ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu

ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu
Ramalan


__ADS_3

Anindita mengikat rambutnya menjadi satu sehingga membuat leher jenjangnya terlihat jelas. Dia tidak mengganti baju yang dipakainya namun hanya menambah sweater.


Setelah selesai Anindita pun berjalan menuju kamar Ramadhan dan Putri yang memang sekamar


Sementara itu di kamar Putri dan Ramadhan ....


" Rama mau ke mana?" tanya Putri saat dia melihat adik tirinya itu sedang berganti baju


" Rama mau diantar Mama ke Om Ricky, Kak." Ramadhan menyahuti.


" Oh, Rama mau menginap di rumah Papa Ricky, ya?" tanya Putri kembali.


" Kok Papa Ricky, Kak? Om Ricky, dong! Om Ricky 'kan bukan Papanya Rama." Ramadhan memprotes apa yang ucapkan Putri.


" Om Ricky itu 'kan Papanya Ram ..."


" Putri ...!! Kenapa bicara seperti itu?" Anindita yang tiba-tiba masuk dan mendengar Putri akan mengatakan jika Ricky adalah Papa dari Ramadhan langsung menegur anak dari suaminya itu.


" M-Mama Anin ..." Putri yang melihat kehadiran Anindita langsung tertunduk takut.


Anindita yang melihat Putri langsung menciut merasa bersalah karena tadi menyentak anak tirinya itu.


" Kak Putri, maafkan Mama Anin, ya! Mama Anin nggak bermaksud marah ke Kak Putri. Mama Anin cuma minta Kakak jangan bicara seperti itu lagi kepada Rama." Anindita memeluk tubuh Putri. Dia tidak ingin Putri atau Arya nanti akan salah paham atas sikapnya.


" Mama Anin mau antar Rama ke Om Ricky di cafe depan, Kak Putri mau ikut?" Anindita mencoba mengajak Putri untuk ikut bersamanya.


" Putri mau di rumah saja," jawab Putri menolak ajakan Anindita.


" Nggak apa-apa di rumah saja sama Mbak Tita? Nggak mau ikut temani Mama Anin? Nanti kalau Rama ikut sama Om Ricky, Mama Anin nggak ada yang menemani pulang ke sini, lho!" Anindita mencoba membujuk Putri agar mau ikut dengannya namun Putri bersikukuh tetap menolak.


" Kak Putri marah sama Mama Anin, ya?" Anindita berkata cukup hati-hati kepada Putri.


Putri menggelengkan kepalanya membuat Anindita mendesah.


" Ya sudah kalau Kak Putri nggak mau ikut. Apa Kak Putri ingin Mama Anin belikan sesuatu? Makanan atau minuman?" tanya Anindita lagi.


Putri pun kembali menggelengkan kepala.


" Putri mau ke belajar saja, Ma." Putri pun kemudian kembali ke meja belajarnya dan fokus dengan laptop di hadapannya.


Anindita menghela nafas yang terasa berat. Selama ini dia berusaha susah payah untuk menjalin komunikasi yang baik dengan anak dari suaminya itu. Dia tidak ingin hanya karena masalah ini akhirnya membuat Putri jadi kembali membencinya.


***

__ADS_1


Ricky memperhatikan wanita cantik yang berjalan ke arahnya mengenakan dress selutut berbalut sweater. Dan sling bag yang menyilang di dada wanita itu hingga membelah dua bongkahan yang nampak lebih menggoda hingga membuat Ricky mengerjap seraya menelan salivanya.


" Om Ricky ...!" Ramadhan berteriak memanggil Ricky hingga membuat Ricky terkesiap.


" Oh ... Hai, Rama." Ricky balik mengapa anaknya itu.


" Anda kemari naik apa, Nyonya Arya?" tanya Ricky karena Ricky tahu Arya tidak memakai supir pribadi.


" Naik ojek, Om." Ramadhan lebih dahulu membalas pertanyaan Ricky.


" Naik ojek??" Ricky membelalakkan matanya.


" Apa tidak bahaya Nyonya pakai ojek? Nyonya 'kan sedang hamil." Ricky nampak khawatir saat mengetahui Anindita datang menemuinya dengan menggunakan ojek online.


" Saya sudah biasa pakai ojek," jawab Anindita.


" Kalau Pak Arya tahu Anda pakai ojek, Pak Arya pun pasti akan sangat khawatir."


" Tidak usah terlalu berlebihan. Hanya naik ojek saja tidak masalah untuk saya, Tuan." Anindita mulai tidak suka sikap Ricky yang terlihat seolah posesif terhadapnya.


" Kenapa Nyonya tidak minta tolong saya saja, biar saya saja yang jemput Nyonya." Sebuah ucapan yang konyol tanpa disadari terucap dari bibir Ricky membuat Anindita memicingkan matanya.


" Untuk apa Tuan menjemput saya?" Tentu saja Anindita merasa aneh dengan ucapan Ricky. Kalau dia memperbolehkan Ricky ke rumahnya untuk apa dia susah payah menemui pria itu di cafe hanya untuk menyerahkan Ramadhan? pikirnya.


" Ya sudah, saya titip Rama." Anindita mengelus puncak kepala anaknya.


" Rama jangan nakal, ya!" Anindita berpesan kepada anaknya itu.


" Iya, Ma." Ramadhan menyahuti.


" Ya sudah, Mama nggak bisa lama-lama, kasihan Kak Putri di rumah sendirian. Mama pulang ya, Sayang." Anidnita kini mencium kedua pipi dan kening anaknya.


" Anda ingin pulang sekarang, Nyonya?" tanya Ricky melihat Anindita yang terlihat berpamitan.


" Iya, saya harus segera pulang karena saya meninggalkan Putri di rumah. Kebetulan tukang ojeknya juga menunggu di luar. Permisi, Tuan." Anindita berpamitan kemudian memutar tubuhnya hendak meninggalkan Ricky dan Ramadhan.


Buugghh


" Aaaakkhh ...."


" Oh, maaf, Nyonya." Seseorang menabrak Anindita yang ingin melangkah pergi.


" Nyonya, Anda tidak apa-apa?" Ricky yang melihat Anindita bertabrakan dengan seseorang dengan cepat langsung bergerak mendekat.

__ADS_1


Ricky ingin marah kepada orang yang sudah menabrak Anindita, namun dia urungkan saat mengetahui orang yang betabrakan dengan Anindita ternyata seorang wanita paruh baya dengan syal rajut tersampir di bahunya.


" Nyonya, mohon hati-hati. Nyonya baru saja menabrak seorang wanita hamil," ucap Ricky pada wanita itu dengan bahasa yang sopan.


" Oh, sekali lagi saya minta maaf, Nyonya." Wanita itu kembali mengucapkan permohonan maafnya seraya menatap wajah Anindita lekat-lekat.


" Ya Tuhan ...!" Wanita itu terperanjat seraya menutup mulutnya saat menatap wajah Anindita.


Anindita yang melihat wanita itu bereaksi seolah kaget melihatnya langsung bertanya.


" Ada apa, Bu? Kenapa Ibu melihat saya seperti itu?" tanya Anindita merasa aneh dengan sikap ibu itu.


" Awan hitam ... kegelapan ... Nyonya sedang hamil?" tanya wanita itu menatap perut Anindita yang mulai nampak buncit.


" I-iya ..." Anindita menjawab ragu karena jujur saja melihat wanita itu membuat dia merasa merasa merinding.


" Bayi yang malang ...."


Anindita membelalakkan matanya. Tentu saja dia merasa tidak suka saat wanita itu mengatakan bahwa bayi yang ada di dalam kandungannya adalah bayi yang malang.


" Maaf, Bu. Permisi." Anindita bergegas meninggalkan wanita itu juga Ricky dan Ramadhan karena dia menduga jika wanita hanya iseng meramal dan Anindita tidak percaya hal-hal seperti itu.


" Wanita itu akan tertimpa kemalangan, dia akan diselimuti kedukaan," ucap wanita paruh baya itu menatap punggung Anindita yang mulai menjauh.


" Apa maksud Anda, Nyonya?" tanya Ricky cukup tertarik dengan ucapan yang merupakan ramalan dari wanita itu.


Wanita itu menoleh ke arah Ricky tak lama kemudian senyuman terbit di sudut bibirnya.


" Anda lah sumber kebahagiaan wanita malang itu, Tuan tampan," ucap wanita itu


" Maksudnya?"


" Oma, kenapa Oma ikut kemari? Aku 'kan sudah bilang untuk menunggu di mobil saja." Seorang waninta muda tiba-tiba datang kemudian merangkul punggung wanita paruh baya itu.


" Hmmm, maaf ya, Om. Oma saya suka ngaco kalau bicara." Wanita muda tadi meminta maaf kepada Ricky sebelum akhirnya berlalu dari hadapan Ricky dan Ramadhan.


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Happy Reading ❤️


__ADS_2