
" Ci, saya permisi mau terima telepon dulu." Anindita meminta ijin Lucy untuk mengangkat telepon dari Rachel.
" Sillahkan, Nin" Lucy pun mempersilahkan Anindita untuk mengangkat panggilan masuk di ponsel Anindita.
" Makasih, Ci." Anindita kemudian mengangkat telepon masuk dari Rachel.
" Assalamualaikum, Mbak Rachel." sapa Anindita.
" Waalaikumsalam, Anin. Kamu apa kabar?" tanya Rachel saat Anindita menyapanya.
" Alhamdulillah saya baik, Mbak Rachel." Anindita menyahuti pertanyaan Rachel.
" Kamu gimana sekarang, Anin? Kamu tinggal di mana?" tanya Rachel kemudian.
" Saya ... hmmm, Tuan Ricky meminjamkan tempat tinggalnya untuk kami tinggali sementara ini, Mbak." Sebenarnya Anindita tidak enak ingin mengatakan hal itu terhadap orang lain, namun karena dia tahu selama ini Rachel sangat baik padanya, membuat dia akhirnya tidak berkata bohong tentang keberadaannya sekarang.
" Kamu tinggal bersama Pak Ricky?" Rachel nampak terkejut dengan penjelasan Anindita tentang di mana sekarang wanita itu tinggal.
" Oh, bu-bukan seperti itu, Mbak!" Anindita dengan cepat menepis anggapan Rachel, dia tidak ingin wanita yang juga pernah menjadi istri Arya itu salah paham.
" Tuan Ricky itu hanya meminjamkan salah satu apartemennya kepada saya. Jadi apartemen yang saya tempati itu berada di atas apartemen tempat Tuan Ricky tinggal." Anindita menjelaskan lebih rinci.
" Oh, begitu ... jadi kamu tinggal di satu tower yang sama dengan Pak Ricky?" tanya Rachel.
" Iya, Mbak. Beda satu lantai saja."
" Di apartemen mana kalian tinggal?"
" Apartemen Angkasa Raya, Mbak."
" Oh di sana, kebetulan dekat dengan kantor saya itu. Kalau sewaktu-waktu saya main ke sana boleh, Nin?" tanya Rachel.
" Oh boleh saja, Mbak. Dengan senang hati saya bisa ketemu Mbak Rachel lagi. Oh ya, Putri bagaimana kabarnya, Mbak?" Anindita teringat akan sosok anak Mas Arya itu.
" Putri masih suka sedih dan menangis jika teringat Papanya, Anin." Rachel menceritakan kondisi Putri.
Hati Anindita serasa remuk redam mendengar keadaan Putri, tak beda jauh dengan dirinya, Putri pun pasti sangat kehilangan sosok Arya.
" Memang sulit menerima kenyataan jika Mas Arya sudah pergi, Mbak." Suara Anindita terasa tercekat di tenggorokan.
__ADS_1
" Benar, Anin. Tapi kita harus bisa ikhlas menerimanya agar Mas Arya tenang." Rachel mencoba menasehati.
" Iya, Mbak." Anindita buru-buru menghapus cairan bening yang mulai mengembun di bola matanya.
" Oh ya, berarti kamu setiap hari ada di tempat dong, ya?" tanya Rachel kemudian.
" Hmmm, saya bekerja kok, Mbak. Baru mulai bekerja lagi hari ini. Tapi nggak jauh, masih di kawasan apartemen juga. di ruko yang ada di sekeliling apartemen. Di Alabama Florist juga yang kebetulan buka cabang di sini dan besok rencananya akan GO." Anindita menjelaskan secara detail.
" Hmmm, ya sudah nanti saya ke sana sekalian cari buket, deh!" ucap Rachel.
" Iya, nggak apa-apa, Mbak. Silahkan main ke sini." Anindita mempersilahkan.
" Oke, Anin. Kalau begitu saya sudahi dulu ya teleponnya. Saya hanya ingin tahu kabar kamu gimana sekarang? Syukurlah kalau kalian baik-baik saja." Rachel berniat mengakhiri percakapan teleponnya.
" Oh, iya silahkan, Mbak. Assalamualaikum ..."
" Waalaikumsalam ...."
Anindita segera memasukan kembali ponselnya setelah panggilan telepon dari Rachel terputus.
" Siapa yang telepon, Nin?" tanya Lucy saat dia masuk ke dalam ruko untuk mempersiapkan untuk acara Grand Opening besok.
" Mana yang harus saya kerjakan, Ci?" tanya Anindita kemudian.
" Kamu cukup mengatur saja, Nin. Jangan terlalu berat kerjanya, biar nanti Mita sama pegawai lain yang urus segala yang dibutuhkan." Lucy memang diminta Ricky agar menasehati Anindita agar tidak melakukan aktivitas yang membahayakan kandungan wanita itu.
" Saya nggak enak kalau hanya diam, Ci. Saya juga 'kan karyawan bukan bos di sini, Ci." Anindita terkikik.
" Itu syarat yang diajukan Tuan Ricky kalau saya mau mempekerjakan kamu, Nin. Kalau Cici nggak menuruti dia, bisa-bisa Cici nggak bisa ajak gabung kerja di sini, Nin." Lucy beralasan.
Anindita terkesiap saat mendengar perkataan Lucy bahwa Ricky mengajukan syarat untuknya untuk bekerja di tempat Lucy.
" Ya ampun, memangnya toko ini miliknya, apa? Sok kuasa sekali sih orang itu!" gerutu Anindita kesal.
" Ruko ini memang bukan punya dia tapi punya perusahaan milik tempat Tuan Ricky bekerja, Nin." Lucy terkekeh menggoda Anindita yang sedang menggerutu.
***
Anindita mengambil satu tangkai mawar merah yang esok akan dibagi-bagikan dalam acara pembukaan toko baru. Dia mendekatkan ke hidungnya sekuntum mawar itu seraya memejamkan matanya hingga dia bisa menghirup wangi yang menguar dari bunga yang hampir mekar itu.
__ADS_1
Tanpa Anindita sadari jika aktivitasnya saat ini sedang diawasi sepasang bola mata milik asisten Angkasa Raya Group yang baru saja tiba di ruangan itu. Ricky menyandarkan tubuhnya di dekat pintu ruangan dengan tangan terlipat di dada. Tanpa dia sadari satu sudut bibirnya terangkat ke atas saat memperhatikan Anindita yang sedang asyik menikmati aroma mawar yang digenggamnya.
" Dulu Mas Arya nggak pernah kasih aku bunga. Mas Arya selalu bilang, nggak ada bunga yang bisa mewakili perasaan Mas ke aku." Anindita seketika mencebikkan bibirnya lalu dia menghembuskan nafas yang terasa berat. Dia benar-benar tidak menyadari jika ada orang lain di ruangan itu karena tadi Mita dan dua orang pegawai ijin mencari makan siang.
" Padahal 'kan aku juga ingin dikasih bunga sama suami seperti di sinetron-sinetron." Anindita terkikik seraya menutup mulut dengan jari-jari tangan kirinya. Bahkan tawa Anindita itu tertular pada Ricky yang kini ikut mengulum senyuman melihat tingkah Anindita.
" Tapi meskipun begitu, aku tetap cinta kamu, Mas. kemarin, saat ini hingga selamanya, hati aku hanya untukmu, Mas. Cinta ini hanya untuk Mas Arya seorang tak akan tergantikan."
Entah mengapa kalimat monolog yang terakhir diucapkan Anindita seketika membuat hati Ricky terusik, seperti ada rasa kecewa yang hinggap di hatinya yang dia sendiri pun tak mengerti kenapa bisa seperti ini.
" Lho, Tuan Ricky kenapa berdiri di sini?"
Suara Mita yang terdengar tiba-tiba mengganggu keasyikan Anindita yang sedang bermonolog dan Ricky yang asyik memandangi Anindita.
Sontak Kedua orang itu sama-sama terkesiap dan langsung mengarahkan pandangan ke arah Mita kemudian Ricky dan Anindita pun saling pandang dan merasa kikuk.
" Tuan Ricky kenapa tidak masuk ke dalam? Mbak Anin kok dari tadi Pak Ricky berdiri di sini nggak disuruh masuk, Mbak?" tanya Mita.
" Maaf, Tuan. Saya tidak tahu jika Tuan tadi berdiri di situ," Anindita sendiri langsung salah tingkah karena dia malu telah ketahuan berbicara sendiri.
" Hmmm, saya tadi hanya kebetulan lewat saja." Ricky menyangkal kalau dirinya sengaja mengunjungi toko florist itu.
" Senang bekerja di sini?" tanya Ricky kemudian.
" Iya, Tuan."
" Saya tidak masalah kamu bekerja di sini asalkan kamu tidak melupakan tugas mengurus Ramadhan."
Anindita terkesiap mendengar ucapan Ricky, bukan karena kata-kata tugas mengurus Ramadhan, tapi kata 'kamu' yang diucapkan Ricky kepadanya terasa asing di telinganya, karena pria itu biasanya lebih sering menyebutnya dengan sebutan Anda atau Nyonya.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️
__ADS_1
.