ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu

ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu
Selamat Datang Di Malang


__ADS_3

" Mama ...!!" seru Ramadhan saat melihat Anindita yang sedang menunggunya di sebuah restoran seafood. Siang ini setelah check out dari hotel, Anindita dan Arya menjemput Ramadhan yang selama hampir dua hari ini dititipkan kepada Ricky.


" Rama ..." Anindita pun yang melihat kemunculan Ramadhan langsung menyambut anaknya yang berlari ke arahnya.


" Selamat siang, Pak Arya." sapa Ricky menyapa Arya.


" Siang, Pak Ricky. Terima kasih sudah menjaga Rama dua hari kemarin." Arya mengucapkan terima kasihnya kepada Ricky.


" Sama-sama, Pak Arya. Saya pun senang bisa bersama lebih lama dengan Rama." Ricky menatap dengan lekat interaksi antara Ramadhan dan Anindita yang sepertinya nampak melepas kangen karena dua hari tidak bersama.


" Anin merengek terus ingin bertemu dengan Rama, maklum dia jarang berpisah untuk waktu yang lama dengan anaknya itu."


Suara Arya membuat Ricky mengerjap. Sepertinya tanpa dia sadari dia seakan terkesima melihat kedekatan hubungan ibu dan anak itu.


" Ah, iya, Pak Arya. Rama juga merasakan hal yang sama. Dia pun mengatakan kenapa harus menginap lagi di tempat saya. Dia bilang kangen ingin bertemu mamanya." Ricky ikut menimpali.


" Sayang, Rama ... ayo kita makan dulu." Arya memanggil Anindita dan Ramadhan yang masih berpelukkan untuk segera bergabung di meja makan.


" Terima kasih sudah menjaga Rama, Tuan Ricky." Anindita pun mengucapkan terima kasihnya kepada Ricky.


" Sama-sama, Nyonya Arya." Ricky kemudian menarik kursi yang kebetulan berhadapan persis dengan kursi yang dipilih Anindita.


" Kamu ingin makan apa, Sayang?" tanya Arya kepada Anindita.


" Aku seperti Mas Arya saja, untuk Rama pilih yang ada sayurannya, Mas." Anindita menyahuti.


" Pak Ricky Anda ingin pesan apa?"


" Saya pesan kepiting Soka saus tiram minumnya air mineral saja." Ricky memilih menu makanannya.


" Mbak, pesan kepiting soka saus tiram satu porsi. gurame asam manis pedas satu porsi, udang goreng tepung dua porsi capcay goreng dua porsi, nasi empat, minumnya air mineral empat sama satu orange juice." Arya menyebutkan pesanannya kepada pelayan restoran.


" Ma, kemarin Rama main ke kantor Om Ricky ketemu Tante cantik sama Om ganteng." Ramadhan berceloteh menceritakan pertemuan dengan Kirania dan Dirga.


" Tante cantik? Om ganteng?" Anindita mengeryitkan keningnya tak paham siapa yang dimaksud oleh Ramadhan.


" Oh, itu Pak Dirga dan Nyonya Dirga." Ricky menjelaskan siapa yang dimaksud Ramadhan.


" Oh ..." Hanya kata itu yang diucapkan Anindita.


" Apa Pak Arya dan Nyonya tidak merencanakan untuk berbulan madu? Jika kalian ingin menitipkan Rama, saya tidak masalah Rama bersama saya." Ricky menawarkan diri.


" Sore nanti kami berencana ke kota Malang. Anin ingin bertemu dengan mantan bos dia waktu tinggal di Malang dulu. Sekalian kami bisa berlibur di kota Batu. bersama Rama dan Putri anak saya." Arya menjelaskan.

__ADS_1


" Oh, Pak Arya memilih berlibur bersama keluarga daripada pergi bulan madu dengan Nyonya rupanya." Ricky berpendapat.


" Permisi ..." Pelayan restoran itu mengantarkan air mineral dan orange juice terlebih dahulu.


" Quality time bersama keluarga juga penting, Pak Ricky. Agar hubungan sesama anggota keluarga semakin harmonis. Lagipula jika hanya untuk honeymoon saja dua malam kemarin sudah kami lakukan. Walaupun rasanya belum puas Benar 'kan, Sayang?" Arya mengusap pundak Anindita membuat wajah Anindita bersemu merah karena Arya membahas masalah sensitif itu di depan orang lain dan membuat wanita itu nampak grogi hingga mengambil air mineral untuk menutupi rasa gugupnya.


Dan Ricky bisa menatap jelas perubahan warna wajah Anindita yang kini merona, dan tanpa disadari, Ricky seolah menikmati pemandangan itu.


" Pak Ricky sendiri bagaimana? Yang saya dengar Pak Ricky belum menikah? Apa Pak Ricky tidak ingin berkeluarga?"


Pertanyaan Arya membuat Ricky tersadar akan lamunannya.


" Hmmm, bagaimana, Pak Arya?" Ricky meminta Arya untuk mengulang pertanyaannya karena dia tidak terlalu jelas mendengar pertanyaan Arya tadi.


" Pak Ricky kapan berencana akan menikah?" Arya kembali mengulang pertanyaannya.


" Hmmm ...."


" Om Ricky 'kan sudah jadi pengantin, Pa." Ramadhan lebih dahulu menjawab pertanyaan Arya.


" Oh, Pak Ricky sudah menikah, ya?" tanya Arya yang tidak mengetahui jika Ricky ternyata telah menikah.


" Iya, Pa. Om Ricky 'kan sudah punya anak. Kalau sudah punya anak berarti 'kan Om Ricky sudah jadi pengantin."


" Uhuk ... uhuk ..." Anindita yang sedang meneguk air mineral seketika tersedak mendengar ucapan anaknya itu.


" Sayang, pelan-pelan minumnya ...."


" Pelan-pelan, Nyonya."


Arya dan Ricky sama-sama nampak khlawatir melihat Anindita yang tersedak.


Arya segera menepuk-nepuk punggung Anindita hingga batuk Anindita mereda. Dia juga menghapus air mata Anindita yang menetes karena tersedak tadi.


" Mama kalau minum jangan buru-buru jadinya keselek." Ramadhan yang sedari tadi ikut merasa khawatir melihat Anindita terbatuk-batuk ikut menasehati.


Anindita menoleh ke arah anaknya. Jika saja dia bisa, ingin dia berkata, justru ucapan Ramadhan lah yang membuat dirinya tersedak.


" Maaf jika Anda merasa terganggu dengan ucapan Rama tadi, Nyonya Arya." Ricky yang menyadari jika Anindita tersedak karena ucapan anaknya langsung meminta maaf.


Anindita kini menoleh ke arah Ricky yang menatap lekat dirinya, namun tak lama Anindita membuang pandangannya.


" Mas, aku mau ke toilet dulu ..." Anindita kemudian bergegas ke arah toilet setelah mendapatkan ijin dari Arya. Entah mengapa rasa tidak nyaman itu sering muncul di hatinya setiap kali bertemu dengan Ricky.

__ADS_1


***


Sekitar jam tujuh lewat Arya, Anindita dan kedua anaknya sampai di stasiun Malang menggunakan kereta Gajayana pagi ini.


" Selamat pagi, Pak Arya. Senang akhirnya saya bisa bertemu dengan Pak Arya kembali." Seorang pemuda berkulit sawo matang menyapa Arya seraya mengulurkan tangannya ke arah Arya


" Pagi, Zul. Saya juga senang bisa bertemu lagi dengan mantan anak didik saya." Arya menyambut uluran tangan Zul, mantan muridnya dulu.


" Ini istri sama anak-anak Pak Arya?" tanya Zul.


"; Oh iya, Zul. Ini istri dan anak-anak saya." Arya memperkenalkan Anindita, Putri dan Rama.


" Selamat datang di Malang. Bu Arya. Saya Zul, dulu waktu SMP di Jakarta saya murid Pak Arya." Zul memperkenalkan dirinya.


" Anin." Anindita membalas.


" Kalau yang cantik dan ganteng ini siapa namanya?" Zul bertanya kepada Putri dan Ramadhan.


" Aku Rama, Om. Ini Kak Putri." Ramadhan yang memperkenalkan dirinya dan juga Putri.


" Wah, anak pintar." Zul mengacak rambut Ramadhan.


" Mari, Pak, Bu ... saya antar ke rumah saya dulu sambil nunggu waktu check in hotel di Batu." Zul meminta koper yang di bawa Arya tapi Arya menolak.


" Biar saya saja yang bawa, Zul. Saya sudah berterima kasih kamu jemput kemari," tolak Arya secara halus.


" Wah, saya justru senang, Pak. Tidak merasa direpotkan. Bisa berjumpa kembali dengan guru favorit saya setelah hampir sepuluh tahun tidak berjumpa," sahut Zul.


" Kalau begitu gimana kalau kita cari makan dulu saja?" tanya Arya.


" Sarapan di rumah saya saja, Pak. Kebetulan istri saya sudah memasak untuk Pak Arya dan keluarga."


" Waduh, saya jadi malah merepotkan kamu ya, Zul?"


" Nggak masalah, Pak. Saya senang melakukannya." Zul menyahuti. Zul pun mengarahkan Arya dan keluarganya ke dalam mobil untuk menuju rumahnya sebelum Arya dan Anindita mengunjungi tempat Koh Leo dan Sandra.


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Happy Reading ❤️


__ADS_2