
Anindita bergegas memasuki area pemakaman karena awan hitam tiba-tiba saja menutupi sebagian langit biru dan suara gemuruh di atas langit menandakan sebentar lagi akan turun hujan.
Kondisi tanah yang agak becek karena habis hujan di hari sebelumnya membuat sepatu flat yang pakai Anindita dipenuhi tanah liat dan membuat langkah Anindita terasa lebih berat. Anindita pun harus berhati-hati hingga dia tiba di depan pusara sang suami.
Dengan sedikit kesusahan Anindita duduk berjongkok di samping makam Arya. Setelah memberikan salam dia mulai memanjatkan doa-doa untuk Arya. Setelah selesai berdoa, Anindita menaburkan bunga mawar dan melati yang sempat dia beli di depan area pemakaman. Dia juga menaruh beberapa tangkai mawar putih dan Lily yang tadi dia bawa dari toko florist tempatnya bekerja.
" Mas, aku kangen sekali sama Mas. Bayi kita sudah mau enam bulan. Perut aku juga sudah mulai membesar." Anindita tak kuasa untuk tidak menitikan air matanya.
" Rasanya ini seperti mimpi, Mas. Aku harap ini hanya mimpi dan saat aku terbangun aku bisa bertemu dengan Mas Arya kembali ..." Isak tangis pun seketika pecah hingga membuat bahunya terguncang. Kehilangan seseorang yang dicintai secara mendadak apalagi dalam kondisi hamil untuk Anindita sangatlah berat. Tidak mudah baginya untuk bisa tetap tegar.
Sementara langit terus saja bergemuruh, kilatan beberapa kali nampak terlihat di langit yang diselimuti awan mendung, seolah merasakan kesedihan yang Anindita rasakan saat itu. Bahkan kini bukan hanya air mata yang Anindita rasakan menetes di pipinya, namun titik air hujan mulai dia rasakan menyentuh kulitnya.
Setelah berpamitan Anindita bangkit mencoba untuk berdiri. Namun karena terlalu lama Anindita berjongkok membuat kakinya terasa kesemutan dan sulit untuk berdiri, bahkan hampir tersungkur ke bawah kalau saja tidak ada tangan kokoh yang menopang tubuhnya agar tidak terjatuh.
Anindita sontak terkejut hingga membuatnya menoleh ke arah orang yang membantu. Dan bola matanya membulat saat dia melihat sosok Ricky lah yang saat ini merangkulkan lengannya di punggung Anindita.
Anindita spontan menoleh ke pusara suaminya seraya menjauhkan tangan Ricky dari tubuhnya. Melakukan kontak fisik dengan Ricky apalagi di depan makam suaminya, membuatnya seolah ketahuan sedang selingkuh.
" Kenapa Pak Ricky ada di sini?" tanya Anindita.
" Kenapa kamu tidak memberitahu saya jika akan ke sini?" Ricky menjawab pertanyaan Anindita dengan balik bertanya. Tentu saja dengan kondisi Anindita yang sedang hamil membuat dia sangat khawatir jika wanita itu pergi sendirian apalagi ke tempat pemakaman.
" Memangnya kenapa saya harus memberitahu Bapak?!" ketus Anindita. Karena Anindita merasa privacy nya terganggu dengan kehadiran Ricky.
" Tentu saja saya harus tahu karena saya ini calon suami kamu."
Sontak bola mata Anindita melebar saat mendengar apa yang baru saja diucapkan Ricky. Dia pun segera menoleh kembali menatap pusara Arya.
" Itu nggak benar, Mas! Mas Arya jangan dengar apa yang dia bilang! Dia itu gila!" Anindita seolah ingin menjelaskan kepada Arya jika apa yang disampaikan Ricky hanya bualan semata. Anindita pun segera berjalan dengan terseok meninggalkan makam Arya dan menjauh dari Ricky dengan menahan rasa kesemutan yang membuat kakinya tak nyaman. Belum lagi tanah liat yang seolah ingin mengikat alas kaki yang dikenakannya
" Aaaakkhh ...!!" Anindita memekik kaget karena saat ini tubuhnya seakan melayang dan bertumpu pada dua buah lengan kekar yang menopangnya.
" Apa yang Bapak lakukan?! Lepaskan saya!!" Anindita langsung memukuli tubuh Ricky saat dia lihat pria itu yang sudah mengangkat tubuhnya. Namun Ricky seolah tidak perduli pada protes yang dilakukan oleh Anindita sehingga pria itu tetap berjalan ke arah parkiran area pemakaman.
" Lepaskan saya!!" Anindita masih berontak dengan memukuli tubuh Ricky.
" Sebaiknya kamu diam kalau tidak ingin menjadi pusat perhatian orang-orang!"
" Maaf, ada apa ya, Mas? Kenapa Mbaknya ini teriak-teriak?"
__ADS_1
Belum ada semenit Ricky mengakhiri ucapannya tiba-tiba ada seorang pria menghampiri Ricky yang menggendong tubuh Anindita. Pria itu menperhatikan Ricky penuh curiga
" Biasa, Pak. Masalah rumah tangga, dia kabur dan mengadu di makam orang tuanya."
Anindita langsung melotot mendengar ucapan Ricky yang saat itu hanya menampakkan wajah datar tanpa rasa bersalah.
" Oh, masalah rumah tangga. Ya sudah, sebaiknya diselesaikan baik-baik di rumah, malu kalau sampai ribut-ribut depan umum, Mas." Pria itu memberikan saran.
" Terima kasih, Pak. Permisi ..." Ricky berpamitan dan lanjut melangkahkan kakinya menuju mobilnya terparkir.
Ricky menurunkan Anindita saat sampai di mobilnya, lalu membukakan pintu untuk wanita hamil itu agar duduk di samping kursi kemudinya.
" Saya antar kamu pulang." Ricky meminta Anindita untuk masuk ke dalam mobilnya. Dan setelah Anindita menuruti apa yang diperintahnya, pria yang berusia hampir tiga puluh enam tahun itupun berjalan ke sudut pintu lain dan akhirnya duduk di belakang kemudi.
" Lain kali kalau mau pergi dari area apartemen kabari saya. Saya hanya khawatir terjadi sesuatu sama kamu. Kamu sedang hamil, cuaca juga mendung dan hampir hujan," ujar Ricky sambil mengenakan seat belt nya tapi tak ditanggapi oleh wanita cantik itu, karena wanita itu lebih dulu membuang pandangan keluar jendela dengan rasa kesal yang bertumpuk-tumpuk.
Ricky menyalakan mesin mobilnya dan juga menyetel audio. Karena tadi dalam perjalanan menuju area pemakaman dia sedang mendengarkan info-info terbaru di seputar wilayah Jakarta dari salah satu channel radio terkemuka.
Ku tak akan mundur, Ku tak akan goyah ....
Meyakinkan kamu, mencintaiku ....
Tuhan ku cinta dia, Ku ingin bersamanya ....
Ku ingin habiskan nafas ini berdua dengannya ....
Jangan rubah takdirku, satukanlah hatiku dengan hatinya ....
Bersama sampai akhir ....
Ricky pun akhirnya melajukan mobilnya meninggalkan area pemakaman di mana suami Anindita dikebumikan.
***
Anindita bergegas keluar dari mobil Ricky saat mobil Ricky berhenti di depan pintu lobby. Anindita pun kemudian menggunakan acces card lift untuk menuju lantai apartemennya. Kehadiran Anindita dari pintu masuk lobby langsung menjadi pusat perhatian sebagian besar orang yang ada di sana, karena saat itu Anindita menjinjing sepatu flatnya yang dipenuhi tanah liat yang menempel di sepatunya, hingga kini dia bertelanjang kaki tanpa mengunakan alas apapun.
" Maaf, sepatu saya kotor. Kasihan sama Mas-mas membersihkan lantainya." Itu jawaban yang Anindita berikan saat security yang berjaga di dekat pintu lobby menanyakan kenapa Anindita melepas sepatunya.
Ting
__ADS_1
Pintu lift yang membawa Anindita mencapai lantai yang dia tuju pun terbuka, membuat wanita dengan perut membuncit itu pun keluar dari lift dan berjalan menuju unit apartemennya.
Anindita membuka pintu apartemen dan masuk ke dalamnya dengan mengucapkan salam. Namun seketika dia terkesiap saat mendapati ruangan tamu yang biasanya tertata rapi dengan sofa dan beberapa perabotan kini nampak lengang. Namun lantainya kini dibentang permadani indah dari sudut ke sudut dan hanya menyisakan sofa bench, di mana di atas sofa tanpa sandaran itu tersusun beberapa hampers, membuat Anindita mengeryitkan keningnya. Namun tak lama Anindita keluar kembali dari apartemen yang dia memasuki untuk memastikan apakah dia salah apartemen atau tidak. Tapi saat dia melihat nomer di pintu itu, dia memang mendapati nomer apartemen yang selama ini dia tempati.
" Cika ...!! Mbak Tita ...!!" Anindita kemudian berteriak memanggil kedua ART itu.
" Ibu sudah pulang?" Tita yang menyahuti panggilannya.
" I-ini ada apa ya, Mbak? Sofa dan yang lainnya pada ke mana?" tanya Anindita terheran.
" Barang-barang sementara ditaruh di ruangan tengah sama ada sebagian di kamar Rama, Bu." Tita menjelaskan di mana benda-benda yang dimaksud Aninda berada.
" Memang kenapa dipindahkan ke sana?" Anindita masih belum memahami apa yang terjadi.
" Kan nanti setelah sholat isya mau ada acara tahlilan empat puluh hari Pak Arya, Bu."
Deg
Seketika hati Anindita berdesir saat mendengar jawaban dari Tita tentang rencana tahlilan empat puluh hari almarhum suaminya.
" Tahlilan? T-tapi siapa yang menyiapkan ini? Saya nggak bikin acara ini, Mbak?" tanya Anindita bingung.
" Ini 'kan disuruh Pak Ricky, Bu."
Anindita kembali terkejut mengetahui jika Ricky lah yang menyiapkan acara tahlilan Arya.
" Itu hampers nya juga sudah disediakan, Bu. Kalau nasi kotak sama snacknya sehabis Maghrib diantarnya, Bu. Pesannya juga di restoran di bawah yang dekat dengan toko bunga. Dan Anindita tahu restoran yang dimaksud
Anindita berjalan perlahan mendekati hampers yang tersusun rapih di sofa bench, Dia membuka salah satu hampers, di dalamnya berisikan sajadah, kopiah, tasbih digital dan juga buku Yasin. Dia meraih buku yang disampulnya menampilkan foto Arya yang nampak tersenyum, membuat Anindita meneteskan air matanya, karena dia tidak bisa mengungkapkan bagaimana rasa hatinya saat ini.
*
*
*
Bersambung ...
Ricky Lovers mana nih suaranya? Udah 3 bulan berturut² level ASKML stag di level 7 aja nih. Ayo kasih dukungannya dong. Like & komen itu penting juga buat bantu naikin level karya. Jadi jangan sampai ketinggalan ya, Makasih🙏
__ADS_1
Happy Reading