
Selepas jenazah Arya dikebumikan, Ricky membawa Anindita pulang bersama Tita dan Ramadhan, juga ditemani oleh Yeti dan Mita menggunakan mobilnya. Sementara Lucy membawa mobilnya sendiri.
Anindita sendiri sudah mulai siuman dari pingsannya, namun isak tangis masih belum bisa dia hentikan.
" Kamu mesti kuat, Nin. Demi bayi kamu, demi Rama juga." Yeti mengusap lengan Anindita yang berada dalam rangkulannya.
" Kenapa nasib saya seperti ini lagi, Mbak? Saya harus melahirkan dan membesarkan anak saya sendirian lagi." Anindita tidak menyadari jika saat ini dia berada di dalam mobil Ricky dan ada Ricky yang mendengarkan ucapannya.
Ricky melirik dari kaca spion wajah pucat Anindita dengan mata sembab karena wanita cantik itu tak juga berhenti menangis. Seketika dadanya ikut merasakan sesak melihat kondisi Anindita seperti itu.
" Kamu wanita kuat, Nin. Aku yakin kamu bisa melewatinya dengan tabah." Yeti tak henti menyemangati Anindita.
" Saya bahagia bisa menikah dengan Mas Arya, tapi kenapa kebahagiaan saya hanya sesaat saja ya, Mbak? Ya Allah ... salah apa hamba ini? Hiks ... hiks ..." Rasanya masih sulit bagi Anindita menerima kenyataan jika suami tercintanya sudah berpulang ke hadapan Sang Penciptanya.
" Dini hari tadi Mas Arya datang di mimpi saya, Mbak. Saya bahkan masih bisa merasakan kehangatan saat Mas Arya mencium perut saya. Mas Arya berpamitan sama saya. Saya nggak sangka dia benar-benar berpamitan karena akan meninggalkan saya selama-lamanya, Mbak. Hiks ...."
Ricky terkesiap mendengar ucapan Anindita soal mimpi. Karena dia pun merasakan juga didatangi Arya di mimpinya.
" Mbak Anin harus banyak-banyak istighfar. Mas Arya pasti akan sedih jika Mbak Anin seperti ini." Mita juga tak ketinggalan menyemangati.
" Mama, Papa Arya kenapa? Hiks ..." Ramadhan pun merasakan kehilangan sosok ayah sambungnya itu dan kini dia menanyakan kondisi Arya.
" Rama, Papa Arya sudah istirahat. Rama harus berdoa untuk Papa Arya, ya!" Ricky membelai kepala putranya itu. Ricky memang harus mengakui jika sosok Arya benar-benar sosok pria yang mendekati sempurna. Tak heran jika anaknya pun merasakan kehilangan Arya.
***
" Nyonya Lucy, saya minta tolong ke Nyonya dan yang lain agar bisa menemani Anindita di sini. Anindita tidak mempunyai saudara. Kalian adalah orang yang sangat dekat dengan Anindita selama ini. Apalagi mengingat adik-adik Pak Arya nampaknya tidak menyukai Anindita. Jadi saya minta bantuan kalian agar ada yang bergantian menemani Anindita di sini beberapa hari ini. Jangan buat dia merasa sendirian, harus ada yang menemaninya dan mengajaknya bicara." Sesampainya di rumah Arya, Ricky langsung memerintahkan Lucy dan anak buahnya untuk menjaga Anindita. Dia sudah seperti ketua panitia yang bertanggung jawab penuh atas tugasnya.
" Baik, Tuan. Nanti saya akan atur agar ada yang bergiliran menemani Anindita di sini," sambut Lucy memahami apa yang diminta Ricky.
" Kalau begitu saya pamit dulu. Nanti selepas Maghrib saya akan kembali ke sini," pamit Ricky.
" Silahkan, Tuan." Lucy mempersilahkan.
" Saya akan berpamitan ke Anindita dan Rama dulu. Oh ya, saya juga titip Rama, Nyonya Lucy."
" Baik, Tuan. Rama juga akan kami jaga dengan baik."
Ricky kemudian meninggalkan Lucy, Mita dan Yeti menuju kamar Anindita. Sesampainya di kamar Anindita dia melihat wanita itu duduk bersandar di sandaran dipan dengan Ramadhan memeluknya di sisi kirinya. Sementara Tita memilih memijat kaki Anindita selama menemani majikannya itu.
Ricky melangkah perlahan ke dekat tempat tidur Anindita.
" Nyonya Arya, saya sampaikan rasa duka paling dalam atas kepergian Pak Arya. Pak Arya orang yang sangat baik, saya yakin beliau akan diberikan tempat terbaik di sisi-Nya." Ricky mengucapkan rasa belasungkawa atas meninggalnya Arya.
__ADS_1
Anindita melirik ke arah Ricky yang berkata padanya.
" Terima kasih ..." lirih Anindita lemah.
" Saya permisi pulang dulu, Nyonya. Nanti malam saya pasti ke sini lagi." Ricky lalu melirik ke arah putranya. " Apa Rama mau ikut Om Ricky?" tanya Ricky kepada Ramadhan, yang dijawab dengan gelengan kepala Ramadhan.
" Ya sudah, kalau begitu saya pamit pulang, Nyonya. Rama, Om pulang dulu, ya!" Ricky mengusap kepala anaknya sesaat.
" Mbak tolong jaga Ibu dan Rama, ya!" Ricky sempat memberi pesan kepada Tita terlebih dahulu sebelum meninggalkan kamar Anindita.
" Baik, Pak Ricky." Tita menjawab.
Ricky pun kemudian keluar kamar Anindita.
Buugghh
Ketika Ricky hendak keluar kamar Anindita disaat yang bersamaan Rachel pun berjalan hendak masuk ke kamar Anindita.
" Oh, maaf ..." ucap Rachel karena dia berjalan sambil merogoh tasnya.
" Tidak apa-apa, Nona Rachel. Maaf saya juga tidak melihat Anda, Nona." Ricky membalas Rachel seraya tersenyum.
" Oh, Pak Ricky rupanya." Rachel pun membalas senyuman sang Asisten Angkasa Raya Group itu.
" Ah, iya-iya, terima kasih, Pak."
" Saya permisi dulu, Nona."
" Pak Ricky mau ke mana?" tanya Rachel.
" Saya mau pamit pulang dulu. Nanti lepas Maghrib saya kembali lagi ke sini." Ricky menjawab pertanyaan Rachel.
" Oh ya sudah. Silahkan, Pak."
Setelah mendengar kalimat terakhir Rachel, Ricky pun langsung berjalan keluar rumah Arya. Sementara Rachel tetap berdiri di depan pintu kamar Anindita menatap punggung Ricky yang semakin menjauh hingga Ricky menghilang di balik pintu rumah Arya.
***
Setelah membersihkan diri, Ricky merebahkan tubuhnya yang terasa penat karena sebelum Shubuh tadi dia harus sibuk mengurus masalah Anindita.
Ricky mencoba mengingat kembali mimpinya pagi tadi. Dia masih bingung kenapa Arya hadir di dalam mimpinya. Kata-kata Arya yang memintanya untuk memperlakukan Anindita dengan penuh kelembutan dan belajar menaklukkan hati Anindita, apakah itu merupakan pesan untuknya dari Arya yang meminta dia untuk menjaga Anindita.
" Astaga! Kenapa aku berpikiran seperti itu?" Ricky mengusap kasar wajahnya.
__ADS_1
" Anindita masih berduka, dia baru saja kehilangan suaminya." Ricky tidak mempercayai jika dia sempat memikirkan ke arah sana.
Ddrrtt ddrrtt
Ponsel Ricky tiba-tiba saja berbunyi dan ternyata panggilan itu berasal dari Dirga.
" Selamat siang, Pak Dirga." Ricky dengan cepat menerima panggilan telepon Dirga itu.
" Rick, lusa kau gantikan aku ke Dubai. Aku tidak bisa pergi ke sana karena istriku tidak enak badan." Dirga memberikan perintah.
" Oh, baik, Pak Dirga. Nyonya sakit apa?"
" Biasalah, baru datang bulan. Kalau lagi begitu dia malas pergi-pergi." Dirga menyahuti.
" Yang mau bertemu klien 'kan Anda bukan Nyonya, Pak!" Ricky terkekeh menyindir boss nya itu.
" Ck, aku mana tega meninggalkan dia seperti itu." Dirga beralasan.
Ricky tersenyum menanggapi alasan Dirga. Boss nya itu sanggup melakukan hal tergila sekalipun untuk menyenangkan hati istrinya.
" Dasar pria bucin!" sindir Ricky kembali terkekeh.
" Hei, kau berani berkata seperti itu karena kau ini belum merasakan yang namanya jatuh cinta! Makanya buruan nikah terus kawin! Aku berani taruhan potong telinga kiriku ini kalau kau tidak sampai bucin kepada wanita yang kau cintai itu!"
" Abang!! Jangan taruhan seperti itu!" Terdengar suara Kirania memarahi suaminya di ponsel Ricky.
" Sayang, itu hanya perumpamaan." Dirga mencoba menjelaskan.
" Iya, tapi jangan sembarangan bicara!" protes Kirania.
" Maaf, Pak Dirga. Jika tidak ada yang ingin Pak Dirga sampaikan lagi, saya akan tutup teleponnya. Saya tidak ingin ikut campur dalam drama rumah tangga Anda, Pak." sindir Ricky kembali.
" Hei, kamu mesti ingat kata-kataku tadi, Rick!"
" Tentang telinga? Kalau begitu Anda harus siap-siap mengasuransikan telinga Anda, Pak Dirga. Karena saya pastikan, saya tidak akan bersikap berlebihan pada seorang wanita! Tidak seperti Anda, Tuan Dirgantara." Dengan rasa percaya diri Ricky berucap seraya terkekeh kembali, sebelum akhirnya dia mematikan panggilan telepon dari Dirga tadi.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Happy Reading❤️