
Ricky memasuki cafe di mana dia dan Arya berjanji untuk berjumpa. Matanya mengedar pandangan mencari sosok Arya. Dia menemukan pria itu sedang menyesap kopi dengan pandangan mata tetap fokus kepada layar ponselnya. Ricky kemudian berjalan menghampiri Arya.
" Selamat malam, Pak Arya. Saya tidak telat, kan?" Ricky melirik arlojinya yang menunjukkan pukul 19.29 menit.
" Tidak, Pak Ricky. Anda benar-benar tepat waktu." Arya terkekeh sedikit menyindir membuat Ricky mengulum senyuman seraya menarik kursi dan mendudukkan tubuhnya di kursi itu.
" Mas ...!" Ricky kemudian memanggil pelayan cafe itu hingga membuat pelayan itu mendekat ke arahnya.
" Saya pesan vanilla latte dan roti bakar. Pak Arya ada yang ingin dipesan lagi?" tanya Ricky kepada Arya.
" Oh, tidak. Ini sudah cukup." Arya menunjuk pisang goreng di hadapannya.
" Ya sudah itu saja pesanan saya, Mas," ujar Ricky kepada pelayan cafe.
" Apa yang ingin Pak Ricky bicarakan dengan saya?" tanya Arya to the point.
" Saya ingin meminta ijin kepada Pak Arya dan Nona Anin untuk mengurus Rama, selama jelang dan hari pernikahan kalian. Maaf, bukannya saya tidak menghargai keberadaan keluarga Pak Arya, tapi saya yakin Anda, Nona Anin dan keluarga Anda pasti akan sangat sibuk sekali. Jadi saya berharap jika diperbolehkan, saya ingin membawa Rama menginap di tempat saya. Saya yakin Nona Anin pasti tidak akan fokus pada Rama saat hari pernikahan nanti." Ricky menjelaskan tujuannya menemui Arya.
" Saya bicara kepada Anda karena saya yakin jika saya yang meminta kepada Nona Anin langsung, dia pasti akan menolak permintaan saya ini."
" Permisi, Pak." Seorang pelayan wanita datang membawa pesanan Ricky.
" Terima kasih, Mbak." Ricky mengucapkan terima kasih dan pelayan cafe itu tak lama kembali melayani pengunjung cafe lainnya.
" Dan jika Pak Arya dan Nona Anin berencana ingin bulan madu, biarlah saya yang akan menjaga Rama di sini selama kalian pergi," ujar Ricky kembali.
" Bukankah Anda bekerja, Pak Ricky? Bagaimana pekerjaan Anda jika Rama Anda bawa? Apa itu tidak mengganggu pekerjaan Anda?" tanya Arya kembali.
" Tentu saja tidak, Pak Arya. Saya akan membawa Rama ke kantor, dan saya juga akan membawa pengasuh untuk menemaninya," ucap Ricky.
" Hmmm, baiklah. Nanti saya coba bicarakan dengan Anin. Semoga dia bisa mengerti."
" Nona Anin sepertinya belum benar-benar bisa memaafkan saya, Pak Arya."
" Ya, mungkin dia masih belum bisa melupakan apa yang terjadi dulu. Mungkin masih ada trauma di hatinya jika melihat Anda, Pak Ricky."
Ricky menghela nafas panjang, dia menyadari kesalahan masa lalunya sangatlah fatal. Mungkin Anindita masih memerlukan waktu untuk bisa menerima permintaan maaf atas semua kesalahannya di masa lalunya.
***
" Mbak Tita, ayam ungkep nya sudah matang?" tanya Anindita saat masuk ke dalam dapur rumah Arya.
" Sebentar lagi, Bu. Masih ada airnya," sahut Tita.
__ADS_1
" Oh ya sudah, awas jangan sampai gosong, ya!" Anindita mengingatkan.
" Ibu kalau masak nggak suka pakai bumbu racik instan, ya?" tanya Tita kemudian.
" Nggak, Mbak. Saya lebih sreg meracik sendiri bumbunya," jawab Anindita.
" Kerasa lebih nikmat racik sendiri juga ya, Bu?"
" Iya benar, terasa lezat kita racik bumbunya sendiri." Anindita menjawab dengan tersenyum pertanyaan Tita.
Teett
" Sepertinya ada tamu, Bu. Saya bukakan pintu dulu ya, Bu."
" Biar saya saja yang bukakan pintu, Mbak. Mbak Tita lanjutkan saja memasaknya." Anindita melarang Tita membukakan pintu dan dia sendiri yang beranjak ke ruang tamu untuk melihat siapa yang mengetuk pintu rumah yang dia tempati ini. Karena dia yakin jika itu bukanlah Arya karena kemarin dia meminta Arya untuk tidak datang ke tempatnya hingga hari H nanti.
" Mbak Ria? Mbak Lanny?" Anindita terkesiap dengan mata membulat sempurna saat mendapati siapa yang datang menemuinya jelang sore ini.
" Mbak kapan datang?" tanya Anindita lagi karena sapaannya tidak direspon oleh kedua adik Arya itu.
Ira dan Lanny kemudian menerobos masuk ke dalam rumah kakaknya itu.
" Jadi selama ini kamu menumpang di rumah kakakku ini?" Pertanyaan pembuka dari Ria sukses membuat Anindita harus menelan salivanya. Anindita memang menumpang tinggal di rumah Arya, tapi itu bukan karena kemauannya.
" Kami sudah tahu siapa kamu yang sebenarnya."
Deg
Perkataan Ria selanjutnya sukses membuat Anindita terkesiap. Seketika hatinya dilanda kecemasan. Selama ini Arya selalu berusaha menutupi soal masa lalunya di hadapan keluarga Arya.
" Kamu tahu kalau profesi Mas Arya adalah kepala sekolah. Mas Arya itu pantas mendapatkan wanita yang terhormat dan berpendidikan. Bukan wanita seperti kamu, wanita yang hamil di luar nikah!"
Hati Anindita serasa diremas-remas mendengar penghinaan yang dilontarkan Ria untuknya.
" Saya yakin kamu pasti sudah melakukan sesuatu sehingga Mas Arya begitu takluk terhadap kamu!" tuding Lanny kemudian.
" M-maksud Mbak apa?" tanya Anindita menanggapi tuduhan Ria dan Lanny.
" Kamu pasti pakai dukun 'kan supaya Mas Arya mau sama kamu?" tuduh Lanny lagi.
" Astaghfirullahal adzim, kenapa Mbak bicara seperti itu?" Anindita sampai beristighfar.
" Kita bicara realistis saja, deh! Kalau hanya cantik, banyak wanita cantik di luar sana yang sebanding dengan Mas Arya yang masih perawan. Lalu kenapa Mas Arya memilih kamu wanita yang tidak jelas asal usulnya. Dan melahirkan anak haram yang tidak tahu siapa ayahnya?!" cibir Ria
__ADS_1
Deg
Darah Anindita seketika mendidih saat mendengar ucapan Ria yang sangat menyayat hati.
" Cukup, Mbak! Saya bisa terima jika Mbak menghina saya, tapi saya tidak terima Mbak menghina anak saya! Dia tidak bersalah!" geram Anindita dengan air mata yang mulai membanjiri pipinya.
" Anak kamu memang tidak bersalah, tapi yang salah itu kelakuan be"jat orang tuanya. Apa jadinya jika teman-temannya tahu jika dia itu anak haram?!"
" Saya bilang cukup!! Jangan pernah libatkan anak saya dalam masalah ini," tegas Anindita meninggikan suaranya.
Lanny dan Ria tersenyum sinis mendengar Anindita menyentak mereka.
" Kamu lihat 'kan, ternyata wanita ini berkepala dua. Dia berpura-pura bersikap manis di depan Mas Arya hingga Mas Arya terpikat kepadanya. Nyatanya sifat asli dia yang sebenarnya keluar juga," sindir Ria tak puas-puasnya menghina Anindita.
" Siapapun tidak akan terima anaknya dihina, Mbak! Kenapa Mbak Ria dan Mbak Lanny tega mengatakan hal yang menyakitkan seperti ini terhadap saya? Kalau kalian tidak bisa menerima saya kenapa harus menghina saya seperti ini?" Anindita menyeka air matanya yang tak hentinya mengalir.
" Oke, saya tidak akan menghina kamu lagi, asal kamu mau membatalkan pernikahan kalian sebelum terlambat, mumpung masih ada waktu lima hari lagi. Undangan pun baru akan disebar besok, kan? Lebih baik keluarga saya menahan malu karena gagal menikah daripada menanggung malu Mas Arya ketahuan menikahi wanita murahan yang mau tidur dengan sembarang pria sampai hamil." Ria terus saja menyerang Anindita membuat harga diri Anindita serasa diinjak-injak.
" Saya sangat menghormati Mama dan Mas Arya karena mereka mempunyai sikap dan sifat yang santun. Saya tidak pernah menyangka Mas Arya mempunyai adik-adik yang sifatnya bertolak belakang dengan Mas Arya!" Mungkin karena dia merasa emosi akhirnya Anindita punya keberanian untuk melawan kedua adik calon suaminya itu.
" Sikap yang Mbak Ria dan Mbak Lanny tunjukkan sama sekali tidak mencerminkan sikap orang yang mempunyai pendidikan tinggi dan berkelas!" Kemarahan Anindita sontak membuat Ria dan Lanny geram.
" Kamu berani sekali menghina kami!" geram Ria.
" Bukankah kalian terlebih dahulu yang mulai menghina saya?! Sebaiknya Mbak Lanny dan Mbak Ria segera pergi dari sini karena saya tidak ingin ada keributan di sini." Anindita mengusir Ria dan Lanny secara halus.
" Berani sekali kamu mengusir kami! Apa kamu lupa jika rumah ini adalah milik kakak saya?! Saya yang berhak mengusir kamu dari sini! Sekarang juga kamu dan anak haram kamu keluar dari rumah ini!!" usir Ria setengah berteriak kencang.
" Apa yang kalian lakukan di sini?!"
Tiba-tiba terdengar suara pria dari pintu yang membuat mereka bertiga terkesiap dan menolehkan wajahnya ke asal suara tadi.
*
*
*
Bersambung ...
🤔🤔 Kok Othor heran ya, banyak readers yang mendukung Ria dan Lanny ini?? #Othorberistighfar. Please ah, readers jangan berubah jadi antagonis, dong! 🤭🤭🤭
Bersambung❤️
__ADS_1