ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu

ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu
Bapak Lihat Apa?


__ADS_3

Selepas sholat Shubuh tadi, Anindita memilih kembali mengistirahat tubuhnya karena dia benar-benar merasa penat hingga membuatnya tertidur dan berminpi seperti tadi.


Anindita menghela nafas yang terasa berat. Bisa-bisanya dia bermimpi melakukan kontak fisik secara intim dengan Ricky. Mungkin karena fakta yang baru saja dia ketahui bahwa dirinya ternyata mencium Ricky yang dia duga adalah Arya membuatnya terus kepikiran.


" Mama kok boboan? Ini sudah siang, Ma. Rama mau berangkat sekolah." celotehan Ramadhan kembali menyadarkan Anindita yang terlihat masih saja melamun.


Anindita menatap anaknya yang sudah memakai baju seragam TK-nya.


" Rama sudah mau berangkat, ya? Aduh Mama kesiangan bangunnya." Anindita kembali memijat pelipisnya. Dia merasa konyol membayangkan Ricky yang menciumnya padahal Ramadhan lah yang tadi membasahi seluruh wajahnya dengan kecupan bibir mungil anaknya itu.


" Mama sakit, ya?" Ramadhan menempelkan punggung tangannya di dahi Anindita.


" Nggak, Sayang. Mama nggak sakit, hanya kesiangan saja bangunnya karena Mama kecapean." Anindita beralasan sementara tangannya mengusap pucuk kepala Ramadhan.


" Rama, ayo berangkat nanti kesiangan masuk sekolahnya." Terdengar suara Tita dari pintu kamar Anindita.


" Ma, Rama berangkat ..." Ramadhan kemudian meraih punggung tangan Anindita kemudian menciumnya.


" Rama jangan nakal di sekolah ya, Nak." Anindita kemudian mengecup kening Ramadhan.


" Iya, Ma. Assalamualaikum ..." Ramadhan memberi salam berpamitan


" Waalaikumsalam ..." sahut Anindita memandangi tubuh Ramadhan yang berlari keluar kamar.


" Mbak Tita, tolong ambilkan saya air mineral, ya!" pinta Anindita kepada Tita yang hendak menutup pintu.


" Baik, Bu." Tita menyahuti.


Setelah Tita menutup pintu, Anindita pun kembali merebahkan tubuhnya dengan posisi miring ke sebelah kiri. Entah rasanya dia enggan sekali turun dari tempat tidur padahal dia juga mesti bersiap untuk bekerja.


Anindita masih merasa terganggu dengan mimpinya tadi. Kenapa dia bisa bermimpi seperti itu? Jika dia kepikiran soal cerita Tita, kenapa dia tidak menghindar atau menolak? Kenapa dia justru menikmati sentuhan bibir Ricky itu?


" Astaghfirullahal adzim ..." Anindita mengusap kasar wajahnya.


Ceklek

__ADS_1


Anindita mendengar suara pintu kamarnya dibuka.


" Taruh di atas nakas saja airnya, Mbak." Anindita tak menoleh dan hanya memberi perintah saja kepada Tita, karena dia tadi memerintahkan Tita mengambil air minum.


Namun tak berapa lama dia merasakan gerakan dari kasur yang dia tiduri. Anindita menduga jika Tita kini duduk di tepi tempat tidurnya, membuat Anindita menolehkan wajahnya.


" Apa ada, Mbak Tita?" Anindita terperanjat saat mengetahui jika yang duduk di tepi tempat tidurnya bukan Tita, melainkan sosok yang mengganggu pikirannya dan yang hadir dalam mimpinya tadi.


" P-Pak Ricky? Ada apa Bapak kemari?" Anindita segera bangkit dan terduduk.


Ricky yang mendapati Anindita hanya mengenakan baju tidur tanpa lengan dan berbahan tipis seketika tertegun. Apalagi saat dia menatap puncak pegunungan yang tercetak dari balik baju tidur model slip dress itu. Belum lagi kulit putih mulus dari leher hingga dada Anindita yang tertangkap di matanya, membuat Ricky harus menelan air liurnya sendiri.


Sementara Anindita yang melihat Ricky nampak tak berkedip saat menatap bagian dadanya langsung menurunkan pandangan ke arah bagian tubuhnya yang diperhatikan oleh Ricky dengan lekat itu. Anindita langsung terkesiap hingga langsung menutup bagian dadanya dengan menyilangkan kedua tangannya.


" Bapak lihat apa?" pertanyaan polos itu meluncur dari bibir Anindita.


Ricky yang mendengar ucapan Anin langsung mengerjapkan matanya. Dia tanpa sadar telah menikmati pemandangan indah di depan matanya itu.


" Hmmm, ehemm ... maaf. Tita bilang dari pagi kamu di kamar saja, kenapa? Apa kamu sakit?" Ricky mencoba mengontrol diri dengan bersikap senormal mungkin.


" Saya nggak apa-apa. Sebaiknya Bapak segera berangkat antar Rama ke sekolah. nanti dia terlambat," usir Anindita. Tentu saja dia merasa tak nyaman harus berdua dengan Ricky di dalam kamar.


" Rama sudah berangkat dengan Tita diantar oleh Pak Saiful." Ucapan Ricky kembali membuat Anindita terkejut.


" Sudah berangkat? Lalu kenapa Bapak masih di sini?" ketus Anindita yang merasa terusik dengan kehadiran ayah dari Ramadhan itu di dalam kamar tidurnya.


" Saya hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja dan saya juga ingin kamu bertanggung jawab atas apa yang sudah kamu lakukan."


Bola mata Anindita membulat dengan mulut menganga lebar mendengar ucapan Ricky yang sangat mirip dengan ucapan di mimpinya tadi.


" Saya nggak mau dicium Bapak lagi!" Anindita sontak menutup mulutnya menghindari Ricky melakukan hal yang sama seperti di dalam mimpinya.


Ricky langsung mengerutkan keningnya mendengar perkataan Anindita hingga satu sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman.


" Saya mencium kamu? Saya tidak pernah mencium kamu Anindita! Yang ada kamulah yang mencium saya."

__ADS_1


Wajah Anindita langsung memanas karena serbuan rona merah yang kini mewarnai wajah cantik wanita itu. Rasanya Anindita ingin menghilang saat itu juga dari hadapan Ricky.


" Atau kamu justru ingin sekarang ini saya yang membalas mencium kamu?"


Anindita langsung mendelik ke arah Ricky membuat pria itu mengulum senyuman.


" Kenapa kamu memberikan nomer saya kepada Nona Rachel tanpa seijin saya? Kamu tahu, memberikan nomer orang lain tanpa persetujuan pemilik adalah suatu bentuk pelanggaran dan bisa dipidanakan."


" Hahh?" Anindita hanya bisa bengong mendengar ungkapan Ricky tentang pelanggaran yang dia lakukan karena memberi nomer Ricky kepada Rachel. Karena selama ini dia biasa memberikan nomer telepon jika ada yang menanyakan nomer telepon orang lain selama mereka saling kenal.


" Dan sebagai hukumannya kamu harus menemani saya breakfast di luar." Ricky langsung bangkit dan beranjak ke arah kamar mandi membuat Anindita mengeryitkan keningnya. Dia merasa heran dengan apa yang akan dilakukan Ricky di dalam kamar mandi di kamarnya. Namun beberapa saat kemudian Ricky keluar dari kamar mandi.


" Kamu dari tadi tiduran saja! Tidak boleh terlalu lelah bukan berarti harus terus bermalas-malasan di tempat tidur." Ricky lalu menyibak selimut yang menutupi sebagian tubuh Anindita hingga menampakkan kaki mulus wanita itu membuat Anindita terkesiap terlebih saat tangan Ricky mengambil tubuhnya hingga kini tubuhnya berada di antara dua lengan kekar milik Ricky.


" Eh, eh, eh ... Bapak mau ngapain?" Anindita yang merasa takut terjatuh secara refleks melingkarkan tangannya di leher Ricky.


" Memangnya kamu ingin saya berbuat apa?" Ricky kini menurunkan tubuh Anindita di atas bathtub yang sudah dia isi dengan air hangat.


" Mandilah, atau kamu ingin saya yang memandikan?"


Anindita kembali mendelikkan matanya hingga kini bola matanya melebar saat mendengar kata-kata Ricky yang membuat wajahnya kembali bersemu merah.


" Cepatlah, saya tunggu di luar." Ricky kemudian melangkah keluar dari kamar mandi, karena penampakan tubuh Anindita yang terlihat jelas saat wanita itu sudah terendam air membuatnya kembali harus menelan salivanya berkali-kali.


*


*


*


Bersambug ...


Sabar Pak Ricky, masa Iddah belum lewat😁


Happy Reading ❤️

__ADS_1


__ADS_2