ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu

ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu
Kotak Bunga Mawar


__ADS_3

Tok tok tok


" Anin, kamu sudah tidur, Nin?" Suara Mama Arya dibarengi dengan ketukan pintu terdengar dari luar kamar Anindita membuat Anindita mendekat ke arah pintu dan membukakannya.


" Mama ...."


" Anin, Mama mau bicara denganmu sebentar bisa?" tanya Mama Arya sebelum masuk ke kamar Anindita.


" Silahkan, Ma." Anindita mempersilahkan Mama Arya masuk ke dalam kamarnya. Dia bahkan ikut membantu mendorong kursi roda meskipun kursi roda yang dipakai Mama Arya itu elektrik.


" Anin ...."


" Ma, Anin minta maaf dengan kejadian tadi." Anindita langsung duduk bersimpuh di hadapan mertuanya.


" Anin nggak tahu kalau Pak Ricky akan melakukan hal itu. Tapi Anin nggak sangka Pak Ricky senekat itu. Dia melakukan hal itu tanpa seijin Anin, Ma." Anindita mencoba mengklarifikasi agar Mama mertuanya itu tidak menjadi salah paham.


" Anin, kamu tidak perlu merasa seperti itu. Mama sudah merestui kalian, Anin." Mama Arya mengusap kepala Anindita.


" Ma ..." Anindita mendonggakkan kepala saat mendengar dengan telinganya sendiri jika Mama Arya merestui rencana Ricky yang akan meminangnya.


" Anin, Mama tahu ... Arya akan tetap ada di hati kamu dia tetap hidup di sana. Tapi Arya sudah pergi, raga nya tidak akan kembali dan kamu sendiri harus tetap menjalani hidup dan kamu butuh seseorang untuk bersandar, berbagi cerita, berbagi keluh kesah. Jadi Mama harap kamu tidak ragu untuk menerima tawaran Ricky untuk menikahimu setelah masa iddahmu selesai." Mama Arya mencoba membuka jalan pikiran Anindita agar lebih terbuka dan lebih berpikiran logis.


" Tapi Anin tidak ingin mengkhianati Mas Arya, Ma."


" Kamu tidak megkhianati Arya, Anin. Saat Arya meninggal artinya status pernikahan kalian putus. Saat Arya meninggal artinya kamu sudah cerai mati dengan Arya. Jadi kamu pun berhak untuk memulai hidup baru kembali setelah masa Iddah mu selesai."


" Mama ingin kamu tetap menjadi menantu Mama karena itu menikahlah dengan Ricky, karena sekarang ini Ricky sudah Mama anggap seperti anak Mama juga, Anin." Mama Arya terus-terusan meyakinkan Anindita.


Anindita memicingkan matanya menatap curiga Mama Arya.


" Apa Pak Ricky memaksa Mama agar mau mendukung rencana dia?"


Bukannya tersinggung dengan ucapan Anindita, Mama Arya justru terkekeh.


" Kenapa kamu berpikiran seperti itu, Anin? Tanpa harus dipaksa pun Mama akan dukung kalian. Hanya Ricky yang pantas mendampingi kamu menggantikan Arya."


" Tapi Anin belum siap, Ma. Rasanya aneh sekali jika Anin harus tiba-tiba menikah dengan dia, sekamar, tidur bersama, lalu ah ...." Anindita menutup wajahnya, rasanya malu sekali membayangkan hal itu dengan pria lain.

__ADS_1


Mama Arya kembali tertawa kecil.


" Mama tahu itu butuh proses, tapi itu bisa berjalan seiring waktu. Ricky sudah banyak berbuat baik untuk kita, Anin. Dia juga sudah terlihat akrab dengan kamu. Mama pikir justru sebaiknya harus segera dihalalkan daripada akan jadi omongan orang karena kalian terlalu sering bersama."


" Mama harap kamu selalu bersikap baik terhadap Ricky. Jangan sampai kamu menyesal jika nantinya Ricky lelah mengejar kamu dan memilih wanita lain."


" Mama rasa itu saja yang ingin Mama sampaikan ke kamu, Anin Sekarang kamu istirahatlah, sudah malam." Mama Arya melirik ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Tak lam Mama Arya pun keluar dari kamar Anindita menuju kamar Ramadhan.


***


Anindita mengeliat merenggangkan otot-ototnya saat terbangun pagi ini. Dia kemudian menyalakan lampu kamar hingga pandangannya kini terarah pada empat buah box yang terletak di meja yang terdiri dari tiga box warna hitam dan satu box berwarna putih.


Anindita berjalan ke arah box itu. Dia membaca nama brand yang ada di box itu ternyata nama toko florist tapi bukan Alabama.


Anindita mencoba membuka satu box warna hitam dari yang paling ujung, dia terkesiap saat mendapati kotak itu berisikan mawar putih bervariasikan mawar berwarna pink membentuk huruf I. Anindita kemudian membuka box hitam ke dua yang berposisi di tengah yang berisikan masih mawar putih dengan variasi mawar merah membentuk lambang hati ❤️. Dia lalu membuka kotak ke tiga dengan hati berdebar-debar. Apalagi saat dia mendapati mawar putih dengan mawar pink itu membentuk huruf U. Anindita lalu membuka box lainnya yang berwarna putih. Dia penasaran apa lagi yang ada di dalam kotak itu.


Anindita mendapati bunga mawar putih yang tersusun rapih dan mawar merah berbentuk huruf RA yang dikelilingi oleh baby's breath. R dan A bisa diartikan inisial dari Ricky Anindita. Dan jika dibaca berbarengan tulisan di keempat kotak itu mungkin mengandung arti seperti ini


...I ❤️ U...


...Ricky & Anindita...




" Kenapa beli di tempat lain, sih? Kenapa nggak beli di Alabama saja? Kalau merangkai seperti ini kita juga 'kan bisa." Anindita memberengut saat mengingat nama florist yang terdapat di box itu adalah nama salah satu florist terbaik yang ada di Jakarta.


Namun kemudian Anindita mengambil ponselnya dan mengabadikan rangkaian mawar itu di ponselnya lalu dia mengirimkan foto itu kepada pengirim bunga yang sudah pasti dia tahu siapa pelakunya.


" Terima kasih untuk bunganya."


Setelah mengirimkan pesan itu Anindita ingin menyimpan kembali ponselnya namun tiba-tiba terdengar notif pesan masuk ke benda pipih miliknya itu.


" Kamu suka?" Balasan dari Ricky dengan cepat masuk ke ponseln


" Nggak!" Anindita menjawab singkat namun terkesan ketus.

__ADS_1


" Oh maaf kalau kamu tidak suka."


" Kenapa beli di luar? Kenapa nggak beli di Alabama saja? Kalau untuk bikin yang seperti itu saja kita-kita di Alabama juga bisa, kok!" Anindita seperti mengeluarkan semua unek-uneknya.


Pesan yang dikirim Anindita terbaca oleh Ricky namun pria itu tak membalas keluhan Anindita. Ditunggu hingga satu menit pun tak ada terlihat tanda-tanda Ricky melakukan gerakan mengetik untuk membalas pesan Anindita membuat wanita itu mencebikkan bibirnya. Dia pun akhirnya menaruh kembali ponselnya dan ingin berjalan ke kamar mandi.


Tok tok tok


Anindita menarik langkahnya saat terdengar pintu kamarnya diketuk.


" Masuk saja tidak dikunci," sahut Anindita karena dia mengira jika yang mengetuk adalah Cika atau Tita. Namun Anindita terperanjat saat dia mendapati Ricky yang kini membuka pintu dan masuk ke kamar tidurnya.


" Bapak? Mau apa Bapak ke sini?" Untung saja kali ini Anindita memakai daster selutut dan berlengan jadi tidak sampai membuat Ricky terpana dengan keindahan dan kulit mulus Anindita.


" Saya ingin mengambil bunga itu kembali." Ricky berjalan ke arah kotak bunga itu berada.


" Lho, kenapa diambil lagi?" tanya Anindita heran.


" Katanya kamu nggak suka? Ya sudah mau saya kasih saja ke orang lain nanti saya ganti yang seperti ini dari Alabama florist." Ricky hendak mengambil kotak berisi mawar itu namun Anindita melarangnya.


" Eh, jangan-jangan! Biarkan saja di situ, nggak perlu diganti! Memangnya mau kasih ke orang lain siapa bunga ini? Mbak Rachel?" ketus Anindita.


Ucapan Anindita yang menyebut nama Rachel membuat Ricky menarik satu bibirnya ke atas. Dia kemudian teringat ucapan Mita yang mengatakan jika Anindita tidak menyukai kedekatannya dengan Rachel.


" Untuk Rachel? Boleh juga, dia pasti suka. Tinggal nanti saya rubah susunan mawar merahnya jadi huruf R juga," ujar Ricky menanggapi Anindita.


" Ya sudah bawa saja ini semua. Nih sana kasih ke Mbak Rachel!" Anindita menutup dan menyusun kotak itu dengan kasar lalu menyodorkan ke arah Ricky membuat Ricky menerima kotak-kotak itu dengan terpaksa.


" Silahkan keluar dari kamar ini." Anindita kemudian mendorong paksa tubuh Ricky hingga keluar dari kamarnya lalu menutup dan menguncinya. Entah kenapa tiba-tiba saja ada letupan-letupan emosi yang muncul saat mendengar Ricky mengatakan akan memberikan bunga itu untuk Rachel dan merubah inisial huruf A menjadi huruf R.


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Happy Reading❤️


__ADS_2