
Ricky langsung sigap menangkap tubuh Anindita yang nampak lemah dan hampir jatuh ke bawah. Dia lalu mengangkat tubuh tak bertenaga Anindita dan merebahkannya di atas tempat tidur. Ricky kemudian mencari minyak aromatherapy untuk membuat Anindita siuman.
" Anin, bangun ..." Ricky menepuk-nepuk lembut pipi Anindita. Dia bisa merasakan bagian pipi Anindita yang terasa lembab karena air mata.
" Anin, bangun ... maafkan saya kalau saya sudah membuat kamu ketakutan seperti tadi. Saya tidak ada niat memisahkan kamu dengan Rama. Saya hanya menakuti kamu agar kamu tidak pergi dari sini." Ricky merasa bersalah. sedangkan tangannya kini membelai wajah cantik Anindita dan menyingkirkan helaian rambut yang menempel di pipi wanita itu yang lembab karena air mata.
Setelah beberapa menit akhirnya mata Anindita mengerjap. Namun dia kembali terisak seraya memanggil-manggil nama suaminya.
" Mas Arya, hiks ... Mas aku mau ikut sama Mas saja ...."
Ucapan Anindita tentu membuat Ricky terkesiap. Jika Anindita mengatakan ingin ikut dengan Arya artinya wanita itu memilih lebih baik mati.
" Anin, kamu jangan bicara seperti itu. Saya tidak akan mengambil Rama, Rama akan tetap bersama kamu. Saya tahu kelemahan kamu ada pada Rama, makanya saya pakai ancaman itu agar kamu tetap di sini. Tapi sungguh, saya tidak pernah berniat untuk memisahkan kamu dengan Rama." Ricky dengan cepat mengklarifikasi ucapannya agar Anindita tidak salah paham.
Anindita yang sudah sadar dan mendengar suara Ricky langsung bangkit dan menatap penuh amarah ke arah Ricky.
" Saya minta maaf jika ucapan-ucapan saya membuat hati kamu terluka. Tapi sungguh saya sama sekali tidak ada niat menyakiti hati kamu, Anin."
" Saya tahu kamu masih berduka dan saya telah lancang berani mengatakan akan menikahi kamu. Tapi apa yang saya katakan itu tulus dari hati saya. Saya rasa anak-anak kamu butuh figur sosok seorang ayah, termasuk bayi di dalam kandunganmu. Saya tidak akan bisa menggantikan sosok Pak Arya di hati kamu dan anak kalian. Tapi setidaknya saya bisa memberikan kasih sayang layaknya seorang ayah kepada anak kalian. Seperti yang Pak Arya lakukan terhadap Rama." Ricky kini menurunkan tubuhnya dan duduk berlutut di bawah Anindita. Dan apa yang dilakukan Ricky membuat Anindita tercengang.
" Anin, ijinkan saya membalas kebaikan Pak Arya selama ini kepada Rama. Ijinkan saya menyayangi anaknya seperti yang dia inginkan dan katakan kepada saya."
Anindita mengerutkan keningnya mendengar kata-kata Ricky tentang apa yang pernah diucapkan suaminya kepada Ricky.
" Sebenarnya di malam Pak Arya meninggal, saya bermimpi ... Pak Arya datang ke apartemen saya. Dia bilang ingin melihat Rama. Dia bilang alasan dia menyanyangi Rama karena dia ingin ada orang yang akan menyayangi anaknya saat dia tidak ada suatu saat nanti. Pak Arya juga berpesan kepada saya agar saya lebih sabar menghadapi kamu. Dan saat saya terbangun, sejam kemudian saya mendengar kabar bahwa Pak Arya meninggal. Saya sungguh tidak menyangka ucapan Pak Arya itu mengandung arti jika dia menitipkan anaknya kepada saya." Bulu kuduk Ricky seketika merinding menceritakan kembali soal mimpinya di hari kepergian Arya.
Anindita pun kembali menangis dan berderai air mata saat mengingat hari kepergian suaminya itu.
" Apa yang saya lakukan selama ini bukan tanpa alasan. Saya hanya ingin menjalankan amanat yang diberikan Pak Arya dalam mimpi saya. Saya harap kamu jangan salah paham dengan sikap saya selama ini. Semua itu saya lakukan bukan semata karena sikap egois saya." Ricky lalu bangkit dan berdiri.
" Sebaiknya kamu beristirahat, kamu pasti sangat kelelahan." Tangan Ricky menyentuh dan mengusap pucuk kepala Anindita.
__ADS_1
" Dan kamu akan tetap di sini. Tidak ada alasan untuk menghindari saya. Semua ini saya lakukan demi Pak Arya." Ricky kemudian melangkah meninggalkan kamar Anindita.
Anindita sendiri tak henti-hentinya menangis. Dia lalu meraih kembali foto pernikahannya dan memandangi wajah suaminya yang nampak tersenyum kepadanya.
" Mas, apa maksudnya semua ini? Kenapa Mas berbuat seperti ini ke aku, Mas?" Anindita memeluk kembali foto pernikahannya dan menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur. Dia pun teringat di hari kepergian Arya, Arya datang dalam mimpinya. Di mimpinya itu sosok Ricky juga muncul dan menahan tangannya bersama Ramadhan saat dia ingin mengejar suaminya yang pergi. Lalu apa maksud dari mimpinya itu? Apakah benar yang dikatakan Ricky jika suaminya itu sudah menitipkan dirinya kepada Ricky? Anindita sungguh dibuat bingung dan tidak percaya bahkan sulit menerima arti dari mimpinya itu.
***
" Ma, Mama kok nggak bangun-bangun, sih? Rama mau berangkat sekolah, Ma."
Anindita mengerjapkan matanya saat dia mendengar suara Ramadhan dibarengi kecupan yang mendarat di pipinya.
" Rama sudah mau sekolah, ya? Jam berapa sekarang?" Anindita melirik ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul tujuh pagi.
" Mama kok nggak bangun? Mama nggak kerja memangnya?" tanya Ramadhan terheran karena Anindita masih bergelung selimut.
" Kepala Mama pusing, Nak." Anindita memijat pelipisnya.
" Mama sakit, ini. Badannya Mama panas." Ramadhan kemudian bergegas turun dari tempat tidur dan berlari meninggalkan kamar Anindita membuat wanita itu terheran. Namun karena kepalanya yang terasa berat dia tidak memperdulikan lagi apa yang dilakukan anaknya itu
" Mbak Tita, HP Rama mana?" tanya Ramadhan kepada Tita sesampainya di ruang makan, karena Tita sedang menyiapkan bekal untuk Ramadham sekolah.
" Lho, memangnya kenapa Rama cari HP? Rama 'kan mau sekolah, dan nggak boleh bawa-bawa HP kalau sekolah." Cika yang bersiap akan pergi ke kampus menegur Ramadhan dengan nada bicara yang halus.
" Rama nggak mau bawa HP, Mbak Cika. Rama cuma mau kasih tahu Papa Ricky kalau Mama Anin sakit." Ricky menyebutkan alasannya mencari telepon genggamnya itu.
" Memang Mama Anin sakit apa?" Mendengar ucapan Ramadhan, Tita dan Cika langsung berlari ke kamar Anindita.
" Ibu, Ibu sakit apa?" Tita segera menghampiri Anindita dan duduk di tepi tempat tidur Anindita.
Anindita sendiri nampak terkejut mendapati Tita dan Cika berjalan terburu-buru masuk ke kamarnya.
__ADS_1
" Kalian kenapa pada kemari?" tanya Anindita heran.
" Rama bilang Ibu sakit, makanya kami langsung kemari karena merasa khawatir," ucap Cika.
Anindita tersenyum samar, ternyata anaknya terburu-buru keluar karena ingin memberitahukan kedua ART nya.
" Iya, kepala saya sedikit pusing," sahut Anindita.
" Kalau begitu cepat sarapan lalu minum obat, Bu." ujar Cika.
" Ibu mau saya buatkan bubur?" Tita menawarkan.
" Nggak usah, Mbak." Anindita menepis tawaran Tita. " Rama mana sekarang?" tanya Anindita heran karena dia tidak menjumpai anaknya di antara dua ART nya itu.
Sementara itu, saat melihat Tita dan Cika berlari ke kamar mamanya, Ramadhan langsung bergegas ke kamarnya dan mengambil ponsel miliknya yang biasa ditaruh di dalam nakas setiap dia tidak bermain ponsel. Ramadhan kemudian mencari nomer Ricky yang tersimpan di ponselnya.
" Halo, Pa ... Mama Anin sakit." Ramadhan langsung memberikan laporan kepada Ricky tentang keadaan mamanya kepada Ricky.
" Sakit? Mama Anin sakit apa, Rama?" Ricky terkejut dengan informasikan yang Ramadhan kepadanya.
" Kepalanya pusing, badannya panas, Pa." Rama menjelaskan.
" Ya sudah, Papa ke sana sekarang." Ricky pun langsung mematikan sambungan teleponnya.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Happy Reading❤️