ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu

ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu
Poor Mama Anin


__ADS_3

Anindita segera memesan mobil via aplikasi ojek online yang akan membawanya pulang ke rumah Arya, karena hari ini Arya tidak sempat menjemputnya.


" Nona pulang dengan siapa? Apa Pak Arya tidak menjemput, Nona?" tanya Ricky yang kini telah berdiri di samping Anindita.


" Saya sudah pesan mobil online." Anindita menjawab dengan malas.


" Tidak usah pesan mobil, biar saya saja yang antar Nona dan Rama pulang." Ricky langsung menggendong Ramadhan, karena jika dia membawa Ramadhan saat dia mengambil mobilnya, dia yakin Anindita tidak akan menolak dan juga tidak akan kabur.


" Hei, Tuan mau bawa ke mana anak saya!" teriak Anindita hingga membuat beberapa orang yang lewat di sana memperhatikannya.


" Sedang berantem sama suaminya ya, Mbak. Kalau berantem jangan depan anak dong, kasihan kalau anak lihat Papa Mama berantem," celetuk seorang ibu yang melintas dekat Anindita.


Sontak ucapan ibu tadi membuat Anindita membelalakkan matanya dan menoleh ke arah Ricky yang malah menyunggingkan senyuman membuat Anindita semakin kesal pada pria yang telah membuatnya melahirkan seorang Ramadhan itu.


" Saya mau ambil mobil, Nona tunggulah di sini." Ricky melanjutkan langkahnya meninggalkan Anindita yang memberengut kesal.


" Dasar menyebalkan!" umpat Anindita.


" Mbak, romantis sekali sama suaminya panggil Tuan dan Nona. Saya juga mau ikutan panggil seperti itu sama suami saya, deh." Salah seorang pengunjung lain terkikik.


" Dia bukan suami saya, Bu!" tepis Anindita menyanggah dugaan ibu-ibu tadi.


" Lho, bukan suaminya? Tapi wajahnya anaknya kok mirip, ya!" ucap pengunjung tadi.


" Masa suami ganteng seperti itu nggak diakui, Mbak. Buat saya saja sini kalau Mbak nggak mau mengakui sendiri." Teman pengunjung tadi ikut menimpali.


Anindia hanya mendesah, rasanya tidak penting dia meladeni pergunjingan dua orang pengunjung itu.


Tak berapa lama mobil milik Ricky berhenti di depan teras supermarket di mana Anindita berdiri. Ricky pun kemudian keluar dari mobilnya dan menghampiri Anindita lalu mengambil kantong belanjaan yang Anindita letakan di lantai teras.


" Wah, orang kaya ternyata." Pengunjung tadi kembali berkomentar melihat mobil yang dipakai Ricky.


" Mas, kalau berminat ganti istri, saya mau dong, jadi istrinya Mas ini," ucap pengunjung tadi tanpa rasa malu.


Anindita melirik kesal ke arah pengunjung tadi kemudian berganti mendelik ke arah Ricky yang hanya tersenyum menanggapi ucapan ibu tadi.


Dengan langkah kesal akhirnya Anindita terpaksa melangkah masuk ke dalam mobil milik Ricky.

__ADS_1


" Rama sudah makan belum?" tanya Ricky kepada Ramadhan karena dia tahu percuma jika bertanya pada Anindita, wanita itu selalu ketus menjawab pertanyaannya.


" Belum, Om." Ramadhan yang duduk di belakang Ricky menjawab pertanyaan Ricky.


" Rama mau makan apa? Kita makan dulu, yuk!" ajak Ricky tanpa memperdulikan Anindita yang semakin memasang wajah tak senangnya.


" Rama mau makan ayam chicken, Om." Ramadhan menyebutkan ingin makan fried chicken.


" Rama, kita nanti makan di rumah saja. Ini sudah mau Maghrib." Seperti dugaan Ricky jika Anindita akan menolak tawarannya.


" Kita pesan yang take away saja kalau begitu." Ricky kemudian menawarkan pilihan lain seraya melirik Anindita dari kaca spion.


Anindita pun melakukan hal yang sama dengan Ricky hingga tatapan mata mereka saling kini bertautan lewat media kaca spion sebelum akhirnya Anindita memutus pandangannya karena dia benar-benar merasa tak nyaman jika berinteraksi dengan ayah dari anaknya itu.


***


Anindita memperhatikan gadis kecil berusia sembilan tahun yang sedang menatap sinis ke arah Ramadhan dan Arya yang sedang seru bermain karambol dengan wajah belepotan bedak.


" Kakak nggak ingin gabung dengan Papa Arya sama Adik Rama main karambol?" Anindita mencoba mengajak bicara Putri, yang diajak Arya datang menemui Anindita sabtu sore ini. Karena Ricky sedang ditugaskan oleh Dirgantara ke luar kota, maka Ramadhan pun tidak menginap di rumah Ricky. Dan kesempatan itu dimanfaatkan dengan baik oleh Arya untuk mendekatkan Putri, anaknya agar bisa dekat dan akrab dengan Anindita. Wanita yang kelak akan menjadi ibu sambung anaknya


" Dia bukan adik aku!" ketus Putri kemudian memilih bermain games di ponselnya.


" Hmmm, Putri bantu Tante saja, mau nggak? Tante mau bikin brownies. Putri suka brownies, kan?"


" Malas ...!"


Anindita menelan salivanya. Mengingat sikap Rachel dan Arya yang menurutnya sangat humble, sulit dipercaya jika Putri mempunyai sikap yang seperti itu.


" Oh ya, waktu itu Tante ketemu Mama Putri. Ternyata Mama Putri cantik sekali, pantas saja Putri juga cantik." Anindita tetap berusaha mengajak Putri berkomunikasi.


" Sepertinya kalau besar nanti, Rama siap-siap jadi pengawal Kak Putri dari teman-teman yang akan mengganggu Kak Putri, nih." Anindita terkikik seraya menutup mulutnya.


" Wah, lagi ngobrolin apa, nih? Sepertinya seru banget." Arya tiba-tiba sudah duduk di samping Anindita.


" Mama, ayo main karambol sama Rama." Ramadhan pun kini menyusul Arya dan menarik tangan Anindita.


" Oh iya, sekarang ini giliran Mama Anin sama Kak Putri yang main, ya! Ayo Mama Anin ..." Kini giliran Arya yang menarik Anindita hingga Anindita duduk di depan papan karambol. Setelah itu dia menghampiri Putri dan mengendong Putri dan juga mendudukkan Putri berhadapan dengan Anindita.

__ADS_1


" Putri nggak mau, Pa!" tolak Putri.


" Kalau Kakak nggak mau main, bedak ini Papa tempelin semua ke wajah Kakak." Arya mengancam Putri dengan menyodorkan spon bedak bayi.


" Mas, jangan gitu, dong! Kakak nggak mau main, ya sudah nggak apa-apa, jangan dipaksa. Biar aku saja yang main sama Rama." Anindita mencoba menengahi.


" Rama tadi sudah sama aku, sekarang giliran kamu sama Putri yang main." Arya tak ingin dibantah.


Akhirnya Anindita dan Putri pun memulai battle permainan karambol, dan di game pertama Putri lah yang memenangkan permainan itu hingga Anindita yang mendapat hukuman wajahnya ditaburi bedak.


Di game kedua giliran Putri yang kalah dari Anindita.


" Yeay ... Kakak menang ..." Arya kembali menaburi bedak di wajah Anindita hingga membuat Anindita terkesiap dan Ramadhan terkekeh, bahkan Putri pun terlihat menahan tawanya


" Mas, kok aku yang dihukum?" protes Anindita.


" Anak kecil nggak boleh di hukum jadi kamu yang mewakilinya." Arya berkata dengan santai.


Dan begitu seterusnya, siapapun yang kalah, Anindita lah yang mendapatkan hukuman hingga hampir semua wajahnya tertutup bedak bayi.


Tentu saja penderitaan Anindita membuat Arya, Ramadhan bahkan Putri pun ikut tertawa senang.


" Jangan dihapus dulu bedaknya, foto dulu, dong!" Arya langsung menyiapkan ponselnya lalu mereka berempat berfoto bersama dengan wajah Anindita yang tertutup bedak putih.


" Mama Anin, senyum, dong! Jangan cemberut saja," sindir Arya melihat wajah Anindita yang memberengut kesal.


Setelah berfoto, Arya kemudian memposting foto mereka berempat di akun sosial medianya dengan memberi caption.


Poor, Mama Anin 🤗😘


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Happy Reading❤️


__ADS_2