
Anindita terus berlari meninggalkan semua orang saat mendengar ucapan Dirga. Entah bagaimana dia menyembunyikan rasa malunya di hadapan orang-orang yang merupakan sahabat dekatnya terutama Mama Arya. Anindita merasa malam ini seolah dipermalukan karena lamaran yang dilakukan oleh Ricky terhadapnya.
" Anin, tunggu !" Ricky menyusul Anindita. Tentu saja langkah lebar Ricky mampu mengimbangi langkah berat Anindita karena bayi di dalam rahimnya.
" Anin ..." Ricky langsung mencengkram lengan Anindita hingga langkah Anindita terhenti dan tubuh wanita itu menghadap ke arahnya.
" Anin, saya minta maaf atas ucapan Pak Dirga yang menyinggung kamu." Ricky menyampaikan permintaan maafnya karena dia merasa jika Anindita lari karena ledekan yang dikatakan bosnya tadi.
" Kenapa Bapak melakukan ini terhadap saya? Kenapa Bapak mempermalukan saya di depan orang-orang? Di hadapan sahabat-sahabat saya, di depan mertua saya!" geram Anindita meninggikan suaranya masih dengan terisak.
" Anin, saya tidak pernah bernaksud seperti itu. Saya benar-benar ingin menikahi kamu setelah kamu melahirkan nanti. Soal Ibu Fatma, saya sudah meminta ijin terlebih dahulu kepada beliau tadi sebelum berangkat ke sini."
Flashback on
Selepas sholat Maghrib Ricky naik ke lantai atas menuju apartemen yang ditempati Anindita untuk berbicara dengan Mama Arya.
" Anin ada di kamar?" tanya Ricky pada Cika saat membukakan pintu untuknya.
" Ya, Pak. Ibu Anin di kamar," sahut Cika.
" Rama di mana?" tanya Ricky seraya berjalan ke arah kamar Ramadhan.
" Ada di kamarnya dengan Bu Fatma, Pak." Cika menjawab.
" Cika, tolong bawa Rama ke luar karena saya ingin bicara dengan Bu Fatma," perintah Ricky kemudian
" Baik, Pak." Cika pun masuk terlebih dahulu ke kamar Ramadhan dan membawa Ramadhan keluar.
" Papa ...!" teriak Ramadhan saat melihat kehadiran Ricky membuat Ricky mendekatkan jari telunjuk ke dekat bibirnya.
" Sssttt, kita mau kasih kejutan untuk Mama Anin, Rama jangan berisik." Ricky meminta anaknya itu untuk tutup mulut.
" Oh iya ..." Ramadhan langsung menutup mulutnya.
" Rama sama Mbak Cika dulu, Papa mau bicara sama Eyang ..." ujar Ricky kemudian
" Iya, Pak."
Setelah Cika membawa Ramadhan keluar, Ricky pun kemudian berjalan masuk ke dalam kamar menemui Mama Arya.
" Ibu, apa saya mengganggu waktu ibu?" tanya Ricky seraya mendekat ke arah Bu Fatma dan duduk di samping Bu Fatma.
" Oh tidak, Nak Ricky. Ada apa?" tanya Bu Fatma menjawab pertanyaan Ricky.
Ricky kemudian menggenggam tangan Bu Fatma.
" Ibu, mulai saat ini anggap saya seperti anak Ibu sendiri. Saya sudah tidak punya orang tua, Ibu juga baru kehilangan anak laki-laki Ibu. Saya tahu Pak Arya tidak akan bisa tergantikan untuk Ibu, tapi saya berjanji saya akan merawat dan menyayangi Ibu seperti Ibu kandung saya sendiri."
Kata-kata yang diucapkan Ricky membuat Mama Arya langsung berurai air mata.
" Ibu jangan sedih, saat ini Ibu telah mendapatkan anak laki-laki Ibu kembali." Kini Ricky mendekatkan kedua tangan Mama Arya yang digenggamnya ke dadanya kemudian tangan kanannya mengusap air mata yang membasahi pipi Mama Arya.
__ADS_1
" Terima kasih, Nak Ricky."
" Panggil saya Ricky saja, Bu."
" Terima kasih, Nak. Ibu sangat terharu dengan kebaikanmu. Ibu senang kamu mau menerima wanita renta yang tak berdaya ini sebagai ibumu." Mama Arya sungguh merasa terharu, di saat anak-anak kandungnya yang lain menitipkannya di panti wreda tapi ada orang lain yang tidak ada hubungan darah dengannya justru sangat perduli kepadanya bahkan memintanya untuk menerima dia sebagai anaknya.
" Tidak, Bu. Saya justru senang melakukannya." Kini Ricky duduk berlutut di depan Mama Arya membuat wanita itu terkesiap.
" Ada apa ini, Nak?"
" Maaf jika ini terlalu cepat, Bu. Tapi saya ingin meminta ijin Ibu dan saya minta restu dari Ibu. Saya berniat menikahi Anindita setelah masa iddahnya selesai. Dan saya berencana melamar Anindita malam ini juga. Apa ibu merasa keberatan?"
" Saya ingin membahagiakan Anin, saya juga ingin memberikan kasih sayang seorang ayah kepada anak Anin dan Pak Arya, seperti Pak Arya menyanyangi anak saya. Ini pertama kalinya saya melamar wanita, karena itu saya mohon restu dari Ibu." Ricky memohon kepada Mama Arya.
Mama Arya tersenyum seraya membelai kepala Ricky.
" Bangunlah, Nak. Ibu merestuimu. Ibu tahu kau pria yang baik dan bertanggung jawab, ibu benar-benar menemukan sosok Arya di dalam dirimu. Ibu pun merasa jika kamu adalah sosok yang pas mengganti Arya untuk Anin. Apalagi saat kamu bercerita Arya datang di dalam mimpimu, Ibu sangat yakin, Arya pun merestuin kamu menjaga Anin dan anaknya."
" Terima kasih, Bu. Terima kasih ..." Ricky langsung mencium punggung tangan Bu Fatma dan memeluk tubuh Mama Arya.
Flashback off
" Anin, saya tahu kamu sangat mencintai Pak Arya. Saya juga tahu tidak akan mudah menggantikan posisi beliau di hati kamu. Tapi sekarang ini Pak Arya sudah tenang di sana, dan kamu harus melanjutkan hidup kamu. Kamu butuh seseorang yang bisa mendampingi langkah kamu membesarkan anak-anak kamu. Dan aku ingin menemani kamu melewati itu. Jadi ijinkan saya melakukan itu, terimalah permintaan saya ...."
Anindita menggelengkan kepalanya.
" Ini terlalu cepat untuk saya, saya tidak bisa menerimanya. Hati saya dan cinta saya masih untuk Mas Arya."
" Kamu tidak harus terburu-buru memberikan hati dan cinta kamu untuk saya. Kamu hanya cukup menerima apa yang saya berikan untukmu anak-anakmu. Tapi saya ingin melakukan hal itu di samping kamu, dan berstatus menjadi suami kamu. Bayi di dalam kandunganmu ini butuh sosok seorang ayah yang akan menemaninya saat tubuh menjadi seorang anak hingga dia dewasa. Pikirkanlah tentang kebahagiaan anak-anakmu, Anin."
" Anin, percayalah ... apa yang saya lakukan bukan untuk menyakiti hatimu. Saya justru ingin membahagiakanmu." Ricky menggenggam tangan Anindita yang masih menangis.
" Mbak Anin, Pak Ricky ...!" Suara Kirania terdengar membuat Ricky dan Anindita menoleh ke arah Kirania. Anindita mencoba menarik tangannya dari genggaman tangan Ricky namun pria itu tak melepaskannya.
" Mbak Anin, saya minta maaf atas perbuatan suami saya. Saya sungguh-sungguh menyesal apa yang dilakukan suami saya tadi telah membuat acara kalian berantakan." Kirania menyampaikan rasa penyesalannya.
" Seharusnya Nyonya memang menjaga suami Nyonya itu baik-baik!" Ada nada kesal yang terdengar dari ucapan Ricky.
Anindita yang mendengar Ricky berucap dengan kata sedikit sinis langsung menoleh ke arah Ricky, kemudian kini mengarahkan pandangan ke Kirania.
" Tidak apa-apa kok, Bu. Itu hanya makan malam biasa, tidak ada yang spesial." Anindita kemudian menanggapi permintaan maaf Kirania, dan justru kali ini Ricky lah yanb menoleh ke arah Anindita karena apa yang dilakukannya tadi dianggap bukan hal yang spesial untuk Anindita.
" Sayang ..." Dirga kini berhasil menyusul istrinya. " Sayang, kau kenapa mengganggu momen romantis mereka berdua?" Dirga yang melihat istrinya mendekati Ricky yang sedang berbicara dengan menggenggam tangan Anindita langsung memprotes Kirania.
" Aku?" Kirania menunjuk ke arah dirinya sendiri. " Apa Abang nggak sadar kalau Abang lah yang sudah merusak acara mereka?!" geram Kirania kesal.
" Sayang, aku ini tidak merusak. Aku justru mengabadikan momen mereka, sebagai kenang-kenangan untuk anak-anak mereka jika telah dewasa nanti. Bagaimana sweet dan romantisnya Papa mereka waktu melamar Mama mereka. Aku merusaknya itu di bagian mana, Sayang?" Dirga berkelit, dia tidak terima telah dituduh merusak suasana.
" Anin, sebaiknya kita pergi dan jangan dengarkan bos gi*la ini!" ketus Ricky membawa Anin mengikuti langkahnya.
" Hei, kau bilang apa tadi, Rick? Si*alan, kau mengatakan aku gi*la?! Kau lihat saja, aku akan memotong gajimu! Aku kirim kau ke Antartika atau sekalian aku tenggelamkan kau ke Segitiga Bermuda karena sudah berani menghinaku!" gerutu Dirga setengah berteriak hingga membuat beberapa orang yang lalu lalang di sana mengeryitkan keningnya memperhatikan Dirga.
__ADS_1
" Abang! Jangan bikin malu diri sendiri!" tegur Kirania yang menyadari jika kini mereka sudah jadi pusat perhatian pengunjung.
" Sayang, apa kamu tidak sakit hati suamimu ini dikatakan gi*la?!"
" Memangnya Abang nggak sadar, kalau dari dulu Abang memang seperti itu?!" umpat Kirania kesal kemudian kembali meninggalkan Dirga sendiri.
***
" Halo, Cika. Tolong kamu tanya berapa total bill nya, bilang ke kasir nanti saya transfer langsung ke rekening restoran itu." Saat sampai di mobil, Ricky menelpon Cika karena Anindita memilih tak ingin masuk kembali ke restoran.
" Baik, Pak." Dari balik telepon Cika menyahuti permintaan Ricky.
" Tolong kasih telepon kamu ke Bu Fatma, saya ingin bicara dengan beliau," pinta Ricky kemudian.
" Baik, Pa."
Ricky menunggu beberapa saat.
" Halo ...." Kini terdengar suara Mama Arya.
" Ibu, maaf saya tidak kembali lagi ke sana. Anin meminta pulang, jadi saya ingin mengantarnya. Nanti Ibu bersama Rama, Cika dan Tita pulang bersama Pak Syaiful, tidak apa-apa 'kan, Bu?" Ricky menyampaikan permintaan maafnya ke Mama Arya.
" Oh, tidak apa-apa, Nak."
" Saya minta tolong juga sama Ibu, tolong sampaikan permintaan maaf saya dan Anin kepada teman-teman Anin ya, Bu."
" Baiklah, Nak. Nanti Ibu yang akan bicara kepada mereka."
" Sekali lagi terima kasih, Bu. Ibu bisa kasih kembali teleponnya ke Cika?"
" Oh, sebentar ... Cika."
" Halo, bagaimana, Pak?"
" Cika, nanti kalau sudah selesai tolong bawa Bu Fatma dan Rama pulang bersama Pak Syaiful karena saya dan Anin tidak kembali ke sana."
" Oh iya baik, Pak."
Setelah selesai berbicara dengan Cika, Ricky langsung menyalakan mesin dan melajukan mobilnya kembali ke apartemennya.
*
*
*
Bersambung ...
Sambil menunggu Anin up, yg belum baca kisahnya Dirga&Kirania silahkan mampir di RTB👇
Thanks Mam Yusma Aryandi untuk editannya🙏
__ADS_1
Happy Reading❤️