
Anindita diam mematung tak mengikuti langkah Ricky. Dia berpikir untuk apa dia mengikuti pria itu? Kalau memang ada yang ingin dibicarakan, kenapa tidak dibicarakan di apartemen tempat dia tinggal saja? Kenapa harus ke tempat pria itu?
" Kenapa masih diam di situ?" Ricky yang merasa jika Anindita tidak mengikutinya langsung membalikkan tubuhnya kembali.
" Bapak mau bicara apa? Kenapa nggak di sini saja?" Anindita merasa canggung jika harus ikut ke apartemen yang ditempati oleh Ricky, apalagi setelah kejadian tadi.
Ricky tak menjawab pertanyaan Anindita, dia justru malah menggenggam tangan Anindita kemudian menarik wanita itu untuk mengikutinya. Sontak apa yang dilakukan Ricky membuat Anindita terperanjat dan berusaha menarik tangannya yang digenggam oleh Ricky.
" Bapak mau apa? Kenapa harus di tempat Bapak bicaranya?" Anindita masih berusaha menahan tubuhnya agar tak terbawa gerakan Ricky yang terus berjalan namun tentu saja tenaga Ricky yang berlipat-lipat dari tenaganya membuat Anindita terbawa oleh Ricky hingga ke apartemen pria itu.
" Duduklah ...!" Ricky melepaskan genggaman tangannya lalu menyuruh Anindita duduk di sofa.
Anindita melirik ruang tamu apartemen Ricky yang tak jauh berbeda dengan tempatnya, namun perbaduan warna dan interiornya nampak lebih maskulin. Dia pun kemudian menuruti apa yang diminta Ricky untuk duduk di sofa. Dan Ricky pun duduk di kursi sebelah sofa yang Anindita duduki.
" Bapak ingin bicara apa? Sebaiknya Bapak katakan secepatnya agar saya tidak berlama-lama di sini." Anindita tidak nyaman berdua di dalam apartemen tanpa orang lain.
" Saya ... saya hanya ingin bilang, setelah kamu melahirkan, saya akan melamar kamu."
Deg
Jantung Anindita serasa ingin copot, bahkan jika saja saat ini dia tidak sedang duduk mungkin saja dia sudah jatuh pingsan mendengar perkataan Ricky.
" Setelah masa iddah kamu selesai, setelah melahirkan, saya akan menikahi kamu."
Anindita semakin membelalakkan matanya.
" M-maksud Bapak apa?!" Anindita seketika bangkit sementara tubuhnya seraya melemas mendengar kalimat yang diucapkan Ricky hingga membuatnya seketika syok.
" Saya akan menikahi kamu, saya akan memberi nafkah untuk kamu, Rama dan juga bayi yang ada dalam kandunganmu," tegas Ricky.
Anindita menggelengkan kepala seakan tak mempercayai pendengarannya.
" Untuk apa Bapak menikahi saya?! Saya tidak ingin menikah lagi sampai kapanpun!" tegas Anindita menolak apa yang diinginkan Ricky.
" Anin ... kamu, Rama dan bayi di perut kamu itu butuh biaya untuk hidup, karena itu saya ingin menikahi kamu, agar saya bisa menjamin semua kebutuhan kalian." Ricky yang memang tidak ahli dalam menaklukan hati wanita nampaknya salah memilih alasan ingin menikahi Anindita hingga menimbulkan percikan emosi di hati wanita itu
" Bapak tidak perlu repot-repot memikirkan saya dan anak saya! Saya bisa bekerja, saya bisa menafkahi anak-anak saya sendiri!" geram Anindita karena merasa Ricky telah meremehkan perjuangannya sejak hamil Ramadhan.
" Kalau Bapak merasa berkewajiban menafkahi Rama, silahkan ...! Tapi Bapak tidak punya kewajiban menafkahi saya dan bayi dalam kandungan saya ini!" Anindita yang merasa tersinggung dengan perkataan Ricky berniat meninggalkan Ricky.
__ADS_1
" Dan asal Bapak tahu, sampai kapanpun juga saya tidak akan mengijinkan siapapun menggantikan posisi Mas Arya sebagai suami saya!" tegas Anindita kemudian bergegas meninggalkan apartemen Ricky dengan berurai air mata dan hati yang terluka dengan perkataan Ricky yang berniat ingin menikahinya.
Sesampainya di kamar, Anindita semakin terisak kencang. Dia merasa Ricky benar-benar seperti orang yang tidak mempunyai perasaan. Berani mengutarakan keinginan menikahinya disaat dirinya masih dalam suasana berkabung.
Anindita memeluk foto Arya.
" Mas, kenapa Mas tega meninggalkan aku seperti ini?'" Cairan bening yang menetes dari matanya tak juga mau berhenti. Anindita merasakan saat ini hatinya sangat pilu ditinggal orang yang sangat dicintainya.
Anindita kemudian mengambil koper dan menaruhnya di atas tempat tidur. Dia kemudian memindahkan baju-baju yang ada di lemari ke dalam koper. Dia bertekad untuk pergi dari tempat Ricky. Dia merasa keputusannya menuruti Ricky untuk tinggal di sana adalah satu kesalahan besar.
" Bu, Ibu mau ke mana? Kok baju-bajunya dipacking lagi, Bu?" Tita yang mendengar suara Isak tangis dari kamar Anindita memilih masuk kamar Anindita. Dan dia terkejut saat dia mendapati Anindita sedang mengemas baju-bajunya. Apalagi dengan kondisi Anindita yang menangis membuat dirinya bingung.
" Kenapa bajunya dipindah ke koper, Bu? Ibu mau ke mana? Terus Ibu kenapa nangis?" tanya Tita khawatir.
" Saya harus pergi dari sini, Mbak!" sahut Anindita menyeka air matanya.
" Lho, memangnya mau pindah ke mana lagi, Bu? Di sini sudah enak begini kok tempatnya." Tita yang merasakan jika tempat tinggal yang ditempati Anindita ini sangat nyaman langsung berkomentar dengan rencana kepindahan Anindita.
" Oh ya, Ibu kenapa menangis?" tanya Tita kemudian.
" Tidak apa-apa, Mbak." Anindita menutupi masalah apa yang membuatnya menangis. Dia tidak ingin banyak orang yang tahu dengan niat Ricky yang ingin menikahinya.
" Ibu kalau ada masalah cerita sama saya, Bu. Siapa tahu saya bisa membantu," ujar Tita.
" Tapi, Bu ...."
" Tolong, Mbak ..." Anindita menampakkan wajah sendunya sehingga membuat Tita seolah tak mampu menolak kemauannya.
***
Sementara di apartemennya Ricky nampak kebingungan dengan apa yang terjadi beberapa saat lalu di ruang tamu apartemennya.
" Wanita memang sulit dimengerti! Memusingkan!!" umpat Ricky seraya memijat keningnya, sementara tangan kirinya berkacak pinggang.
Teettt
Ricky langsung menoleh ke arah pintu apartemen saat mendengar bel berbunyi hingga membuat dia menghampiri dan membukakan pintu.
" Ada apa, Cika?" tanya Ricky dengan kening berkerut.
__ADS_1
" Saya hanya ingin memberitahu Pak Ricky kalau Ibu Anin menangis dan sedang mengemas pakaiannya ke dalam koper, Pak."
" Apa??" Ricky tersentak kaget mendengar laporan Cika yang mengatakan jika Anindita menangis dan sedang packing pakaian ke dalam koper. Tentu saja laporan Cika membuat pria itu bergegas menuju lantai atas untuk menemui Anindita.
" Apa yang sedang kamu lakukan, Anin?" Ricky mendapati Anindita yang sedang tertunduk duduk di tepi tempat tidur memandangi dua koper di depannya.
Suara Ricky yang tiba-tiba membuat Anindita terkesiap hingga membuat dia bangkit dari duduknya.
* Untuk apa kamu masuk-masukan pakaianmu ke koper?" tanya Ricky menatap wajah sendu Anindita dengan mata memerah karena habis menagis.
" Saya tidak bisa terus di tempat ini! Saya akan pergi dari sini!" tegas Anindita menyeka sisa air mata yang masih mengembun di bola matanya.
" Tidak! Saya tidak akan ijinkan kamu pergi dari sini!" Ricky lalu mengangkat kembali koper dan membuka tas besar itu lalu mengembalikan baju-baju Anindita ke dalam lemari. Sontak Anindita membelalakkan mata melihat sikap Ricky.
" Apa yang Bapak lakukan?! Saya mau pergi dan Bapak tidak berhak melarang saya keluar dari sini!" geram Anindita kemudian dia mengambil kembali baju yang baru saja diletakan Ricky dari koper.
" Saya tetap melarang kamu keluar dari sini!" Ricky merebut pakaian yang ada di tangan Anindita.
" Kamu tidak akan ke mana-mana! Kamu akan tetap di sini membesarkan Ramadhan!" tegas Ricky kembali.
" Saya tidak mau!" hardik Anindita.
" Ini milik Rama, bukankah saya pernah bilang jika apartemen ini milik Rama? Artinya tempat ini milikmu juga! Kau berhak tinggal di sini membesarkan anak-anakmu." tegas Ricky.
" Saya akan tetap pergi, Pak Ricky Pratama! Bapak tidak punya hak mengatur saya! Saya bukan siapa-siapa Anda, Pak! Jadi berhentilah mengatur hidup saya!" geram Anindita penuh emosi.
" Baiklah, kalau kamu ingin pergi, silahkan pergi, tapi saya pastikan kamu tidak akan bisa membawa Rama pergi,!" Ricky menebar ancaman.
" Apa maksud Bapak?" Anindita terperanjat mendengar ancaman Ricky
" Kalau kamu mau pergi silahkan, tapi saya akan mengambil Rama dari kamu!" ancam Ricky kembali
Serasa disambar petir Anindita mendengar kembali kalimat ancaman dari Ricky hingga membuat tubuhnya lemas dan merosot ke bawah namun tangan kokoh Ricky lebih dulu menangkapnya sebelum tubuh Anindita jatuh di lantai.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ...
Happy Reading❤️