
" Anin?" Arya terkesiap saat mendapati wajah sendu Anindita yang telah berderai air mata.
" Anin, a-aku ...."
" Sebaiknya aku pulang, Mas." Anindita segera menyeka air matanya. Kemudian dia menggenggam tangan mungil Ramadhan ingin melangkah pergi.
" Anin, tunggu dulu." Kali ini Arya pun mencekal lengan Anindita kemudian menautkan jarinya dengan jemari halus Anindita.
" Kita pamit dulu sama Mama, ya!" Arya kemudian menarik tangan Anindita membawanya menuju kamar Mama Arya, karena Mama Arya memang sudah lebih dulu memilih masuk ke dalam kamarnya.
Setelah berpamitan dengan Mama Arya, Anindita dibawa Arya bertemu kembali dengan adik-adiknya.
" Mas sudah bilang sama Mama. Mas dan Anin akan menikah dua bulan ke depan. Apapun sikap kalian, tidak akan mempengaruhi keputusan Mas. Dan Mas harap kalian menghargai keputusan Mas ini," tegas Arya.
" Mas mau antar Anin dan Rama pulang dulu. Assalamualaikum ..." Arya berpamitan dan langsung membawa pergi Anindita dan Ramadhan keluar dari rumah dinasnya.
Arya menoleh ke arah Anindita yang hanya terdiam dan membuang pandangan keluar jendela selama perjalanan pulang. Sementara Ramadhan sudah terlelap di kursi belakang ditemani Tita, membuat suasana di dalam mobil itu menjadi hening.
Membutuhkan waktu tiga puluh menit untuk sampai ke rumah pribadi Arya, kini mobil yang Arya kendarai sudah terparkir di depan rumah bercat putih itu.
" Terima kasih, Mas. Sebaiknya Mas Arya langsung pulang saja, aku lelah. Assalamualaikum ..." pamit Anindita membuka pintu dan keluar dari mobil Arya.
" Anin, tunggu!" Arya pun bergegas turun dari dalam mobilnya dan menyusul langkah Anindita.
" Anin ..." Arya menarik lengan Anindita hingga membuat langkah Anindita terhenti dan kini tubuhnya menghadap ke arah Arya.
" Kamu jangan terlalu memikirkan sikap Ria dan Lanny. Mereka belum mengenal kamu makanya bersikap seperti itu."
" Mereka memang belum mengenalku. Dan apa jadinya jika mereka mengenal aku dengan kisah masa lalu aku, Mas? Apa itu tidak semakin membuat mereka semakin kuat menolakku?!" Anindita benar-benar merasa pesimis dengan hubungannya dengan Arya.
Arya menaruh kedua tangannya di bahu Anindita.
" Anin, aku sangat mencintaimu. Apa itu tidak cukup untuk meyakinkanmu jika kita bisa melewati semuanya?" tanya Arya.
" Mama juga merestui kita. Restu dari Mama itu di atas segalanya. Apa itu juga masih membuatmu ragu?"
" Yang akan menjalani rumah tangga itu kita bukan mereka. Aku yang bisa merasakan ketulusanmu, kebaikanmu. Jadi mau mereka setuju atau tidak. Itu tidak akan menghalangiku untuk melaksanakan niatku untuk menikah denganmu."
Kini kedua tangan Arya menggenggam jemari Anindita lalu mengarahkan ke dekat dadanya.
" Apa kamu tidak bisa merasakan hatiku ini sudah merasa sangat nyaman bersamamu? Hatiku ini hanya menginginkanmu."
Anindita tak tahan untuk tidak meneteskan air mata di pipinya. " A-aku takut, Mas."
" Tidak ada yang perlu kamu takutkan. Ada aku, ada aku yang akan selalu menjagamu. Ada aku yang akan selalu melindungimu. Ada aku yang tidak akan pernah meninggalkanmu." Arya kemudian merengkuh tubuh Anindita dan menenggelamkannya ke dalam pelukannya membiarkan Anindita terisak di dadanya dan berusaha memberikan rasa nyaman pada wanita yang dicintainya itu.
***
Anindita memasangkan tas ransel ke punggung Ramadhan dan memakaikan topi bergambar Spiderman di kepala Ramadhan yang sore ini akan dijemput Ricky.
" Rama ingat pesan Mama, jangan nakal, ya! Jangan bikin repot Om Ricky." Anindita mencoba menasehati anaknya itu.
" Baik, Ma." Ramadhan menyahuti.
" Kita berangkat sekarang?" tanya Ricky yang sedari tadi berdiri di belakang Ramadhan.
" Ma, Rama pergi dulu, ya! Assalamualaikum ..." Ramadhan berpamitan kepada Anindita kemudian mencium tangan mamanya itu.
__ADS_1
" Waalaikumsalam, jangan nakal ya, Nak!" Anindita mencium kedua pipi dan kening Ramadhan.
" Iya, Ma." Ramadhan menyahuti.
" Saya permisi dulu, Nona." Ricky kemudian berpamitan kepada Anindita.
" Titip Rama, Tuan. Kalau dia nakal, silahkan Tuan tegur saja," ucap Anindita yang hanya dibalas senyuman oleh Ricky.
" Dadah, Mama ..." Ramadhan melambaikan tangannya ke arah Anindita.
" Dah, sayang. Jangan nakal, ya!" Anindita mencoba mengingatkan Ramadhan kembali sebelum akhirnya Ramadhan masuk ke dalam mobil Ricky dan mobil itu pun mulai meninggalkan pekarangan Alabama Florist.
" Rama senang nggak diajak menginap di rumahnya Om?" tanya Ricky pada Ramadhan saat mobil yang dikendarainya menjauh dari tempat kerja Anindita.
" Senang, Om." Ramadhan menyahuti dengan riang membuat Ricky tersenyum seraya melepas topi yang dikenakan Ramadhan dan mengacak rambut anaknya itu.
" Kalau Om belikan mainan, Rama senang nggak?" tanya Ricky lagi.
" Senang, Om. Tapi kata Mama, Rama nggak boleh banyak-banyak punya mainan nantinya Rama nggak mau belajar maunya mainan terus, Om." Ramadhan menirukan apa yang dikatakan mamanya.
" Oh ya?" Ricky terkekeh. " Yang suka ajarin Rama belajar siapa?" tanya Ricky seraya membelai kepala Ramadhan dengan tangan kirinya sementara tangan satunya fokus memegang setir mobil.
" Mama sama Om Arya, Om."
" Om Arya suka ajari Rama belajar, ya?"
" Iya, Om Arya 'kan kerjanya di sekolah, Om."
" Hmmm, kelihatannya Om Arya sayang sama Rama, ya?"
" Iya, Om. Dulu waktu Om Ricky belum datang, Om Arya suka ajak jalan-jalan, suka beliin Rama mainan juga."
" Sayang, Om. Om Arya 'kan mau jadi Papa Rama."
Ricky menelan salivanya dan menghela nafas panjang mendengar kata-kata Ramadhan.
" Rama senang ya punya Papa?"
" Senang dong, Om. Rama jadi punya Papa sama Mama seperti teman-teman Rama di sekolah."
Deg
Hati Ricky seakan mencelos. Rasa bersalah kembali menyeruak di hatinya begitu mengetahui betapa darah dagingnya itu mendambakan sosok seorang papa. Apalagi saat dia melihat wajah bahagia Ramadhan saat mengungkapkan perasaannya akan mempunyai papa sambung. Ingin rasanya Ricky mengatakan kepada Ramadhan kalau dia adalah papanya, papa kandungnya.
***
" Kita mau ke mana ini, Mas?" tanya Anindita saat Arya membawanya ke sebuah bangunan berlantai dua.
" Mengurus persiapan pernikahan kita," jawab Arya seraya menggenggam tangan Anindita dan membawanya melangkah ke dalam bangunan itu.
" Selamat siang, ada yang bisa kami bantu, Pak?" tanya pegawai di bagian resepsionis.
" Saya ingin bertemu dengan Ibu Tiwi, apa beliau ada?" tanya Arya.
" Maaf, apa Bapak sudah membuat janji sebelumnya dengan Ibu Tiwi?" tanya pegawai itu kembali.
" Memang belum, bilang saja Arya Rahardja ingin bertemu," ucap Arya kembali.
__ADS_1
" Baik, tunggu sebentar, Pak." Pegawai itu kemudian menghubungi seseorang melalui pesawat telepon.
Setelah beberapa saat ...
" Silahkan, Pak. Langsung saja ke lantai atas." Pegawai itu menunjuk ke arah tangga di sebelah kiri.
" Terima kasih, Mbak." Tak lupa Arya mengucapkan terima kasih kepada pelayan tersebut sebelum akhirnya dia dan Anindita menuju ruangan yang dituju.
" Selamat siang, Tante ..." sapa Arya saat pintu ruangan yang dia ketuk terbuka dan menampakkan seorang wanita paruh baya.
" Arya? Ayo masuk-masuk ..." wanita yang disapa Arya menyambut Arya dengan ramah.
" Tante Tiwi apa kabar?" Arya menyalami Tante Tiwi.
" Alhamdulillah baik, Mama kamu bagaimana, sehat?' tanya Tante Tiwi.
" Alhamdulillah, Tan ..." Arya menyahuti.
" Ada angin apa, nih? Kamu kemari?" Tante Tiwi melirik ke arah Anindita.
" Apa ini calon kamu, Arya?" Tebak Tante Tiwi kemudian.
Arya menoleh dan tersenyum ke arah Anindita.
" Iya, Tan. Ini Anindita, calon aku." Arya kemudian memperkenalkan Anindita kepada Tante Tiwi.
" Wah, Alhamdulillah akhirnya kamu segera melepas status duda kamu, Arya." Tante Tiwi terkekeh.
" Ya Alhamdulillah, Tan. Karena itu Arya ingin minta bantuan Tante untuk mengurus pernikahan aku dan Anindita." Arya menyampaikan maksud dan tujuannya menemui Tante Tiwi.
" Pasti Tante bantu dong, Arya. Rencananya ingin indoor atau outdoor?"
" Indoor saja, Tan."
" Oke, kira-kira untuk berapa undangan?"
" Tidak banyak, Tan. Sekitar lima ratusan."
" Hmmm, oke. Kapan rencana wedding nya?"
" Dua bulan yang akan datang."
" Wah, kita harus kerja cepat, dong! Tapi it's oke, pasti Tante bantu."
" Terima kasih ya, Tan." Arya menghaturkan ucapan terima kasih kepada Tante Tiwi yang sejak mengurus pernikahannya dulu juga adik-adiknya.
" Sama-sama, Tante juga senang dipercaya kembali mengurus acara wedding keluarga Rahardja."
" Hmmm, kalau begitu saya pamit dulu, Tan. Masih banyak yang mesti kami persiapkan." Arya kemudian berpamitan kepada Tante Tiwi. Karena rencananya hari ini juga dia ingin memesan cincin pernikahan dan memilih desain kartu undangan.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Happy Reading❤️