ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu

ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu
Panggilan Baru Untuk Ricky


__ADS_3

Ramadhan memperhatikan sosok Ricky yang serius mengemudikan mobilnya.


" Om ..." ucap Ramadhan kemudian.


" Ada apa, Rama?" tanya Ricky melirik Ramadhan.


" Boleh nggak Rama panggil Om Papa Ricky?"


Ricky mendadak menghentikan laju mobilnya hingga membuat beberapa mobil dibelakangnya membunyikan klakson dan umpatan dari pengemudi di belakangnya membuat Ricky segera menepikan mobilnya.


" Woi, ini bukan jalanan lu sendiri, se*tan! Main ngerem-ngerem mendadak!!" umpat salah seorang pengemudi yang akhirnya melintasi mobil Ricky.


" Maaf, Pak." Ricky menurunkan kaca jendelanya seraya meminta maaf.


" Mas hati-hati, dong! Jangan mentang-mentang pakai mobil mewah pakai mobilnya seenaknya sendiri saja!" Satu orang pengemudi lain menggerutu.


" Maaf, Pak. Maaf ..." kembali Ricky meminta maaf.


" Kenapa orang pada marah-marah, Om?" tanya Ramadhan kemudian.


" Rama, maafkan Om ya, tadi Rama kaget ya waktu Om ngerem mendadak?" Ricky mengusap kepala Ramadhan.


Ramadhan menganggukkan kepalanya.


" Maaf ya, Sayang. Tadi Om terkejut karena dengar Rama mau panggil Papa ke Om ..." Ricky menatap haru Ramadhan dia bahkan hampir menitikkan air mata saat mengetahui anaknya itu ingin memanggilnya Papa.


" Om nggak suka, ya?" Karena mendengar Ricky kaget mendengar keinginannya menyebut Ricky dengan sebutan Papa membuat Ramadhan beranggapan jika Ricky keberatan dengan niatannya itu.


" Nggak, Sayang. Om suka, kok. Om suka dengar Rama panggil Om Papa Ricky." Dengan nada bergetar menahan haru Ricky mengucapkan kalimat itu.


" Kalau Om suka, Rama sekarang panggilnya Papa Ricky ya, Om? Soalnya Om 'kan anaknya nggak ketemu-ketemu, jadi Rama mau panggil Om Papa Ricky, biar Om nggak sedih terus nggak ketemu-ketemu sama anak Om."


Walaupun alasan Ramadhan memanggilnya Papa Ricky tidak seseuai harapannya namun Ricky berusaha untuk bersyukur anaknya itu mau menyebutnya dengan sebutan Papa.


" Apa Mama Anin nggak marah kalau Rama panggilnya Papa Ricky?" Ricky tetap harus menjaga perasaan Anindita karena dia tidak ingin disalahkan denggan panggilan itu.


" Nggak, Mama nggak marah, tapi Rama takut Papa Arya yang marah. Eh, Mama tadi malam nangis waktu Rama sebut Papa Arya. Soalnya Mama kangen sama Papa Arya, Rama juga kangen sama Papa Arya." Wajah Ramadhan seketika sendu menceritakan kejadian semalam.


" Iya, Rama harus banyak berdoa buat Papa Arya biar Papa Arya senang dan bangga sama Rama." Ricky dapat melihat ketulusan hati Arya sanggup membuat anaknya jatuh hati pada sosok ayah sambungnya itu. Ricky pun bersyukur, walau hanya sebentar tapi Anindita dan anaknya dipertemukan dengan pria sebaik Arya.

__ADS_1


" Papa Arya sekarang ada di Surga, ya?" tanya Ramadhan.


" Papa Arya orang baik pasti Allah akan memberikan tempat yang terindah untuk Papa Arya."


Ricky kemudian menangkup wajah Ramadhan dengan satu telapak tangannya. Kemudian dia mengecup kening Ramadhan cukup lama. Dia tidak bisa menyembunyikan gejolak hatinya yang sangat bahagia menerima sebutan Papa dari darah dagingnya itu.


" Terima kasih, Sayang. Terima kasih sudah mau panggil Om dengan panggilan Papa." Ricky kemudian menghujani anaknya itu dengan kecupan-kecupan membuat Ramadhan tertawa kegelian.


" Geli, Om eh Papa ..." Ramadhan masih tertawa-tertawa riang membuat hati Ricky juga tertular menjadi riang.


***


" Halo, Assalamualaikum, Bu Anin ...."


" Waalaikumsalam, Mbak Tita. Mbak saya sudah bilang sama Tuan Ricky dan Tuan Ricky mengijinkan Mbak Tita mengurus Rama kembali." Anindita menyampaikan berita gembira itu kepada Tita.


" Serius, Bu? Alhamdulillah kalau begitu, saya senang sekali bisa bekerja dengan Ibu lagi." Tita pun terdengar sangat excited dengan berita yang diterima dari Anindita.


" Oh ya, Tuan Ricky juga tanya kapan Mbak Tita bisa mulai kerja di sini?" tanya Anindita kemudian.


" Kalau lusa saja gimana, Bu? Soalnya saya mesti berpamitan sama Bu Ria dulu," ujar Tita.


" Saya juga nggak tahu, Bu. Sepertinya nomer Ibu Fatma sengaja diganti sama duo lampir deh, Bu. Biar Bu Anin sama Bu Fatma nggak bisa komunikasi lagi."


" Kasihan Mama ..." Hati Anindita mendadak pilu mengingat akan Ibu mertuanya itu.


" Iya, Bu. Kita berdoa saja semoga Bu Fatma selalu sehat walfiat."


" Aamiin, Mbak Tita. Ya sudah, saya cuma mau menyampaikan itu saja. Nanti kalau sudah siap kerja di sini, Mbak Tita kabari saya saja, ya!"


" Siap, Bu!"


" Assalamualaikum ...."


" Waalaikumsalam ...."


Anindita langsung menutup panggilan teleponnya.


Sore harinya sepulang bekerja Ricky menyempatkan diri ke apartemen atas untuk menemui Ramadhan. Kini dia lebih bersemangat dengan panggilan baru yang disematkan Ramadhan untuknya.

__ADS_1


" Papa ...."


Anindita cepat menoleh saat anaknya berteriak memanggil Papa. Hatinya seketika berdesir karena yang ada dalam bayangan dia adalah sosok Arya.


" Hai, Rama ..." Ricky pun membalas sapaan Ramadhan.


Hati Anindita mendadak kecewa. Dia mendesah. Dia tahu suaminya itu telah pergi untuk selamanya namun kenapa dia seakan belum sanggup menerima kenyataan ini.


Anindita kini kembali menatap pada anaknya dan Ricky yang sedang bersenda gurau seakan tak perdulikan hatinya yang sedang pilu. Dia pun tak menduga jika Ramadhan benar-benar serius dengan ucapannya yang ingin memanggil Ricky dengan sebutan Papa.


" Papa Ricky bawa apa?" tanya Ramadhan.


" Papa bawakan kesukaan Rama." Ricky menunjukkan plastik berlabel salah satu fried chicken populer.


" Burger ya, Pa? Makasih, Pa." Ramadhan dengan cepat mengambil kemasan burger itu.


Anindita bangkit dan hendak beranjak ke kamarnya karena hatinya tiba-tiba merasa melow teringat akan Almarhum suaminya.


" Nyonya ..." Suara Ricky menghentikan langkah Anindita dan membuat wanita itu menoleh ke arah Ricky.


" Terima kasih ..." ucap Ricky saat Anindita menatap ke arahnya. Karena bagaimana pun Ricky harus mengucapkan kalimat itu karena Anindita sudah mengijinkan Rama memanggil Papa kepadanya.


Anindita hanya mengangguk pelan menanggapi perkataan Ricky lalu dia melanjutkan langkahnya ke arah kamar. Dan wajah sendu Anindita tertangkap mata Ricky. Dia jadi teringat cerita Ramadhan yang mengatakan jika Mamanya itu habis menangis karena teringat akan suaminya.


Dan entah apa yang menggerakkan Ricky hingga kini kaki pria itu ikut melangkah mengekori Anindita hingga dia berhenti di depan pintu kamar Anindita. Seketika dia bingung apa yang harus dilakukannya. Dia ingin masuk dan menenangkan hati Anindita namun dia sadar akan posisi dia saat ini tidaklah lebih dari ayah biologis Ramadhan. Ricky masih mematung di depan pintu kamar Anindita hingga akhirnya pintu itu terbuka dan Anindita terperanjat saat mendapati Ricky berdiri di depan kamarnya.


" Astaghfirullahal adzim ...!" pekik Anindita kaget dan nampak memegangi dadanya.


" Oh maaf, Nyonya." Ricky merasa bersalah karena sudah membuat Anindita kaget.


" Kenapa Tuan berdiri di depan pintu kamar?" tanya Anindita terheran.


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Happy Reading❤️


__ADS_2