ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu

ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu
Virus Bucin


__ADS_3

Anindita merasa kebingungan saat Ricky meninggalkannya bersama Kirania dan Lisna. Dia merasa jika dua wanita yang ada di hadapannya tidaklah sebanding dengannya yang hanya wanita biasa. Berbeda dengan dua orang wanita yang kini bersamanya, di mana yang satu adalah istri bos besar dan satu lagi sekretaris bos. Seketika itu juga Anindita merasakan krisis percaya diri hingga kini telapak tangannya pun mulai berkeringat padahal suhu di ruangan itu sangat dingin oleh AC.


" Mbak Anin, ayo ikut saya ..." Kirania langsung meraih tangan Anindita dan hendak membawa Anindita masuk ke ruang kerja Dirga juga.


" M-maaf, Nyonya. Saya tunggu di sini saja." Anindita menahan tahan Kirania yang menarik tangannya.


" Panggil saja saya Rania, Mbak. Jangan ikut-ikutan Pak Ricky panggil Nyonya. Dia itu terlalu formal bahasanya." Kirania mengibaskan tangannya.


" Maaf, Bu Rania." Anindita menundukkan kepalanya merasa malu dituduh meniru gaya bicara Ricky.


" Nah, kalau dipanggil itu saya nggak masalah." Kirania mengembangkan senyumannya. " Kita masuk, yuk!" ajak Kirania kembali.


" Tapi, Bu ...."


Kirania tidak perduli akan penolakan Anindita dan memaksa wanita itu mengikuti dirinya masuk ke dalam ruang kerja suaminya itu.


" Abang, aku bawa Mbak Anin berbincang di kamar nggak apa-apa, kan?" tanya Kirania kepada Dirga.


" Iya, Sayang ..." sahut Dirga.


" Ayo, Mbak. Jangan malu-malu dan jangan takut." Kirania melangkah dengan tangan mengandeng tangan Anindita.


" Permisi, Tuan." Anindita sedikit membungkukkan badannya menyapa Dirga.


Sementara Ricky langsung memperhatikan Anindita yang hanya menundukkan kepala saat masuk ke dalam ruangan Dirga hingga berjalan menuju kamar istirahat bosnya itu.


" Ehemm ..." Dirga yang mendapati Ricky terus memperhatikan Anindita langsung berdehem hingga membuat Ricky terkesiap.


" Kau sudah asuransikan telingamu, Rick?" sindir Dirga seraya tertawa senang.


" Ehemm, ada masalah apa Pak Dirga mencari saya pagi-pagi?" Ricky tidak ingin meladeni sindiran Dirga. Dia memilih menarik kursi di depan meja kerja Dirga lalu duduk di atas kursi itu.


" Pantas selama lima tahun kau terus mencari wanita itu sampai tidak pernah menoleh pada wanita lain. Ternyata dia memang cantik, harus aku akui itu. Walaupun untukku istriku lebih dari segalanya." Dirga sepertinya lebih senang menggoda Ricky daripada fokus membahas masalah pekerjaan.


" Saya rasa bukan saya saja pria yang hampir tak tersentuh wanita, bahkan lebih lama dari saya, sampai enam tahun." Ricky balik menyindir Dirga. Karena sejak berpisah dari Kirania saat kuliah, selama enam tahun bosnya itu menutup diri pada wanita lain walaupun sempat menjadi suami Nadia.

__ADS_1


" Hei, asal kau tahu, aku tak membuka hati pada wanita lain karena aku sangat mencintai Rania. Kalau kau menyamakan kisahmu dengan kisahku, apa artinya kau pun mengakui jika kau menyimpan rasa pada wanita itu, Rick?" Dirga membalas telak sindiran Ricky tadi.


Ricky terdiam tak cepat menjawab serangan dari bosnya itu.


" Sepertinya Tuhan memang sedang mendekatkan jodohmu, Rick. Dia menikah dengan pria lain namun tak lama ternyata pria itu meninggal. Aku rasa dia memang ditakdirkan untukmu, agar Rama punya orang tua yang komplit," ujar Dirga.


" Sejak kapan Anda beralih profesi sebagai peramal, Pak Dirga? Suaminya baru saja meninggal dan Anda dengan tidak berperasaan menjodoh-jodohkan dia dengan saya. Seandainya dia dengar bisa-bisa saya yang akan disalahkan." protes Ricky.


" Hahaha ... dan kau merasa takut dia akan marah padamu, Rick? Kau tau, itu salah satu ciri-ciri orang yang sudah terkena virus bucin. Hahaha ..." Dirga tergelak mengetahui jika asistennya itu ternyata takut disalahkan oleh Anindita.


Sementara itu di kamar istirahat, Kirania langsung menyuruh Anindita duduk di sofa single yang ada di kamar itu.


Anindita memandang ke seluruh bagian ruang yang nampak elegant itu. Benar-benar hampir mirip seperti ruang tidur di apartemen milik Ricky yang dia tempati. Dengan tempat tidur king size besar, lemari, nakas, meja dan sofa dengan warna senada. Dan aroma terapi yang menguar dari ruangan itu terasa benar-benar membuatnya merasa nyaman.


" Mbak Anin mau minum apa? Mau aku buatkan juice?" tanya Kirania.


" Oh, tidak usah repot-repot, Bu." Anindita merasa tidak enak karena merasa dilayani oleh seorang istri bos.


" Nggak apa-apa kok, Mbak Anin. Sebentar, ya!" Kirania kemudian mengambil gelas dan menuangkan orange juice yang dia ambil dari dalam kulkas. Kirania juga menyediakan potongan cheese cake.


" Silahkan diminun, Mbak Anin."


Anindita mengerjap saat suara Kirania terdengar ketika dia sedang mengagumi Kirania.


" Terima kasih, Bu." Anindita masih merasa gugup.


" Saya dengar dari Pak Ricky tentang suami Mbak Anin, Saya turut berduka cita ya, Mbak. Mbak yang sabar. Insya Allah, Allah akan menggantikan kebahagiaan yang berlipat-lipat untuk Mbak Anin." Kirania menggenggam tangan Anindia.


" Aamiin, terima kasih, Mbak." Anindita buru-buru menghapus air mata yang menetes di pipinya karena diingatkan akan suaminya.


" Mbak Anin sedang hamil, ya?" Kirania yang melihat wajah Anindita berubah sendu langsung mengalihkan pembicaraan.


" Iya, Bu."


" Pasti senang sekali kalau sedang hamil ya, Mbak?" Saya juga masih menunggu dikasih rejeki keturunan dari Allah, Mbak. Saya boleh pegang perut Mbak Anin, nggak? Siapa tahu saya jadi tertular hamil juga." Kirania nampak antusias hingga membuat Anindita tersenyum.

__ADS_1


" Semoga Bu Rania juga bisa cepat hamil," ucap Anindita ikut mendoakan.


" Aamiin, Mbak. Oh ya, sudah tahu jenis kelaminnya?"


" Laki-laki, Bu."


" Wah, Rama pasti senang sekali akan punya adik laki-laki."


" Iya, Bu." Anindita hanya menjawab singkat pertanyaan-pertanyaan Kirania karena dia bingung harus menyusun kata yang lebih panjang.


" Mbak Anin beruntung memiliki anak yang cerdas seperti Rama."


Anindita tersenyum mendengar perkataan Kirania. Dia pun merasa beruntung mempunyai Ramadhan.


" Rama itu benar-benar seperti Pak Ricky."


Anindita menelan salivanya saat mendengar Kirania menyingung soal Ricky.


" Saya senang Pak Ricky akhirnya menemukan Mbak Anin dan Rama. Karena selama ini Pak Ricky berusaha keras mencari kalian. Sampai tidak memikirkan untuk berumah tangga dan juga tidak pernah mencoba dekat dengan wanita lain karena rasa bersalah atas apa yang pernah Pak Ricky perbuat pada Mbak Anin dulu."


Anindita terkesiap karena kisah masa lalunya dengan Ricky diketahui oleh Kirania.


" Dulu bahkan suami saya sempat ingin menjodohkan Pak Ricky dengan adik saya. Tapi Pak Ricky menolak karena dia bilang ingin menemukan seorang wanita yang pernah dia nodai dulu."


Anindita kembali menelan salivanya, sungguh dia merasa sangat malu karena diketahui sebagai korban perko*saan Ricky oleh Kirania.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2