ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu

ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu
Fakta Tentang Anin


__ADS_3

Arya menatap kagum pada wanita cantik yang saat ini sedang mengenakan kebaya warna broken white.


" Bagaimana, Pak Arya? Cantik 'kan calon mempelainya?" Ibu Sulis yang menghandle urusan salon meminta pendapat Arya yang nampak tertegun mengagumi kecantikan Anindita.


" Ah, iya, Bu ... Masya Allah cantik sekali," puji Arya saat Anindita sedang melakukan fitting baju pengantin, seminggu sebelum acara pernikahan.


Tentu saja pujian yang dilontarkan Arya langsung membuat wajah Anindita bersemu, apalagi dia dipuji di depan orang lain.


" Mbak Anin sudah cantik ditambah pakai kebaya ini semakin cantik auranya." Ibu Sulis semakin memuji kecantikan Anindita.


" Pak Arya dan Mbak Anin ini pasangan yang cocok. Auranya juga nampak bersinar." Puji Bu Sulis kembali


" Terima kasih, Bu Sulis." Arya menyahuti pujian Bu Sulis.


" Bagaimana, Mbak Anin? Apa sudah nyaman dipakai kebayanya?" tanya Bu Sulis menanyakan pendapat Anindita tentang kebaya yang dirancang olehnya.


" Sudah cukup kok, Bu." Anindita menyahuti.


" Punya Pak Arya sendiri bagaimana? Sudah enak dipakainya?" Bu Sulis kini menanyakan Arya.


" Sudah, Bu. Rasanya pakai busana begini, ingin cepat-cepat ajak Anin ke penghulu, deh." Arya berkelakar hingga membuat Ibu Sulis terkekeh, sementara Anindita sendiri hanya tersipu malu.


" Haha ... Pak Arya bisa saja. Sepertinya Pak Arya ini sudah tidak sabar ingin melepas masa dudanya, ya?"


" Tentu saja, Bu. Sudah lama ingin saya resmikan dia, tapi dia nya masih malu saja." Arya kembali berseloroh.


" Ya sudah, seminggu lagi juga akan resmi jadi Nyonya Arya Rahardja. Ibu doakan semua lancar dan pernikahan kalian kali ini jadi yang terakhir buat Pak Arya" Ibu Sulis turut mendoakan.


" Aamiin, terima kasih, Bu." Arya dan Anindita menjawab bersamaan.


***


Ricky menarik laci meja kerjanya. Dia kemudian mengambil kotak yang berisikan ikat rambut Anindita yang pernah ditinggalkan wanita itu saat kejadian kelam beberapa tahun silam. Dia membuka kotak itu lalu mengambil ikat rambut milik Anindita.


" Tuan, sebenarnya Anda kenapa? Tuan sakit? Biar saya bantu Anda, Tuan."


" Tuan, apa Anda sakit?'


" Tuan, minumlah ini."


" Tuan, sebaiknya Tuan istirahat dulu di dalam mobil, setelah tenang dan pengaruh obat itu hilang, Tuan bisa melanjutkan perjalanan Tuan. Mari saya bantu Tuan ke mobil."


Ricky memejamkan matanya, kilasan kejadian itu seakan kembali menari-nari di pelupuk matanya. Ricky kemudian menghela nafas panjang. Walau hanya sepintas berjumpa dengan Anindita saat itu, tapi dia merasa Anindita kala itu adalah wanita yang baik hati dan ramah. Terbukti Anindita hendak menolongnya meskipun saat itu Anindita tidak mengenal siapa dirinya. Berbeda dengan Anindita yang sekarang, wanita itu selalu memasang wajah tak bersahabat jika sedang bersamanya.


" Rick, apa kau tidak berminat menggagalkan rencana pernikahan Mamanya Rama dengan calon suaminya itu? Seperti yang pernah kau lakukan saat menggagalkan rencana pernikahan istriku ini dengan mantan tunangannya."


Perkataan Dirga beberapa hari lalu seketika ikut berkelebat di benaknya. Ricky bahkan tidak menyangka jika bos nya itu sampai mengusulkan ide gila itu. Ide yang memang pernah dia pakai untuk mempersatukan Dirga dan Kirania.

__ADS_1


Ricky menyeringai memikirkan hal itu. Dia tidak bisa membayangkan jika sampai dia melakukan hal yang disarankan Dirga. Mungkin Anindita akan semakin membenci dirinya.


Mengingat pernikahan Anindita dan Arya tiba-tiba Ricky teringat akan Ramadhan. Anindita pasti akan sangat repot menghadapi hari pernikahannya. Sedangkan dia tahu Anindita tidak mempunyai keluarga. Lalu siapa yang akan mengurus Ramadhan? Itu yang tiba-tiba mengusik hati Ricky.


Ricky segera mengambil ponselnya, kemudian dia mencari kontak Arya dan menghubungi pria yang akan menjadi suami Anindita itu.


" Selamat sore, Pak Arya. Maaf saya menganggu Anda. Apa Anda sedang sibuk?" tanya Ricky kepada Arya.


" Selamat sore, Pak Ricky. Saya baru saja selesai fitting. Ada apa?" Arya menyahuti.


" Apa saya bisa bertemu dengan Anda, Pak Arya?" tanya Ricky kemudian.


" Maaf, apa ada hal penting yang ingin Pak Ricky bicarakan dengan saya?" tanya Arya merespon pertanyaan Ricky.


" Soal Ramadhan."


" Ada apa dengan Rama?"


" Sebaiknya kita bicara secara langsung. Apa Pak Arya keberatan?"


" Baiklah, nanti selepas Isya temui saya di cafe dekat Angkasa Raya Residence. Bagaimana?"


" Baiklah kita ketemu di sana setengah delapan malam."


" Oke."


***


" Siapa, Mas?" tanya Anindita selepas Arya memutus sambungan teleponnya.


" Pak Ricky."


Anindita mengerutkan keningnya mengetahui jika ternyata Ricky lah yang menelepon Arya.


" Ada apa dia telepon Mas Arya?"


" Entahlah, dia bilang ada yang ingin dia katakan soal Rama." Arya jujur mengatakan apa yang ingin Ricky bicarakan.


" Rama? Memangnya kenapa dengan Rama?" tanya Anindita penasaran.


" Entahlah, dia meminta bertemu denganku."


" Kenapa hanya Mas Arya? Kenapa Tuan Ricky tidak mengajak bicara aku juga, Mas? Aku ini ibu kandung Rama, Mas." Anindita nampak kesal karena Ricky ingin bicara soal Ramadhan dengan Arya sedangkan dia yang notabene orang yang melahirkan Ramadhan seakan tak dianggap.


" Aku justru tidak suka kalau kamu ikut, Nin."


" Memangnya kenapa Mas nggak suka aku ikut? Rama itu anakku, Mas!" tegas Anindita.

__ADS_1


" Aku tahu Rama itu anakmu. Tapi kamu mesti ingat kalau kau ini calon pengantin. Aku tak ingin ada pria lain yang terpikat dan berniat merebut calon istriku yang cantik jelita itu."


Anindita mencebikkan mulutnya mendengar kalimat Arya yang terdengar seperti menggoda dirinya.


" Aku nggak ingin, Pak Ricky tiba-tiba jatuh cinta karena melihat aura pengantin yang terpancar dari wajahmu, Anindita cintaku, sayangku."


" Mas Arya nggak udah bicara yang aneh-aneh, deh!" Anindita langsung masuk ke ruang tengah karena dia tak ingin Arya terus menggodanya


Sementara itu di belahan bumi lainnya, seorang wanita berusia sekitar tiga puluh tiga tahun sedang mencoba menghubungi seseorang dengan ponselnya.


" Halo, Lan. Lan, Mbak punya kabar tentang calon istri Mas Arya itu." Wanita yang ternyata adalah Ria langsung berbicara saat panggilan teleponnya terangkat.


" Kabar apa, Mbak?" tanya Lanny, adik bungsu dari Arya yang tinggal di Penang.


" Berita yang sangat mengejutkan. Kamu pasti akan kaget kalau Mbak kasih tahu."


" Aduh, Mbak. Jangan buat aku penasaran, dong! Buruan deh, kasih tahu aku berita apa yang Mbak Ria dapat tentang wanita itu?!" Lanny benar-benar merasa tak sabaran.


" Ternyata wanita itu mempunyai anak di luar nikah. Kamu tahu anaknya yang bernama Rama? Ternyata itu anak haram. Ternyata dia itu bukan janda karena dia itu tidak pernah menikah sebelumnya." Ria membuka fakta tentang Anindita


" Serius, Mbak? Mbak tahu dari mana tentang hal ini?"


" Dari temannya Mas Fadli di Jakarta. Ternyata istri dari teman Mas Fadli itu guru di tempat anaknya Anindita sekolah." Ria kembali menjelaskan.


" Wah, beritanya actual, donk! Lalu apa Mas Arya sudah tahu tentang hal ini ya, Mbak?"


" Mbak yakin Mas Arya tahu, tapi kamu tahu sendiri, kakak kita itu logikanya sedang ditutup oleh cinta makanya dia milih wanita nggak jelas seperti itu."


" Kalau Mama?"


" Mbak rasa Mama nggak tahu masalah ini. Terlalu beresiko kalau kita kasih tahu Mama."


" Lalu apa yang harus kita kalukan, Mbak?"


" Besok kita ketemu di Jakarta, bagaimana?"


" Hmmm, oke, deh. Aku nanti minta ijin Mas Eko."


" Iya, kita harus gagalkan pernikahan ini sebelum Mas Arya benar-benar menikah dengan dia!" tekad Ria mantap. Dia sepertinya siap menabuh genderang perang.


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Happy Reading.


__ADS_2