ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu

ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu
Menantu Yang Suka Membandel


__ADS_3

Di sepanjang perjalanan pulang, Anindita tak henti-hentinya menangis seraya menyebutkan nama suaminya. Tentu saja Anindita merasa sedih saat mengetahui Ibu mertuanya itu dititipkan di tempat yang tidak selayaknya diberikan kepada orang tua yang masih punya anak ataupun keluarga terkecuali orang tua itu sebatang kara hidupnya.


Anindita juga merasa sangat bersalah kepada suaminya karena kejadian ini. Dia ingat bagaimana dulu kecewanya Arya saat bercerita tentang gurunya yang dititipkan di panti wreda, dan ternyata sekarang orang tuanya sendiri, Ibunya sendiri pun akhirnya mengalami seperti itu


" Ma, Mama jangan nangis terus, kalau Mama nangis terus Rama jadi sedih, huhuhuuu ..." Ramadhan terus mengikuti Mamanya yang tak juga berhenti menangis.


Ricky yang memperhatikan kedua orang yang kini duduk di jok belakang segera memasang earphone bluetooth di telinganya dan menghubungi seseorang.


" Halo, Den. Saya punya tugas untuk kamu. Cari informasinya sekarang juga. Tolong kamu cari di panti wreda yang ada di seluruh Jakarta dan sekitarnya. Kau cari ibu Fatma ..." Ricky tidak mengetahui siapa nama panjang dari Ibu Fatma. " Kau cari saja Ibu Fatma Rahardja. Beliau baru sekitar sebulanan tinggal di panti, dan beliau dalam keadaan lumpuh. Beliau adalah orang tua dari Arya Rahardja. Saya minta dalam satu jam ke depan kau harus mendapatkan informasi itu secepatnya. Katakan kalau pihak keluarga akan menjemput beliau dari sana." Ricky langsung memerintahkan anak buahnya yang biasa dia suruh membantu menyelesaikan masalahnya.


" Baik, Pak Ricky. Kami akan mencari informasi itu secepatnya." Deny menjawab perintah Ricky dengan cepat.


" Oke thanks, Den." Ricky kemudian mematikan sambungan teleponnya lalu melirik ke spion memperhatikan Anindita yang masih saja menangis, membuat dia melajukan mobilya dengan lebih kencang agar segera sampai ke apartemennya.


" Lho, Ibu kenapa, Pak?" tanya Tita sesampainya di apartemen dan mendapati tubuh Anindita berada di antara dua lengan Ricky dalam keadaan menangis.


" Cepat kamu bawa Rama ke kamarnya dan tenangkan dia!" perintah Ricky tak menghiraukan pertanyaan Tita.


" Baik, Pak." Tita langsung menggendong Ramadhan dan membawa Ramadhan ke dalam kamarnya.


Setelah sampai di kamar Anindita, Ricky merebahkan tubuh Anindita di atas tempat tidur. Dia pun kemudian duduk di tepinya.


" Anin, kamu harus tenang. Saya sendang berusaha mencari keberadaan Bu Fatma." Ricky mengusap lengan kanan Anindita karena Anindita langung memposisikan tidurnya miring ke posisi kiri.


" Mas, hiks ... maafkan aku, Mas ..." tangis Anindita pilu.


Ricky menghela nafas, emosinya seakan bergolak mengetahui jika Mama Arya itu kini berada di panti wreda. Dia sudah menduga ini pasti karena ulah kedua adik Arya. Ricky juga teringat apa yang pernah dia dengar dari sahabat Arya jika Arya berniat menemui guru mereka yang tinggal di panti wreda sebelum meninggal.


" Benar-benar keterlaluan mereka!" geram Ricky dengan gigi mengerat.


Ricky kini menatap tubuh Anindita yang berbaring membelakanginya. Dia teringat jika wanita itu belum sarapan saat ini. Dia kemudian berjalan ke luar kamar Anindita.


" Cika ...! Tita ...!" Ricky memanggil nama asistennya itu.


" Saya, Pak." Cika lebih dulu terlihat keluar dari kamar Ramadhan.


" Tolong ambilkan sarapan untuk Ibu Anin, dan suruh Tita kasih sarapan untuk Rama juga. Mereka tadi belum sempat sarapan." Ricky memberi perintah kepada Cika.


" Maaf, Pak. Kami tadi tidak membuat sarapan karena tadi Ibu sama Rama pergi olah raga kami pikir Ibu dan Rama akan sarapan di luar," sahut Cika.


" Ya sudah, kamu cepat pesan menu sarapan di restoran bawah untuk Rama dan Anin!" perintah Ricky kemudian memberikan uang kepada Cika lalu kembali menemani Anindita di kamar.


Tak berapa lama kemudian ponsel Ricky pun berbunyi dengan Deny yang mengirimkan informasi di panti wreda mana Mama Arya berada saat ini lengkap dengan alamatnya.


" Permisi, Pak. Ini sarapan untuk Ibu." Cika membawa nampan dengan membawa nasi dan sup baso tahu, juga perkedel jagung.


" Terima kasih, Cika. Taruh saja di atas nakas." Ricky yang tadi duduk di sofa kini mendekat dan duduk di tepi Anindita. Sementara Cika langsung keluar dari kamar Anindita.


" Anin, sebaiknya kamu makan dulu. Kamu belum sarapan, kasihan bayi di dalam perut kamu." Ricky kemudian mengambil nasi yang kemudian dia siram dengan kuah sup dan baso tahu juga perkedel.


" Anin, ayo sarapan dulu ..." tangan Ricky menarik lengan Anindita perlahan agar wanita itu mau menoleh ke arahnya namun tubuh Anindita menahannya.


" Anin, kau harus sarapan setelah itu kita akan jemput Bu Fatma kemari."


Ucapan Ricky kali ini sukses membuat Anindita menggerakkan tubuhnya dan menengok menatap ke arah Ricky.


" Mama? Pak Ricky tahu di mana Mama sekarang berada?" tanya Anindita kepada Ricky.


Ricky menganggukan kepalanya.


" Iya, karena itu kamu harus segera sarapan agar kita bisa menemui Bu Fatma secepatnya."


Anindita memperhatikan sepiring nasi yang saat ini dipegang oleh Ricky seraya menelan salivanya. Dia lalu mengambil piring itu dari Ricky, dan setelah membaca doa dia pun menyantap makanan itu dengan lahap dan tergesa-gesa membuat Ricky menggelengkan kepalanya menatap kelakuan Anindita saat ini.

__ADS_1


" Pelan-pelan makannya nanti tersedak." Ricky memperingatkan.


Anindita lalu menunjuk ke arah botol air mineral, meminta Ricky untuk mengambilkannya. Ricky pun yang mengerti maksud Anindita segera mengambil botol air mineral itu kemudian membuka sealnya dan menyodorkannya ke arah Anindita.


Setelah meneguk air mineral yang diberikan Ricky, Anindita kembali menyantap makanannya hingga tak tersisa di piring.


" Sudah selesai, ayo kita temui Mama." Dengan mulut penuh makanan suapan terakhir Anindita berucap.


" Habiskan dulu makanan yang ada di mulut kamu," ujar Ricky yang melihat mulut Anindita masih mengunyah makanan.


" Ayo kita jemput Mama." Anindia hendak bangkit dari tempat tidur namun tangan Ricky menghalanginya.


" Tunggu makananmu turun lebih dulu." Ricky menasehati Anindita.


" Tapi saya ingin cepat-cepat ketemu Mama ..." Anindita bersikukuh.


" Ibu Fatma tidak akan pergi jauh-jauh. Saya sudah menyuruh orang saya untuk memantau di sana, kamu tenang saja." Ricky mencoba meyakinkan Anindita.


" Sekarang kamu cuci mukamu dulu, lalu ganti pakaianmu. Saya yakin Bu Fatma tidak akan senang melihat mata sembab kamu seperti ini."


Anindita kemudian mengganggukkan kepalanya dan melakukan apa yang diperintahkan Ricky. Dia yakin Mama Arya pasti akan sedih jika dia berwajah sendu karena habis menangis.


***


Ricky membukakan pintu mobil untuk Anindita saat dia sampai di depan pekarangan panti wreda tempat Mama Arya dititipkan.


Anidnita keluar dari dalam mobil, dia melihat bangunan bercat putih di hadapannya. Dia melihat ada beberapa lansia duduk di kursi yang ada di teras panti dan berbincang kini mengarahkan pandangan ke arah dia dan Ricky.


Ricky lalu menggenggam tangan Anindita hingga membuat Anindita terkesiap. Ricky pun langsung membawa Anindita masuk ke dalam panti yang disediakan untuk para lansia itu.


" Assalamualaikum, Ibu, Bapak... " Anindita menyapa semua orang tua yang sedang menatapnya.


" Waalaikumsalam, neng cantik. Mau adopsi Nenek, ya?" tanya seorang wanita lanjut usia bertanya kepada Anindita.


" Enak saja! Dia itu cucu saya, sudah pasti dia itu mau jemput saya. Lihat saja kami ini mirip 'kan cantiknya?" tiba-tiba satu nenek lainnya mendekat ke arah Anindita dan memeluk tubuh Anindita membuat Anindita terkejut.


" Dulu waktu saya masih muda saya cantiknya itu seperti dia." Nenek kedua berhayal.


" Benar itu, Neng? Neng ini cucunya dia?" Nenek pertama bertanya kepada Anindita.


" Hmmm ..." Anindita melirik ke arah Ricky dan Ricky pun melakukan hal yang sama.


" Ini nenek-nenek kenapa berkumpul di sini? Itu ada tamu kenapa dihalangi mau masuk ke dalam?" seorang perawat wanita keluar dari dalam panti.


" Permisi, Mbak. Kami ini ingin menemui Ibu Fatma ..." Ricky berkata pada perawat itu.


" Oh, Bapak ini yang mau menjemput Ibu Fatma, ya? Tadi memang ada orang kemari bilangnya dari pihak keluarga Ibu Fatma yang akan membawa Ibu Fatma pulang." Perawat itu yang sudah bertemu dengan Deny langsung menyambut Ricky dan Anindita.


" Iya benar, Mbak. Saya Ricky dan Ini Anindita, menantu dari Ibu Fatma." Ricky memperkenalkan dirinya dan juga Anindita.


" Kalau begitu mari saya antar bertemu dengan Ibu Panti." Perawat itu kemudian mengajak Ricky dan Anindita ke ruangan kerja Ibu panti.


" Silahkan, masuk ..." Perawat itu mempersilahkan Ricky dan Anindita masuk setelah membukakan pintu ruang kerja ibu panti.


" Terima kasih, Mbak" ucap Ricky.


" Bu, ini tamunya sudah datang." ucap perawat itu kepada seorang wanita yang sedang membereskan arsip-arsip.


" Oh mari silahkan duduk ..." Ibu Panti mempersilhkan Ricky dan Anindita duduk.


" Bagaimana Tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya Ibu Panti kepada Ricky.


" Seperti yang sudah disampaikan orang yang saya tugaskan kemari tadi, Bu. Kalau kami berniat membawa pulang Ibu Fatma." Ricky kembali menegaskan niatnya kembali.

__ADS_1


" Maaf, Tuan. Kalau boleh saya tahu Tuan dan Nyonya ini ada hubungan apa dengan dengan Ibu Fatma? Karena yang menitipkan Bu Fatma di sini itu 'kan kedua anaknya yang tinggal di luar Jakarta."


" Anindita ini menantunya Ibu Fatma, dia istri dari anak Bu Fatma yang meninggal tidak lama sebelum Bu Fatma dititipkan kemari." Ricky kembali menjelaskan posisi Anindita bagi Bu Fatma.


" Oh begitu, baiklah, Tuan. Tapi kami mesti menghubungi salah satu dari kedua anak Bu Fatma untuk konfirmasi, karena kami dari pihak panti tidak ingin disalahkan jika kedepannya pihak keluarga Bu Fatma keberatan Bu Fatma dibawa oleh Tuan dan Nyonya ini." Ibu Panti ingin menjalankan sesuai prosedur.


" Maaf, Bu. Untuk apa ibu meminta ijin anak-anak durhaka itu yang jelas-jelas membuang ibu kandungnya ke panti jompo ini?!" geram Ricky merasa kesal karena niatnya seperti dipersulit.


" Ibu lihat sendiri dia." Ricky menunjuk ke arah Anindita. " Dia itu sedang mengandung anak kakaknya, keponakannya. Tapi mereka tega mengusir dia dari rumah suaminya belum genap tujuh hari dari suaminya meninggal. Apa menurut Ibu mereka pantas disebut keluarga?!" geram Ricky kemudian. Sementara Anindita hanya bisa tertunduk, jika mengingat peristiwa pengusiran itu membuat hatinya serasa teriris-iris.


" Sekarang begini saja, Bu. Tolong pertemukan kami dengan Bu Fatma. Ibu nanti bisa tanyakan sendiri keinginan Bu Fatma itu seperti apa? Ingin ikut dengan kami atau akan tetap bertahan di sini? Saya yakin Bu Fatma juga ingin melihat cucunya lahir dengan sehat dan selamat. Juga ingin mendampingi cucunya hingga tumbuh menjadi anak yang baik dan berbakti."


Argumentasi yang disampaikan Ricky benar-benar membuat Ibu Panti tidak bisa berkata apa-apa.


Ibu panti itu menghela nafas panjang lalu menelepon menyuruh salah seorang perawat untuk membawa Bu Fatma ke ruangannya.


" Assalamualaikum, ada apa Bu panti meminta saya menemui Ibu?"


Suara lembut seorang wanita dari arah pintu membuat ketiga orang yang ada di ruangan langsung menolehkan wajah ke asal suara tadi.


" Mama ..." Anindita langsung memanggil Bu Fatma saat melihat sosok wanita paruh baya menggunakan kursi roda elektrik masuk ke dalam ruangan ibu panti.


Mama Arya yang mendapati sosok menantunya di ruangan Bu Panti tak kalah terkejutnya.


" Anin?"


" Mama ..." Anindita kemudian bangkit dan bergegas mendekat ke arah Mama Arya dan langsung duduk bersimpuh di hadapan ibu mertuanya itu. Perut buncitnya tidak menghalangi wanita itu untuk bersimpuh.


" Ma, maafkan Anin, Ma. Anin nggak tahu Mama ditaruh di sini, hiks ..." Anindita langsung menangis dengan menelungkupkan wajahnya di pangkuan Mama Arya.


" Anin, Mama tidak menyalahkan kamu, Nak. Mama yang harusnya minta maaf karena perlakuan yang dilakukan Ria dan Lanny terhadap kamu, Anin." Mama Arya mengucapkan kalimat dengan bibir bergetar. Sebagai seorang ibu sudah pasti dia merasa kecewa, sedih dan terluka. Pertama harus kehilangan anak sulungnya secara tiba-tiba, harus dipisah secara dengan menantu yang sangat menyanyanginya dan calon cucunya. Terakhir harus diasingkan di panti jompo. Hati orang tua mana yang dia merasa terluka mendapati kenyataan itu.


" Anin nggak menyalahkan Mama. Anin juga sudah memaafkan Mbak Ria dan Mbak Lanny, Ma." Anindita kini mendongakkan kepala ke arah Mama Arya.


Mama Arya membelai kepala Anindita dan memandang wajah Anindita penuh rasa haru.


" Mama bahagia Mama masih punya anak perempuan yang baik seperti kamu, Anin." Mama Arya kini menatap perut Anindita. " Perut kamu sudah membesar, Anin." Kini tangan Mama Arya menyentuh baby bump Anindita.


" Iya, Ma. Sebentar lagi sudah mau tujuh bulan, Ma."


" Calon cucu Mama ini sehat-sehat 'kan di dalam sini?"


Anindita menganggukkan kepalanya. " Iya, Ma. Insya Allah cucu Mama ini selalu sehat." Anindita lalu menggenggam tangan Mama Arya. " Anin senang akhirnya bisa bertemu Mama kembali."


" Mama juga senang bisa berjumpa lagi dengan kamu, Anin," ujar Mama Arya.


" Apa kabar, Bu Fatma." Ricky yang sedari tadi menperhatikan pertemuan kembali Anindita dan Mama mertuanya itu kini ikut menyapa Mama Arya.


" Nak Ricky?"


" Bu Fatma, Tuan Ricky dan Nyonya Anin ini bilang akan menjemput Ibu Fatma pulang. Apa Ibu Fatma bersedia ikut dengan mereka?" Bu Panti yang juga mengawasi interaksi Anindita dan Mama Arya kini menanyakan kepada Bu Fatma.


" Mama ikut pulang sama Anin, ya! Anin yang akan urus Mama, ada Mbak Tita juga kok, Ma. Kita nanti tinggal bersama." Anindita membujuk Ibu mertuanya.


" Anin, Mama nggak ingin merepotkan kalian." Mama Arya menolak secara halus permintaan menantunya itu.


" Bu Fatma, Anin justru merasa senang jika Bu Fatma ikut tinggal bersamanya. Bu Fatma sudah Anin anggap seperti Ibu kandung sendiri. Jadi saya mohon, Bu Fatma ikutlah pulang bersama kami. Biar Ibu Fatma bisa menasehati menantu Bu Fatma yang bandel suka telat-telat makan ini," ucap Ricky yang tak memperdulikan Anindita yang kini mendelik ke arahnya karena dia telah mengadukan kejelekan Anindita yang senang menunda-nunda makan padahal sedah hamil.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading❤️


__ADS_2