ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu

ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu
Cepatlah Pulang


__ADS_3

Ramadhan menatap wajah Ricky yang terlihat serius dengan laptop di hadapannya. Perlahan Ramadhan mendekati pria yang tidak dia ketahui adalah papanya itu.


" Om ..." Ramadhan mencoba mengalihkan keseriusan Ricky dari depan laptopnya.


" Hmmm, ada apa Rama?" tanya Ricky tanpa berpaling dari pekerjaan yang sedang dia kerjakan saat ini."


" Tadi Mama Anin marah sama Kak Putri." Ramadhan menceritakan apa yang dilakukan Mamanya kepada Putri.


Apa yang diucapkan Ramadhan sukses mengalihkan perhatian Ricky hingga membuat pria itu kini menatapnya seraya mengerutkan keningnya.


" Mama Anin marah sama Kak Putri? Memangnya Kak Putri kenapa sampai buat Mama Anin marah?" tanya Ricky kemudian.


" Kak Putri bilang kalau Rama ingin menginap di rumahnya Papa Ricky. Kan harusnya Om Ricky ya, Om? Soalnya Om Ricky 'kan bukan Papanya Rama."


Deg


Serasa dihantam bongkahan batu besar hati Ricky seakan mencelos saat Ramadhan mengatakan hal itu. Beberapa kali bocah kecil itu selalu mengatakan hal-hal yang selalu membuat hatinya porak-poranda. Namun lagi dan lagi dia seakan tidak punya kuasa untuk menyangkal hal itu.


" Kenapa Kak Putri bilang begitu ya, Om? Makanya Mama Anin jadi marah sama Kak Putri."


Ricky menarik nafasnya dalam-dalam mencoba mencari kalimat yang cocok untuk disampaikan kepada anaknya itu.


" Hmmm, Om 'kan pernah bilang sama Rama, kalau Om punya anak seperti Rama. Mungkin karena Om Ricky sayang sama Rama dan Rama juga dekat sama Om jadi Kak Putri bilang seperti itu. Om Ricky juga nggak keberatan 'kok kalau Rama memanggil Om dengan panggilan Papa," ucap Ricky memberanikan diri mengatakan hal itu.


" Nggak mau, Om. Papa Rama 'kan Papa Arya. Om Ricky bukan Papa Rama, Rama nggak mau panggil Om Papa." Ramadhan menolak permintaan Ricky yang memperbolehkannya memanggil Papa.


Hati Ricky semakin tersayat-sayat saat Ramadhan menolak memanggilnya Papa. Ricky menarik nafas yang terasa sesak di dadanya menatap buah hatinya itu.


" Ya sudah, Rama kembali bermain dulu, ya! Om mau selesaikan pekerjaan Om terlebih dahulu." Ricky akhirnya meminta Ramadhan kembali bermain dengan mainan yang baru dibelinya sepulang menjemputnya tadi.


" Ya Tuhan, akan sampai kapan seperti ini?" keluh Ricky dalam hati.


Ricky mendegus seraya mengusap kasar wajahnya.


" Kenapa dia masih saja membenciku? Apa aku tidak pantas mendapat maaf darinya?" Ricky menyayangkan sikap Anindita yang masih saja berkeras hati.


Saat Ricky mengingat Anindita tiba-tiba saja dia teringat akan perkataan wanita paruh baya yang dia jumpai sore tadi. Ucapan wanita itu yang mengatakan tentang kemalangan yang akan menimpa Anindita seketika mengusik hatinya.


Walaupun Ricky mendapat penjelasan dari cucu wanita paruh baya itu jika wanita itu sering berucap ngelantur, tetap saja kata-kata tentang sesuatu yang buruk akan menimpa Anindita dan bayinya membuat pikirannya tidak tenang.


***


Entah berapa kali Anindita berpindah-pindah posisi tidur mencari tempat yang nyaman namun tak juga membuatnya bisa terlelap padahal waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam.

__ADS_1


Hati Anindita dilanda kecemasan. Banyak hal yang membuat hatinya tak tenang saat ini. Dari rasa kangen dengan suaminya, masalah dengan Putri. Terlebih lagi perkataan wanita tua yang dia temui di cafe sore tadi.


Anindita mendesah, sementara suaminya sejak tadi tak juga menghubunginya membuat cairan bening mulai menetes di pipinya, karena tiba-tiba saja hati Anindita dilanda ketakutan yang teramat sangat.


Ddrrtt ddrrtt


Anindita langsung meraih ponsel saat benda pipih itu berbunyi. Dan dia semakin terisak saat dilihat suaminya itu menghubunginya melalui video call.


" Assalamualaikum, Sayang ..." sapa Arya saat wajahnya muncul di layar ponsel Anindita.


" Hiks ... hiks ..." bukannya menjawab salam, Anindita malah terisak.


" Sayang, kenapa kamu malah menangis?"


" Mas, aku takut ..." Anindita tak menghentikan tangisannya.


" Takut? Kamu takut apa? Apa ada hantu di sana?" tanya Arya berkelakar.


Anidnita semakin tersedu menanggapi candaan dari suaminya itu.


" Hei, kenapa semakin menangis? Cerita sama Mas, ada apa?"


" Mas kapan pulang?" tanya Anidnita mencoba menyeka air matanya.


" Besok pagi-pagi Mas mau ke Jogya dulu. Nanti rencananya Mas pulang ke Jakarta dari sana."


" Iya memang acara reuninya sudah selesai. Cuma rencananya besok pagi Mas dan beberapa teman ingin menjenguk guru Mas dulu yang sekarang ini tinggal di panti wreda. Kasihan, beliau diasingkan pihak keluarganya di panti jompo oleh pihak keluarganya." Suara Arya terdengar sangat prihatin menceritakan kondisi mantan pengajarnya itu.


" Memang guru Mas itu nggak punya anak?" tanya Anindita.


" Punya, tapi anaknya itu sibuk dengan karirnya sampai melupakan orang tuanya sendiri. Sungguh miris sekali. Saat usia Beliau produktif, mereka bekerja untuk membesarkan dan menyekolahkan anaknya. Namun saat anak-anaknya sudah menjadi orang seakan melupakan dan tak menganggap keberadaannya. Karena itu Mas sengaja mengajak teman-teman Mas menjenguk beliau."


" Ya Allah, kasihan sekali, Mas." sahut Anindita ikut merasa prihatin. Namun dia merasa tersentuh karena mengetahui hati suaminya yang sangat mulia.


" Iya, Sayang. Mas nggak ingin saat sudah tua nanti kita mengalami hal seperti itu. Karena itu sejak dini kita harus memberikan ajaran yang benar dan rasa tanggung jawab pada anak-anak kita kepada orang tua saat mereka dewasa kelak. Aku ingin saat memasuki usia senja nanti, aku menikmatinya berdua denganmu di rumah kita, dengan anak-anak dan cucu-cucu kita yang setiap saat datang mengunjungi kita," ucap Arya penuh harap.


" Aamiin, Mas." Anindita menyahuti.


" Oh ya, bagaimana kabar anak-anak hari ini? Dedek bayi apa masih rewel di dalam perut Mama? Mana, Mas mau lihat perut kamu, Sayang."


Anindita menyibak baju dasternya hingga memperlihatkan perutnya yang sudah mulai membuncit.


" Ah, rasanya Mas kangen yang ada di bawah perut kamu itu, Sayang." Arya menyeringai.

__ADS_1


" Mas ..." Anindita buru-buru menutup kembali dasternya.


Arya terkekeh menanggapi sikap pemalu Anindita.


" Kok ditutup, Sayang? Mas belum menyapa calon bayi kita." Arya meminta Anindita memperlihatkan kembali perutnya.


Anindita menuruti apa yang diperintahkan Arya. Anindita melihat telapak tangan Arya di layar ponselnya.


" Anak Papa Sayang, baik-baik ya di perut Mama. Jangan bandel, jangan buat Mama repot. Jadilah anak yang Sholeh kelak. Papa sayang kamu, Nak." Kini terlihat bibir Arya mendekatkan ke layar ponselnya. Seolah perut Anindita yang dia cium.


" Oh ya, bagaimana Putri dan Rama? Apa mereka membuat Mamanya kesal?" Kini Arya fokus menanyakan kedua anak yang lainnya.


Anindita mendesah mengingat kejadian terakhir dengan Putri sore tadi.


" Mas, maafkan aku. Aku tadi sedikit bicara dengan nada keras kepada Putri." Anindita merasa bersalah.


" Kenapa? Apa Putri melawan kamu?" tanya Arya dengan nada bicara yang tenang karena dia mengenal sifat Anindita. Dia tidak akan berbicara dengan nada keras jika dia tidak merasa terusik.


" Tadi Putri hampir keceplosan mengatakan jika Tuan Ricky itu Papanya Rama."


" Ya ampun, kenapa Putri sampai bicara seperti itu?" tanya Arya terkesiap.


" Aku sendiri nggak tahu, Mas. Kenapa Putri bicara seperti itu."


" Ya sudah, aku minta maaf kalau perkataan Putri menyakiti kamu." Arya justru mewakili putrinya meminta maaf kepada Anindita.


" Nggak, Mas. Aku juga salah. Harusnya aku lebih sabar dan bisa menahan emosi." Anindita merasa semakin bersalah karena sikap Arya yang justru tidak marah kepadanya.


" Ya sudah, kita lupakan saja hal itu. Sekarang kamu istirahat saja. Sudah hampir larut. Kamu harus jaga kesehatan kamu dan anak kita."


" Iya, Mas."


" Mas tutup dulu teleponnya. I love you, Anindita


Assalamualikum."


" Aku juga sayang kamu, Mas Arya. Cepatlah pulang. Kami semua menunggumu di sini. Waalaikumsalam" Anindita kemudian menutup teleponnya dan mencoba untuk terlelap. Walaupun dia sudah berkomunikasi dengan suaminya namun entah mengapa hal itu tak membuat rasa gelisah di hatinya itu hilang begitu saja.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading❤️


__ADS_2