
Waktu bergulir begitu cepat, hari pernikahan Anindita dan Arya pun semakin dekat. Bahkan sejak dua Minggu sebelum hari H, Arya meminta Anindita untuk berhenti bekerja dari Alabama Florist. Tentu saja keinginan Arya itu dituruti oleh Anindita. Kegiatan dia dua hari ini setelah resign dari toko bunga milik Lucy ini hanya melakukan aktivitas di rumah juga mengantar Ramadhan sekolah dan menunggui anaknya itu hingga pulang. Karena sekolah TK Ramadhan jauh dari rumah Arya.
" Eh, Mama Rama ... tumben dua hari ini Rama ditungguin sekolahnya. Nggak kerja memangnya, Ma?" tanya Mama Abel saat melihat Anindita ikut duduk menunggu seperti ibu-ibu yang lain.
" Ah, iya, Mah. Saya sudah nggak kerja sekarang," sahut Anindita.
" Oh, pantes dari kemarin Rama ditungguin terus sekolahnya," sahut Mama Abel.
" Eh, Mam. Dengar-dengar Mama Rama ini sebentar lagi mau menikah lagi, ya? Saya dengar calonnya itu kepala sekolah, ya?" tanya Mama Evan ikut menimpali.
" Benar itu, Ma? Wah, selamat ya, Mam." Mama Abel memberikan selamat.
" Saya pernah ketemu Rama sama calon Papanya waktu ke mall lho, Mam. Ternyata ganteng lho, calon suami Mama Rama ini. Wajahnya juga mirip sekali sama Rama. Cocok banget kalau jadi Papanya Rama. Orang nggak akan menyangka nantinya kalau mereka itu ayah dan anak sambung," cerita Mama Celia ikut merumpi.
Anindita menelan salivanya. Tentu saja yang dimaksud Mama Celia bukanlah Arya melainkan Ricky.
" Mama Celia pernah ketemu sama calon Papa Rama? Kapan? Di mana?" Mama Evan penasaran.
" Waktu weekend dua minggu lalu di Grand Indonesia. Rama lagi dibelikan banyak mainan sama calon Papanya. Hmmm, senang pasti ya, Mam. Punya calon suami yang sayang sama anak kita." Mama Celia bercerita kembali tentang pertemuannya dengan Ricky.
" Wah, beruntung sekali Mama Rama ini," ucap Mama Abel
" Tapi katanya calon suami Mama Rama ini duda, ya?" tanya Mama Evan tiba-tiba. Sepertinya dia banyak mendengar informasi tentang Anindita yang Anindita sendiri tak tahu bagaimana informasi soal dirinya itu bisa menyebar di lingkungan sekolah Ramadhan.
" Memangnya kenapa kalau duda, Mama Evan? Yang penting bukan suami orang. Lagipula biar duda juga ganteng keren begitu kok orangnya," protes Mama Celia.
" Iya ih, Mama Evan ini. Jangan nyinyir gitu, dong. Nggak apa-apa dapat duda juga, yang penting 'kan Mama Rama bukan pelakor." Mama Abel ikutan protes.
" Iihh, saya bukannya nyinyir, Mam. Cuma tanya saja, kok! Memangnya salah saya bertanya?" Mama Evan terlihat kesal.
" Sudah-sudah, Mam. Jangan ribut-ribut. Malu dilihat yang lain." Anindita berusaha melerai karena dialah yang menjadi objek perbincangan ibu-ibu teman sekolah Ramadhan saat ini.
" Iya, memang calon suami saya itu berstatus duda anak satu, kok." Anindita memberi penjelasan.
" Tuh, kan. Mama Rama juga nggak masalah ditanya. Kenapa Mama Celia sama Mama Abel yang sewot?!" ketus Mama Evan kemudian melangkah pergi meninggalkan Anindita dan kedua wali murid lainnya.
__ADS_1
" Nggak usah diladenin orang seperti Mama Evan itu, Mam." Mama Abel menepuk pundak Anindita.
" Iya, pasti dia mau ngerumpi di grup sebelah. Benar kata Mama Abel, mestinya Mama Rama tadi diamkan saja, nggak usah diladeni, Mam." Mama Celia menyahuti.
" Nggak apa-apa, Mam. Nggak ada yang perlu disembunyikan juga," ucap Anindita.
" Memang kapan rencana menikahnya, Mam?" Mama Celia penasaran.
" Insya Allah kurang dari dua Minggu ini, Mam."
" Wah, sebentar lagi dong, ya! Pantas saja Mama Rama sudah mulai resign dari kerja," sahut Mama Abel.
" Iya, Mam."
" Ya sudah, selamat ya, Mam. Jangan lupa undang kita-kita ya, Mam. Lumayan buat bantu-bantu ngabisin makanan." Mama Abel terkikik menutup mulutnya.
" Insya Allah diundang, Mam." Anindita menyahuti.
Dan tak lama bel tanda pelajaran berakhir berbunyi, membuat semua murid-murid berlari berhamburan keluar kelas menuju orang tua masing-masing termasuk Ramadhan yang nampak senang dua hari ini ditunggui oleh Mamanya sekolah.
" Bagaimana anak cabang Angkasa Raya Group di Samarinda, Rick?" tanya Dirga menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kerjanya dan berpangku kaki.
" Situasi di sana sudah mulai kondusif, Pak Dirga." Ricky yang duduk berhadapan Dirga menjawab pertanyaan Dirga dengan lugas.
" Tidak percuma saya mengandalkanmu, Rick." Dirga mengelus rahangnya menanggapi laporan Ricky.
" Terima kasih, Pak Dirga. Semua ini karena ayah dari Pak Dirga yang mengajari dan membimbing saya hingga bisa seperti ini." Ricky merendah.
" Kalau saja Papa masih ada, Papa pasti akan semakin bangga padamu, Rick." Dirga teringat akan almarhum papanya.
" Pak Poetra akan bangga bukan hanya karena saya, tapi juga karena Pak Dirga sekarang ini." Ricky balas memuji Dirga.
" Abang, ini kopinya." Kirania yang baru masuk ke ruang kerja suaminya langsung menyodorkan secangkir kopi untuk Dirga di meja kerja.
" Terima kasih, Sayang." Dirga mengusap punggung Kirania. " Duduklah di sini." Dirga meminta Kirania untuk duduk di pangkuannya.
__ADS_1
" Ya ampun, Abang. Ini waktu kerja dan ada Pak Ricky juga." Kirania memutar bola matanya menanggapi sikap suaminya yang selalu bersikap mesra tanpa memperdulikan situasi.
" Ricky itu bukan orang lain. Lagipula siapa tahu karena sering melihat kemesraan kita, dia jadi terang*sang untuk cepat-cepat menikah. Tidak jomblo terus-terusan," sindir Dirga menyeringai.
" Menjomblo itu tidak enak, Rick. Cepatlah cari pasangan hidup. Aku dengar dari Mama katanya Mama dari Rama akan segera menikah. Benarkah?" tanya Dirga kemudian.
" Mama Rama mau menikah, Pak Ricky?" Kirania pun antusias menanyakan hal yang sama.
Seperti biasa, Ricky membalas dengan mengulum senyuman. Pria itu memang berpembawaan tenang
" Benar, Pak Dirga, Nyonya." Kemudian Ricky menjawab pertanyaan Dirga dan Kirania.
" Rick, apa kau tidak berminat menggagalkan rencana pernikahan Mamanya Rama dengan calon suaminya itu? Seperti yang pernah kau lakukan saat menggagalkan rencana pernikahan istriku ini dengan mantan tunangannya." Dirga kembali menyeringai.
" Astaghfirullahal adzim, Abang!" Kirania segera menegur Dirga. " Kenapa Abang menyarankan yang tidak baik kepada Pak Ricky?" protes Kirania.
" Sayang, dia saja pernah melakukan hal itu terhadap kita dulu. Kau lihat, sekarang kita hidup bahagia, kan?" Dirga menjawab dengan enteng.
" Tapi ini situasinya beda, Abang!" komplain Kirania.
" Istri Anda benar, Pak Dirga. Apa yang terjadi dengan kisah Pak Dirga dan Nyonya Dirga tidak sama dengan yang terjadi antara saya dan Nona Anindita."
" Anda dan Nyonya adalah pasangan yang saling mencintai satu sama lain. Cinta kalian begitu kuat. Akan ada kesedihan dan sama-sama menderita jika kalian terpisahkan."
" Sedangkan saya dan Nona Anindita, meskipun sudah ada Ramadhan di antara kami, tapi kami itu adalah dua orang asing yang tidak saling kenal satu sama lain. Tidak ada rasa cinta di antara saya dan Nona Anindita. Kami punya kehidupan masing-masing. Dan tidak akan ada kesedihan dan penderitaan walaupun kami tidak hidup bersama. Apalagi Nona Anindita akan segera menikah dan hidup bahagia dengan calon suaminya itu." Setiap kalimat demi kalimat yang terlontar dari mulut Ricky terdengar sangat bijak.
*
*
*
Bersambung ..
Tuh, dengerin mak² readers kata Pak Ricky. Tidak ada cinta di antara mereka berduaš
__ADS_1
Happy Readingā¤ļø