ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu

ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu
Roti Tawar


__ADS_3

Anindita memperhatikan Ricky yang terlihat sedang memarahi Cika membuatnya merasa tak enak hati pada gadis itu. Karena dia tahu jika Ricky memarahi Cika karena gadis ini tidak ada di apartemen padahal sesuai perintah yang diberikan Ricky, bahwa gadis itu harus kembali sebelum jam makan siang.


Anindita bangkit dari tempat tidur. Dia memilih pergi ke ruang makan untuk mengambil roti ketimbang mendengarkan Ricky yang terdengar marah-marah.


" Nyonya, Anda mau ke mana?" tanya Ricky saat melihat Anindita melangkah mendekati pintu kamar.


" Saya ingin mengambil roti," sahut Anindita tak menghentikan langkahnya.


" Biar saya yang ambilkan, Nyonya istirahat saja. Di mana rotinya?" tanya Ricky.


" Di meja makan," sahut Anindita.


" Ya sudah, nanti saya ambilkan. Nyonya kembalilah ke tempat tidur." Tangan Ricky ingin memapah Anindita tapi wanita itu menepisnya.


" Saya bisa sendiri." Anindita kembali membalikan tubuhnya dan melangkah ke arah tempat tidur sedangkan Ricky langsung mengambil roti yang dimaksud Anindita.


Hanya roti tawar yang ada di atas meja makan dan beberapa botol selai yang tersedia.


" Dia suka selai apa?" Ricky mengusap rahangnya seraya berpikir namun akhirnya Ricky mengambil dua lembar roti tawar lalu dia oles dengan selai strawberry. Kemudian dia ambil dua lembar roti tawar lagi dan dia olesi dengan selai coklat. Dia ulangi lagi mengambil dua tangkap roti tawar yang dia olesi dengan selai kacang dan keju masing-masingnya hingga kini dia sudah membuat empat tangkap roti.


Ricky lalu mengambil satu botol air mineral di dalam laci kitchen set lalu kembali ke kamar Anindita.


" Ini rotinya, Nyonya." Ricky menyodorkan piring yang berisi empat tangkap roti yang telah diolesi empat macam selai di dalamnya.


Anindita langsung membelalakkan matanya melihat sepiring roti yang disediakan Ricky untuknya. Dia lalu menoleh ke arah Ricky seraya mengeryitkan keningnya.


" Hmmm saya tidak tahu selai apa yang Nyonya suka jadi saya buatkan empat tangkap roti dengan masing-masing selai yang berbeda," ucap Ricky yang sepertinya mengerti arti tatapan mata Anindita yang merasa heran dengan roti yang dia siapkan.


" Saya hanya ingin makan roti tawarnya saja tanpa selai," sahut Anindita.


Kali ini Ricky yang membelalakkan matanya.


" Oh, kalau begitu nanti saya ambilkan lagi." Ricky menaruh piring roti itu di atas nakas kemudian beranjak kembali menuju ruangan makan dan mengambil roti tawar yang hanya tersisa dua lembar saja.


" Ini, Nyonya." Ricky lalu menyodorkan roti tawar itu kepada Anindita yang kemudian langsung disantap Anindita dengan lahap sampai habis.

__ADS_1


" Kenapa, Nyonya?" tanya Ricky saat melihat Anindita mengusap perutnya.


" Masih lapar, saya mau roti tawarnya lagi," jawab Anindita.


" Oh, sebentar saya ambilkan lagi." Ricky kembali lagi menuju arah dapur. Dia mencari di laci kitchen set barangkali masih ada persedian lain karena roti yang ada di meja makan sudah habis. Namun setelah dicari-cari tak juga ditemukan roti tawar itu membuat akhirnya Ricky kembali ke kamar Anindita.


" Nyonya saya mau ke mini market sebentar, karena roti tawarnya sudah habis." Ricky meminta ijin terlebih dahulu kepada Anindita.


Anindita pun akhirnya menganggukkan kepala tanda menyetujui permintaan Ricky dan membuat pria itu akhirnya keluar dari apartemen miliknya yang ditempati Anindita.


Berselang lima belas menit kemudian Ricky sudah kembali dari mini market yang terletak di ruko di bawah apartemen. Dia kemudian menuju arah kamar Anindita.


" Nyonya, ini rotinya sudah ada ..." Ricky mengerutkan keningnya saat dia mendapati Anindita sudah terlelap dengan posisi tubuh miring ke arah kiri. Dia juga melihat piring roti yang tadi dia olesi hanya tersisa dua tangkap berisi selai strawberry dan kacang. Dia juga melihat beberapa kemasan obat yang telah terkoyak, sepertinya Anindita memang sudah meminum obatnya.


Ricky mendengus seraya menggelengkan kepalanya. Dia kemudian mendekat ke arah Anindita tertidur dan duduk di tepi tempat tidur. Dia memandangi wajah Anindita beberapa saat. Dia tidak menyangka dibalik sifat keras kepala wanita yang berbaring di hadapannya itu, ternyata Anindita seorang wanita yang berhati malaikat. Bagaimana mungkin wanita ini bisa meredam rasa sakit hatinya terhadap kedua adik iparnya yang sudah berbuat jahat bahkan sampai mengusir dari rumah suami wanita itu


Ricky kemudian bangkit dan menyelimuti tubuh Anindita sampai batas leher. Dia lalu mengambil potongan kemasan obat dan roti yang tersisa untuk dia taruh di dapur dan Ricky pun keluar dari kamar Anindita.


Tak lama dia pun kembali menghubungi Deni.


" Halo, Den. Soal adik-adik Arya. Biarkan suami-suami mereka tetap bekerja tapi tempatkan mereka di posisi terendah di kantor dan instansi tempat mereka bekerja masing-masing." Setelah memberikan perintah Ricky langsung mematikan ponselnya dan dia kemudian kembali ke kantor Angkasa Raya.


" Ibu, maaf ... saya telat pulang. Saya pikir Ibu benar pulang jam empat. Kebetulan tadi ada kegiatan di kampus jadi saya ikut kegiatan itu dulu." Cika yang melihat Anindita keluar dari kamar langsung menyampaikan permintaan maafnya.


" Oh, nggak apa-apa, Cika. Saya yang minta maaf karena saya kamu jadi kena marah Tuan Ricky." Anindita kembali menguap seraya melirik ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan waktu setengah empat.


" Saya belum pernah melihat Pak Ricky semarah tadi, makanya saya merasa takut sekali." Nada bicara Cika terdengar penuh kecemasan.


" Tuan Ricky nggak akan hukum kamu, percayalah ..." Anindita menyakinkan Cika agar tetap tenang.


" Kalau dia berani marahin kamu lagi nanti saya balik marahin dia," lanjut Anindita seraya melongok ke arah meja makan.


" Kamu masak apa?" tanya Anindita kemudian.


" Saya nggak masak kok, Bu. Saya disuruh beli makanan di restoran. Ini saya sudah belikan capcay kuah, ayam goreng serundeng sama balado telur. Ibu mau makan sekarang?" tanya Cika.

__ADS_1


" Oh, iya ... saya lapar sekali rasanya." Anindita mengelus perutnya dan menarik kursi makan.


" Oh ya, Rama sudah bangun?" tanya Anindita.


" Sudah, Bu. Sedang di kamarnya menonton televisi. Tadi saya sudah suapi Rama kok, Bu." jawab Cika.


" Wah, terima kasih ya, Cika."


" Sama-sama, Bu."


Sayup-sayup terdengar nada panggil telepon berbunyi.


" Telepon Ibu sepertinya bunyi deh, Bu." Cika yang lebih dulu mendengar langsung memberitahukan Anindita.


" Masa, sih? Efek lapar jadi saya nggak kedengaran." Anindita terkikik lalu bangkit ingin mengambil ponselnya.


" Biar saya yang ambilkan, ibu duduk saja." Cika dengan cepat melarang Anindita bergerak.


" Ya sudah, tolong ambilkan di atas nakas, ya!" perintah Anindita meminta tolong.


" Baik, Bu." Cika kemudian bergegas ke arah kamar Anindita untuk mengambil ponsel milik Anindita.


" Siapa yang telepon, Cika?" tanya Anindita seraya menyendok nasi ke piring.


" Di sini muncul namanya Mbak Tita, Bu." Cika menyahuti.


" Tita??" Anindita membelalakkan bola matanya.


" Sini-sini mana?" Anindita mengulurkan tangannya meminta ponselnya itu dari tangan Cika.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading ❤️


__ADS_2