
Terdengar suara telepon berdering saat Ricky selesai menemani Ramadahan bergosok gigi jelang tidur. Ricky menatap deretan nomor cantik yang tidak dia kenal milik siapa, namun dia tetap mengangkat panggilan masuk itu.
" Halo...." Ricky menyapa lebih dahulu.
" Halo, Assalamualaikum ... apa saya bicara dengan Pak Ricky?" Suara wanita terdengar dari dalam ponsel Ricky.
" Iya benar ini saya, maaf ini dengan siapa?" tanya Ricky menjawab pertanyaan wanita tersebut.
" Oh, saya Rachel, Pak. Apa Bapak masih ingat? Saya Mamanya Putri, mantan istrinya Mas Arya sebelum dengan Anindita." Rachel yang ternyata menelepon Ricky menjelaskan siapa dirinya secara mendetail.
" Nona Rachel? Oh iya saya ingat. Ada apa Nona Rachel menelepon saya?" Ricky merasa heran, darimana Rachel mendapatkan nomer handphonenya.
" Hmmm, begini, Pak Ricky. Kebetulan saya beminat untuk membeli unit apartemen milik Angkasa Raya. Apa Pak Ricky bisa membantu saya memberikan informasi tentang apartemen yang saya minati?" tanya Rachel.
" Tentu saja, Nona Rachel. Saya akan catat nomer Nona Rachel ini, nanti saya suruh orang dari bagian marketing untuk membantu Nona Rachel mendapatkan informasi tentang apartemen yang Anda inginkan." Ricky tepat mengatakan apa yang seharusnya dia katakan. Karena untuk mendapatkan informasi seputar kelebihan apartemen yang dimiliki oleh PT. ARG, divisi marketing lah yang mempunyai tugas untuk itu.
" Oh, tidak usah repot-repot, Pak Ricky. Saya hanya ingin lihat-lihat saja dulu apartemennya. Saya dengar Anindita juga tinggal di apartemen Angkasa Raya, Pak Ricky juga katanya tinggal di sana. Mungkin Pak Ricky bisa bantu saya survey langsung ke tempat, barangkali masih ada unit yang kosong " Rachel yang memang berniat mendekati Ricky tentu saja menolak saat Ricky menawarkan orang dari bagian marketing yang akan membantunya.
" Pa, ceritain dongeng ...."
Ricky menoleh ke arah Ramadhan yang sudah berbaring. Dia pun kemudian ikut merebahkan diri di samping Ramadhan dan mengusap kepala anaknya itu.
" Rama mau Papa ceritakan dongeng? Rama mau cerita tentang apa?" Ricky seolah tak terusik dengan permintaan Ramadhan padahal dia sedang menerima telepon.
" Kancil dan buaya, Pa " Ramadhan menyebutkan dongeng yang ingin didengarnya.
" Itu Rama ya, Pak Ricky?" Rachel sepertinya mendengar percakapan antara Ricky dan Ramadhan.
" Benar, Nona Rachel." Ricky menyahuti.
" Sepertinya saya mengganggu waktu Pak Ricky, ya?" tanya Rachel kemudian.
" Rama ingin saya membacakan dongeng untuknya," sahut Ricky. Dia berharap Rachel mengerti akan maksudnya.
" Oh kalau begitu saya tutup teleponnya, Pak Ricky. Tapi lain waktu saya boleh telepon Pak Ricky lagi, kan?" Rachel seperti pantang menyerah.
" Tentu saja, Nona Rachel. Silahkan ...."
" Ya sudah kalau begitu saya pamit, Assalamualaikum ..." Rachel mengakhiri panggilan teleponnya.
" Waalaikumsalam ...." balas Ricky.
" Dia tahu Anin tinggal di sini, apa mungkin dia juga tahu nomerku dari Anin?" gumam Ricky menduga-duga karena awalnya dia cukup heran Rachel bisa tahu soal nomer ponsel.
***
__ADS_1
Sementara itu di dalam kamarnya Anindita sedang membaca artikel tentang hukum wanita hamil yang ditinggal mati suami di ponselnya. Di artikel itu juga dijelaskan soal masa Iddah janda karena cerai mati dan sedang dalam kondisi hamil. Jujur saja, perlakuan Ricky yang semakin hari semakin intens mendekatinya membuat Anindita harus bersiap diri jika suatu hari dia harus menyerah pada keputusannya itu.
" Rama betah menginap di rumah Pak Ricky ya, Bu?" tanya Tita yang sedang memijat kaki Anindita. Selepas acara tahlilan tadi, Anindita memang meminta Tita untuk memijat kakinya yang terasa pegal.
Anindita hanya menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Tita.
" Pak Ricky itu baik sekali orangnya ya, Bu? Paket komplit banget, sayangnya masih melajang. Padahal ganteng, baik, kaya raya lagi. Idaman wanita-wanita banget." Tita mengagumi sosok Ricky yang dia lihat selama ini memang baik terhadap Anindita maupun Ramadhan.
" Ibu beruntung sekali bisa dekat dengan Pak Ricky."
Anindita melirik ke arah Tita, dia tidak menepis atau mengiyakan apa yang diucapkan oleh Tita.
Ddrrtt ddrrtt
Tiba-tiba ponsel yang dia pegang berbunyi dan nama Rachel lah yang muncul di layar ponselnya itu.
" Assalamualaikum, ada apa, Mbak Rachel?" tanya Anindita langsung mengangkat panggilan masuk dari Rachel itu.
" Waalaikumsalam, Anin. Saya mengganggu waktu kamu nggak?" sahut Rachel.
" Nggak kok, Mbak. Ini sedang dipijat sama Mbak Tita," jawab Anindita.
" Tita? Dia masih ikut sama kamu, Anin?" tanya Rachel saat tahu, ART di rumah Arya dulu kini masih bersama Anindita.
" Iya, Mbak. Mbak Tita masih ikut sama saya." Anindita menoleh ke arah Tita membuat Tita menaikan kedua alisnya ke atas.
Anindita mengeryitkan keningnya mendengar pertanyaan Rachel. Darimana Rachel tahu soal Ramadhan yang menginap di tempatnya Ricky? Apa Rachel baru saja berbincang dengan Ricky? Itu yang dia duga.
" Iya, Mbak. Rama memang minta tidur di tempatnya Pak Ricky." Anindita menjelaskan.
" Oh ya, ada apa Mbak Rachel telepon?" Anindita kembali menanyakan ada kepentingan apa Rachel meneleponnya malam-malam. Dia juga tidak ingin terlalu lama membahas soal Ricky.
" Oh itu, saya cuma mau tanya. apa kamu tahu apa yang disukai Pak Ricky?"
Pertanyaan Rachel membuat Anindita membelalakkan matanya.
" Yang disukai Pak Ricky?" Anindita mengulang pertanyaan Rachel seraya melirik ke arah Tita yang justru kini mengeryitkan keningnya.
" Iya, mungkin kamu tahu kegemaran Pak Ricky, makanan favorit misalnya," ucap Rachel menjelaskan maksud pertanyaannya tadi.
" Saya nggak tahu, Mbak. Saya nggak tahu apa saja yang disukai Pak Ricky." Anindita mengatakan yang sebenarnya jika dia memang tidak mengenal Ricky lebih dekat.
" Oh gitu, ya? Saya pikir kamu tahu. Ya sudah kalau begitu, maaf ya saya mengganggu waktu kamu, Anin. Assalamualaikum ..." Rachel menyudahi panggilan teleponnya.
" Waalaikumsalam ..." Anindita pun menjawab salam yang diucapkan Rachel sebelum menutup teleponnya.
__ADS_1
" Ibu Rachel yang telepon, Bu?" Tita cepat menanyakan si penelepon yang tadi berbicara dengan Anindita.
" Iya, Mbak Rachel, Mamanya Putri." Anindita menaruh ponselnya di atas nakas karena dia mulai diserang rasa kantuk.
" Ada apa Ibu Rachel tanya-tanya soal Pak Ricky, Bu?" Tita merasa curiga.
Anindita mengedikkan bahunya. Meskipun dia tahu maksud tujuan Rachel menanyakan soal Ricky, tapi Anindita tidak mungkin mengatakan kepada Tita jika Rachel sebenarnya menyukai Ricky.
" Apa jangan-jangan Ibu Rachel itu suka sama Pak Ricky ya, Bu?" Tita sepertinya mengerti maksud Rachel mencari informasi tentang Ricky.
" Saya nggak tahu, Mbak. Mbak Tita jangan bergosip, deh." Anindita meminta agar Tita jangan menggosipkan mantan istri pertama Arya itu.
" Kalau Ibu Rachel suka sama Pak Ricky, bahaya dong, Bu!" Tita menampakkan rasa khawatirnya..
" Bahaya? Apanya yang bahaya, Mbak? Mbak Rachel 'kan belum menikah lagi sejak berpisah dari Mas Arya dan Pak Ricky sendiri seperti yang Mbak Tita bilang, masih melajang. Jadi nggak masalah juga kalau mereka bisa jadian." Anindita memang merasa hal yang wajar jika Rachel menyukai Ricky.
" Nanti akan ada persaingan dong, antara Ibu sama Ibu Rachel buat mendapatkan Pak Ricky."
Anindita menatap serius ke arah Tita, perkataan Tita sangat mengusiknya. Untuk apa dia bersaingan dengan Rachel hanya karena ingin mendapatkan Ricky. Meskipun Ricky sendiri mengatakan jika pria itu ingin menikahinya, tapi Anindita selalu berharap jika itu jangan sampai terjadi.
" Mbak Tita jangan ngaco, deh! Siapa yang mau bersaing dapetin Pak Ricky?" Anindita menepis dugaan Tita.
" Lho, Pak Ricky itu 'kan selama ini baik sama Ibu, apa Ibu nggak merasa jika sikap Pak Ricky itu beda sama Ibu?"
" Pak Ricky itu baik sama saya karena Rama, Mbak. Pak Ricky bilang karena saya Mamanya Rama makanya dia baik terhadap saya." tegas Anindita.
" Tapi saya rasa Pak Ricky baik bukan karena itu saja deh, Bu. Kalau saya perhatikan Pak Ricky itu suka sama Ibu." Tita terkikik sambil menutup mulutnya.
" Mbak, sudah deh, jangan mengada-ada." Anindita semakin merasa tak nyaman dengan masalah yang dibahas Tita.
" Ah apa jangan-jangan Pak Ricky itu nggak bisa move on dari ciuman Ibu dulu, ya?" Tita menebak-nebak dengan kening berkerut.
Anindita langsung mengangkat punggungnya hingga kini dia terduduk tegak saat Tita membahas soal ciuman.
" Ciuman? Ciuman apa maksudnya, Mbak?" Anindita menatap curiga.
" Ya ampun ...!" Tita langsung menutup mulutnya karena dia keceplosan mengatakan kejadian beberapa waktu lalu saat Anindita berhalusinasi menganggap Ricky adalah Arya.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Happy Reading❤️