ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu

ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu
Kehilangan Jejak


__ADS_3

Mobil yang dikendarai oleh Zul berhenti di sebuah rumah berlantai dua dengan desain megah dan elegan. Nampak beda dengan saat dia tinggal di sana dulu. Anindita menoleh ke bangunan sebelah kanan dan kiri untuk memastikan jika rumah yang ada di hadapannya memang rumah milik Koh Leo. Anindita tersenyum, dia merasa bahagia melihat Koh Leo semakin sukses jika dilihat dari berubahan bangunan rumahnya saat ini.


Anindita berjalan mendekati pintu gerbang untuk bicara dengan satpam yang menjaga rumah itu.


" Assalamualaikum, permisi, Mas. Koh Leo sama Ci Sandra nya ada?" tanya Anindita kepada satpam yang terlihat masih muda yang berjaga di gerbang.


" Koh Leo? Ci Sandra siapa ya, Mbak? Di sini tidak ada yang bernama itu," sahut satpam itu.


" Koh Leo, Ci Sandra itu pemilik rumah ini, Mas." Anindita menjelaskan.


" Mungkin Mbak nya salah orang. Di sini tidak ada nama itu." Satpam itu menegaskan sekali lagi.


Anindita mundur beberapa langkah untuk melihat nomer rumah di pagar, dan memang benar rumah di depannya lah yang dia ingat sebagai rumah Koh Leo dan Sandra.


" Memangnya rumah ini milik siapa, Mas?" tanya Anindita setelah mendekat kembali ke pintu gerbang karena penasaran.


" Mbak, saya bilang di sini tidak ada yang namanya Leo dan Sandra, ya sudah! Nggak perlu tanya-tanya di sini rumah siapa-siapa! Mbak ini mau bermaksud jahat, ya? pakai modus salah alamat. Cantik-cantik tapi tukang tipu!" hardik satpam itu.


" Astaghfirullahal adzim, saya benar-benar mencari alamat Koh Leo dan Ci Sandra kok, Mas. Saya bukan penjahat." Anindita nampak kesal dituduh yang tidak-tidak oleh satpam tadi.


" Hei, kamu bisa bicara yang sopan tidak terhadap orang yang bertanya baik-baik?!"


Arya yang sejak tadi menerima telepon langsung turun dari mobil saat dia melihat istrinya sempat mundur beberapa langkah sebelum akhirnya mendekat kembali ke pintu gerbang. Dan saat dia mendengar istrinya dibentak, Arya langsung bereaksi.


" Kamu menuduh istri saya, saya bisa menuntut kamu, lho!" Arya sedikit mengancam.


" Baru dapat kerjaan jaga rumah saja sudah sombong, apalagi dapat jabatan tinggi, kamu!" Arya terlihat marah.


" Mas, sudah ... nggak apa-apa, kok." Anindita merangkul lengan suaminya seraya mengelus dada Arya agar tidak emosi.


" Maaf, Pak. Habis Mbak ini saya bilang di sini nggak ada nama yang dia cari tapi ngotot saja." Satpam itu mencoba membela diri.


Anindita mengerutkan keningnya saat dibilang ngotot oleh satpam itu.


" Heh, istri saya itu dulu pernah menetap di rumah ini makanya dia ngotot. Kalau memang tidak ada kamu bisa bicara baik-baik nggak usah nuduh yang tidak-tidak terhadap istri saya!" geram Arya.


" Mas, sudah ... nggak usah diladeni orang seperti itu." Anindita menarik lengan suami agar menjauh dari gerbang namun tiba-tiba sebuah mobil CR-V putih berhenti di depan gerbang dan satpam itu segera membukakan pintu.

__ADS_1


Tak lama kaca jendela mobil itu pun terbuka, dan seorang wanita paruh baya memakai hijab dan berkaca mata hitam menatap ke arah Anindita.


" Ada apa ya, Mbak?" tanya wanita itu ramah.


" Oh maaf, Bu. Saya ingin bertemu pemilik rumah ini." Anindita menjawab pertanyaan wanita itu dengan santun.


" Saya pemilik rumah ini. Ada perlu apa, Mbak?" tanya Ibu itu.


" Ibu pemilik rumah ini?" Anindita terkesiap.


" Benar, Mbak. Mbak ada perlu sama saya?"


" Oh, maaf, Bu. Dulu di sini rumah bos saya soalnya saya pernah menetap di sini."


" Oh, mungkin benar. Saya baru pindah ke sini satu setengah tahun lalu, Mbak. Mungkin yang Mbak cari pemilik lama rumah ini, ya? Pak Johan?"


" Johan?" Anindita kembali membulatkan matanya.


"Jika rumah ini dijual oleh Koh Johan lalu Koh Leo dan Ci Sandra tinggal di mana?" batin Anindita cemas.


" Iya, saya membelinya dari Johan. Apa Johan itu mantan bos Mbak ini?" tanya wanita itu.


* Wah, kalau urusan itu saya kurang paham, Mbak."


" Ya sudah, Bu. Terima kasih informasinya. Assalamualaikum ..." Anindita berpamitan.


" Waalaikumsalam ..." Wanita itu menyahuti sebelum akhirnya masuk dalam pekarangan rumahnya.


" Johan itu apa orang yang dulu pernah menginginkan kamu, Nin?" tanya Arya sesampainya di dalam mobil.


" Iya, Mas. Dia yang akhirnya menyebabkan aku keluar dari rumah ini." Anindita mendesah.


" Aku khawatir, Mas."


" Khawatir apa?"


* Ibu tadi bilang pindah ke sini satu setengah tahun lalu dan kejadian aku keluar dari sini sekitar dua tahun lalu. Aku takut Koh Johan mengambil rumah Koh Leo itu sebagai balas dendam Koh Johan karena aku pergi dari sini, Mas." Seketika rasa bersalah merayap di hati Anindita. Jika apa yang diduganya benar, dia benar-benar merasa sedih. Karena kebaikan Koh Leo dan Sandra malah dia balas dengan membuat mereka menderita.

__ADS_1


***


Arya dan Anindita keluar dari mobil, menatap sebuah bangunan mini market yang nampak kosong dan sepertinya sudah lama tidak digunakan. Bahkan papan nama Leo Market sudah tidak terpasang di bangunan itu.


" Ya Allah, kok jadi begini?" Anindita menatap nanar bangunan tempat dia bekerja dulu.


" Coba kita tanya ke yang orang yang jualan di sana." Arya menunjuk ke penjual warung makanan yang ada di samping mini market itu.


Anindita pun menuruti apa yang diucapkan Arya.


" Assalamualaikum, Bu Jum apa kabar?" tanya Anindita kepada pemilik kedai makanan yang sejak dia kerja dulu sudah berjualan di sana.


" Waalaikumsalam, siapa, ya?" tanya wanita paruh baya yang bernama Ibu Jum itu.


" Ibu lupa sama saya? Saya Anin, Bu. Dulu saya pernah kerja di mini market sebelah, Leo Market." Anindita mencoba mengembalikan ingatan Bu Jum.


" Oalah, Nduk. Bu Jum sampai pangling. Ayu tenan sampeyan, Nduk." Bu Jum mulai mengingat Anindita.


Anindita tersenyum menanggapi pujian yang diucapkan Anindita.


" Oh ya, Bu. Kalau mini market ini kok tutup, ya? Pindah kemana memangnya, Bu?" tanya Anindita kemudian.


" Iya, Nin. Sudah setahun ini tutup. Tadinya mini market ini diambil alih sama saudara Koh Leo. Tapi lama-lama malah jadi bangkrut terus tutup." Bu Jum menceritakan.


" Lalu nasib Koh Leo dan Ci Sandra bagaimana ya, Bu? Saya tadi ke rumahnya tapi ternyata rumahnya juga sudah dijual."


" Bu Jum sendiri nggak tahu, Nin. Kabar Koh Leo seolah menghilang sejak toko itu diambil alih. Cuma ada seletingan yang bilang Kok Leo jatuh sakit nggak lama setelah itu."


" Ya Allah ..." Anindita menutup mulutnya. Dia merasa sedih mengetahui mantan bos nya ternyata terpuruk setelah kepergiannya. Setelah rumah Koh Leo dijual dan mini market Leo Market bangkrut, Anindita tidak tahu lagi harus mencari di mana keberadaan mantan bosnya itu. Dia benar-benar kehilangan jejak orang yang sangat berjasa baginya. Orang yang menolong saat dia merasa terpuruk akibat peristiwa malam itu.


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Kakak² readers yg baik hati jangan lupa like & komennya ya, cz Othor butuh buat naikin level novel ini. Rencananya bulan depan klo ASKML ini bisa naik level, Othor mau up 2 bab perhari biar kejar target 60rb kata perbulan. Untuk bulan ini karena KCA levelnya lebih tinggi makanya bulan ini Othor lebih fokus up banyak di KCA. Jadi mohon dukungannya ya, makasih🙏🙏


Happy Reading❤️


__ADS_2