ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu

ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu
Rumah Arya


__ADS_3

Anindita dengan cepat meraih ponsel yang disodorkan Cika kepadanya.


" Assalamualaikum, Mbak Tita ..." sapa Anindita mengangkat panggilan telepon dari Tita.


" Waalaikumsalam, Bu. Bu Anin gimana kabarnya, Bu? Ibu sekarang di mana?" tanya Tita dari dalam ponsel Anindita.


" Alhamdulillah saya baik, Mbak. Mbak Tita bagaimana?" Anindita balik menanyakan kabar Tita.


" Saya juga Alhamdulillah baik, Bu. Ibu sekarang tinggal di mana?" tanya Tita.


" Saya ... saya tinggal di apartemen milik Tuan Ricky, Mbak." Anindita agak malu mengatakan tempat di mana dia tinggal.


" Di tempat Pak Ricky?" suara Tita terdengar kaget.


" I-iya, Mbak."


" Alhamdulillah kalau Ibu ditolong sama Pak Ricky."


" Iya, Mbak. Mbak Tita masih di rumah Mas Arya?" tanya Anindita.


" Masih, Bu.Tapi saya dengar-dengar rumah ini mau dijual katanya."


Anindita terkesiap saat mendengar rumah suaminya, rumah yang banyak menyimpan kenangan dia bersama sang suami akan dijual. Seketika itu juga hati Anindita berubah sendu, bahkan bola matanya mulai mengembun.


" Kenapa dijual, Mbak? Itu 'kan rumah kenang-kenangan dari Mas Arya?" Dengan nada suara bergetar Anindita menanyakan hal itu.


" Saya kurang tahu, Bu. Tapi apa lagi yang dipikirkan oleh Bu Ria sama Bu Lanny kalau bukan mereka itu mengharapkan warisan dari Pak Arya."


" Astaghfirullahal adzim ...."


" Biarkan saja mereka dengan ketamakannya, Bu. Semoga azab segera menjemput mereka dan mereka segera terkena karma!" umpat Tita menyepatai.


" Astaghfirullahal adzim, nggak baik mengharapkan orang lain tertimpa kemalangan, Mbak Tita." Anindita menegur Tita yang sepertinya mengharapkan kedua adik Arya mendapatkan balasan.


" Habis saya kesal melihat sikap mereka. 0h ya, Bu. Ibu sekarang tinggal di tempatnya Pak Ricky? Kalau ibu butuh ART, saya mau jadi kerja sama Ibu lagi."


" Kerja sama saya? Saya sih mau saja, Mbak. Tapi bagaimana saya bisa bayar Mbak Tita?" Walaupun Anindita sangat senang jika Tita ikut bekerja bersamanya namun dia sadar sekarang ini posisi dia bukan seperti dulu lagi.


" Oh iya-ya, Bu. Tapi saya nggak apa-apa dibayar seadanya saja, Bu. Yang penting bisa ikut Bu Anin."


" Hmmm, coba nanti saya bilang sama Tuan Ricky, siapa tahu Mbak Tita bisa kerja di sini," ujar Anindita. Karena selama ini Tita banyak mengurus Ramadhan, mungkin dengan menggunakan alasan Ramadhan, bisa membuat Ricky mempekerjakan Tita kembali.


***


" Ma ...."


Anindita menoleh ke arah Ramadhan saat putranya itu memanggil namanya.


" Ada apa, Rama?" Anindita mengusap kening Ramadhan yang sedang berbaring di sampingnya.

__ADS_1


" Kenapa semua-semua bilang Om Ricky itu Papa Ricky, Ma?" tanya Ramadhan.


" Siapa lagi yang bilang begitu?" Anindita mendengus kesal saat Ramadhan bertanya seperti itu.


" Om Bos, Ma. "


Anindita terkesiap saat Ramadhan menyebut nama Om bos yang tidak lain adalah Dirgantara, bos dari Ricky.


" Terus tadi waktu Mama periksa dedek bayi juga ada Tante yang bilang kalau Om Ricky itu Papanya Rama. Kenapa semua-semua bilang Om Ricky itu Papa Rama?"


Anindita terdiam, dia tidak tahu harus menjawab apa. Dan dia tidak tahu entah sampai kapan dia harus menyembunyikan hal ini. Sekarang sudah tidak ada Arya di sampingnya. Tidak ada lagi yang akan membelanya jika dia harus berdebat pendapat dengan pria itu soal Ramadhan.


" Itu karena Om Ricky baik sama Rama, dan Om Ricky menyayangi Rama seperti anak Om Ricky sendiri." Anindita mencoba menjelaskan kata-kata yang bisa dimengerti oleh anaknya.


" Kasihan Om Ricky ya, Ma. Anaknya hilang nggak ketemu-ketemu."


Anindita menelan salivanya mendengar ucapan anaknya itu.


" Hmmm, Om Ricky 'kan sayang sama Rama, Rama juga harus sayang sama Om Ricky, ya!" Anindita mengusap kepala anaknya itu. Mungkin sudah saatnya dia harus melunakkan hatinya untuk masalah Ramadhan.


Ramadhan mendongakkan kepala menatap wajah Anindita.


" Apa Rama harus panggil Papa Ricky, Ma?" tanya Rama kemudian.


" Rama mau panggil Papa Ricky?" Anindita balik bertanya kepada anaknya itu.


" Nanti Papa Arya marah nggak, Ma?"


" Kenapa Mama nangis?" Ramadhan mengusap air mata yang mulai menetes di pipi Anindita.


" Mama kangen Papa Arya, ya? Rama juga kangen, Ma. Papa Arya sekarang lagi apa ya, Ma?"


Air mata Anindita pun semakin deras mengalir mendengar ucapan demi ucapan anaknya itu. Hingga dia memeluk erat Ramadhan karena saat ini hatinya benar-benar merasakan rindu yang teramat sangat atas suaminya itu.


***


" Rama, sudah siap berangkat?" tanya Ricky pada Ramadhan yang sedang bersiap-siap memakai tas ranselnya.


" Rama siap, Om." Ramadhan menyahuti.


Ricky kemudian menatap ke arah Anindita yang memakai seragam Alabama Florist.


" Nyonya, saya 'kan sudah katakan jika Anda tidak akan bekerja lagi di sana," tegas Ricky.


" Saya jenuh harus di sini sendirian," sahut Anindita.


" Kalau begitu saya akan pekerjakan satu orang lagi untuk menemani Nyonya agar tidak merasa jenuh di sini."


Kata-kata Ricky membuat Anindita terkesiap, ibarat punguk merindukan bulan. Sepertinya ini waktu yang tepat untuk dia mencoba mengusulkan agar Tita bisa bekerja di tempat ini.

__ADS_1


" Tuan ingin memperkerjakan orang di sini?" Anindita nampak antusias hingga membuat Ricky mengeryitkan keningnya. Karena biasanya apa yang diputuskan olehnya selalu ditentang oleh wanita cantik itu.


" Iya, asal itu bisa menjamin Nyonya tidak berniat pergi bekerja lagi." Ricky menyahuti.


" Tuan, bagaimana jika Tuan mempekerjakan Mbak Tita di sini?" Anindita terlihat sangat bersemangat.


" Tita?"


" Iya, yang dulu mengasuh Rama di rumah Mas Arya."


" Oh, iya saya ingat. Memang dia sudah tidak kerja di sana?"


" Katanya rumah Mas Arya ingin dijual." Anindita berkata lirih seraya menundukkan kepalanya.


" Baiklah, kalau Nyonya ingin Tita bekerja di sini, tanyakan saja kapan dia bisa mulai kerja."


Anindita mendonggakkan kepala mendengar Ricky mengijinkan Tita bekerja di apartemennya.


" Terima kasih, Tuan. Terima kasih ..." Anindita menyalami tangan Ricky seraya terus mengucapkan terima kasih dan itu membuat Ricky mengeryitkan keningnya. Selama berjumpa kembali dengan Anindita, baru kali ini dia melihat wanita itu nampak bersikap ramah terhadapnya.


" Oh ya, soal rumah Pak Arya yang akan dijual. Saya pastikan rumah itu akan kembali menjadi milik Anda dan anak dalam kandungan Anda, Nyonya," tegas Ricky kemudian seraya menoleh ke arah anaknya.


Anindita terkesiap dengan perkataan Ricky tentang rencana pria itu akan mengembalikan rumah milik suaminya itu kepadanya.


" Kita berangkat sekarang, Rama?" tanya Ricky pada Ramadhan kemudian.


" Iya, Om." sahut Ramadhan.


" Beri salam dulu sama Mama!" perintah Ricky kepada putranya yang diikuti oleh anaknya itu.


" Rama berangkat ya, Ma. Assalamualaikum ..." Rama mencium punggung tangan Anindita.


" Waalaikumsalam, hati-hati ya, Sayang. Jangan nakal di sekolah." Anindita menasehati anaknya.


" Iya, Ma."


" Saya permisi, Nyonya." Ricky pun berpamitan pada Anindita kemudian berjalan keluar apartemen Anindita.


Anindita menatap kepergian Ricky dan anaknya sampai menghilang di pintu lift. Anindita menutup pintu apartemen kemudian masuk ke dalam dan duduk di atas sofa.


" Mas Arya, aku tidak ingin menghaki rumah kita. Tapi aku tidak rela jika rumah itu jatuh ke tangan orang lain. Rumah itu jerih payahmu, Mas. Aku ingin anak cucu kita bisa berkumpul di sana seperti yang Mas Arya inginkan dulu." harap Anindita.


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Happy Reading❤️


__ADS_2