
Tita masih mendekatkan cajuput oil ke dekat hidung Anindita. Dia berharap Anindita segera sadar meskipun dia sediri bingung harus bagaimana menghadapi Anindita saat wanita itu tersadar dari pingsannya nanti.
" Bu, bangun, Bu ..." Tita sendiri masih berurai air mata. Bagaimanapun juga dia ikut merasakan kehilangan dengan kepergian Arya yang mendadak ini.
Setelah beberapa kali Tita mendekatkan minyak itu ke hidung Anindita, wanita cabtik itu pun mulai tersadar dan mengerjapkan matanya.
" Bu, sini saya bantu bangun." Tita membantu Anindita duduk di lantai.
" Mas Arya ... hiks. Kenapa Mas Arya tega ninggalin aku, Mbak Tita?" Anindita kembali terisak karena dia tersadar apa yang sedang terjadi.
" Bu, Ibu yang sabar ya, Bu." Walau Tita pun merasakan kesedihan namun Tita berusaha untuk menguatkan Anindita.
" Mbak Tita, ini hanya mimpi, kan? Mas Arya nggak apa-apa 'kan, Mbak? Mas Arya pasti pulang ke sini. Mas Arya nggak mungkin meninggalkan aku. Mas Arya janji mau menemani aku melahirkan." Anindita berusaha menyangkal kenyataan, dia benar-benar tidak sanggup menerima fakta yang sebenarnya terjadi.
" Sabar ya, Bu ..." Tita mengusap punggung Anindita, dia pun terus mengeluarkan air mata. Dia bisa membayangkan bagaimana terpukulnya Anindita saat ini.
" Ini nggak mungkin, Mbak! Aku harus jemput Mas Arya ke sini, Aku nggak mau Mas Arya kenapa-napa!" Anindita berusaha bangkit namun Tita menahannya.
" Bu, Ibu istighfar ..." Tita memeluk tubuh Anindita dari arah belakang.
" Kenapa Mas Arya tega ninggalin aku, Mbak? Hiks ..." Anindita benar-benar meratapi nasibnya. Dia tidak pernah menyangka akan secepat ini harus kehilangan suami tercintanya.
Tett
" Itu pasti Mas Arya yang datang ..." Anindita kembali berusaha bangkit saat mendengar suara bel berbunyi namun kembali Tita menahannya.
" I-itu bukan Pak Arya, Bu! Itu pasti Pak Ricky. Pak Ricky tadi telepon Ibu karena Rama nangis terus tapi nggak Ibu angkat karena pingsan." Tita menjelaskan.
" Saya bukakan pintu dulu, Bu!" Tita langsung berlari ke ruang tamu untuk membukakan pintu untuk Ricky.
" Gimana kondisi Anindita? Apa dia sudah sadar?" tanya Ricky saat pintu terbuka.
" S-sudah, Pak. Tapi Ibu syok, Pak." Tita pun tak tahan untuk membendung air matanya.
" Syok kenapa? Apa terjadi sesuatu dengan Anindita?" Ricky menerobos masuk ke dalam rumah Arya. Bahkan saat dia melihat Tita menangis membuat jantungnya berdetak lebih kencang.
" Ibu tadi pingsan karena mendengar kabar jika Pak Arya meninggal, Pak Ricky."
Serasa dihantam pukulan yang sangat kencang Ricky mendengar kabar yang disampaikan Tita.
" Pak Arya meninggal?" Seketika bulu kuduk Ricky merinding. Dia teringat beberapa saat sebelumnya Arya sempat datang di dalam mimpinya. Apa ini arti dari mimpinya itu? Arya mengatakan untuk memperlakukan Anindita penuh kelembutan dan belajar untuk meluluhkan hati Anindita.
Dan perkataan seorang wanita tua di cafe yang mengatakan ada awan mendung yang akan menyelimuti Anindita. Apakah ini jawaban semua keanehan ini?
" Oh, God ..." Ricky mengusap kasar wajahnya.
__ADS_1
" Di mana Anin?" tanya Ricky kemudian menyerahkan Ramadhan pada Tita.
" Ibu masih di kamar, Pak. Di sebelah kanan." Tita menunjukkan arah kamar Anindita, membuat Ricky segera berlari menuju kamar Anindita.
" Nyonya ..." Ricky segera mendekati Anindita yang terduduk di lantai dengan kepala bersandar ke tepi tempat tidur dan mata terpejam.
" Nyonya Arya ..." Ricky kembali mencoba memanggil Anindita namun wanita itu bergeming sementara tetesan air mata masih saja meleleh meskipun matanya terpejam.
" Anin ..." Ricky kini memanggil nama Anindita seraya menepuk bahu Anindita namun Anindita nampak terkulai lemas sehingga membuat Ricky langsung mengangkat tubuh Anindita yang terduduk dan meletakkannya di atas tempat tidur.
" Mama ... huwaaaa ..." Ramadhan kembali menangis saat melihat Anindita diangkat oleh Ricky.
" Mama Anin kecapean, Rama tenang dulu ya, jangan menangis." Ricky pun berusaha menenangkan putranya itu.
" Mbak dapat berita dari mana tentang Pak Arya?" tanya Ricky yang kini duduk di tepi tempat tidur. Sementara matanya terus mengarah pada sosok yang berbaring di hadapannya.
" Dari orang yang telepon pakai nomer Pak Arya, Pak."
Ricky menoleh ke arah Tita. Tak lama. dia pun segera merogoh ponselnya dan keluar kamar untuk melakukan panggilan video call ke nomer kontak Arya. Dan Ricky melihat seorang pria yang mengangkat panggilannya namun itu memang bukan Arya.
" Maaf, Pak. Saya Ricky kerabatnya Pak Arya. Saya dapat kabar jika Pak Arya meninggal. Apa itu benar?" tanya Ricky pada pria berkulit sawo matang dan berkaca mata itu.
" Oh iya benar, Pak. Saya Rochman, teman sekolah Pak Arya dulu. Ini saya juga masih berada di Telogorejo." Pria itu langsung mengarahkan kamera ponsel Arya ke sekitarnya yang memang menampakkan situasi di rumah sakit.
" Maaf, Pak. Kronologisnya bagaimana sampai Pak Arya meninggal?"
Ricky menarik nafas yang terasa sesak. Sungguh dia tidak menyangka Arya pergi secepat itu.
" Maaf, Pak. Pak Ricky ini asisten Pak Dirgantara Angkasa Raya Group bukan, ya?" tanya pria itu yang sepertinya mengenali Ricky.
" Iya, benar. Anda kenal saya?" Ricky mengerutkan keningnya mencoba mengingat siapa pria itu.
" Tentu saja, Pak. Saya Rochman Gunawan, saya juga bekerja di kantor cabang Angkasa Raya di Surabaya. Kebetulan saya manajer di sana dan saya pernah bertemu Pak Ricky dan Pak Dirga di Jakarta dua bulan lalu."
" Oh benarkah? Maaf kalau saya tidak terlalu ingat."
" Tidak apa-apa, Pak." Rochman memaklumi karena Ricky adalah salah satu orang penting di perusahaan property itu, sehingga tentu saja banyak orang yang dia temui dan tidak mungkin dia mengingat satu persatu orang itu kalau hanya sepintas. Berbeda dengan dirinya yang tentu saja tahu sosok-sosok petinggi di tempat kerjanya.
" Hmmm, kalau begitu kebetulan sekali, Pa Rochman. Apa saya bisa meminta bantuan Anda?" tanya Ricky kemudian.
" Bantuan apa, Pak? Saya akan bantu semampu saya jika Pak Ricky membutuhkan batuan saya," sahut Rochman.
" Saya minta bantuan Pak Rochman. Tolong urus kepulangan jenazah Pak Arya sampai rumahnya di Jakarta ini dengan menggunakan pesawat. Berapa pun biaya yang dikeluarkan nanti saya yang tanggung. Jika ada kesulitan dalam pemulangan jenazah Pak Arya, Pak Rochman bisa hubungi saya di nomer ini. Pak Rochman tolong save nomer saya ini." perintah Ricky.
" Oh, baik, Pak. Pak Arya adalah sahabat saya, tanpa diminta pun kami akan bantu, Pak."
__ADS_1
" Oke, nanti saya share alamat rumah Pak Arya."
" Baik, Pak."
" Tolong Pak Rochman urus secepatnya. Dan tolong non aktifkan ponsel Pak Arya segera! Pak Rochman kirim nomer ponsel Pak Rochman ke nomer saya."
" Baik, Pak. Akan saya laksanakan."
" Oke terima kasih." Ricky pun kemudian menutup panggilannya dan kembali ke kamar Anindita.
Ricky melihat putranya yang masih menangis memeluk tubuh mamanya yang masih tak sadarkan diri. Sementara Tita yang memijat kaki Anindita juga masih ikut menangis.
Ricky menghela nafas panjang. Dia pun pernah merasakan ditinggal mendadak oleh ayahnya. Saat dia masih berusia remaja dan itu membuat ibunya sangat syok dan terpukul. Dia pun merasakan Anindita akan merasakan hal yang sama apalagi saat ini Anindita sedang hamil.
Ricky kemudian kembali menghubungi seseorang dari ponselnya.
" Assalamualaikum, ada apa Kak pagi-pagi telepon?" suara Dessy terdengar di telinga Ricky.
" Waalaikumsalam. Des, kamu bisa cuti kerja hari ini?" tanya Ricky kepada adiknya.
" Kenapa memangnya, Kak?" tanya Dessy.
" Suami dari Mamanya Rama meninggal karena serangan jantung di luar kota. Kakak sekarang ada di rumahnya. Anindita sekarang pingsan, apa itu berbahaya untuk kehamilannya?"
" Pingsan pada Ibu hamil itu biasa terjadi karena berbagai macam faktor. Tapi kalau saat ini sepertinya Mamanya Rama pingsan karena syok dan yang pasti akan stres berat karena kehilangan seseorang yang dicintainya. Itu yang perlu dikhawatirkan. Ibu hamil itu harus terbebas dari stres, Kak." Dessy menerangkan.
" Jadi kau bisa menemani Anindita sementara ini? Kalau ada yang diperlukan oleh Anin, kamu bisa langsung handle."
" Hmmm, okelah ... mau gimana lagi kalau sudah Kakak sendiri yang memberi perintah?" Dessy pasrah.
" Ya sudah, Kakak share alamatnya di Angkasa Raya Residence."
" Oke, Kak. Aku mandi dulu dan langsung jalan ke sana. Assalamualaikum ...."
" Waalaikumsalam ...."
Setelah mengakhiri percakapannya dengan Dessy, Ricky kembali mencari nomer ponsel seseorang yang ingin dia hubungi juga. Ricky melihat jam di ponselnya yang menunjukkan pukul lima pagi. Dan dia menutuskan untuk tetap menelpon orang itu.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Dukung ASKML ya Kak. Like & komen jgn lupa, makasih🙏
Happy Reading❤️