ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu

ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu
Bapak Bisa Diam Tidak


__ADS_3

Anindita menatap nanar nisan yang bertuliskan nama suaminya. Rasanya dia masih belum bisa percaya jika suaminya itu begitu cepat pergi meninggalkannya.


" Mas, anak kita sebentar lagi akan lahir. Aku selalu berdoa agar dia mempunyai kelembutan hati seperti Papanya." Anindita menyeka cairan bening yang mengembun di bola matanya. " Aku sedih kamu nggak sempat melihat anak kita, Mas."


Tita yang berada di samping Anindita langsung mengusap punggung majikannya itu. Tita memang ditugasi Ricky menuntun Anindita, sementara Pak Syaiful ditugaskan menggandeng Ramadhan. Sedangkan Ricky sendiri mengangakat tubuh Mama Arya dengan kedua lengannya. Ricky mengerti sebagai seorang Ibu, Mama Arya pun pasti ingin melihat makam anaknya.


" Arya, Mama datang, Nak. Mama akan menemani Anin saat melahirkan nanti. Kamu tenang di sana ya, Nak. Karena Anin dan anak-anak sudah berada di orang yang tepat." Mama Arya seolah berbicara pada Arya.


Setelah mereka selesai membacakan doa-doa, kini mereka menaburkan kelopak mawar juga melati lalu menaruh buket mawar dan lily putih di dekat pusara. Lalu Anindita pun melangkah lebih dahulu bersama Tita, Ramadhan dan Pak Syaiful meninggalkan makam Arya.


" Pak Arya, semoga Anda tenang di sana. Saya akan menjaga Anin, anak-anak dan juga Ibu Fatma sebaik mungkin." ucap Ricky sebelum akhirnya dia pun melangkah meninggalkan makam Arya.


***


Entah ini sudah keberapa kalinya Anindita harus bolak balik ke bathroom hingga membuatnya sulit tidur karena rasa nyeri di bagian punggung dan pinggangnya terasa semakin menguat.


Anindita terbelalak saat dia melihat flek di celananya. Dia lalu kembali ke dalam kamarnya untuk membangunkan Tita. Anindita berjalan dengan perlahan dengan tangan mengusap bagian pinggangnya karena kontraksi yang dia rasakan mulai intens menderanya.


Anindita mengambil ponselnya sebelum akhirnya duduk di tepi tempat tidur. Dia mencari kontak Tita di dalam ponselnya itu.


Sekitar lima menit dia melakukan panggilan terhadap ART nya itu namun panggilan teleponnya tidak juga diangkat. Sedangkan Cika sedang cuti karena menghadapi UTS di kampusnya membuat dia harus konsentrasi dalam pelajarannya jadi ijin tidak bekerja.


Anindita ingin berjalan ke luar kamarnya menuju kamar Tita, namun rasa sakitnya tidak memungkinkan dia melangkah jauh. Dia juga tidak mungkin menghubungi Mama Arya karena kondisi Mama mertuanya itu yang lumpuh.


Karena Anindita tidak punya pilihan karena Tita tidak juga mengangkat panggilan telepon darinya, akhirnya Anindita mencoba menghubungi Ricky.


Tidak lebih dari satu menit Anindita menunggu, Ricky sudah mengangkat panggilan telepon dari Anindita.


" Halo, ada apa, Anin? Apa kamu sudah ingin melahirkan?" tanya Ricky cepat. Karena saat ini jam sudah menunjukan pukul dua dini hari, tak heran jika Ricky merasa cemas jika Anindita meneleponnya karena sudah terasa karena ingin melahirkan.


" Bapak bisa tolong saya bangunkan Mbak Tita? Saya hubungi dia tapi tidak juga diangkat teleponnya. Ssshhh ..." rintihan Anindita terdengar selesai Anindita berkata pada Ricky.


" Saya ke sana sekarang! Tut ... tut ... tut ..." Terdengar di telinga Anindita jika Ricky langsung mematikan panggilan teleponnya.


Dan hanya beberapa menit saja Ricky sudah masuk ke dalam kamar Anindita.

__ADS_1


" Kita ke rumah sakit sekarang." Ricky langsung mengangkat tubuh Anindita dengan tangannya.


" T-tapi Mama, Mbak Tita ..." Anindita meminta agar Mama mertuanya dan Tita juga ikut dengannya.


" Tita akan di sini menemani Ibu Fatma dan Rama."


" Tapi ...."


" Ini tengah malam, kasihan jika mereka harus ikut bersama kita." Ricky keluar membawa Anindita dari kamarnya. " Ta, Tita ...!" Teriak Ricky di depan kamar Tita sementara Anindita ikut mengetuk kamar Tita.


" Aku mau ke Mama dulu," pinta Anindita.


Akhirnya Ricky membawa masuk Anindita ke kamar Mama Arya.


" Ada apa, Anin? Apa sudah terasa?" Mama Arya yang sepertinya mendengar kegaduhan di luar kini sudah duduk di tepi tempat tidurnya.


" Pak, turunkan saya dulu." Anindita meminta Ricky menurunkannya hingga kini Anindita duduk di tepi Mama mertuanya.


" Ma, doakan Anin supaya proses melahirkannya lancar, Anin juga mohon maaf sama Mama kalau ada perbuatan Anin yang menyakiti hati Mama." Anindita mencium tangan Mama Arya. Anindita pun meminta doa dari Mama Arya dan juga dengan keikhlasan memohon maaf atas kesalahan yang mungkin secara sengaja atau tidak sengaja melukai hati Mama Arya itu.


" Tidak ada yang perlu dimaafkan, Anin. Kamu menantu Mama yang sangat baik melebihi anak-anak Mama sendiri. Mama doakan persalinanmu lancar. Sehat dan selamat Ibu dan bayinya." Mama Arya mengusap pipi Anindita yang terlihat sangat lelah.


" Ibu, maaf saya nggak dengar bunyi telepon." Tita yang sudah terbangun langsung masuk ke dalam kamar Mama Arya.


" Nggak apa-apa, Mbak." sahut Anindita.


" Tita, kamu tolong jaga Bu Fatma. Besok pagi kamu bawa Bu Fatma dan Rama ke rumah sakit, minta antar Pak Syaiful!" perintah Ricky kepada Tita.


" Ibu mau melahirkan sekarang?" tanya Tita


" Sebaiknya kamu bawa ke rumah sakit sekarang, Nak. Kasihan Anin ..." Mama Arya menyuruh Ricky agar segera membawa Anindita ke rumah sakit.


" Baik, Bu." Ricky mengangkat tubuh Anindita dengan kedua lengannya.


" Anin berangkat ya, Ma. Assalamualaikum ..." Anindita berpamitan.

__ADS_1


" Waalaikumsalam. Bilang sama Pak Syaiful jangan ngebut ya, Nak." Mama Arya sempat berpesan sebelum Ricky berlalu dari kamar Mama Arya karena Ricky memang meminta diantar oleh Pak Syaiful.


***


Ricky memperhatikan Anindita yang duduk di sebelahnya nampak menahan rasa sakit. Dia bisa membayangkan jika dulu pun saat melahirkan Ramadhan, Anindita mengalami hal yang sama seperti yang dia lihat sekarang ini.


" Ssshh ...."


Ricky mendekatkan tubuhnya ke arah Anindita dia lalu melingkarkan tangan kirinya ke pundak Anindita sedang tangan kanannya langsung menggenggam tangan Anindita hingga membuat Anindita terkesiap. Namun karena rasa sakitnya yang semakin menjadi dia tidak memperdulikan apapun yang Ricky lakukan kepadanya.


" Astaghfirullahal adzim ..." Anindita sampai beristighfar demi menahan kontraksi yang semakin sering terjadi.


" Pak, bisa agak cepat tidak?" Ricky meminta Pak Syaiful untuk melajukan mobil agak kencang.


" Ssshh ... jangan ngebut-ngebut bawa mobilnya, Pak." Anindita melarang Pak Syaiful menuruti perintah Ricky.


" Ya Allah ..." Anindita mencengkram erat tangan Ricky yang menggenggamnya.


" Pak, tolong cepat sedikit!"! Ricky kembali memerintahkan Pak Syaiful tak perduli larangan yang dilontarkan Anindita tadi.


" Baik, Pak." sahut Pak Syaiful.


" Astaghfirullahal adzim, Ya Allah ... sakiiittt ..." Anindita sampai terisak karena kontraksinya.


" Apa bayinya akan keluar sekarang?" Ricky nampak panik karena Anindita terlihat pucat dengan mata terpejam dan cairan bening mulai menetes di pipinya. " Aaaakkhh ...."


" Anin, apa kamu masih bisa menunggu sampai rumah sakit? Jangan keluar di dalam mobil. Saya tidak bisa menolong orang yang akan melahirkan. Tahanlah sebentar, sekitar sepuluh menit lagi kita sampai di rumah sakit. Jadi kamu sabar sebentar lagi, ya."


" Bapak bisa diam tidak, sih?! Saya ini sedang kontraksi!" hardik Anindita karena saat dia merasakan sakit karena dorongan dari sang bayi. Ricky justru mengoceh menasehatinya untuk bersabar dan menahan agar tidak mengeluarkan si bayi dalam perutnya saat itu di dalam mobil.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading ❤️


__ADS_2