ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu

ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu
Ayah Biologis


__ADS_3

" Ibu sebaiknya diminum susunya selagi hangat." Cika kemudian menyerahkan gelas berisi susu hamil rasa vanila kepada Anindita sehingga membuat Anindita meneguk habis susu itu dan menyerahkan gelasnya kembali kepada Cika.


" Semoga bayi yang ada di kandungan ibu selalu sehat," ucap Cika saat menerima gelas kosong dari tangan Anindita.


" Aamiin, makasih, Cika." jawab Anindita.


" Kalau begitu saya permisi, Bu. Selamat malam, selamat beristirahat, Bu." pamit Cika. Hampir setiap kalimat yang terlontar dari mulut gadis itu terdengar santun.


" Selamat malam, Cika. Terima kasih ..." sahut Anindita.


Selepas Cika keluar dari kamar Anindita, Anindita pun kemudian menaruh beberapa foto Arya dan dirinya di atas nakas. Dia kemudian mengambil satu foto pernikahan mereka, lalu duduk di tepi tempat tidur seraya mengusap gambar Arya di foto itu.


" Semuanya serasa seperti mimpi, Mas. Kamu terlalu cepat meninggalkan kami." Setitik demi setitik air mata jatuh menetes di pipinya.


" Kenapa kamu tega ninggalin aku, Mas?" Anindita mendekap erat foto di dadanya sementara air mata terus saja mengalir deras di pipinya


Sementara itu di dalam kamarnya Ricky baru selesai membersihkan diri dan mengganti pakaian. Dia lalu merebahkan tubuhnya dengan tangan dilipat di bawah kepala sebagai bantal.


Ricky menatap langit-langit kamarnya. Posisi kamar dia tepat berada di bawah kamar yang ditempati oleh Anindita saat ini.


Ricky menghela nafas panjang.


" Maaf jika saya harus memaksamu, Anin. Karena saya benar-benar tidak tenang jika harus membiarkanmu dan Rama di tempat yang tak layak dijadikan tempat tinggal untuk kalian," gumam Ricky.


" Maafkan saya, Pak Arya. Saya akan memperlakukan Anin dengan cara saya sendiri, tapi saya pastikan saya tidak akan menyakiti dia sedikitpun." kembali Ricky bergumam.


***


" Selamat pagi, Bu." sapa Cika saat Anindita masuk ke ruangan dapur.


" Pagi, Cika. Kamu sedang masak apa?" tanya Anindita.


" Saya sedang buatkan nasi goreng untuk sarapan Ibu dan Rama.


" Kamu jangan repot-repot, Cika. Kamu 'kan katanya kuliah." Anindita merasa tidak enak hati dilayani seperti Nyonya besar oleh Cika.


" Tidak apa-apa kok, Bu. Saya berangkat jam tujuh. Ini masih jam enam. Hanya menyiapkan sarapan pagi tidak masalah." Cika lalu menaruh nasi goreng yang sudah dia buat ke atas dua buah piring dan meletakan omelet di atasnya.

__ADS_1


" Sarapannya sudah siap, Bu. Ini tidak pedas, kok." ujar Cika. "Oh ya, Rama belum bangun, Bu?" tanya Cika kemudian.


" Sudah, dia sedang video call dengan ayahnya." jawab Anindita seraya menarik kursi dan mendudukkan tubuhnya di kursi itu. Tanpa sadar Anindita menyebutkan kata ayah pada Ricky.


" Darah memang lebih kental daripada air, Bu . Dan Rama memang kelihatan akrab sekali dengan Pak Ricky."


" Rama memang mudah akrab dengan siapa saja termasuk dengan Tuan Ricky," ucap Anindita.


" Maaf Ibu jika saya lancang bertanya, kenapa Ibu memanggil Tuan pada Pak Ricky? Ibu ini 'kan Ibu dari anaknya Pak Ricky. Terdengar kurang enak di telinga dengan sebutan itu." Cika berpendapat.


" Lantas saya mesti panggil apa, Cika? Saya ini hanya orang biasa, dan saya juga hanya bekerja sebagai pelayan di toko bunga." Anindita merendah.


" Ibu bisa panggil dengan sebutan Pak Ricky. Itu saya rasa lebih enak didengar, Bu."


" Saya tidak terbiasa, Cika. Tidak enak juga rasanya harus memanggil dengan sebutan itu. Karena sudah terbiasa memanggil dengan sebutan Tuan." Anindita menyahuti.


" Oh gitu ya, Bu ..." Cika menganggukkan kepala tanda mengerti. " Oh ya, Bu. Nanti sebelum jam dua belas saya usahakan bisa sampai sini untuk menyiapkan makan siang. Dan sepulang kuliah saya akan membantu ibu memindahkan baju-baju Ibu dan Rama ke lemari."


" Kamu nggak usah buru-buru pulang, Cika. Karena saya juga mesti berangkat kerja, dan baru pulang sekitar jam empat sore." Anindita yang mendengar Cika akan kembali ka apartemen siang hari untuk menyiapkan makanan untuknya langsung memberitahukan jika dirinya pun tidak akan ada di tempat jam segitu.


" Ibu mau bekerja? Tapi Pak Ricky bilang Ibu tidak akan ke mana-mana, hanya di apartemen saja." Cika mengerutkan keningnya.


" Tapi Rama itu 'kan tetap darah daging Pak Ricky, Bu. Dia tetap berhak mendapatkan kehidupan yang layak dari Pak Ricky."


" Iya, mungkin Rama memang punya hak untuk itu. Tapi saya dan anak dalam kandungan saya ini tidak. Tuan Ricky memang ayah biologis untuk Rama, tapi saya? Saya dan anak dalam kandungan saya bukanlah siapa-siapa bagi Pak Ricky."


" Ayah biologis itu apa sih, Ma? Tadi Mama bilang Om Ricky ayah biologis Rama."


Deg


Bola mata Anindita membulat sempurna saat dia mendengar suara anaknya yang bertanya seputar ayah biologis.


" Eh, Rama sudah bangun, ya? Rama sudah mandi belum? Mandi dulu yuk sama Mbak Cika, setelah itu sarapan sama Mama Rama." Cika langsung mengalihkan perhatian Ramadhan yang mempertanyakan maksud dari ucapan Anindita.


Anindita menarik nafas lega karena Cika dengan sigap mengatasi Ramadhan. Dia kemudian kembali ke arah kamarnya untuk menyiapkan baju sekolah untuk Ramadhan.


***

__ADS_1


" Mama ayo cepat, nanti Rama kesiangan sekolahnya," keluh Ramadhan yang sudah memakai backpack di punggungnya.


" Sebentar, Sayang. Mama mau pesankan ojek onlinenya dulu," jawab Anindita.


Teettt


" Ma, itu ojeknya datang! Buruan!!" seru Ramadhan saat mendengar suara bel berbunyi.


" Bukan, Sayang. Ini Mama baru mau pesan." Anindita bergegas menuju pintu untuk membukakan pintu.


" Tuan?" Anindita sedikit terkesiap mendapati Ricky yang datang.


" Selamat pagi, Nyonya." sapa Ricky mengembangkan sedikit senyuman.


" Om Ricky ..." Ramadhan yang melihat kedatangan Ricky langsung berlari menghampiri.


" Hai, Rama ..." Ricky mengusap kepala Ramadhan yang sudah tersisir rapih.


" Om mau antar Rama sekolah, ya?" tanya Ramadhan.


" Rama ingin diantar sama Om Ricky ke sekolah? " Ricky melipat lututnya hingga kini dia duduk berjongkok di hadapan Ramadhan.


" Iya, Om. Rama mau diantar sama Om Ricky. Enak naik mobilnya Om Ricky, keren. Hihihi ..." Ramadhan terkikik seraya menaikan jempolnya.


" Rama mesti tanya sama Mama Anin dulu, apa boleh Om Ricky antar Rama sekolah?" Ricky melirik ke arah Anindita yang berdiri tepat di sampingnya.


Anindita membelalakkan matanya mendengar ucapan Ricky tadi.


" Ma, boleh ya, Ma. Om Ricky antar Rama ke sekolah?" Ramadhan menarik-narik tangan Anindita meminta ijin kepada Anindita agar Mamanya meluluskan keinginannya itu.


" Hmmm, Rama ... Tu- eh, Om Ricky itu sibuk. Om Ricky harus berangkat ke kantor. Kalau antar Rama nanti Om Ricky akan terlambat masuk kerjanya." Anindita berusaha menolak secara halus agar anaknya mengerti alasan yang diberikannya.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading ❤️


__ADS_2