja jika kriterianya itu yang dipakai untuk bisa mendampingi Arya dia sama sekali tidak termasuk ke dalam kriteria itu.


" Aku setuju dengan Lanny, tiga hal itu mesti dikedepankan untuk Mas Arya dalam memilih calon pendamping hidup lagi. Benar 'kan, Ma?" Ria mendukung Lanny.


" Bibit bebet bobot memang penting, tapi itu tidak sepenuhnya menjamin kebahagiaan rumah tangga seseorang. Rumah tangga Mas kalian sebelumnya ini yang jadi contohnya. Sejauh ini Mama kenal Anin itu wanita yang baik dan sangat cocok mendampingi Arya. Jadi Mama pribadi nggak keberatan kalau Arya ingin meneruskan niatnya memperistri Anin." Kalimat-kalimat yang keluar dari mulut Mama Arya bagaikan penyejuk di hati Anindita yang merasa gundah.


" Putri sini dekat duduk dekat Eyang." Mama Arya menepuk sofa kosong di dekat kursi rodanya.


" Putri, apa Putri tahu kalau Papa akan menikah lagi? Dan Putri akan punya Mama baru?' tanya Ria kemudian setelah Putri di dekat Eyangnya.


" Ria, kenapa bahas hal ini depan Putri?" Mama Arya nampak protes atas pertanyaan yang diberikan Ria kepada Putri.


" Putri juga mesti tahu 'kan kalau dia itu akan punya Mama tiri," sahut Ria.


" Putri nggak mau punya Mama tiri!" sergah Putri cepat.


Deg


Terang saja apa yang dikatakan Putri membuat hati Anindita kembali mencelos. Sepertinya saat ini orang yang berpihak kepadanya hanya Arya dan Mama Arya saja. Sedangkan yang lain terlihat sangat menentang keberadaannya.

__ADS_1


" Mas Arya dengar sendiri, kan? Putri saja menolak!" Ria memutar bola matanya.


" Lalu kamu ingin melihat Mas mu ini menduda seumur hidup?!" ketus Arya kesal.


" Putri, kenapa Putri nggak ingin punya Mama tiri?" tanya Mama Arya meminta penjelasan kepada cucunya itu.


" Karena Mama tiri itu jahat, Eyang." Putri mengatakan alasannya kenapa dia menolak mempunyai mama baru.


" Putri, tidak semua Mama tiri itu jahat, Nak. Banyak juga kok Mama tiri yang baik." Mama Arya mencoba meluruskan anggapan Putri tentang imej buruk akan mama tiri.


" Tapi teman Putri sering dipukul sama mama tirinya, Eyang." Putri memberikan contoh yang dialami oleh temannya.


" Putri harus percaya kata-kata Eyang, ya! Tidak semua Mama tiri itu jahat dan kejam. Mungkin teman Putri itu sedang tidak beruntung saja dapat Mama tirinya yang galak. Tapi Tante Anin, Putri tahu sendiri , kan? Tante Anin itu baik, kadang suka bikinkan blackforest kesukaan Putri juga, kan?" Mama Arya terus saja memberikan pengertian kepada Putri agar Putri tidak membenci Anindita.


Akhirnya percakapan dengan keluarga Arya berakhir. Adik-adik Arya sepertinya terpaks menerima kehadiran Anindita karena Arya tetap teguh dengan pendiriannya ditambah lagi restu dari Mama Arya.


Anindita mengandeng Ramadhan karena dia baru saja menjemput Ramadhan yang sedari tadi bermain di ruang keluarga rumah dinas Arya.


" Mas, apa Mas nggak mau pikir-pikir lagi? Mas bisa lho, dapat wanita yang berpendidikan untuk jadi istri Mas. Mas ini 'kan kepala sekolah, apa kata guru-guru dan wali murid Mas nanti kalau Mas menikah dengan Mbak Anin?"


Anindita menghentikan langkahnya saat dia mendengat suara Lanny sedang membicarakannya. Dadanya kembali terasa sesak, bahkan matanya sudah mulai mengembun.


" Benar, Mas. Setidaknya carilah wanita yang setara gitu seperti keluarga kita. Masa janda anak satu yang cuma kerja di toko bunga. Jangan malu-maluin dong, Mas!" Setelah tadi Ria yang bicara kini giliran Lanny yang berpendapat.


" Mas ini sedang cari calon istri yang bisa mengurus rumah tangga, mengurus Mas dan anak-anak. Yang selalu bisa memberikan semangat untuk Mas. Yang bisa diajak bertukar pikiran. Bukan mencari pegawai hingga perlu pendidikan yang tinggi! Anindita itu sudah pilihan terbaik untuk Mas. Dan Mas akan tetap menikahi Anin, terserah kalian setuju atau tidak!" tegas Arya kemudian beranjak ingin menyusul Anindita di dalam, namun saat dia baru memasuki ruang keluarga dia mendapati sosok Anindita yang sedang berdiri di antara pintu ruang tamu dan ruang keluarga dengan bola mata yang sudah mengembun.


" Anin ??" Arya terperanjat melihat Anindita yang akhirnya malah tak sanggup membendung air matanya hingga cairan itu meleleh jatuh di pipi Anindita.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading❤️


__ADS_2