
Keesokan paginya ....
Anindita terjaga dari tidurnya saat terdengar suara gaduh di dalam kamarnya, sementara suara Adzan Shubuh terdengar dari masjid yang ada di kawasan Apartemen Angkasa Raya.
" Happy Birthday, Mama ..." Suara Ramadhan terdengar saat lampu kamar dinyalakan disusul dengan lagu selamat ulang tahun yang dinyanyikan oleh Ramadhan, Tita dan Cika yang memegang bolu ulang tahun dengan lilin angka dua dan sembilan.
" Tiup lilinnya dulu, Ma." perintah Ramadhan saat Cika mendekatkan kue ulang tahun itu ke hadapan Anindita yang langsung terduduk di tempat tidur.
" Make a wish dulu, Bu." Cika mengingatkan. Anindita merasa haru, dia sendiri lupa jika hari ini adalah hari ulang tahunnya.
Setelah memanjatkan doa Anindita pun meniup api di dua lilin itu hingga membuat Ramadhan bersorak.
" Selamat ulang tahun, Mama." Ramadhan memeluk tubuh Anindita seraya memberikan kecupan di pipi kanan dan kiri Anindita.
" Terima kasih sayangnya, Mama." Anindita kini bergantian yang mengecup wajah Ramadhan.
" Selamat ulang tahun ya, Bu. Panjang umur, sehat selalu, lancar rezekinya dan didekatkan lagi dengan jodohnya, Aamiin." Tita memberikan ucapan selamat kepada Anindita sambil memeluk tubuh wanita itu.
" Aamiin, terima kasih, Mbak Tita."
" Happy Birthday, Bu. Wish you all the best." Kini giliran Cika yang memberikan selamat dan memeluk Anindita setelah menyerahkan bolu ulang tahun terlebih dahulu kepada Tita.
" Aamiin, terima kasih, Cika," Anindita menerima pelukan dari Cika namun pandangan matanya kini bertumpu pada sebuah buket bunga yang dia tahu siapa pemesan buket itu.
" Bunga itu ..." gumam Anindita.
" Itu bunga dari Pak Ricky buat Bu Anin." Tita yang melihat Anindita memperhatikan buket bunga yang diletakan di sofa langsung memberitahukan.
" Mama Anin dikasih bunga sama Papa Ricky. Iiiihhh, Mama Anin sama Papa Ricky pacaran, ya?" celoteh Ramadhan seraya terkikih dan menutupi mulutnya.
Kata-kata dari Ramadhan membuat bola mata Anindita membulat. Dia tidak menyangka anaknya akan bicara seperti itu.
" Rama nggak boleh bicara seperti itu, ya! Rama masih kecil, nggak boleh ngomong soal pacaran-pacaran." Anindita segera menegur anaknya itu.
" Iya, Ma." Ramadhan dengan cepat menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
" Ma, bolunya dipotong, Rama mau ..." ujar Rama dengan jarinya yang mencolek whipped cream di bolu itu.
" Ya sudah, potongnya di dapur saja sama Mbak Tita dan Mbak Cika." Anindita menyuruh anaknya itu untuk mengikuti Tita dan Cika ke dapur.
" Ayo siapa yang mau ikut ke dapur potong kue ulang tahun?" Tita kemudian berjalan diikuti oleh Cika dan Ramadhan ke luar kamar Anindita.
" Rama mau, Mbak Tita." Suara Ramadhan masih sempat terdengar sebelum pintu kamar ditutup.
Setelah kamar Anindita mulai sepi, wanita itu kemudian beranjak dari tempat tidur lalu mendekati buket bunga berukuran besar itu.
Dia kemudian mengambil kartu ucapan di buket itu lalu membukanya.
__ADS_1
Happy Birthday, Mama Rama. Semoga kebahagiaan selalu menyertai di setiap langkahmu. Aamiin ....
Love
Rama & Papa Rama
Anindita mengeryitkan keningnya karena Ricky menggunakan kata Mama Rama juga Papa Rama. Dia kemudian menghirup wangi dari bunga mawar itu. Ini pertama kalinya dia menerima buket bunga dari seseorang.
Anindita lalu mengambilnya ponselnya yang dari semalam dimatikan karena sedang mengisi baterai. Beberapa pesan masuk ke dalam ponselnya itu saat dia mengaktifkan ponselnya.
" Barakallah Fii Umrik, Calon istri Pak Ricky. Berkah usianya, lancar rejekinya, lancar jodohnya sama Pak Rickyπ₯°π©ββ€οΈβπβπ¨π©ββ€οΈβπ¨"
Kening Anindita kembali berkerut membaca ucapan selamat ulang tahun dari Mita. Dia mengira jika itu hanya keisengan Mita saja yang ingin menjodohkan dirinya dengan Ricky. Anindita sama sekali tidak menduga jika Ricky sendiri sudah mengklaim jika pria itu adalah calon suami dirinya.
" Happy Birthday, Anin. Panjang umur, semoga diberi kesehatan, lancar melahirkannya. lancar rezekinya, lancar dapetin calon pendamping barunya, Aamiin." Kali ini ucapan dari Yeti yang selesai dia baca.
" Happy B'day, Anin. Wish you all the best." Itu pesan yang dikirim oleh Lucy.
" Selamat ulang tahun, Mama Anin. Tetaplah menjadi Mama terbaik untuk Rama dan juga calon bayimu. Semoga kebahagian selalu bersamamu." Ucapan yang paling awal masuk ke ponselnya adalah ucapan dari Ricky.
Anindita kemudian melirik kembali ke arah buket bunga mawar itu. Tanpa dia sadari sebuah senyuman terkulum di bibirnya. Dia tidak menduga jika buket yang Ricky pesan akan diberikan kepadanya karena dia sempat mendengar Ricky berbicara di telepon dengan Rachel dan dia mengira buket itu akan diberikan Ricky untuk Rachel.
Anindita langsung mengerjapkan matanya.
" Astaghfirullahal adzim, aku ini mikirin apa? Mbak Rachel itu 'kan suka sama Pak Ricky, dan Pak Ricky juga meresponnya." gumam Anindita, kemudian meletakkan ponsel di atas nakas dan beranjak ke arah kamar mandi karena akan melaksanakan ibadah sholat Shubuh.
***
" Selamat malam, Nona Rachel, maaf saya terlambat," ucap Ricky karena dia terlambat sampai setengah jam saat menemui Rachel di sebuah restoran di kawasan Mall besar di Jakarta.
" Oh, tidak apa-apa, Pak Ricky. Rupanya waktu Anda begitu padat ya, Pak Ricky." Rachel lalu melirik pada paper bag berwarna merah maroon berlogokan salah satu merk perhiasan terkemuka di Indonesia.
" Tadi saya sekalian mampir ke toko perhiasan yang kebetulan ada di mall ini terlebih dahulu karena takut keburu tutup." Ricky menyampaikan alasannya.
" Oh, Pak Ricky habis membeli perhiasan rupanya. Pasti untuk seseorang yang spesial ya, Pak Ricky?" Rachel menyampirkan helaian rambutnya ke belakang telinganya seraya tersenyum.
" Ini, untuk Mamanya Rama, karena besok dia berulang tahun."
Kata-kata Ricky yang terang-terangan mengatakan jika dia membelikan perhiasan untuk Anindita membuat wajah Rachel yang awalnya bersemangat berubah memberengut.
" Oh, Anindita begitu spesial sekali untuk Anda ya, Ricky?" Ucapan Rachel walaupun diucapkan dengan bahasa yang halus tapi terkesan menyindir.
" Dia ibu dari anak saya, tentu saja dia adalah wanita spesial untuk saya." Tegas dan lugas kalimat yang diucapkan oleh Ricky.
" Hmmm, apa Pak Ricky tertarik pada Anin? Sebagai seorang pria terhadap seorang wanita, terlepas dia adalah ibu dari anak Pak Ricky?" Rachel memberanikan diri bertanya kepada Ricky.
Ricky mengedikkan bahunya seraya menarik satu sudut bibirnya sedikit ke atas.
" Pak Arya menitipkan Anin dan anak di dalam kandungan Anin kepada saya. Selama ini Pak Arya sangat baik terhadap Rama, beliau menyanyangi Rama seperti anaknya sendiri. Beliau juga bisa menerima masa lalu Anin seperti apa. Rasanya saya sangat berhutang budi terhadap Pak Arya. Jadi sudah sewajarnya saya membalas kebaikan beliau dengan memenuhi permintaan Pak Arya untuk menjaga Anindita dan juga calon anak mereka. Terlebih lagi, saya tidak akan membiarkan orang yang sangat disayangi dan dicintai anak saya itu sedih dan menderita."
__ADS_1
Kalimat penegasan yang diucapkan oleh Ricky membuat nafas Rachel serasa tersekat di tenggorokan hingga terasa sesak di dadanya. Dia seolah kalah sebelum berperang. Dia yang sedang berusaha meraih hati Ricky, justru Anindita yang sepertinya akan mendapatkan pria yang sudah membuat hatinya terpikat itu.
" Oh ya, Nona Rachel ... kenapa tadi siang Anda tidak menemui orang marketing yang saya suruh menemui Anda?" tanya Ricky.
" Oh, i-itu ... karena saya, saya mendadak ditelepon ada suatu hal yang mesti saya urus mendadak." Rachel beralasan.
" Begitu, ya? Oke-oke ... lalu ada apa Anda mengundang saya untuk bertemu di sini?"
" Saya pikir kita bisa sedikit mengobrol di sini."
" Untuk membahas soal apartemen yang ingin Anda beli?"
" Iya, salah satunya ...."
" Salah satunya? Lainnya?"
" Hmmm ..." Rachel seakan kehabisan kata-kata saat Ricky menegaskan jika Anindita lebih dari segalanya.
" Kalau tidak ada yang ingin disampaikan, saya yang akan menyampaikan sesuatu kepada Nona Rachel."
Rachel kini menaikan pandangannya kembali ke arah Ricky. " Apa yang ingin Pak Ricky sampaikan kepada saya?" tanya Rachel serius.
" Tolong Anda jangan mengusik Anin. Dan berhentilah bersikap pura-pura manis di hadapan Anindita. Saya tahu jika Anda lah yang menyebarkan berita miring tentang Anin dan saya beberapa waktu lalu ke media."
Deg
Rachel terperanjat mendengar kata-kata Ricky.
" M-maksud Pak Ricky apa?" Rachel berusaha mengelak apa yang dituduhkan Ricky terhadapnya.
" Anda tahu persis apa yang saya maksud, Nona Rachel." Ricky kemudian bangkit dari duduknya.
" Saya tegaskan sekali lagi, jangan berani main-main dengan saya!" desis Ricky menebar ancaman
" Permisi, Nona Rachel." Ricky kemudian melangkah menjauh meninggalkan Rachel yang hanya terpaku menatap kepergian Ricky.
Ricky memang sempat kaget saat mengetahui ternyata Rachel lah pelaku utama yang menyebarkan berita tentang dirinya dan Anindita, tak lama setelah Arya meninggal. Dia sengaja tidak menegur Rachel langsung karena dia ingin tahu apa tujuan wanita itu sebenarnya.
Dan saat Rachel beberapa hari ini muncul di toko bunga Anindita. Mendekati Anindita lalu wanita itu meminta nomer handphonenya dengan alasan ingin membeli apartemen tapi minta ditemani olehya, dia mulai curiga jika itu hanya akal-akalan Rachel saja yang dia duga jika wanita itu tertarik kepadanya. Apalagi cerita dari Mita yang mengatakan jika Anindita tidak menyukai keberadaan Rachel dekat dengannya, membuat Ricky mengambil keputusan untuk membuka kedok Rachel. Karena dia tidak ingin Rachel memanfaatkan ketulusan hati Anindita dan dia pun tidak ingin wanita itu nantinya akan mengusik kehidupan ibu dari anaknya itu.
*
*
*
Bersambung ...
Mama Anin cantik gini, lho. Gimana Papa Ricky mau melirik ke wanita lain, coba?
__ADS_1
Happy Reading