
" Ada apa?"
Anindita tersentak saat mendengar suara Arya, ditambah lagi sentuhan tangan Arya yang menggenggam tangannya.
" Hei, kamu melamun? Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Arya menautkan jarinya dengan jemari milik Anindita.
Anindita menghela nafas beberapa saat, lalu menoleh ke arah Arya.
" Tadi Mamanya Putri datang ke Alabama Florist." Anindita akhirnya jujur mengatakan apa yang membuat gundah hatinya.
Arya menoleh sebentar ke arah Anindita kemudian kembali fokus dengan jalan di depannya.
" Dia sudah menemuimu rupanya " Ucapan Arya sontak membuat Anindita mengeryitkan keningnya.
" Mas tahu kalau Mbak Rachel temui aku?" Anindita merasa heran melihat reaksi Arya nampak biasa saja dan tidak terkejut saat dia memberitahukan jika mantan istri Arya itu menemuinya.
" Iya, dia memang minta ijin ke aku untuk bertemu denganmu. Dia bilang ingin kenal calon Nyonya Arya selanjutnya." Arya terkekeh menjawab pertanyaan Anindita.
Jawaban Arya membuat Anindita mendesah.
" Kenapa Mas nggak kasih tahu aku sebelumnya kalau Mbak Rachel ingin menemuimu?" Anindita mencebikkan bibirnya karena kedatangan Rachel mendadak membuatnya gugup karena tak punya persiapan apa-apa.
" Memangnya kalau aku kasih tahu dulu kamu mau apa? Mau pasang red carpet buat sambut Rachel?" ledek Arya tertawa kecil hingga membuat Anindita mendelik ke arahnya.
" Apa ada kata-kata Rachel yang tidak enak didengar dan menyakitkan hati kamu?" tanya Arya kemudian, dan pertanyaan Arya itu langsung dibalas dengan gelengan kepala Anindita.
" Mbak Rachel orangnya baik, cantik dan kelihatan berkelas. Sebenarnya Mas Arya sangat cocok dengan Mbak Rachel." Rasa tak percaya diri kembali menghinggapi hati Anindita.
" Oh ya? Rachel justru bicara sebaliknya. Dia bilang kamu itu wanita yang tepat untukku."
Kedua alis Anindita bertautan saat mendengar perkataan Arya.
" Kapan Mbak Rachel bilang begitu?" tanyanya kemudian.
" Tadi setelah pulang ketemu sama kamu dia chat aku. Dia bilang kamu itu tipe wanita yang aku cari selama ini."
" Mas masih komunikasi sama dia, ya?"
Tiba-tiba Arya menghentikan mobilnya di tepi jalan.
" Mau pecel ayam atau nasi goreng?" tanya Arya memberikan pilihan makanan yang berjejer di tepi jalan itu.
" Mas Arya mau makan yang mana?" sahut Anindita balik bertanya.
__ADS_1
" Aku ingin makan kwetiau, kamu mau?" Arya membuka seat belt dan pintu mobilnya.
" Aku nasi goreng saja, deh." Anindita memilih menu makanan yang berbeda dengan Arya.
" Kamu nggak usah turun, kita makan di mobil saja. Aku pesankan makanannya sambil ambil air mineral di bagasi."
Arya pun keluar dari mobil dan melakukan apa yang tadi dia katakan. Sedangkan Anindita masih tetap menunggu di dalam mobil.
Tak lama Arya pun kembali masuk ke dalam mobilnya. Dia menurunkan setengah kaca mobilnya.
" Oh ya tadi kamu tanya apa?" tanya Arya kemudian.
" Mas Arya sama Mbak Rachel masih saling komunikasi?"
" Iya, masih. Walaupun kami berpisah bukan berarti kami putus silaturahmi apalagi saling bermusuhan. Ada anak di antara kami, tentu saja kami harus memberikan contoh yang baik dengan tidak saling membenci di antara kami karena perpisahan ini." Arya menerangkan kondisi hubungannya dengan mantan istrinya sekarang ini.
" Kenapa Mas Arya berpisah dengan Mbak Rachel?" Walaupun Anindita sudah mendengar alasan perceraian Arya dan Rachel dari mulut Rachel tapi dia ingin mendengar alasan itu dari Arya sendiri.
" Rachel sudah menjelaskan alasanmya, kan?"
Anindita mendesah karena Arya tidak mau mengungkapkan alasan perceraiannya itu dari mulutnya sendiri.
" Apa yang dikatakan Rachel, itulah yang sebenarnya terjadi hingga akhirnya ada perpisahan di antara kami. Kami sama-sama egois memegang prinsip masing-masing yang sudah tidak sejalan. Aku berpegang teguh menginginkan istri yang seutuhnya mengurus keluarga tapi Rachel pada pendiriannya ingin menghidupi keluarganya."
" Dan sekarang ini aku menemukanmu, sosok calon istri yang selama ini aku cari." Arya membelai wajah Anindita yang seketika merona saat Arya memujinya.
" Tapi aku malu, Mas." Anindita melempar pandangan keluar jendela.
" Kenapa mesti malu?" Arya menarik pelan dagu Anindita hingga kini wanita itu kembali berhadapan dengannya.
" Aku tidak seperti Mbak Rachel, aku hanya wanita biasa saja. Apa Mas Arya tidak malu berdampingan denganku?"
Arya tertawa kecil menanggapi perkataan Anindita yang terdengar insecure.
" Kamu jangan menyamakan dirimu dengan Rachel. Kamu adalah Anindita, wanita yang sederhana, apa adanya tapi justru sudah buat aku jatuh hati sejak pertama kali aku melihatmu."
Anindita kini tertunduk dan tersipu malu karena ungkapan perasaan yang baru saja Arya lontarkan.
Tok tok tok
Tiba-tiba pintu mobil diketuk dari luar. Arya segera menurunkan lagi jendela pintu mobilnya hingga kini memperlihatkan wajah penjual nasi goreng dengan dua piring kwetiau dan nasi goreng di tangannya.
" Ini pesanannya, Mbak." Penjual nasi goreng itu menyodorkan dua piring kwetiau dan nasi goreng pesanan Arya.
__ADS_1
" Terima kasih, Pak." Arya dan Anindita menjawab bersamaan.
" Minumnya teh hangat tidak apa-apa, Mas?" tanya pedagang itu.
" Tidak usah, Pak. Kami ada air mineral." Arya menolak.
" Oh, ya sudah, Mas." Pedagang itu kemudian kembali ke gerobaknya melayani pembeli yang lain.
" Pernah makan kwetiau?" tanya Arya menyuapkan lembaran mie berukuran lebar itu ke mulutnya.
" Nggak pernah." Anindita menggelengkan kepala.
" Cobain, deh." Arya kemudian menyendokkan mie itu dengan garpu ke mulut Anindita dan Anindita pun membuka mulutnya menerima suapan kwetiau dari Arya.
" Enak?" Anindita menganggukkan kepalanya menjawab Arya.
" Aku pasti akan kasih kamu yang enak-enak lainnya kalau kita sudah menikah nanti." Arya menggoda Anindita hingga membuat wanita itu kembali bersemu.
***
Ramadhan memperhatikan wajah Ricky yang sedang tertidur. Jari-jari mungilnya menyusuri garis wajah ayah kandung yang tidak dia ketahui itu hingga membuat Ricky terkesiap membuka matanya.
" Ada apa, Nak?" tanya Ricky melirik jam di dinding yang kini menunjukkan pukul sebelas malam. " Rama belum bobo?"
" Om, kalau mirip itu apa, sih?" tanya Ramadhan ingin tahu.
" Mirip itu ... hampir sama bentuknya. Kenapa Rama bertanya seperti, Nak?" Ricky membelai kepala Ramadhan.
" Kenapa banyak yang bilang Rama mirip sama Om Ricky ya, Om?"
Ricky menelan salivanya saat mendengar Ramadhan menanyakan pertanyaan itu.
" Ibu guru Rama pernah bilang, teman Rama yang namanya Fathan mukanya mirip sekali sama Papanya. Tapi Rama inikan bukan anak Om Ricky. Kenapa orang bilang muka Rama mirip sama Om Ricky?"
Serasa ada bongkahan batu besar yang menghimpit dada Ricky saat mendengar pertanyaan terakhir Ramadhan untuknya. Sungguh dia tidak sabar mengungkapkan fakta yang sebenarnya mengenai siapa dirinya itu. Ingin rasanya dia melanggar janjinya kepada Anindita untuk tutup mulut dan menyembunyikan statusnya kepada Ramadhan. Tapi semakin lama dia tahan semakin tak tertahankan untuk segera mengungkap kebenarannya apalagi saat mendapatkan pertanyaan yang jujur saja saat ini dia tidak bisa memilih jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaan anak kandungnya itu.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Happy Reading❤️