
Setelah selesai Ricky membantu Sandra mengantar pesanan makanan kepada customer, Ricky pun mengantar Anindita berkunjung ke tempat Sandra tinggal.
" Ayo masuk, Nin. Tuan Ricky ..." Sandra membuka pintu gerbang rumah yang tidak terlalu besar dan terletak masuk ke dalam gang, tidak seperti rumahnya yang dulu di pinggir jalan besar. Sebagian depan rumah itu pun tertutup dengan banner bertuliskan
...LEO SANDRA CATERING...
...Terima pesan antar...
...( Indonesian Foods & Chinese Foods Halal )...
Menyediakan :
☑️ Nasi Kotak
☑️ Nasi Kuning
☑️ Tumpeng Besar
☑️ Tumpeng Mini
☑️ Terima Pesanan Untuk Prasmanan
☑️ Snack box dll
...HP : 0811 2** *** / 0811 2** ***...
" Maaf, Nyonya. Saya tidak ikut masuk ke dalam karena saya harus segera ke kantor." Ricky meminta ijin untuk berpamitan.
" Oh, silahkan ... maaf sudah merepotkan, Tuan Ricky. Sekali lagi terima kasih." Sandra menyampaikan ucapan terima kasihnya karena Ricky mau menemani Anindita membantu mengantar pesanan-pesanan cateringnya.
" Tidak apa-apa. Oh ya, Nyonya, saya titip Anin, nanti saya suruh orang untuk menjemput Anindita ke sini," ucap Ricky menitipkan Anindita layaknya orang yang tua yang menitipkan anaknya pergi bermain.
" Nanti saya suruh Pak Syaiful untuk jemput kamu ke sini. Saya juga sudah bilang ke Nyonya Lucy jika kamu tidak bekerja hari ini. Saya berangkat sekarang." Ricky lalu menoleh ke arah Sandra.
" Saya permisi, Nyonya." pamit Ricky kemudian.
" Silahkan, Tuan."
Ricky pun kemudian berjalan menjauh meninggalkan Sandra dan Anindita.
" Anin, bagaimana kamu bisa sampai bertemu dengan Tuan Ricky? Dan bagaimana kamu bisa dekat sama dia sekarang ini? Lalu suami kamu bagaimana?" Sandra yang sedari tadi penasaran langsung bertanya pada Anindita.
" Cerita saya nanti saja ya, Ci. Sekarang ini saya ingin tahu cerita tentang Cici dan Koh Leo kenapa bisa sampai di Jakarta? Apa yang terjadi dengan rumah dan minimarket punya Koh Leo? Apa ini ada hubungannya dengan Koh Johan, Ci?" Anindita pun tak kalah penasaran dari Sandra.
" Ya sudah, kita bicara di dalam saja, yuk!" Sandra menggandeng tangan Anindita, menuruhnya untuk masuk ke dalam rumahnya.
" Bu Sandra sudah pulang, ya?" Suara seseorang dari arah luar membuat Sandra menghentikan langkahnya.
" Eh, Bu Rita. Iya baru saja, Bu. Ada apa, Bu Rita?" Sandra berjalan kembali ke arah pintu gerbang dan membukakan pintu untuk Bu Rita.
" Bu Sandra sedang ada tamu, ya?" tanya Bu Rita melihat ke arah Anindita.
" Ah, nggak kok, Bu. Itu masih kerabat sendiri. Bagaimana, Bu Rita, ada yang bisa saya bantu?" tanya Sandra dengan ramah.
" Ini lho, Bu. Saya mau pesan nasi kotak buat tasyakuran empat puluh hari kelahiran cucu saya buat hari Minggu ini," ujar Bu Rita.
" Oh, boleh-boleh, Bu. Ayo silahkan ke dalam dulu saja." Sandra kemudian mempersilahkan Bu Rita masuk.
" Anin, ayo masuk juga sekalian. Sebentar ya, Nin. Cici mau terima orderan dulu. Kamu duduk saja dulu di sofa." Sandra meminta Anindita menunggunya karena dia mendapatkan permintaan orderan dari tetangganya.
" Iya nggak apa-apa, Ci." Anindita menyahuti.
" Mau pesan nasi kotak berapa banyak, Bu Rita?" tanya Sandra.
" Lima puluh saja, sama snack nya sekalian ya, Bu Sandra." ucap Bu Rita.
" Boleh, mau isi apa masakannya, Bu Rita?" tanya Sandra menyodorkan daftar menu nasi kotak kepada Bu Rita.
" Saya yang ini saja, Bu. Seharga empat puluh lima ribu plus snack." Bu Rita menunjuk paket nasi kotak dan snack yang dia pilih." Saya DP lima ratus ribu dulu ya, Bu Sandra." Bu Rita kemudian menyodorkan uang pecahan seratus ribuan yang digulung jadi satu.
" Saya buatkan kwitansinya dulu ya, Bu." Sandra lalu mengambil kwitansi dari bawah meja tamu kemudian menuliskan tanda terima down payment pesanan dari Bu Rita.
__ADS_1
" Ini kwitansinya, uangnya saya terima ya, Bu Rita." Sandra menyodorkan kertas tanda terima uang muka itu kepada Bu Rita.
" Nanti dikirimnya sebelum Dzuhur ya, Bu Sandra. Sekitar jam sebelas, setengah dua belasan," pinta Bu Rita kembali.
" Siap, Bu Rita. Terima kasih orderannya ya, Bu."
" Sama-sama, Bu Sandra. Kalau begitu saya permisi ya, Bu." Bu Rita berpamitan lalu diantar oleh Sandra keluar dari rumah Sandra.
" Sorry ya, Nin. Lumayan dapat orderan." Sandra meminta maaf karena harus melayani Bu Rita terlebih dahulu.
" Nggak apa-apa kok, Ci. Saya justru senang lihat Cici ramai pesanan," sahut Anindita yang sedari tadi memang hanya memperhatikan interaksi Sandra dan Bu Rita.
" Lumayanlah, Nin. Untuk biaya anak-anak sekolah," sahut Sandra merendah.
" Oh ya, Ko Elvano sama Ivone kelas berapa sekarang Ci? Hampir tiga tahun nggak bertemu." Anindita mengingat kedua anak Sandra dan Koh Leo.
" Elvano sekarang sudah empat belas tahun, sudah kelas delapan dia sekarang, Kalau Ivone sudah SD kelas dua."
" Ko Elvan sudah SMP? Sudah perjaka ya, Ci?" Anindita terkekeh.
" Tingginya saja sudah menyamai Cici, Nin." Sandra pun ikut tertawa kecil.
" Sebentar ya, Nin. Pi, Papi ... ini ke sini, lihat ini siapa yang datang!" Sandra berteriak. Dan tak lama dari dalam ruangan keluar sosok pria yang merupakan mantan bosnya yang juga terlihat lebih kurus dari sebelumnya dan berjalan lambat.
" S-siapa yang datang, Mi?" Koh Leo berbicara cadel dengan memandang ke arah Anindita.
" Coba tebak, Papi masih ingat nggak?" tanya Sandra menguji ingatan suaminya yang beberapa waktu lalu harus menjalani operasi karena stroke ringan.
" Koh Leo apa kabar?" Anindita lalu bangkit dari duduk sedikit kesusahan lalu menghampiri mantan bosnya itu lalu menyalami dan mencium punggung tangan Koh Leo. Dia sungguh merasa sedih mendapati kondisi mantan bos nya sekarang ini, hingga dia meneteskan air matanya.
" Siapa ini, Mi?" tanya Koh Leo yang kaget saat Anindita mencium tangannya, apalagi saat melihat Anindita menangis
" Masa Papih lupa? Dia ini adik kita yang hilang dulu, Pi." Sandra merangkul suaminya dan menyandarkan kepalanya di lengan suaminya itu.
" Adik?" Kening Koh Leo berkerut mencoba mengingat.
" Iya, Pi. Karyawan kita dulu yang pernah tinggal di rumah kita. Papi ingat nggak?" Sandra mencoba membangkitkan ingatan Koh Leo.
" A-Anin?" Koh Leo nampak terkejut mengetahui Anindita lah yang ada di hadapannya.
" Maaf ya, Nin. Koko agak pikun. Kamu apa kabar, Nin?" tanya Koh Leo dengan mengucapkan kalimat perlahan dan agak pelo namun dengan artikulasi yang masih bisa ditangkap jelas di telinga.
" Alhamdulillah saya baik, Koh. Koh Leo sendiri bagaimana?" Anindita masih menatap haru orang yang berjasa dalam hidupnya itu saat dia mengalami kesulitan dan masalah.
" Ya, seperti inilah, Nin." Koh Leo mendesah pasrah.
" Koko mu ini baru saja menjalani operasi karena penyumbatan pembuluh arteri, Nin. Sekarang ini juga masih rutin terapi biar lebih membaik kondisinya. Untung juga kami dibantu oleh jemaat Gereja jadi kemarin bisa operasi, puji Tuhan, Nin." Sandra menceritakan.
" Alhamdulillah ya, Ci. Koh Leo dan Ci Sandra ini orang baik, pasti akan ada yang membantu." Anindita menyeka air matanya.
" Oh ya, terus bagaimana Cici dan Koh Leo bisa sampai Jakarta ini? Apa yang terjadi setelah saya keluar dari rumah Koh Leo? Kenapa rumah dijual dan mini market tutup? Apa itu ulah dari Koh Johan?" tanya Anindita kemudian.
" Iya, setelah kamu pergi, Johan memang datang dan dia mengamuk, Nin. Dia datang ke rumah ingin mengambil rumah dan mini market secara paksa. Dia membawa teman-teman premannya untuk mengusir kami. Sebelumnya dia mengancam akan membu*nuh anak-anak jika Koko menolak merubah nama di sertifikat menjadi atas nama dia." Sandra menceritakan apa yang terjadi dengan keluarganya seraya meneteskan air mata.
" Astaghfirullahal adzim, Ya Allah, tega sekali Koh Johan itu." Anindita terperanjat mendengar cerita Sandra.
" Tadinya kami tidak terlalu menganggap serius ancamannya, tapi saat dia berhasil membawa kabur Ivone dari sekolah dan menyekapnya semalaman di tempat yang entah kami sendiri nggak tahu di mana? Akhirnya kami memutuskan mengikuti kemauannya. Kami tidak berani melapor ke pihak berwajib karena kami takut mereka akan mencelakakan Ivone." Sandra meneruskan menceritakan kisah pilu keluarganya.
" Ya Allah, semua ini karena saya, Ci. Kalau saya nggak pergi dari sana, pasti Cici dan Koh Leo masih tinggal di rumah dan toko juga masih buka." Anindita terisak, dia merasa sangat bersalah akan apa yang terjadi dengan mantan bosnya itu.
" Semua sudah terjadi, Nin. Tidak ada yang perlu disesali. Puji Tuhan kita masih bisa bertahan hidup, walaupun tidak hidup berkecukupan seperti dulu, tapi kita tetap syukuri apa yang sudah Tuhan kasih ke kita. Dan semakin mendekatkan diri kepada Tuhan," ucap Sandra bijak.
" Oh ya, kamu sendiri bagaimana, Nin? Bagaimana bisa ada di Jakarta? Apa Tuan Ricky yang membawa kamu ke sini?" Kini Sandra yang berganti penasaran.
" Bukan, Ci. Jadi waktu Cici antar saya untuk menjual perhiasan, Rama hampir hilang karena mengikuti seseorang untuk mengembalikan dompetnya yang tertinggal di kursi. Dan orang itu lah yang akhirnya membawa saya ke Jakarta ini, Ci. Dia sekarang jadi bos saya, saya sekarang ini kerja di toko bunga punya orang itu. Namanya Ci Lucy, dia mengingatkan saya akan Ci Sandra, karena baik dan banyak membantu saya selama saya tinggal di Jakarta ini, Ci." Anindita menceritakan awal pertemuannya dengan Lucy kepada Sandra.
" Puji Tuhan, kamu bertemu dengan orang baik, Nin." Sandra menanggapi kisah Anindita." Lalu bagaimana kamu bertemu dengan Tuan Ricky, Nin?"
Anindita pun akhirnya menceritakan tentang pertemuannya dengan Ricky termasuk bagaimana saat ini dia bisa bersama dengan pria itu. Anindita juga menceritakan tentang pernikahan dengan Arya dan meninggalnya suaminya itu sekitar empat puluh hari lalu.
" Akhirnya saya mengalami lagi apa yang terjadi beberapa tahun silam, Ci. Saya hamil tanpa didampingi ayah dari bayi yang saya kandung," lirih Anindita menahan tangis.
__ADS_1
" Ya Tuhan, Anin. Kamu yang sabar ya, Nin." Sandra langsung menghampiri Anindita dan memberikan pelukan kepada Anindita.
" Kamu yang tabah, Nin. Setiap cobaan pasti ada hikmah yang kita petik." Sandra menasehati Anindita.
" Iya, Ci." Anindita menghapus air mata yang akhirnya menetes di pipinya.
" Lalu sekarang kamu tinggal di mana setelah diusir oleh adik-adik ipar kamu, Nin?" tanya Sandra kemudian.
" Saya tinggal di apartemen milik Pak Ricky, Ci. Kebetulan suami saya dan Pak Ricky berhubungan baik. Waktu dia tahu saya diusir, Pak Ricky membawa saya dan Rama tinggal di salah satu apartemen miliknya. Pa Ricky bilang apartemen itu sengaja dia beli untuk Rama, Ci." ungkap Anindiya.
" Puji Tuhan, Nin. Masih ada orang yang baik di sekitar kamu." Sandra mengusap punggung Anindita.
" Iya, Ci. Sekarang bertambah lagi dengan bertemu kembali dengan Ci Sandra dan Koh Leo. Saya bahagia sekali rasanya." Anindita kembali memeluk Sandra layaknya seperti keluarga sendiri. Dia benar-benar merasakan kebahagiaan bertemu kembali dengan Koh Leo dan Sandra.
***
Anindita mengambil kotak perhiasan dari dalam lemari pakaiannya. Dia kemudian mengambil kalung milik Sandra yang dulu pernah wanita itu berikan kepada Anindita beberapa tahun lalu, sebagai bekalnya saat keluar dari rumah Koh Leo. Anindita merasa bersyukur perhiasan itu masih utuh dan tidak dia jual. Dia berniat mengembalikan perhiasan itu dan uang sebesar lima juta rupiah dulu kepada Sandra. Dia juga berniat memberikan tambahan uang yang dia punya untuk modal usaha catering Sandra agar lebih maju.
Keesokan harinya, Anindita kembali bekerja seperti biasa dan karena hari ini adalah weekend, biasanya akan lebih banyak orderan daripada hari biasanya.
" Jadi Mbak Anin akhirnya kembali bertemu sama mantan Bos Mbak Anin dulu?" tanya Mita kepada Anindita saat sedang membungkus buket baby's breath menggunakan flower wrapping paper untuk buket pengantin yang akan dikirim sore nanti.
" Iya, Mbak Mita. saya senang sekali akhirnya bisa bertemu dengan mereka yang sudah membantu saya selama saya mengalami kesusahan dulu." Anindita tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.
" Syukurlah, Mbak." Mita menyahuti.
Teettt
Anindita dan Mita langsung menoleh ke arah pintu saat bel sensor gerak berbunyi saat seorang wanita cantik masuk ke dalam toko Alabama Florist cabang apartemen Angkasa Raya itu.
" Assalamualaikum Hai, Anin ..." sapa Rachel yang muncul dari luar toko bunga.
" Waalaikumsalam, Mbak Rachel." Anindita menyahuti seraya melangkah menghampiri Rachel.
" Anin, saya ikut menunggu di sini nggak apa-apa, kan? Saya ada janji dengan Pak Ricky ingin melihat-lihat apartemen karena saya berminat membeli unit apartemen di sini," ucap Rachel kemudian.
" Oh, silahkan, Mbak Rachel." Anindita mempersilahkan Rachel untuk duduk.
" Terima kasih, Anin." Rachel pun lalu menuju sofa tunggu.
" Mbak Rachel mau pindah ke apartemen sini juga?" tanya Anindita.
" Hmmm, iya, Nin. Semoga harganya cocok," sahut Rachel.
" Ya sudah, tunggu di sini saja ya, Mbak. Saya mau bantu Mbak Mita mengerjakan beberapa pesanan untuk acara wedding nanti sore." Anindita meminta ijin meninggalkan Rachel.
" Oh, silahkan, Anin. Maaf saya mengganggu ...."
" Nggak apa-apa, Mbak. Saya permisi dulu ..." Anindita pun kembali membantu merangkai buket-buket bunga.
" Bu Rachel mau apa ketemu sama Pak Ricky, Mbak Anin?" tanya Mita menyelidik.
" Saya nggak tahu, Mbak." Anindita mengedikkan bahunya.
" Hati-hati lho, kalau Pak Ricky dekat dengan wanita lain, Mbak," bisik Mita.
" Kenapa memangnya, Mbak?"
" Kalau Pak Ricky kecantol sama Bu Rachel, nanti gimana?" tanya Mita.
" Apanya yang gimana?" Anindita balik bertanya.
" Nanti Mbak Anin sama siapa? Aku lebih setuju Pak Ricky sama Mbak Anin daripada sama Bu Rachel. Rasanya nggak rela lahir batin kalau sampai Pak Ricky jadian sama Bu Rachel," protes Mita melirik sinis ke arah Rachel.
Sedangkan Anindita hanya menghela nafas mendengar protes Mita yang menampakkan rasa tidak suka dengan kedekatan Rachel dengan Ricky.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ..
Happy Reading ❤️