ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu

ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu
Berbesar Hati


__ADS_3

Anindita berlari menuju mobil Pak Daus dengan agak tergesa. Jujur saja, sikap yang ditunjukkan Ricky tadi yang terlihat sangat posesif sangat mengganggu dirinya. Kejadian yang dia alami tadi sebenarnya adalah hal yang wajar tapi Ricky nampak terlalu berlebihan menanggapinya, dan itu membuat dirinya tak nyaman. Apalagi saat Ricky mendekapnya tidak sedikit orang yang memperhatikan dengan pandangan yang berbeda-beda.


" Pak Daus, kita pulang sekarang," ucap Anindita setelah sampai di mobil.


" Apa itu, Mbak Anin?" tanya Pak Daus melihat goodie bag besar yang Anin bawa.


" Punya Rama, Pak." Anindita menjawab singkat.


" Oh ..." Pak Daus sepertinya mengerti apa yang dimaksud Anindita.


Ddrrtt ddrrtt


Anindita langsung meraih ponselnya saat benda itu bergetar dari dalam waist bag nya.


" Assalamualaikum, Mas." Anindita menjawab panggilan masuk dari Arya.


" Waalaikumsalam, kamu ada di mana sekarang, Nin?" tanya Arya.


" Hmmm, aku perjalanan pulang ke toko, baru selesai antar bunga untuk wedding party bos Angkasa Raya, Mas." Anindita menjawab yang sejujurnya.


" Oh, kamu sama Rama juga, ya? Sudah makan belum? Posisi kamu di mana sekarang? Aku jemput saja, ya!" ujar Arya.


" Rama nggak aku ajak, Mas. Tadi waktu mau berangkat dia tertidur dan badannya agak demam jadi aku nggak bawa dia." Anindita menjelaskan.


" Rama sakit?" Arya nampak khawatir.


" Agak demam sedikit saja sih, Mas. Mungkin dia kelelahan sepulang sekolah tadi." Anindita berusaha menenangkan Arya, walaupun sebenarnya dia juga merasa khawatir.


" Ya sudah, kita ketemu di toko saja, ya! Aku mau lihat Rama sekalian aku belikan makanan untuk kalian. Mau aku belikan obat apa untuk Rama, Nin?"


" Nggak usah, Mas. Nanti aku kasih dia madu saja. Nanti aku beli di apotik sebelah toko saja." Anindita menolak tawaran Arya yang ingin membelikan Ramadhan obat.


" Ya sudah kalau begitu kita ketemu di toko saja. Aku jalan sekarang. Assalamualaikum ..." Arya segera mematikan ponselnya.


" Waalaikumsalam ..." sahut Anindita sebelum panggilan telepon dari Arya terputus.


" Mbak Anin beruntung dapat calon suami seperti Pak Arya." Pak Daus langsung berkomentar selepas Anindita berhenti menelepon.


Anindita tersenyum malu mendengar ucapan Pak Daus.


" Iya, Pak. Mas Arya orang sangat baik." Tak sungkan Anindita memuji Arya di depan Pak Daus. Karena tanpa dia ucapkan pun hampir seluruh karyawan Alabama Florist tahu jika Arya adalah pribadi yang hangat dan menyenangkan.


" Kapan mau disegerakan, Mbak Anin?" Pak Daus menggoda Anindita.


" Doakan saja, Pak."


" Pasti dibantu doa, Mbak. Mbak Anin orang baik, Pak Arya juga sama. Sudah cocok dua-duanya."


" Terima kasih, Pak." Anindita tersipu malu mendengar pujian dari Pak Daus untuknya dan calon imamnya.

__ADS_1


***


Arya sampai lebih dahulu di Alabama Florist karena posisi sekolah tempat tugasnya lebih dekat dengan toko dibandingkan posisi Anindita tadi saat Arya telepon.


" Mainan dari dia lagi?" tanya Arya saat membantu Anindita membawakan goodie bag.


" Iya, Mas. Aku minta maaf jika ini mengganggu kamu." Anindita meminta maaf, karena tentu saja dia merasa tak enak hati kepada Arya.


" It's oke. Ini langsung taruh di mobilku saja ya, Nin. Biar nanti pulang nggak kelupaan," sahut Arya.


" Ya sudah, nggak apa-apa." Anindita menuruti keinginan Arya.


Setelah menaruh seluruh mainan pemberian Ricky, Arya pun mengambil tiga box makanan dan menyerahkan kepada Anindita.


" Untuk yang lain sudah aku bawa tadi ke dalam," ujar Arya.


Anindita tersenyum. " Upetinya masih tetap bersambung, nih? Biarpun targetnya sudah kepancing?" ledek Anindita menggoda Arya.


Tentu saja ledekan yang diucapkan Anindita membuat Arya tergelak.


" Tentu saja, biar tetap dapat dukungan massa, dong!" Arya mengedipkan matanya membuat Anindita langsung tersipu.


" Sudah ketemu Rama?" tanya Anindita.


" Dia masih tidur."


" Masih tidur?" Anindita langsung bergegas masuk karena dia takut demam Ramadhan masih belum hilang karena sejak dia berangkat Ramadhan sudah tertidur.


" Ci, Rama masih demam, ya?" tanya Anindita sesampainya di ruang kerja Lucy.


" Sssttt ..." Lucy menempelkan jari telunjuk di bibirnya menyuruh Anindita untuk tidak berisik.


" Tadi itu sudah sempat bangun mencari kamu lalu nangis. Cici sudah kasih obat penurun panas terus dia tidur lagi." Lucy menjelaskan.


" Apa masih demam?" Anindita mendekati Ramadhan dan memegang punggung tangannya ke kening Ramadhan.


" Sudah tidak panas badannya," lanjutnya kemudian.


" Iya, obat yang Cici kasih itu bagus untuk penurun panas, kok."


" Terima kasih ya, Ci. sudah membantu menjaga Rama."


" Nggak apa-apa, Nin. Cici juga senang kok, ditemani dia." Lucy melirik ke arah Ramadhan yang masih tergeletak di sofa ruang kerjanya.


" Oh iya, Nin. Tadi ada Pak Arya ke sini."


" Ah, iya ... dia masih ada di luar." Anindita hampir melupakan keberadaan Arya karena dia merasa cemas dengan Ramadhan.


" Ya sudah, kamu temui dia sana!" Lucy menyuruh Anindita menemui Arya kembali. Dan Anindita pun segera meninggalkan ruang kerja Lucy untuk menemui Arya kembali.

__ADS_1


***


Mobil Arya memasuki halaman parkir rumah pribadinya setelah menjemput Anindita pulang kerja.


" Rama, ini mainan buat Rama." Arya menunjukkan kedua goodie bag besar pemberian Ricky.


" Mainan buat Rama, Om? Wah, keren ..." Ramadhan nampak antusias mengintip isi mainan itu. " Makasih, Om Arya." Ramadhan langsung memeluk tubuh Arya yang sudah duduk di sofa tamu.


Arya mengusap punggung Ramadhan yang sedang memeluknya.


" Itu bukan dari Om Arya, kok. Itu pemberian dari Om Ricky." Arya mengatakan siapa yang memberi mainan itu


" Om Ricky? Memang tadi Om Arya ketemu sama Om Ricky, ya?" tanya Ramadhan mengurai pelukannya.


" Bukan Om Arya yang ketemu, tapi Mama Anin yang ketemu Om Ricky," ujar Arya menjelaskan.


" Iiihhh ... Mama curang, deh!" Ramadhan memberengut.


" Curang kenapa?" tanya Arya, sementara Anindita sudah masuk ke dalam terlebih dahulu, menyiapkan minuman untuknya seperti biasa.


" Curang nggak ajak-ajak Rama ketemu Om Ricky."


" Mama itu mau ajak Rama, tapi Rama tidur. Rama juga 'kan tadi badannya demam jadi Mama Anin takut Rama tambah sakit makanya Mama Anin nggak ajak Rama ketemu Om Ricky. Jadi Rama nggak boleh marah sama Mama." Arya sebijak mungkin memberi pengertian kepada Ramadhan.


" Tapi Rama mau ketemu Om Ricky, Om. Om Ricky juga pasti kangen kalau nggak ketemu sama Rama. Soalnya Om Ricky selalu bilang kangen tiap ajak Rama menginap di rumah Om Ricky."


" Om Ricky sekarang ini sedang sibuk karena bos nya Om Ricky itu mau ada acara pernikahan."


" Om Dirga sama Tante Rania ya, Om?"


" Iya benar, itu Rama tahu, kan? Om Ricky itu sedang sibuk menggantikan pekerjaan Om Dirga. Nanti kalau sudah nggak sibuk pasti Om Ricky juga jemput Rama menginap di rumah Om Ricky." Arya terus memberikan penjelasan agar Ramadhan bisa memahami.


" Iya, Om."


" Nanti Rama bisa video call sama Om Ricky dan bilang terima kasih sama Om Ricky karena sudah kasih mainan banyak buat Rama."


" Iya, Om. Nanti Rama bilang makasih sama Om Ricky."


" Ya sudah, sekarang Rama mandi dulu sama Mbak Tita setelah itu baru buka mainannya," perintah Arya.


" Asyik, Rama mandi dulu ya, Om." Ramadhan pun kemudian berlari ke ruang dalam rumah mencari Mbak Tita, ART di rumah pribadi Arya.


Arya mendesah, kedekatan Ramadhan dan Ricky tentu saja sedikit mempengaruhi ketenangannya, tapi tentu saja dia tidak boleh bersikap egois dan harus berbesar hati. Karena tentu saja keterikatan Ramadhan dan Ricky tidak akan mungkin putus karena hal apapun sekalipun dia kelak menjadi ayah sambung untuk Ramadhan.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading❤️


__ADS_2