
Semua orang yang ada di dalam ruang tamu rumah Arya, baik yang sedang memanjatkan doa-doa maupun yang sedang berbincang mengenang kebaikan Arya langsung menoleh ke arah seorang wanita yang tengah berteriak seolah hendak memancing keributan.
" Mas Arya ...! Huhu ..." Wanita itu menangis tersedu seraya berlari mendekat dan memeluk jasad Arya. Diikuti oleh satu orang adiknya dan satu orang wanita paruh baya yang duduk di kursi roda yang didorong oleh menantunya.
" Mas Arya, kenapa meninggalkan kami semua, Mas ..." sesal Ria masih menangis tersedu.
" Mbak, maaf jangan menangis di depan jenazah. Kasihan Almarhum ..." Pak Wisnu, tetangga sebelah rumah Arya mencoba menegur Ria.
Ria langsung mencari Anindita dan kini dia menatap Anindita yang nanpak berduka dengan penuh rasa kebencian.
" Semua ini gara-gara kamu!! Kesialan yang menimpa Mas Arya itu karena Mas Arya menikahi kamu!!" sembur Ria penuh emosi.
Hampir semua pelayat yang hadir di rumah Arya langsung beristighfar mendengar tuduhan yang dilontarkan Ria kepada Anindita.
" Mbak, tolong jangan bikin keributan di sini!" tegur Pak RT melihat sikap dan ucapan Ria.
" Kakak saya itu meninggal karena wanita pembawa sial itu, Pak!" sergah Ria seolah mencari pembelaan.
" Ria, tolong jaga bicaramu! Kasihan Masmu kalau kamu seperti itu." Dalam tangisnya Mama Arya masih meminta anaknya untuk bersikap sopan.
" Tidak, Ma! Aku nggak rela Mas Arya meninggal karena wanita itu!" Ria terus mencecar Anindita dengan kata-kata tuduhan dan cacian.
" Mbak, Mas Arya meninggal itu karena memang sudah takdir yang digariskan oleh Allah. Mbak Ria jangan menyalahkan Anin. Dia nggak salah dalam hal ini. Dia juga sangat merasa kehilangan." Rachel yang melihat Ria terus menuduh Anindita mencoba membela Anindita.
" Diam, kamu! Saya nggak ada urusan sama kamu!" bentak Ria merasa tak suka melihat Rachel yang membela Anindita.
" Kalau kakakku tidak terkena guna-guna wanita pembawa sial ini pasti Mas Arya tidak akan mengalami semua ini!" geram Ria ingin menyerang Anindita namun dihalangi oleh beberapa orang yang ada di sana.
" Mbak, tolong jangan bikin keributan di sini. Tolong hargai Tuan rumah!" Pak RT memperingatkan.
Anindita yang sedari tadi mendengar tudingan-tudingan yang dilemparkan Ria untuknya hanya bisa menangis dengan dada yang terasa sangat sesak. Dia baru saja berduka karena kehilangan suaminya, sekarang dia harus menghadapi adik-adik suaminya yang menuduhkan hal yang menyakitkan.
" Aku sudah suruh kamu menjauhi Mas Arya! Kamu lihat 'kan sekarang?! Mas Arya terkena sial karena menikahi wanita yang mempunyai anak haram sepertimu!!" Ria semakin menjadi-jadi.
Tentu saja ucapan Ria kembali membuat orang yang ada di sana terkesiap, termasuk Ricky.
Ricky yang sedari hanya memperhatikan adik dari Arya itu terus memarahi Anindita langsung bangkit dan segera mendekati Ria dengan langkah lebar.
" Nyonya!! Jika kehadiran Anda di sini hanya ingin membuat keonaran, sebaiknya Anda segera pergi dari sini!!" geram Ricky dengan tangan mengepal.
" Oh, ada Anda juga rupanya di sini! Apa ini memang rencana kalian berdua, hahh?! Kalian sengaja ingin kembali bersama dengan membunuh Mas Arya!" pekik Ria.
" Tolong jaga ucapan Anda, Nyonya!!" hardik Ricky. Ricky langsung menarik tangan Ria agar keluar dari rumah Arya.
__ADS_1
" Lepaskan!!" Ria berontak mencoba melepas cengkraman tangan Ricky.
" Tuan, tolong lepaskan istri saya!" Fadli yang sedari tadi menemani ibu mertuanya kini menyusul Ria yang ditarik paksa oleh Ricky.
" Kenapa? Kamu tidak suka aku menghina wanita simpananmu itu, hahh?! Oh, atau jangan-jangan bayi yang ada di kandungannya itu bukanlah bayi Mas Arya tapi bayi hasil perselingkuhan kalian!"
" Cukup, Nyonya!! Hentikan omong kosong Anda! Dan segera tinggalkan tempat ini!!" usir Ricky tegas.
" Kamu tidak berhak mengusir saya! Saya adik pemilik rumah ini!!" bantah Ria.
" Saya tidak perduli siapapun Anda!! Kalau Anda berbuat keonaran dalam lingkungan Angkasa Raya Resindece, saya akan tetap mengusir Anda!" geram Ricky dengan wajah merah padam.
" Pak RT, tolong urus wanita ini! Pastikan dia tidak membuat keonaran di sini!" Ricky meminta Pak RT untuk menangani Ria.
" Baik, Tuan." Pak RT langsung meminta Ria untuk keluar
" Ini rumah kakak saya! Saya mau di sini!" Ria seperti kesetanan menolak apa yang diinginkan Ricky.
" Ma, sudah ... sebaiknya kita menunggu di luar." Fadli mencoba memegangi tubuh istrinya yang terus meronta.
" Tolong ajari istri Anda untuk berprilaku dan berbicara yang sopan! Dan saya peringatkan kepada Anda, Nyonya!" Ricky menunjuk ke arah Ria dengan aura wajah gelap
" Jika sekali Anda berani mengusik Nyonya Arya, saya pastikan Anda akan menyesal memilih berurusan dengan saya!" desis Ricky penuh ancaman mulai disebarkan oleh pria berwajah tampan yang wajahnya kali ini tertutup aura kemarahan.
" Kalian semua, jangan pernah dengarkan omongan wanita licik seperti dia!" Ricky melirik ke arah pintu di mana tadi dia meninggalkan Ria.
Semua orang yang berada di sana kini memperhatikan Ricky, tak terkecuali Rachel yang sedari tadi memperhatikan sosok pria berwajah tampan dan bertubuh atletis itu. Rachel merasa kagum dengan sikap Ricky yang sangat tegas.
" Pak Ricky? Benar Anda Pak Ricky yang tadi pagi menelepon saya? Saya Rachel, Mamanya Putri." Rachel mengulurkan tangannya memperkenalkan diri. Setelah kondisi kembali tenang Rachel mencoba mendekat ke arah Ricky.
" Oh, iya benar. Maaf jika saya mengganggu waktu tidur Anda, Nyonya." Ricky menerima uluran tangan Rachel.
" Panggil saya Rachel saja, Pak Ricky. Saya masih single." Rachel merasa keberatan dengan sebutan Nyonya yang disematkan Ricky untuk memanggil namanya.
" Oh, maaf, Nona Rachel."
" Saya minta maaf atas kelakuan mantan kakak ipar saya tadi, Pak Ricky. Mereka memang begitu."
" Saya tidak menyangka hubungan Nyonya Arya dengan adik iparnya seburuk itu. Padahal Pak Arya itu orang yang sangat baik." Ricky masih tidak percaya atas sikap adik Arya terhadap Anindita.
" Iya, Mas Arya dan kedua adiknya memang berbeda, bagaikan langit dan bumi." Rachel mengedikkan bahunya mengingat perbedaan manta suami dan mantan adik iparnya itu.
" Tuan, maaf ... jenazah akan segera diawa ke masjid untuk disholatkan dan dimakamkan." Pak Wisnu memberitahukan.
__ADS_1
" Oh, silahkan, Pak." Ricky mempersilahkan.
Sementara para pria menyolatkan Arya di masjid, Anindita masih terus terduduk lemas dalam sandaran bahu Lucy.
" Anin ..." Mama Arya memanggil Anindita membuat Anindita menolehkan wajahnya. Dengan berjalan dengan lututnya Anindita menghampiri ibu mertuanya yang menggunakan kursi roda.
" Ma ..." Anindita terisak di pangkuan Mama Arya.
" Kamu harus sabar, Nin! Mama bisa merasakan, kehilangan seorang pendamping hidup itu sangat berat, tapi kamu harus bisa ikhlas menerimanya." Mama Arya mengusap kepala menantunya itu.
" Anin mau ikut Mas Arya saja, Ma. Hiks ...."
" Tidak baik bicara seperti itu, Anin! Allah tidak akan memberi cobaan di luar batas kemampuan hambaNya. Mama yakin kamu pasti akan bisa menghadapinya."
" Kamu harus ingat ada janin buah cinta kamu dan Arya. Itu kenang-kenangan dari Arya untukmu. Kamu harus kuat untuk bayi di dalam kandunganmu juga untuk Rama." Di tengah kedukaannya karena kehilangan anaknya Mama Arya masih mencoba menguatkan menantunya itu.
***
Badan Anindita terasa lemas bahkan kakinya seakan tidak mampu menyanggah tubuhnya hingga dia terkulai lemas saat jasad Arya dimasukan ke liang lahat.
" Anin ..." Lucy, Yeti dan Mita mencoba menopang tubuh Anindita yang jatuh pingsan.
Ricky yang sedari tadi mengendong Ramadhan segera menyerahkan anaknya itu kepada Tita dan dia langsung mendekat ke arah Lucy dan anak buahnya yang sedang memegangi tubuh Anindita. Dengan kedua lengannya Ricky kemudian mengangkat tubuh lemah Anindita.
" Nyonya, tolong ikut saya ke mobil!" Ricky meminta Lucy untuk mengikutinya ke mobil.
" Baik, Tuan." Lucy juga Yeti dan Mita memilih mengikuti Ricky.
" Mbak, tolong Rama bawa ke mobil saya juga!" Sebelum menuju mobilnya Ricky masih sempat menyuruh Tita untuk membawa anaknya itu ke dalam mobilnya.
" Baik, Pak." Tita pun menuruti apa yang dikatakan oleh ayah dari Ramadhan itu.
*
*
*
Bersambung ...
Kasih dukungan terus untuk ASKML ya, Kak. Makasih🙏
Happy Reading❤️
__ADS_1