ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu

ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu
Kalah Cepat


__ADS_3

Ricky dan Arya berjalan beriringan di belakang Anindita dan Ramadhan yang sedang tertawa-tawa riang. Anindita dan Ramadhan benar-benar seperti seorang majikan yang sedang dikawal oleh dua bodyguard tampan.


Ricky dan Arya memperhatikan kedua ibu dan anaknya itu dengan pikiran berbeda. Jika Arya berpikir betapa bahagia jika mereka sudah menjadi keluarga, sedangkan Ricky lebih fokus pada Ramadhan sang putra yang empat tahun lebih tak pernah ditemuinya. Ricky merasa senang karena akhirnya dia bisa bertemu dengan darah dagingnya itu.


" Oh ya, Pak Arya. Saya dengar dari Rama jika Anda dan Nona Anindita akan segera menikah. Saya ucapkan selamat atas rencana kalian." Ricky memulai percakapan dengan Arya.


" Rama bicara seperti itu?" Arya terkesiap mengetahui jika Ramadhan sampai menceritakan rencana pernikahannya kepada Ricky.


Ricky menganggukkan kepala menjawab pertanyaan Arya.


" Ya, dua bulan yang akan datang kami akan segera menikah. Anda tidak keberatan 'kan saya menikahi ibu dari anak Anda, Pak Ricky?" tanya Arya.


" Oh, tentu saja tidak, Pak Arya. Nona Anindita pantas mendapatkan pendamping yang sangat menyanyangi dia, dan saya rasa Anda adalah pria yang sangat cocok mendampingi Nona Anindita, Pak Arya." Ricky berkata dengan lugas.


" Rama nampak terlihat bahagia saat berkata akan mempunyai Papa." Kalimat Ricky selanjutnya terdengar getir.


" Saya hanyalah Papa sambung untuk Rama, Andalah Papa kandungnya. Jika waktunya sudah tepat Rama pasti akan tahu siapa Anda sebenarnya untuk dia." Arya mencoba membesarkan hati Ricky.


" Dan saya harap jika saat itu tiba, Rama tidak membenci saya karena perlakuan buruk saya terhadap Mamanya dulu " Nada bicara Ricky terdengar sedikit bergetar dan Arya pun mengerti jika Ricky sedang menanggung penyesalan yang teramat dalam.


" Anin selalu mendidik anaknya dengan hal-hal yang positif. Dia selalu mengajarkan kebaikan kepada Rama. Saya rasa kelak Rama akan bisa mengerti dan memaafkan apa yang pernah Anda perbuat pada Anin, Pak Ricky."


" Ya, saya harap juga seperti itu." Ricky kemudian mengarahkan pandangan ke arah Arya.


" Saya harap jika Pak Arya dan Nona Anindita menikah, Pak Arya bisa menyanyangi Rama seperti anak kandung sendiri." Ricky menyampaikan harapannya kepada Arya membuat Arya menghentikan langkahnya dan Ricky pun berhenti melangkah.


" Tanpa Anda minta pun saya sudah lama melakukan hal itu, Pak Ricky," sahut Arya seraya mengulum senyuman kemudian kembali melangkah meninggalkan Ricky yang masih terdiam namun tak lama mrnyusul langkah Arya memasuki restoran yang dipilih oleh Ramadhan.


***


" Rama mau makan apa, Sayang?" tanya Anindita saat mereka sampai di restoran ayam goreng tepung asal Negera Paman Sam itu.


" Rama mau burger, Ma." Ramadhan menyahuti.


" Rama makan nasi dulu ya, Sayang. Makan burger nya nanti saja dibawa pulang." Anindita menasehati anaknya.


" Nggak mau, Ma. Rama mau burger." Ramadhan berkeras hati.


" Rama, Rama 'kan anak Sholeh, harus nurut apa yang dibilang sama Mama, ya!" Arya dengan cepat ikut menasehati Ramadhan.


" Tapi Rama mau makan burger dulu, Om." Ramadhan tetap menentang apa yang dikatakan Anindita dan Arya.


" Rama, Rama dengar apa yang diminta Mama ya, Nak. Kalau Rama nggak mau dengar apa yang Mama suruh, nanti Om nggak mau ajak Rama jalan-jalan di mall lagi. Om nggak mau beliin mainan Rama lagi. Rama mau?" Ricky memberikan sedikit ancaman kepada anaknya itu.


" Nggak mau, Om." Ramadhan dengan cepat menggelengkan kepala.

__ADS_1


" Kalau begitu Rama harus menurut apa yang Mama bilang, ya!" tegas Ricky.


" Iya, Om." Ramadhan mematuhi apa yang diminta Ricky.


Sontak sikap Ricky yang dengan mudah mempengaruhi Ramadhan membuat Anindita kesal. Dia merasa ancaman yang diberikan kepada Ramadhan itu salah.


" Saya harap Tuan tidak meracuni anak saya dengan sikap Tuan tadi!" ketus Anindita langsung bereaksi.


" Maaf, maksud Nona?" Ricky terkesiap dengan perkataan Anindita.


" Saya tidak ingin anak saya menjadi anak yang manja. Harus diiming-iming imbalan terlebih dahulu agar mengikuti kemauan kita. Saya rasa itu bukanlah suatu sikap yang bijak." Anindita memprotes dengan menatap Ricky dengan kesal.


" Oh, maaf atas perkataan saya tadi, Nona. Saya berjanji saya tidak akan melakukan hal itu lagi. Sekali lagi saya minta maaf." Ricky dengan cepat menyampaikan permohonan maafnya. Dia pun menatap mata indah Anindita yang kemudian memalingkan wajah cantiknya yang terlihat dipenuhi emosi.


" Ya sudah Rama ikut Om, yuk! Sekalian Rama pilih hadiah mainannya," ajak Ricky kemudian.


" Ayo, Om." Ramadhan langsung menggandeng tangan Ricky.


" Oh ya, Nona Anin dan Pak Arya ingin pesan apa?" tawar Ricky


" Biar nanti saya pesan sendiri saja." Arya menolak tawaran Ricky.


" Tidak apa-apa Pak Arya. Anggap saja ini traktiran dari saya karena sebentar lagi kalian akan menjadi sebuah keluarga," ucap Ricky tulus.


Namun entah mengapa perkataan Ricky seakan tak mengena di hati Anindita.


" Lho, kenapa, Nin? Kamu bilang tadi kamu lapar juga, kan?" tanya Arya heran.


" Aku nggak selera makan, Mas." Anindita melirik ke arah Ricky yang masih berdiri belum mulai mengantri makanan.


" Kamu mesti makan dong, Nin. Kamu menyuruh Rama makan tapi kamu sendiri nggak mau makan. Nanti kamu malah sakit karena telat makan." Kali ini Arya menasehati Anindita.


" Atau kau ingin aku yang menyuapi?" goda Arya membuat Anindita menoleh ke arah Arya yang sedang mengulum senyuman dengan memainkan kedua alis matanya. Dan itu seketika membuat rona merah di wajah Anindita mulai terlihat.


" Kalau begitu saya antrikan makanannya." Ricky yang melihat moment kemesraan Anindita dan Arya memilih pergi untuk mengantri makanan karena dia pun tak ingin mengganggu mereka berdua.


***


Ricky merebahkan tubuhnya di sofa kamarnya. Dia baru saja kembali setelah mengantar Ramadhan pulang. Sebenarnya saat bertemu dengan Anindita, Anindita mengajak Ramadhan untuk pulang bersama tapi Ramadhan menolak. Ramadhan masih ingin bersama Ricky dan kebetulan Anindita dan Arya pun masih ada keperluan ingin memilih desain kartu undangan. Akhirnya baru sore hari dia bertemu dengan Arya untuk mengantar Ramadhan. Karena Anindita tidak mengijinkan Ricky mengantar Rama langsung ke rumah milik Arya. Anindita hanya tidak ingin terdengar gosip yang tidak sedap karena dia menerima tamu pria lain apalagi jika para tetangga tahu jika Ricky adalah ayah Ramadhan. Karena setahu tetangga sekitar Anindita adalah calon istri pemilik rumah itu. Selama ini dia tinggal di sana saja selalu ada selentingan yang tidak enak di dengar dari tetangga di sana apalagi jika dia membiarkan Ricky sering ke sana.


Ddrrtt ddrrtt


Ricky segera meraih ponselnya saat benda pipih itu bergetar.


" Hallo, Des?" Ricky menjawab telepon masuk dari Dessy adiknya.

__ADS_1


" Halo Kak. Kak Ricky tadi ke rumah, ya? Sorry aku tadi ada pasien yang mau melahirkan," ujar Dessy.


" Ya sudah tidak apa-apa." Ricky menyahuti.


" Apa Kak Ricky bawa keponakanku kemari?" tanya Dessy. Ricky memang sudah menceritakan tentang Ramadhan kepada adiknya itu.


" Iya tadi Kakak bawa Rama ketemu Donny." Ricky menyebut nama anak Dessy.


" Yaaahh, sayang sekali pas aku nggak lagi di rumah," sesal Dessy.


" Lain waktu Kakak nanti main lagi ke rumah kamu."


" Kak Ricky kabari aku dulu kalau mau ke sini, Kak. Jadi aku bisa ketemu sama Rama."


" Iya nanti kakak kabari lagi kalau mau main ke sana."


" Donny senang banget tadi cerita ketemu sama Rama lho, Kak. Kakak harus sering bawa main Rama ke sini biar Donny ada temannya, Kak."


" Kalau Kakak ajak dia ketemu Donny nanti yang ada waktu Rama tersita untuk Donny semua. Lalu waktu untuk Kakaknya kapan, dong? Sedang Kakak hanya dikasih waktu sehari bersama dia."


" Kalau Kakak ingin selamanya bersama Rama, Kakak nikahi saja dong Mamanya Rama," celetuk Dessy tekekeh.


Ricky tergelak mendengar perkataan Dessy.


" Kenapa ketawa, Kak? Kakak 'kan sudah menghamili dia, mestinya sudah dari awal Kakak menikahi dia, apalagi Kakak bilang Mamanya Rama itu cantik orangnya."


" Dia sudah punya calon suami."


" Lho, dia mau menikah? Apa calonnya tahu soal Rama, Kak?"


" Tahu dan tidak mempermasalahkan soal itu."


" Yaaahh, Kak Ricky kalah cepat, dong! Eh, tapi sebelum janur kuning melengkung, segala sesuatu bisa saja terjadi lho, Kak." Dessy terkikik.


" Hei, aku bukan perebut calon istri orang, ya!" sergah Ricky cepat.


" Bukan perebut calon istri tapi perebut kesucian Mamanya Rama lebih tepatnya," ledek Dessy menyindir kakaknya.


" Awas kau, ya!" Tak lama Ricky pun ikut tertawa bersama adiknya itu.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading ❤️


__ADS_2