ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu

ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu
Yang Pantas Rama Dapatkan


__ADS_3

Acara tahlil tujuh hari meninggalnya Arya berjalan dengan secara sederhana dan hanya dihadiri pegawai-pegawai toko bunga milik Lucy. Anindita sendiri masih menampakkan kedukaannya sepeninggal suaminya itu, apalagi jika mengingat perlakuan yang dia terima dari adik-adik iparnya.


Setelah acara tahlil selesai, Ricky pun akhirnya membawa Anindita untuk pindah ke apartemen yang telah disiapkan oleh Ricky. Anindita sendiri memilih ikut dengan mobil Lucy bersama Mita dan Yeti karena dia merasa tidak enak jika harus semobil dengan Ricky, sementara Ramadhan sendiri lebih memilih satu mobil dengan Ricky.


" Nin, kamu mesti bersyukur, di tengah badai yang menerpa, masih banyak orang yang sayang sama kamu, termasuk kami-kami ini." Yeti melingkarkan tangannya di pundak Anindita.


" Iya, Mbak. Saya bersyukur ada Ci Lucy dan teman-teman di Alabama yang kasih support ke saya." Anindita merasa bersyukur masih dikelilingi sahabat-sahabat yang selalu bisa membuatnya tegar dalam menghadapi semua permasalahan yang dia hadapi.


" Asyik lho, Mbak Anin sekarang tinggal di apartemen. Apartemen Pak Ricky pasti mewah, dong! Aku boleh dong Mbak, kapan-kapan ikut menginap di apartemen Mbak Anin nanti. Sekali-sekali ngerasain jadi orang kaya, Mbak." Mita terkikik merasa bersemangat mengantar Anindita pindah.


" Saya senang kalau Mbak Mita ikut menginap di sana, jadi saya juga ada temannya," sahut Anindita.


" Tapi nggak bisa tiap hari juga, Mit. Nanti kamu keenakan nggak mau pulang," sindir Yeti mencairkan suasana sehingga membuat Anindita bisa sedikit tersenyum di atas kedukaannya.


***


" Silahkan, Nyonya." Ricky membukakan pintu apartemen yang akan digunakan Anindita tinggal.


Dengan langkah ragu Anindita melangkah memasuki ruangan apartemen yang nampak mewah.


" Wow, aku juga mau kalau dikasih apartemen begini," celetuk Mita spontan saat melihat ruangan tamu apartemen milik Ricky yang akan ditempati oleh Anindita.


" Siapa yang mau kasih kamu, Mit?" sindir Yeti membuat Mita langsung terkekeh.


" Di sini ada tiga kamar tidur, ruang makan dan dapur. Masing-masing room ada bathroom di dalamnya." Ricky menjelaskan.


" Nyonya Arya bisa tinggal di sini bersama Rama. Nanti saya siapkan ART yang akan membantu Nyonya di sini," lanjut Ricky.


" Istimewa ..." Mita kembali mengucapkan rasa kagumnya.


" Nanti saya akan suruh ART menjelaskan bagaimana mengunakan fasilitas di apartemen ini. Karena apartemen ini menggunakan fasilitas smart home."


" Smart home apalagi, tuh? Aku tahunya smart phone doang." bisik Yeti di telinga Mita.


" Sama, Mbak." Mita menimpali.

__ADS_1


" Selamat malam, Pak Ricky." Tiba-tiba dari arah pintu nampak seorang wanita muda berparas cantik menyapa Ricky.


" Oh, masuk, Ka." Ricky mempersilahkan wanita muda itu masuk.


" Nyonya Arya, ini Cika. Dia yang akan membantu mengerjakan pekerjaan di sini."


Sontak saja kehadiran Cika membuat Anindita, Lucy, Yeti dan Mita terbelalak, apalagi saat Ricky mengenalkan sebangai ART di apartemen itu. Karena terlihat dari fisik dan penampilan Cika tidak menampakkan dia seorang asisten rumah tangga


" Racun, Mbak Yet." Kini Mita berganti berbisik di telinga Yeti.


" Ulat bulu." Yeti menanggapi ucapan Mita.


" Saya Cika, Bu." Cika langsung mengulurkan tangannya ke arah Anindita dan Anindita pun walau agak ragu menerima uluran tangan Cika.


" Anin ..." ucap Anindita.


" Cika, tolong antar Nyonya Arya ke kamar utama. Dan tolong kamu kasih tahu cara menggunakan fasilitas di sini," perintah Ricky kepada Cika.


" Baik, Pak. Mari saya antar ke kamar, Bu." Cika lalu mengantar Anindita ke kamar yang sudah disiapkan.


" Iya, Mbak Anin. Jangan-jangan dia itu cewek yang sengaja menyamar jadi ART, padahal aslinya sih dia itu sedang mengincar Tuan Ricky. Secara Tuan Ricky itu masih single, ganteng, tajir. Cewek mana coba yang menolak jadi istri Pak Ricky?" Mita mengutarakan kecurigaannya.


" Jangan suudzon gitu, Mbak Mita, Mbak Yeti." Anindita mencoba berpositif thinking.


" Lagipula kalau dia memang mengincar Tuan Ricky memangnya kenapa? Mbak Mita bilang sendiri, Tuan Ricky itu masih single, jadi sah-sah saja, kan?" lanjut Anindta.


" Aku nggak ikhlas Rama punya ibu tiri kaya cewek itu, Mbak Anin!" tegas Mita menolak.


Anindita terkekeh sambil menggelengkan kepalanya.


" Sudah ah, jangan menggunjingkan orang, nggak baik." Anindita mencoba menghentikan aksi Yeti dan Mita yang membicarakan seputar Cika.


" Ya sudah kalau begitu aku pamit dulu ya, Nin. Kamu istirahat saja yang tenang, jangan mikir yang berat-berat. Kasihan bayi di perutmu itu." Yeti kemudian berpamitan.


" Aku juga pamit ya, Mbak Anin. Mimpi indah di tempat baru." Mita juga ikut berpamitan.

__ADS_1


" Makasih ya, Mbak Yeti, Mbak Mita, sudah mau antar saya sampai ke sini." Anindita berterima kasih atas bantuan kedua rekan kerjanya. Dan mereka pun keluar kamar Anindita.


" Kita pulang sekarang?" tanya Lucy yang sedari tadi memilih mengobrol bersama Ricky.


" Iya, Ci. Sudah malam," sahut Yeti.


" Ya sudah, Pak Ricky kami pamit dulu kalau begitu. Anin, Cici pamit pulang, ya!" Kali ini Lucy yang berpamitan kepada Ricky dan Anindita.


" Iya, Ci. Terima kasih banyak ya, Ci." sahut Anindita.


" Terima kasih Nyonya Lucy atas bantuannya." Ricky pun menyahuti.


" Cika, tolong antar mereka sampai ke bawah lobby." Ricky kini menyuruh Cika untuk mengatar Lucy dan dua karyawannya.


" Baik, Pak." sahut Cika. " Mari, Bu. Saya antar." Cika bertutur ramah terhadap Lucy.


Selepas mereka pergi dari apartemen, kini hanya tersisa Anindita dan Ricky. Sementara Ramadhan sudah tertidur karena merasa kelelahan.


" Hmmm, Tuan. Terima kasih Tuan sudah meminjamkan tempat ini untuk saya dan Rama tinggal." Walaupun Anindita mendengar sendiri tadi saat Ricky mengatakan jika apartemen yang dia tempati sekarang ini adalah milik Ramadhan, namun tentu saja dia tidak ingin begitu saja menerima itu.


" Anda jangan merasa sungkan, Nyonya. Seperti yang sudah saya katakan tadi, jika apartemen ini saya siapkan untuk Rama, jadi ini juga milik Anda, Nyonya." Ricky kembali menegaskan keputusannya memberikan apartemen itu untuk Ramadhan.


" Tapi Rama masih kecil, dan apa yang Tuan berikan ini terlalu berlebihan. Saya tidak bisa menerima ini, Tuan." Anindita tetap menolak pemberian Ricky yang dia anggap tidak pantas diterima olehnya.


" Saya memberikan ini untuk anak saya, Nyonya. Rama anak saya juga. Saya ayah biologisnya! Dan dia juga berhak mendapatkan kehidupan yang layak yang bisa saya berikan kepadanya. Nyonya tidak bisa melarang saya melakukan hal itu! Saya akan menjamin Ramadhan akan mendapatkan fasilitas yang sepantasnya dia dapatkan dari saya!" tegas Ricky menatap kuat Anindita dengan sorot mata yang tajam dan seketika itu juga membuat Anindita merinding.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2