
Benar saja seperti yang dikatakan oleh Tita, selepas sholat isya beberapa tamu berdatangan ke apartemen yang ditempati oleh Anindita. Anindita mengenali sebagian tamu-tamu yang akan datang mengikuti acara tahlil empat puluh hari Arya karena mereka adalah tetangga-tetangga di dekat rumahnya bersama Arya dulu, di antaranya Pak Wisnu dan Pak RT.
Acara tahlilan berlangsung khidmat, sepanjang pembacaan doa-doa Anindita hanya menudukkan wajahnya karena kerinduan terhadap suaminya itu semakin menguat.
Setelah pembacaan doa-doa tahlilan selesai, para tamu undangan yang datang kini menikmati hidangan beberapa jenis makanan yang telah disiapkan.
Anindita saat ini duduk di dekat pintu ruangan tengah. Dari tempatnya duduk sosok Ricky lah yang nampak jelas terlihat dalam pandangannya. Pria itu diapit oleh Pak RT dan Pak Wisnu yang terlihat sedang berbincang hal yang nampak serius. Anindita tidak menyangka kalau Ricky sudah menyiapkan acara tahlilan ini tanpa sepengetahuannya. Bahkan sampai mengundang tetangga-tetangga komplek di tempat tinggalnya dulu bersama Arya.
Ricky sendiri yang menyadari saat ini sedang diperhatikan kini menolehkan wajahnya ke arah Anindita, hingga kini mereka berdua saling beradu tatapan mata hingga beberapa detik.
" Baiklah, Bapak-bapak, Saudara-saudara sekalian , terima kasih sudah menyempatkan diri hadir di acara tahlilan empat puluh hari mengenang Almarhum Bapak Arya Rahardja bin Muhammad Ali Rahardja. Semoga doa-doa yang telah kita panjatkan menerangkan alam kuburnya dan membuat Almarhum mendapatkan tempat yang layak di sisis Allah SWT, Aamiin ... Aamiin Ya Rabbal Alamin. Dan untuk keluarga yang ditinggalkan selalu diberikan ketabahan, keikhlasan, dan kesabaran. Karena pada hakekatnya semua yang bernyawa di dunia ini akan kembali kepada Sang Khaliq, Allah SWT. Hanya saja kita tidak tahu kapan giliran kita yang akan dipanggil oleh Sang Pencipta. Sekali lagi terima kasih atas kehadirannya. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh ..." Suara Pak Ustad yang memimpin tahlil seketika mengakhiri acara beradu pandang antara Anindita dan Ricky.
" Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh ..." sahut semua tamu undangan yang hadir.
Dan setelah mendapatkan bingkisan hampers dan juga makanan, satu persatu tamu pun pergi meninggalkan apartemen tempat tinggal Anindita sehingga hanya ada Ricky, Anindita, Cika, Tita dan Ramadhan yang tersisa di apartemen itu.
" Untuk perabotan biarkan saja seperti itu. Besok baru saya suruh orang untuk merapihkannya. Kalian bersihkan saja bekas makanan itu, kumpulkan jadi satu di trash bag, nanti ada OB yang ambil ke sini." Ricky dengan cepat memerintahkan kedua ART nya, Cika dan Tita untuk membersikan plastik dan kotak snack juga bekas cup air mineral.
" Baik, Pak." Cika dan Tita dengan gerak cepat menjalankan apa yang diperintahkan oleh Ricky. Bahkan Ramadhan juga sampai turut membantu dengan riang membawa sampah-sampah lalu dimasukan ke plastik hitam berukuran besar itu.
" Rama nanti kalau sudah selesai langsung cuci tangan ya, Nak!" perintah Ricky kepada Ramadhan.
__ADS_1
" Iya, Pa." jawab Ramadhan dengan tangan penuh bekas cup air mineral.
" Eh, anak Mama pintar bantu-bantu Mbak Cika sama Mbak Tita." Anindita yang baru selesai dari toilet karena tidak tahan ingin membuang air kecil langsung tersenyum melihat apa yang dilakukan anaknya itu.
Anindita kemudian menoleh ke arah Ricky dan kemudian melangkah ke arah pria itu yang berdiri di dekat pintu.
" Permadaninya tidak udah digulung dulu, biarkan seperti ini saja." Ricky kembali memberikan perintah. Dia kemudian menoleh ke arah Anindita yang berjalan menghampirinya dengan memegang perutnya.
" Terima kasih Bapak sudah menyiapkan acara tahlil empat puluh hari suami saya. Maaf sudah merepotkan Bapak." Anindita mengucapkan kata-kata itu dengan tertunduk karena merasa tidak enak, sebab sore tadi sudah bersikap kurang baik terhadap Ricky saat menjemputnya di pemakaman.
" Tidak masalah, sebaiknya sekarang kamu istirahat saja dan jangan lupa diminum susu hamilnya. Saya akan ke bawah sekarang," ujar Ricky menyahuti ucapan terima kasih yang disampaikan Anindita kepadanya.
" Rama, sudah cuci tangannya? Papa Ricky mau turun ke tempat Papa." Ricky kemudian memanggil Ramadhan yang telah selesai membantu dan mencuci tangannya.
" Rama, Papa Ricky capek mau istirahat. Kalau Rama tidur di sana nanti tidur Papa Ricky terganggu. Rama bobo sama Mama saja sini ..." Anindita mengulurkan tangannya kepada Ramadhan agar anaknya itu mau menuruti apa yang diucapkannya.
" Tidak masalah. Kalau Rama mau bobo sama Papa Ricky, Papa akan senang." Ricky justru mengangkat tubuh Ramadhan hingga kini terduduk di lengannya.
" Yeay, tuh Ma, kata Papa Ricky, Rama boleh bobo sama Papa Ricky." Ramadhan kegirangan karena Ricky memperbolehkan dirinya tidur di apartemen Ricky, membuat Anindita mendesah pasrah.
" Rama jangan nakal, ya! Jangan tidur malam-malam." Hanya kalimat itu yang bisa terucap di bibir Anindita.
__ADS_1
" Iya, Ma." Ramadhan mencondongkan tubuhnya ingin mencium pipi Anindita membuat Anindita mendekatkan wajahnya ke arah Ramadhan dan membuat posisi dia berdiri lebih dekat dengan Ricky, hingga dia bisa merasakan aroma maskulin dari tubuh Ricky yang menguar dan langsung tercium ke Indra penciumannya.
" Cup ..." Sebuah kecupan dari Ramadhan mendarat di pipi Anindita membuat Anindita seketika mengerjap karena terlalu asyik menikmati aroma wangi maskulin. Aroma yang dulu selalu bisa dia hirup setiap bersentuhan dengan suaminya.
" Pa, turun dulu, Rama mau cium adik bayi di perut Mama." Ramadhan meminta Papanya itu menurunkan tubuhnya yang saat itu berada di lengan kekar Ricky.
Ricky menurunkan Ramadhan dengan membungkukkan tubuhnya. Dan saat dia membungkukkan tubuhnya itu wajah Ricky hampir mengenai wajah Anindita yang berdiri di depannya, hingga membuat Anindita terkaget dan segera melangkah mundur agar dia jangan sampai wajah mereka saling bersentuhan.
" Oh, maaf ..." Ricky yang mendapati Anindita nampak terkejut langsung menyampaikan permintaan maafnya yang langsung dibalas dengan anggukkan kepala Anindita.
" Adik bayi, Mas Rama mau bobo di tempatnya Papa Ricky dulu, ya!" Ramadhan lalu mengecup perut Mamanya berkali-kali. " Nanti kalau adik bayi sudah lahir, kita samaan bobo di tempatnya Papa Ricky." Kini Ramadhan mendongakkan kepala ke arah Ricky.
" Boleh 'kan, Pa? Nanti kalau adik bayi sudah lahir adik bayi ikut bobo sama Rama di tempatnya Papa Ricky." Ramadhan meminta persetujuan dari Ricky untuk mengijinkannya dan calon adiknya itu tidur di apartemen Ricky.
" Oh, tentu saja Rama. Papa Ricky senang jika Rama dan adik bayi nanti tidur di tempatnya Papa Ricky. Tapi ..." Ricky melirik ke arah Anindita. " Kalau adik bayi ikut bobo sama Papa Ricky, Mama Anin juga harus ikut bobo di tempat Papa Ricky, karena adik bayi itu 'kan nggak boleh jauh-jauh dari Mama Anin." Ucapan Ricky seketika membuat Anindita terbelalak.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ...
Happy Reading ❤️