ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu

ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu
Menemani Mama Anin


__ADS_3

Ricky bergegas keluar dari apartemennya saat dia mendapat kabar dari Ramadhan jika Anindita sakit. Dia langsung berlari ke arah lift karena dia benar-benar merasa khawatir dengan Anindita. Dan sesampainya di apartemen yang ditinggali Anindita, pria itu segera menuju kamar Anindita dengan langkah lebar.


" Kamu sakit apa, Anin?" Ricky mendekat ke arah Anindita yang sedang ditemani Ramadhan, Cika dan Tita yang berjejer duduk di tepi tempat tidur.


Anindita nampak terkejut saat suara Ricky terdengar di kamarnya saat ini.


" Mama sakit pusing, Pa. Sama badannya panas." Ramadhan dengan cepat membalas pertanyaan Ricky. Sementara Cika dan Tita langsung berdiri memberikan tempat untuk Ricky melihat Anindita.


Ricky duduk di tepi tempat tidur Anindita


Punggung tangannya kini dia arahkan ke kening wanita yang dulu pernah dia renggut kesuciannya.


Ricky lalu menghubungi seseorang dari ponsel yang masih dia genggam setelah menerima telepon dari Ramadhan.


" Halo, Assalamualaikum ... ada apa, Kak?" Tersengar suara wanita di ponsel Ricky.


" Waalaikumsalam. Des, kamu bisa ke apartemen Kakak sekarang? Mamanya Rama sakit, badannya panas dan kepalanya pusing." Ricky melirik ke arah Anindita saat menceritakan kondisi Anindita kepada Dessy, adik dari Ricky. Namun wanita itu justru membuang muka.


" Cieee, perhatian terus, biar pedekate nya lancar ya, Kak?" Dessy terkekeh menggoda kakaknya itu.


" Aku tunggu sekarang! Assalamualaikum." Ricky yang menduga jika Dessy akan meledeknya dengan cepat mengakhiri sambungan teleponnya.


Ricky lalu menoleh ke arah Cika, Mita dan putranya Ramadhan.


" Kamu kalau mau pergi kuliah, pergi saja nggak apa-apa." Ricky yang melihat Cika sudah memakai pakaian rapih mengijinkan Cika untuk berangkat ke kampus.


" Baik, Pak. Terima kasih, saya berangkat dulu ya, Bu. Assalamualaikum ...."


" Waalaikumsalam ..." sahut semua orang yang ada di kamar tidur Anindita.


Setelah berpamitan dengan Anindita, Cika pun segera berjalan keluar dari kamar tidur Anindita.


" Tita, kamu antar Ramadhan ke sekolah, diantar sama Pak Saiful saja." Kini Ricky menyuruh Tita untuk berangkat mengantar Ramadhan pergi ke sekolah.

__ADS_1


" Baik, Pak. Ayo Rama kita siap-siap!" Tita mengajak Ramadhan untuk ikut dengannya.


" Kalau Rama, Mbak Tita sama Mbak Cika pergi, nanti yang menemani Mama siapa, Pa?" cemas Ramadhan karena dia berpikir pasti Anindita akan sendirian di rumah dan sedang sakit.


" Mama Anin nanti Papa yang menemani."


Bola mata Anindita membulat sempurna saat mendengar Ricky akan menemaninya dan berdua saja, seketika itu pula hatinya mendadak gelisah.


" Nanti Tante Dessy juga akan ke sini buat periksa Mama Anin." Ricky mengatakan hal itu bukan hanya untuk membuat Ramadhan tenang, tapi juga membuat Anindita tidak merasa khawatir karena tadi ekor matanya menangkap kegelisahan Anindita.


" Rama berangkat sekolah sama Mbak Tita, ya." Ricky mengusap kepala Ramadhan.


" Iya, Pa." Kini Ramadhan menaiki tempat tidur Anindita. " Ma, Rama sekolah dulu, ya. Mama cepat sembuh. Nanti kalau Tante Dessy kasih obat Mama cepat minum obatnya ya, Ma!" Ramadhan sudah seperti orang tua yang menasehati anaknya, membuat Anindita tersenyum walau nampak samar.


" Iya, Sayang. Hati-hati, ya!" Anindita kini mendapatkan kecupan dari Ramadhan.


" Iya, Ma. Assalamualaikum ..." Ramadhan berpamitan pada Anindita.


" Waalaikumsalam, jangan nakal di sekolah ya, Sayang." Anindita menasehati anaknya.


" Rama berangkat ya, Pa!" Ramadhan berpamitan pada kepada Ricky.


" Mamanya jangan ditinggal ya, Pa! Kasihan ..." Ramadhan meyampaikan rasa khawatirnya membuat Ricky tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Dan Ramadhan pun kemudian menghilang bersama dengan Tita dari dalik pintu


Ricky bangkit dan memutar posisi duduknya sejajar dengan Anindita. Tangannya kirinya melingkar di belakang kepala Anindita hingga jari tangannya itu menyentuh pelipis Anindita dan melakukan gerakan memijat.


Anindita ingin menepis namun Ricky tak membiarkan Anindita menolak apa yang dilakukannya.


" Pejamkan matamu, ini akan meredakan sakit kepalanya sambil menunggu adik saya datang untuk memeriksa kamu."


Entah kenapa Anindita kini menuruti apa yang dianjurkan Ricky hingga dia kini memejamkan matanya, menikmati sentuhan tangan Ricky yang kini memijat kepalanya.


" Sudah mendingan?" tanya Ricky setelah beberapa saat pria itu melakukan pijatan di bagian kelapa dan pelipis Anindita.

__ADS_1


Anindita hanya menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Ricky.


" Kamu sudah sarapan?" tanya Ricky lagi. Dan masih dijawab dengan gerakan kepala Anindita yang menggelengkan kepalanya.


" Kamu harus sarapan. Sebentar saya ambilkan dulu nasinya." Ricky kemudian melangkah keluar dari kamar Anindita membuat Anindita tertegun dengan perlakukan manis yang diberikan Ricky kepadanya. Namun Anindita berusaha untuk menepis semua perlakuan manis yang diberikan Ricky kepadanya.


Sementara Ricky sendiri di dapur menyiapkan sarapan untuk Anindita. Dia melihat Cika sudah membuatkan sayur sup kacang merah brokoli juga omelet kornet keju. Ricky kemudian menggulung lengan kemejanya hingga sebatas siku. Dia lalu mengambil piring mangkuk juga bed tray nampan. Dia mengambil nasi dan omelet di atas piring dan sup di mangkuk kecil lalu ditaruh di atas nampan. Tak lupa dia juga mengambil air mineral. Ricky pun mengambil satu piring kecil lagi yang dia pakai untuk menaruh jeruk yang sudah dia kupas lebih dahulu dan menyediakan garpu kecil.


Setelah dianggapnya semua komplit, Ricky pun kemudian kembali ke kamar Anindita dengan nampan berisi menu sarapan untuk Anindita.


" Ini sarapannya sudah saya siapkan. Kamu makanlah dulu." Ricky membuka kaki bed tray nampan itu dan meletakan di depan Anindita berbaring.


Anindita menatap isi nampan di hadapannya lalu menoleh ke arah Ricky.


" Mau saya suapi?" tanya Ricky saat Anindita menoleh ke arahnya. Namun dengan cepat Anindita menggelengkan kepala. Sejak masuk ke kamar Anindita tadi, tak sekalipun pertanyaan yang terlontar dari mulut Ricky dijawab dengan kata-kata oleh Anindita. Wanita itu hanya menjawab setiap pertanyaannya dengan gelengan atau anggukan kepala.


" Makanlah, biar janin di perut kamu kuat dan sehat. Saya rasa Pak Arya juga tidak akan suka jika melihat kamu tidak memperhatikan kesehatan kamu dan calon anak kalian."


Anindita menelan salivanya kemudian dia tertunduk. Tentu saja ucapan Ricky yang mengingatkannya tentang Arya membuat hatinya berubah sendu. Bahkan kini matanya pun mulai memanas dan dengan cepat buliran air mata menetes di wajahnya sehingga membuat Anindita terisak.


Ricky yang mendapati Anindita menangis membuatnya jadi kebingungan. Apakah kata-kata yang dikatakannya tadi membuat Anindita tersinggung? Apakah karena dia menuduh Anindita tidak memperhatikan kesehatannya juga calon bayinya membuat Anindita kesal hingga menangis? Itu yang ada dipikiran Ricky saat ini. Ricky memang merasa dia tidak terlalu berpengalaman dalam urusan wanita. Sehingga dia terlalu sulit menyusun kata-kata yang tepat agar tidak membuat Anindita marah, salah paham ataupun tersinggung karena ucapannya.


" Anin, saya minta maaf. Saya tidak bermaksud untuk menyinggung perasaan kamu." Ricky yang bingung menghadapi Anindita yang semakin terisak lalu melingkarkan lengannya untuk merengkuh Anindita hingga kini wanita itu sudah berada di dalam pelukannya tanpa adanya penolakan dari Anindita.


*


*


*


Bersambung


Jangan lupa Like & Komennya ya Kak, biar ASKML bisa naik level lagi, makasih🙏

__ADS_1


Happy Reading❤️


__ADS_2