
Seorang wanita berambut panjang, berkulit putih dengan tinggi semampai memasuki toko Alabama florist.
" Selamat siang, Nona. Ada yang bisa dibantu? Ingin mencari bunga apa?" sapa Mita ramah kepada wanita itu.
" Maaf, Mbak. Saya mencari Anindita. Apa benar dia bekerja di sini?" tanya wanita cantik itu.
Mita memperhatikan dengan lekat wanita cantik itu. Kalau diperhatikan oleh Mita, sepertinya wanita di hadapannya itu bukan wanita golongan sepertinya ataupun Anindita. Dan Mita pun kini sudah tidak merasa aneh jika banyak orang penting yang mencari rekan kerjanya itu.
" Maaf, ada keperluan apa ya, Nona?" tanya Mita kemudian.
" Saya Rachel, saya ingin berbicara dengan Anindita." Wanita bernama Rachel itu memperkenalkan dirinya.
" Oh, maaf Nona Rachel, Mbak Anin sedang ada tugas di luar. Apa ada pesan yang ingin disampaikan?" tanya Mita kembali.
" Hmmm, apakah lama?"
" Sebentar saya coba telepon." Mita kemudian menghubungi seseorang dengan berbisik agar tidak terdengar oleh Rachel.
" Halo, Ci. Ci ada tamu perempuan yang cari Mbak Anin, dia maksa ingin ketemu Mbak Anin. Kalau dilihat dari penampilannya sepertinya bukan wanita sembarangan deh, Ci. Gimana ya, Ci? Nggak apa-apa saya telepon Mbak Anin nya, Ci?" bisik Mita.
" Ya sudah kamu hubungi saja Anin sudah sampai mana? Nanti Cici coba temui orang itu dulu." jawab Lucy ditelepon.
" Baik, Ci." Mita kemudian mematikan panggilan teleponnya.
" Sebentar ya, Nona." Mita berbicara pada Rachel kemudian menghubungi nomer telepon Anindita.
"Halo, Mbak Anin. Ada di mana sekarang? Ada yang cari Mbak Anin di toko," ucap Mita saat dia mulai tersambung percakapan dengan Anindita.
" Saya bentar lagi sampai toko, Mbak. Memangnya siapa yang cari saya, Mbak Mita?" tanya Anindita.
" Namanya Rachel, Mbak Anin kenal?"
" Rachel? Rachel siapa ya, Mbak Mita?"
" Kalau Mbak Anin saja nggak kenal apalagi saya, Mbak." Mita terkekek.
" Ya sudah, kalau dia memang ada perlu sama saya, suruh tunggu saja, Mbak."
" Oke, Mbak Anin." Mita lalu memutus panggilan dengan Anindita dan kembali berbicara dengan Rachel.
" Maaf, Nona. Mbak Anin sedang dalam perjalanan kemari. Kalau Nona Rachel mau menunggu silahkan duduk di sana saja." Mita menunjuk sofa tunggu di sebelah kiri pintu masuk.
" Oh, ya sudah, terima kasih." Rachel pun kemudian melangkah ke arah sofa yang ditunjuk Mita.
__ADS_1
Tak lama berselang setelah Rachel duduk di sofa, Lucy pun keluar dari ruang kerjanya. Lucy menoleh ke arah Rachel dan segera menghampirinya.
" Selamat siang, Nona. Sedang menunggu Anindita, ya?" sapa Lucy ramah.
Rachel menatap Lucy yang menyapanya.
" Oh, iya, Tante. Saya ada keperluan dengan Anindita," ujar Rachel.
" Anin sedang saya tugaskan ke Bank, Nona?"
" Rachel, panggil saja Rachel, Tante." Rachel mengulurkan tangannya.
" Oh, iya Rachel, saya Lucy pemilik toko ini." Lucy pun membalas uluran tangan Rachel.
" Sudah lama punya toko florist ini, Tante?" tanya Rachel berbasa-basi.
" Sudah sekitar sebelas tahunan."
" Saya nggak pernah tahu ada toko florist di sini. Bisa minta kartu namanya, Tan. Nanti jika saya perlu buket bisa pesan di sini," ujar Rachel.
" Oh, boleh saja, sebentar saya ambilkan." Lucy menoleh ke arah Mita.
" Mit, tolong ambilkan kartu nama Alabama." Lucy menyuruh Mita mengambilkan kartu nama Alabama forist.
" Ini kartu namanya." Lucy kemudian memberikan kartu itu kepada Rachel.
" Saya simpan ya, Tante. Nanti kapan-kapan saya order di sini." Rachel memasukkan kartu itu ke dalam hand bag nya.
" Oh, silahkan ..."
Ting
Pintu toko Alabama terbuka dan muncullah sosok Anindita dari arah luar toko.
" Nah, itu Anindita ..." Suara Lucy yang memanggil Anindita membuat Anindita menoleh ke arah suara Lucy berasal.
Rachel pun langsung mengarahkan pandangan matanya ke arah yang dituju Lucy.
" Nin, ini ada tamu yang mencarimu." seru Lucy kembali.
Anindita segera menghampiri Lucy tapi tatapan matanya tertuju pada wanita cantik di samping Lucy.
" Maaf, Nona mencari saya? Ada perlu apa, ya?" Anindita merasa tidak mengenali wanita cantik yang berpenampilan sangat elegan itu.
__ADS_1
Rachel kemudian mengulurkan tangannya ke arah Anindita seraya berkata, " Hai, Anindita. Perkenalkan saya Rachel, saya Mamanya Putri."
Deg
Seketika jantung Anindita berbetak lebih kencang saat mengetahui jika wanita yang ada di hadapannya saat ini adalah mantan istri dari Arya. Seketika rasa gugup langsung hinggap di dirinya apalagi jika dia lihat penampilan Rachel nampak seperti wanita berkelas. Berbeda dengan dirinya yang hanyalah wanita biasa-biasa saja dan hanya pegawai toko.
" Oh, Emmm ... hai, Nyonya Rachel." Anindita sedikit kikuk menyalami tangan Rachel. Anindita bahkan bisa merasakan kulit halus Rachel saat bersentuhan dengan tangannya.
" Kalau ada yang ingin kalian bicarakan di luar, silahkan saja, Nin. Nggak apa-apa, kok." Lucy yang juga tahu jika Rachel adalah mantan istri Arya langsung memberikan waktu kepada Anindita dan Rachel untuk bicara empat mata.
Lucy tahu dari Anindita jika Arya mempunyai anak perempuan bernama Putri. Dan saat Rachel memperkenalkan diri sebagai Mamanya Putri, Lucy pun bisa menebak jika Rachel adalah mantan istri Arya. Dan karena Lucy melihat Rachel sangat humble dan tidak nampak akan berbuat jahat kepafa Anindita, maka dari itu Lucy mempersilahkan mereka untuk mengobrol dan mengenal satu sama lain.
***
" Maaf kalau saya mengganggu waktu kamu, Anin."
Saat ini Anindita dan Rachel sedang berada di salah satu kafe yang tak jauh dari toko bunga milik Lucy, Alabama Florist.
" Oh, tidak apa-apa, Nyonya." Anindita meremas ujung kemejanya demi menghilangkan rasa grogi di hatinya.
" Jangan panggil Nyonya, panggil saja saya Rachel, atau ... berapa usia kamu?" tanya Rachel.
" Dua puluh delapan tahun."
" Oh, kalau begitu panggil Mbak saja, ya!" Rachel meminta Anindita merubah panggilan Nyonya terhadapnya.
" I-iya, Mbak."
" Oh ya, Anin. Selamat ya, saya dengar dari Putri kalau kamu akan segera menikah dengan Mas Arya."
Anindita langsung menelan salivanya seraya menundukkan kepala, rasanya malu sekali saat mantan istri Arya itu membicarakan tentang rencana pernikahannya dengan Arya. Jika dibandingkan dengan dirinya, Rachel dan dia layaknya seperti langit dan bumi. Mungkin dia tak ada apa-apanya dibandingkan dengan mama dari Putri itu
" Kamu sangat beruntung, Mas Arya itu pria yang baik dan sangat penyayang."
Anindita mencoba memberanikan diri menaikkan kembali kepalanya dan menatap wajah cantik Rachel. Dia tidak meragukan kebaikan Arya. Tapi jika Rachel mengatakan Arya adalah pria yang baik dan penyanyang, lantas kenapa Rachel melepas Arya. Dan apa yang menyebabkan perpisahan antara Rachel dan Arya. Kadang tergelitik rasa ingin tahu apa yang menyebabkan Arya dan Rachel bercerai? Kadang dia juga ingin menanyakan kepada Arya tentang hal itu. Tapi dia tidak punya keberanian untuk menanyakannya. Meskipun sebenarnya dia pun berhak untuk tahu karena dia akan menjadi masa depan untuk Arya.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Happy Reading ❤️