
Selepas diadakan tahlilan, Ricky memilih berbincang dengan Pak RT juga Pak Wisnu. Posisi Ricky sebagai orang penting di perusahaan properti pemilik perumahan di tempat mereka tinggal membuatnya sangat disegani oleh orang-orang di sekitar tempat tinggal Arya.
Ricky melirik ke arah Anindita yang sedang berjalan ke arah kamarnya, dengan Tita yang nampak menuntun langkah Anindita. Namun belum sampai kamarnya, wanita malang yang baru saja ditinggal suaminya itu kembali terkulai dan pingsan, membuat Ricky langsung berlari dan mengangkat tubuh Anindita lalu membawanya masuk ke dalam kamar dan merebahkan tubuh lemas Anindita di atas tempat tidur.
" Anin pingsan lagi, Ta?" tanya Mama Arya yang memasuki kamar Anindita dengan kursi rodanya.
" Iya, Bu." Tita yang ditanya langsung menjawab.
" Oh, maaf Nyonya ..." Ricky langsung membungkukkan sedikit tubuhnya menyapa Mama Arya.
" Panggil saja saya Ibu Fatma." Mama Arya menyuruh Ricky agar tidak memanggilnya terlalu formal.
" Baik, Bu Fatma." sahut Ricky.
" Saya turut belasungkawa atas meninggalnya Pak Arya, Bu." Arya mengucapkan rasa berdukanya.
" Terima kasih, Nak ...?"
" Ricky, saya Ricky." Ricky memperkenalkan dirinya.
" Nak Ricky ini ayahnya Rama, kan?"
" Benar, Bu. Saya ayahnya Rama." Ricky sedikit terkejut Mama Arya mengenal dia sebagai ayah dari Ramadhan.
" Arya pernah cerita tentang Nak Ricky kepada Ibu."
Ucapan Mama Arya membuat Ricky tertarik untuk mendengarkan.
" Pak Arya cerita tentang apa, Bu?" Ricky merasa penasaran.
" Arya pernah sempat mengutarakan rasa khawatirnya dengan kehadiran Nak Ricky." Mama Arya mulai bercerita.
" Pak Arya khawatir terhadap saya? Karena masalah apa, Bu?" Ricky dibuat semakin penasaran.
" Arya takut jika Anin akan memilih kembali sama Nak Ricky."
Ricky terkesiap mendengar penjelasan dari Mama Arya itu.
" Karena Arya agak susah waktu berusaha mendapatkan hati Anin, makanya saat tiba-tiba Nak Ricky datang Arya khawatir Nak Ricky akan merebut Anin kembali." Mama Arya menceritakan apa yang dulu pernah anaknya khawatirkan.
__ADS_1
" Itu tidak benar, Bu! Saya tidak pernah berusaha merebut Anindita dari Pak Arya." Ricky dengan tegas menyangkal.
" Memang saat pertama bertemu Pak Arya, pertemuan kami memang berjalan sangat tidak mengenakan sampai terjadi adu jotos. Saya hanya ingin bertemu dengan Rama saat itu karena saya sudah lama mencari keberadaan mereka. Tapi setelah itu hubungan saya dan Pak Arya mulai membaik, dan saya banyak berkomunikasi dengan Pak Arya soal Rama." Ricky mencoba menceritakan kejadian yang sebenarnya, agar Mama Arya tidak salah paham.
" Arya juga bilang sama Ibu seperti itu. Dia mengatakan jika kecemasannya itu tidaklah beralasan. Apalagi setelah Anin mau menerima rencana pernikahannya dengan Arya," ucap Mama Arya kembali.
" Mas ... Mas Arya ...."
Obrolan antara Ricky dan Mama Arya terhenti saat mereka mendengar Anindita memanggil nama Arya masih dengan mata terpejam. Mama Arya mendekati tepi tempat tidur begitu juga dengan Ricky.
" Mas, aku ikut ... Mas jangan tinggalkan aku sedirian ..." Anindita terus meracau dalam ketidaksadarannya.
" Anin, istighfar, Nin ..." Mama Arya menepuk lengan Anindita, " Ta, kamu oleskan minyak aromatherapy biar Anin cepat sadar." Mama Arya memerintahkan Tita untuk kembali merang"sang kesadaran Anindita dengan minyak aromatherapy.
" Baik, Bu." Tita segera melakukan apa yang disuruh oleh Mama Arya.
Setelah beberapa saat, Anindita terlihat mulai mengerjapkan matanya yang masih nampak sembab.
" Mas Arya?" ucap Anindita saat dia membuka matanya dia mendapati sosok Ricky yang berdiri di belakang Mama Arya.
" Mas kamu kembali?" Anindita bergegas bangkit dan berdiri lalu memeluk Ricky yang dia duga adalah Arya.
" Mas, hiks ... hiks ... Mas jangan tinggalkan aku! Aku nggak mau jauh dari Mas Arya." Anindita menangis di dada Ricky.
Ricky seketika merasa kebingungan dengan sikap Anindita yang menduga dirinya adalah Arya. Apalagi saat ini dia dalam pengawasan sorot mata Mama Arya yang menatapnya dengan tatapan mata yang sulit untuk dimengerti.
Anindita kini melepas belitan tangannya di pinggang Ricky, namun kini berganti menangkup wajah pria itu.
" Aku senang Mas Arya kembali." Anindita langsung menghujani wajah Ricky yang dia anggap Arya dengan kecupan-kecupan membuat semua orang yang ada di sana termasuk Rachel yang baru saja sampai kamar Aninidta semakin membulatkan matanya. Apalagi saat Anindita membenamkan ciuman di bibir Ricky.
" Aku mencintaimu, Mas. Jangan pernah meninggalkan aku lagi!" Anindita kembali menautkan bibirnya dengan bibir Ricky membuat Ricky seakan membeku dengan sikap Anindita yang tiba-tiba saja berubah aneh terhadapnya.
Namun tak lama Ricky langsung terkesiap saat tubuh Anindita kembali terkulai dan hampir saja jatuh ke lantai kalau Ricky tak sergap menahan tubuh Anindita. Dan entah sudah keberapa kalinya Ricky mengangkat tubuh Anindita kemudian meletakkannya di tempat tidur.
" Saya mohon maaf, Bu." Ricky menyampaikan permohonan maafnya kepada Mama Arya. Karena tentu saja dia merasa tidak enak atas kejadian yang baru saja terjadi walaupun itu bukan karena kemauannya.
" Ta, kamu keluar dulu, saya ingin bicara dengan Nak Ricky. Tolong tutup pintunya!" perintah Mama Arya kepada Tita.
" Baik, Bu." Tita segera keluar dari kamar Anindita begitu juga dengan Rachel yang lebih dulu meninggalkan kamar Anindita saat dia melihat Anindita mencium Ricky.
__ADS_1
" Saya mohon Bu Fatma jangan salah paham dengan kejadian tadi. Saya juga bingung kenapa ...."
" Apa Arya sempat bicara dengan Nak Ricky?" tanya Mama Arya memotong ucapan Ricky.
" Maksud Bu Fatma?"
" Anin merasa melihat Arya saat melihat Nak Ricky tadi. Saya rasa ada arti dari sikap Anin itu. Karena itu saya tanya Nak Ricky, mungkin Arya pernah berpesan sesuatu kepada Nak Ricky?" tanya Mama Arya kembali.
Ricky menggelengkan kepalanya.
" Kalau bicara secara langsung tidak ada, Bu. Tapi ... sebelum Shubuh tadi saya memang bermimpi tentang Pak Arya, sebelum saya mendengar berita tentang Pak Arya tepatnya."
" Pak Arya datang di dalam mimpi saya. Dia bilang ingin bertemu dengan Rama, karena kebetulan Rama sedang menginap di tempat saya. Pak Arya bilang jika dia sangat menyanyangi Rama seperti anaknya sendiri karena dia ingin ada yang menyayangi anaknya jika suatu saat dia tak ada. Tapi saya tidak menyangka jika Pak Arya benar-benar pergi meninggalkan anak yang masih dalam kandungan istrinya." Ricky hanya menceritakan sebatas itu. Dia tidak menceritakan soal Arya yang menyuruhnya memperlakukan Anindita dengan kelembutan dan memintanya untuk bersabar meluluhkan hati Anindita. Karena Ricky tidak ingin orang tua Arya itu menjadi salah paham.
" Ibu paham sekarang." Itu kalimat yang keluar dari mulut Mama Arya. " Nak Ricky bisa bantu Ibu duduk di tepi tempat tidur Anin?" pinta Mama Arya.
" Tentu saja, Bu!" Ricky dengan cekatan membantu Mama Arya berdiri dan duduk di tepi tempat tidur Anindita.
" Sekarang Nak Ricky bisa tinggalkan Ibu dan Anin berdua," lanjut Mama Arya meminta Ricky untuk meninggalkan kamar Anindita.
" Baik, Bu. Permisi ..." Ricky berpamitan dan segera meninggalkan kamar Anindita.
Selepas kepergian Ricky, Mama Arya kembali mengoleskan minyak aromatherapy untuk menyadarkan Anindita.
" Anin, Mama tahu kamu sangat mencintai Arya, seperti Arya juga mencintai kamu. Sayang jodoh kalian tidak berlangsung lama." Mama Arya kini membelai wajah Anindita.
" Mama tahu terlalu dini jika Mama berpikiran seperti ini. Tapi Mama akan mendukung apapun keputusan kamu ke depannya, termasuk saat nantinya kamu memilih untuk melanjutkan hidup dengan pria lain selama pria itu bisa menerima anak kamu dengan Arya ini." Kini Mama Arya mengusap perut buncit Anindita.
" Kamu butuh pendamping hidup yang akan bisa membantu kamu membesarkan anak-anakmu nanti. Dan jika kamu memilih pria itu sebagai pendamping hidup kamu kelak, sepertinya Arya pun sangat merestuinya." Tentu saja Ricky lah pria yang Mama Arya maksud.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️
__ADS_1