
" Pak Arya?" Ricky terkesiap saat dia membuka pintu apartemennya dia mendapati Arya berdiri di depan pintu.
" Selamat malam, Pak Ricky. Saya ingin bertemu Rama, apa dia sudah tidur?"
Ricky mengeryitkan keningnya menatap Arya. Seingatnya selama Arya mengantar dan menjemput Ramadhan, Arya tidak pernah mengunjungi langsung apartemennya.
" Oh, iya ... Rama ada di kamar saya, dia sudah terlelap," sahut Ricky.
" Bisa saya bertemu dia sebentar?"
Kening Ricky kembali berkerut. Kedatangan Arya seakan aneh untuknya. Untuk apa Arya datang menemui Ramadhan? Bukankah hampir tiap hari pria itu bisa bertemu Ramadhan ketimbang dirinya yang hanya diberi jatah seminggu sekali untuk bisa bersama Ramadhan.
" Oh, silahkan, Pak Arya." Walaupun masih dipenuhi tanda tanya namun Ricky akhirnya mempersilahkan Arya untuk menemui Ramadhan yang memang sudah tertidur sejak sore.
Arya berjalan mendekat ke arah tempat tidur di mana Ramadhan terlelap. Arya mengusap lembut kepala Ramadhan.
" Dia anak yang pintar karena dia terlahir dari seorang ayah yang hebat dan ibu yang tangguh. Dia begitu terlihat bahagia saat berkata akan segera mempunyai Papa. Dia begitu merindukan posisi itu di sampingnya." Ucapan Arya sungguh membuat hati Ricky seakan tercubit karena bukan dia yang disebut Papa oleh anaknya sendiri.
" Saya sangat menyanyangi Rama meskipun dia bukanlah anak kandung saya sendiri. Karena saya juga ingin ada yang bisa menyanyangi anak saya jika saya tidak ada suatu saat nanti. Saya menerima Rama dalam hidup saya seperti saya menerima Anindita."
Ricky menatap Arya, dia patut mengagumi sosok pria di hadapannya itu. Arya bisa menerima kehadiran wanita seperti Anindita dengan latar belakang kehidupan Anindita sebelumnya.
" Anda beruntung, Pak Arya. Rama bisa memanggil Anda dengan sebutan Papa." Tanpa bisa dipungkiri ada sedikit rasa iri di hati Ricky karena perlakuan Ramadhan yang sangat spesial kepada Arya.
" Anda tidak usah khawatir Pak Ricky, akan ada saatnya Rama mengetahui jika Anda adalah ayah yang sesungguhnya." Arya mencoba menenangkan Ricky.
" Istri Anda terlalu keras kepala, Pak Arya. Dia sama sekali tidak memberikan kesempatan kepada saya untuk benar-benar dekat dengan Rama. Saya ingin dari dini Rama mengetahui jika saya adalah ayahnya agar Rama tidak mengalami kebingungan seperti tadi saat putri Anda mengatakan jika saya adalah Papanya Rama." Ada rasa kesal di hati Ricky saat mengingat sikap keras kepala Anindita.
" Pak Ricky harus memakluminya. Anindita itu tidak mempunyai sanak saudara. Setelah kejadian itu dia beruntung berjumpa dengan orang-orang baik di sekitarnya saat masih di Malang ataupun saat dia pindah ke Jakarta. Seandainya saat itu dia tidak ditolong oleh bos nya. Apa Pak Ricky bisa membayangkan bagaimana Anin mendapatkan cemoohan dari masyarakat atas kehamilan hasil perko*saan yang dialaminya itu?"
Ricky menghela nafas yang terasa cukup berat dihirupnya. Apa yang dikatakan Arya memang benar. Mungkin dia tidak menyadari jika pun cukup egois ingin segera mendapatkan pengakuan dari Ramadhan.
" Anin itu sangat sensitif terhadap Anda, Pak Ricky. Karena itu saya harap Pak Ricky jangan selalu membuat Anin kesal. Pak Ricky harus bersabar menghadapi dia. Perlakukan dia dengan penuh kelembutan, karena hal itulah yang dia cari dari seorang pria, pasti suatu saat nanti Pak Ricky bisa meluluhkan hatinya."
Ricky menggelengkan kepala seraya mengalihkan pandangan ke lain tempat. Dia benar-benar tidak memahami kata-kata yang diucapkan Arya tadi. Menghadapi dengan kelembutan? Meluluhkan hati Anindita? Anindita bukanlah wanita yang ingin dia jadikan kekasih atau pendamping hidupnya. Lalu kenapa dia harus berusaha meluluhkan hati Anindita? pikir Ricky.
" Maaf, Pak Arya. Saya ..." Ricky terkesiap saat dia kembali menoleh ke arah Arya yang tadi sedang duduk di tepi tempat tidur, kini dia tidak mendapati sosok itu lagi di sana.
" Pa Arya!" Ricky sampai berjalan ke luar untuk mencari keberadaan Arya.
" Pa Arya, Anda di mana?" Ricky sedikit berteriak mencari Arya. Dia kemudian kembali menuju kamarnya. Ricky sampai mengecek ke kamar mandi dan arah balkon apartemennya, tapi sosok Arya tak juga ditemuinya.
" Pak Arya ...!!" Ricky terus berteriak dan mencari keberadaan Arya.
" Om, Om Ricky kenapa teriak panggil-panggil Papa Arya?"
Ricky terkesiap saat merasakan suara tepukan di pipinya dan suara Ramadhan yang terdengar di telinganya..
Ricky langsung bangkit dan terduduk. Dia melihat jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul tiga lewat lima belas menit dini hari.
" Om kok panggil-panggil Papa Arya? Om mimpi Papa Arya, ya?" tanya Ramadhan.
__ADS_1
Ricky mengusap kepala Ramadhan.
" Iya, tadi Om mimpi Papa Arya. Papa Arya ingin lihat Rama jadi Papa Arya datang di mimpinya Om." Ricky menjelaskan.
" Sekarang Rama bobo lagi, ya! Masih gelap." Ricky pun menyuruh Ramadhan kembali tidur. Sedangkan dia terus berpikir keras atas mimpi yang baru saja dia alami di tidurnya.
***
" Assalamualaikum, Sayang ...."
Anindita terkesiap saat mendengar suara yang sangat dia kenal membisikkan sapaan yang sangat merdu di telinganya membuat Anindita langsung membalikkan tubuhnya.
" Mas Arya?" Anindita langsung memeluk tubuh suaminya itu.
" Mas Arya kok sudah pulang? Katanya mau ke Jogya dulu?" Anindita mengeryitkan keningnya karena suami itu berkata akan mengunjungi mantan gurunya saat sekolah dulu.
" Iya, Mas mampir ke sini sebentar ingin bertemu kamu, Sayang." Arya mengusap kepala Anindita dengan lembut.
Anindita memicingkan matanya mendengar penjelasan sang suami. Kenapa suaminya itu mengatakan mampir sebentar untuk menemuinya sekarang ini.
" Memang Mas Arya mau ke mana lagi? Kok bilang mampir ke sini sebentar?" tanya Anindita heran.
" Mas akan pergi. Mas hanya ingin memelukmu dan bayi kita untuk terakhir kalinya."
Anindita terkesiap mendengar kalimat yang begitu terdengar sangat menakutkan di telinganya.
" Mas! Mas Arya ini bicara apa?!" sergah Anindita merasa tidak suka mendengar kalimat yang diucapkan oleh suaminya itu.
" Mas jangan bicara seperti itu!" Anindita seketika nampak gusar dengan kalimat-kalimat yang keluar dari mulut suaminya itu.
" Mas sayang kamu, Mas juga sayang bayi kita." Arya menekut lututnya hingga kini posisi dia sejajar dengan perut Anindita. Dia lalu mengecup perut Anindita dengan penuh kelembutan.
Anindita merasakan kehangatan saat bibir Arya menyentuh kulit perutnya. Dia mengusap rambut lebat Arya merasakan kedamaian saat menerima sentuhan dari suaminya itu.
Tak lama Arya kemudian kembali berdiri. Dia membelai lembut wajah cantik istrinya. Perlahan dia mendekatkan bibirnya ke bibir Anindita dan menyematkan sebuah sentuhan penuh perasaan yang sangat mendalam, hingga sebuah cairan bening terasa jatuh di kulit wajah Anindita, membuat wanita cantik itu terkesiap dan melepas pagutannya.
" Mas, kenapa Mas Arya menangis?" tanya Anindita heran.
" Mas bahagia, Sayang. Mas bahagia bisa menemui wanita sepertimu. Tapi Mas sedih, karena harus meninggalkanmu ...."
Deg
Jantung Anindita terasa hampir terlepas dari posisinya, bahkan hatinya berdebar sangat kencang saat Arya mengatakan akan meninggalkannya.
" Mas ..." Anindita mengusap wajah tampan suaminya itu.
" Mas mencintaimu, Sayang." Arya mengecup kening Anindita cukup lama.
" Aku juga mencintaimu, Mas." Anindita menyahuti.
" Jaga dirimu baik-baik, Sayang. Jaga anak kita." Arya lalu mengurai pelukannya dan berjalan mundur menjauhi Anindita.
__ADS_1
" Mas, Mas mau ke mana?" tanya Anindita tapi Arya hanya tersenyum tak menjawab pertanyaan Anindita. Hingga tubuhnya kini berbalik melangkah pergi.
" Mas!! Mas Arya mau ke mana? Aku ikut ...!!" teriak Anindita ingin berlari menyusul Arya namun dia merasakan sebuah tangan yang mencekal lengannya.
Anindita menoleh tangan mungil yang memegang tangan kirinya itu.
" Mama ..." suara Ramadhan terdengar kemudian.
" Rama, Mama mau ikut Papa! Ayo kita kejar Papa!" Anindita kembali ingin mengejar Arya namun lagi-lagi ada sebuah tangan yang mencengkal lengannya.
" Nyonya!"
Anindita terkesiap saat mendengar dan mendapati sosok Ricky yang mencengkram tangan kanannya.
" Apa yang Tuan lakukan?! Lepaskan saya!! Saya ingin menyusul suami saya!!" geram Anindita menepis tangan Ricky.
" Tidak, Nyonya!! Anda tidak boleh pergi! Nyonya harus tetap di sini!!"
" Lepaskan kataku!! Saya mau ikut Mas Arya!!" Anindita kemudian menoleh ke arah suaminya namun dia tak mendapati sosok suaminya itu di sana.
" Mas Arya?" Anindita terkesiap melihat bayangan Arya sudah tidak nampak di hadapannya.
" Mas Arya ...!! Mas Arya ...!!" Anindita berteriak histeris
" Mas Arya ...!!" pekik Anindita hingga akhirnya dia terbangun dari mimpinya dengan nafas tersengal.
" Astaghfirullahal adzim, kenapa aku bermimpi seperti itu?" gumam Anindita memegangi dadanya.
Anindita merasakan ruangan tidurnya gelap padahal dia tidak mematikan lampu saat tidur tadi.
" Apa mati lampu? Kenapa gelap sekali?" Anindita lalu mencoba mengambil ponselnya di atas nakas untuk mengetahui jam berapa sekarang ini, namun saat dia meraba atas nakas dia menyenggol suatu benda hingga benda itu terjatuh ke lantai.
Prankk
" Astaghfirullahal adzim ..." pekik Anindita kaget dan bersamaan dengan itu lampu di ruangan itu pun kembali menyala hingga Anindita bisa melihat apa yang tadi terjatuh.
Anindita terkesiap saat dia mendapati bingkai foto Arya terjatuh di bawah. Dia meraih perlahan bingkai foto itu. Seketika dia teringat akan mimpi yang baru saja dialaminya tadi. Dan kecemasan pun tiba-tiba merayapi seluruh hatinya.
Anindita melirik jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul tiga lewat tiga puluh menit dini hari. Anindita pun mencoba menarik nafas perlahan, dia merasakan kegelisahan semakin kuat dirasakan olehnya.
" Ya Allah, ada apa ini? Kenapa perasaanku tidak enak sekali?" gumam Anindita gusar.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️
__ADS_1