ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu

ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu
Memberi Kesempatan


__ADS_3

" Rama ayo, Nak. Jangan lama-lama main airnya nanti masuk angin!" teriak Anindita saat mendengar Ramadhan asyik bermain busa sabun di bathtub.


" Nanti, Ma. Busanya belum habis-habis." Ramadhan menyahuti.


" Rama turun dari sana cepat, nanti Mama bilas pakai air hangat dari shower." Anindita menyuruh Ramadhan untuk keluar dari bathtub, karena jika dia tidak lakukan itu anaknya akan terus-terusan berlama-lama di kamar mandi.


" Ma, nanti di rumah kita bikin kaya gini ya, Ma! Jadi Rama mandinya nggak di ember lagi," ujar Ramadhan sambil terkekeh.


" Kalau yang kamar mandinya begini itu orang yang rumahnya besar jadi bisa buat bikin kamar mandi seperti ini." Anindita menjelaskan.


" Ya sudah, Mama buat saja rumah yang besar, Ma. Biar bisa punya kamar mandi kayak gini."


Anindita hanya tersenyum mendengar celotehan anaknya itu.


" Ayo pakai baju dulu!" ucap Anindita setelah dia mengeringkan tubuh anaknya itu.


Ddrrtt ddrrtt


" Mama, teleponnya bunyi." Ramadhan menunjuk ponsel mamanya yang diletakan di atas nakas saat Anindita memakaikan baju anaknya.


" Rama belajar kancingkan sendiri bajunya, ya!" pinta Anindita kemudian di meraih ponselnya dan ternyata Lucy lah yang saat ini menghubunginya.


" Halo, Ci ... ada kabar apa, Ci?" sapa Anindita saat dia mengangkat panggilan telepon itu.


" Nin, kamu gimana? Masih di hotel atau sudah di rumah Pak Arya?" tanya Lucy.


" Saya masih di hotel, Ci. Besok pagi baru pindah ke rumah Mas Arya."


" Oh, gitu ...."


" Apa orang itu ada datang lagi ke sana, Ci?" tanya Anindita penasaran.


" Hmmm ... iya, Nin."


" Cici nggak kasih tahu aku ada di sini 'kan, Ci?" Anindita mendadak cemas. Dia merasa seperti buronan yang harus bersembunyi dari kejaran orang.


" Tidak, Nin. Cici nggak kasih tahu kamu ada di mana sekarang, tapi ..." Lucy menjeda kalimatnya .


" Tapi apa, Ci?"


" Dia cerita semuanya sama Cici dari awal kejadian malam itu, Nin."


Deg

__ADS_1


Anindita menelan salivanya sementara hatinya langsung berdebar-debar saat Lucy bilang pria itu menceritakan kejadian kelam malam itu.


" Ternyata selama ini dia selalu mencari keberadaan kamu, Nin. Dia menyuruh orang selama lima tahun ini, sampai dia salah mengira orang dan akhirnya bertemu dengan keluarga bos kamu di mana kamu tinggal dulu. Dan dari mantan bos kamu itulah dia tahu tentang Ramadhan." Lucy menceritakan semua yang Ricky katakan kepada Anindita.


Seketika dada Anindita terasa sesak, semua kejadian yang Lucy bilang terutama soal bagaimana dulu dia tinggal bersama Koh Leo dan Sandra persis seperti yang sebenarnya dia alami.


" Nin, Cici rasa ... sebaiknya kamu memberi kesempatan dia untuk bicara. Dia bilang hanya ingin meminta maaf dan bertemu dengan Ramadhan. Dia ingin menyampaikan rasa penyesalannya dan tidak berniat merebut Ramadhan dari kamu."


Anindita menarik nafas yang terasa tercekat di tenggorokannya.


" Kamu tahu, Nin? Ternyata papa Rama itu bukan orang sembarangan. Dia itu salah satu petinggi di perusahan besar Angkasa Raya."


Anindita membelalakkan matanya saat Lucy menyebut nama Angkasa Raya, karena dia tahu perusahaan itu adalah perusaan bonafit.


" Cici takut, kalau kamu menghindar dan tidak memberikan kesempatan dia untuk bicara, dia akan nekat membawa pergi Rama, Nin. Dia orang berduit, selama ini dia gigih mencari keberadaan kamu, dan sekarang bukan tidak mungkin dia akan bisa menemukan kamu meskipun kamu berusaha sembunyi dari dia," lanjut Lucy.


" Karena bagaimanapun juga dia itu papa kandung Rama, Ikatan dia dengan Rama sangat kuat."


Anindita mendesah, " Iya, Ci. Nanti saya diskusikan terlebih dulu dengan Mas Arya."


" Ya, Nin. sebaiknya bicarakan ini dengan Pak Arya dulu. Cici rasa Pak Arya bisa mengerti."


" Iya, Ci ...."


Anindita lalu menoleh ke arah Ramadhan yang ternyata sudah menumpahkan bedak ke seluruh wajahnya hingga kini wajah tampan bocah tertutup bedak tebal.


" Ya ampun, Rama ... kenapa mukanya dikasih bedak gitu?" Anindita mendekat ke arah anaknya.


" Biar kaya badut, Ma." Ramadhan terkikik.


" Kenapa Rama, Nin?" Lucy yang masih dalam sambungan telepon menanyakan.


" Mukanya dikasih bedak bayi tebal sekali, Ci. Biar kaya badut bilangnya."


Lucy terkekeh mendengar penjelasan Anindita.


" Ya sudah, kamu urus Rama dulu sana, Nin. Cici tutup saja teleponnya, ya!"


" Iya, Ci."


Anindita pun kemudian menaruh ponselnya kembali setelah Lucy menutup sambungan teleponnya lalu membersihkan wajah Ramadhan yang tertutup baby powder.


***

__ADS_1


Arya memperhatikan mobil yang terparkir di halaman rumah dinasnya. Arya ingat mobil itu adalah mobil milik dari pria yang merupakan ayah biologis Ramadhan.


Rahang Arya seketika mengeras mendapati mobil mewah itu berada di halaman rumahnya, Dia lalu menoleh ke arah dalam rumahnya. Kemudian bergegas masuk ke dalam rumahnya.


" Assalamualaikum ..." sapa Arya saat mendapati Mamanya sedang mengobrol bersama Ricky.


" Waalaikumsalam, nah ... itu dia Arya datang." Mama Arya.


" Selamat sore, Pak Arya." Ricky berdiri menyambut Arya.


" Ada perlu apa Anda kemari?" ketus Arya tak bersahabat.


" Arya, Pak Ricky ini bilang ada keperluan sama kamu," ucap Mama Arya.


" Ya sudah, silahkan kalian berbincang, Mama tinggal dulu." Mama Arya langsung mengarahkan kursi dorong otomatisnya masuk ke ruangan dalam.


" Dari mana Anda tahu tempat tinggal saya? Dan apa yang sudah Anda katakan pada mama saya?" Arya bertanya sambil menatap curiga.


" Apa tidak masalah kita bicara di sini?" tanya Ricky.


Arya berpikir sejenak lalu berkata, " Ikut saya!" Arya kemudian berjalan menaiki anak tangga yang diikuti oleh Ricky.


" Silahkan duduk ..." Arya mempersilahkan Ricky duduk di ruangan keluarga di lantai atas.


" Maaf, Pak Arya ... jika kedatangan saya kemari tidak berkenan untuk Anda. Saya harap Pak Arya tidak menganggap saya layaknya musuh. Saya sadar apa yang telah saya lakukan terhadap calon istri Pak Arya adalah salah dan saya sangat menyesali itu. Tapi percayalah ... saya bukan orang jahat seperti yang Pak Arya pikirkan. " Akhirnya Ricky menceritakan kepada Arya dari awal kejadian itu sampai akhirnya melihat Anindita mengantar bunga di apartemen Angkasa Raya Landmark.


Arya menghela nafas panjang setelah mendengar penjelasan Ricky.


" Saya tidak berniat berbuat jahat kepada Nona Anindita. Saya ingin diberi kesempatan untuk meminta maaf dan menyampaikan penyesalan saya. Dan saya juga berharap diberi kesempatan untuk menjalankan kewajiban saya terhadap Ramadhan sebagai anak kandung saya."


" Jika Nona Anindita berpikir saya akan merebut Ramadhan, itu sama sekali tidak benar dan saya pun tidak pernah berpikir sejahat itu. Nona Anindita sudah menderita karena perbuatan saya, mana mungkin saya akan menyakiti dia." Ricky menegaskan maksud dan tujuannya kepada Arya.


" Saya mohon pengertian Pak Arya untuk memberi kesempatan kepada saya untuk bertemu dengan Nona Anin dan untuk menjelaskan hal yang sebenarnya terjadi," mohon Ricky penuh harap.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading ❤️

__ADS_1


__ADS_2