
Anindita berjalan mendahului Ricky, apa yang terjadi di mobil tadi membuat Anindita merasa kembali tak nyaman berdekatan dengan Ricky.
Ricky pun karena kejadian tadi langsung salah tingkah, tentu saja dia merasa sangat malu. Dia berpikir pasti Anindita beranggapan negatif terhadapnya.
Sesampainya di apartemen Anindita langsung masuk ke dalam kamar setelah sebelumnya menyuruh Tita mengurus Ramadhan yang tertidur dalam dekapan lengan Ricky.
Setelah melepas gaunnya dan memakai slip dress selutut, Anindita lalu membersihkan wajahnya yang tadi berhias make up. Setelah itu dia merebahkan tubuhnya yang sekarang ini mudah terasa lelah ke atas tempat tidur.
Sementara itu sesampainya Ricky di dalam apartemennya, pria itu nampak kesal karena ulah Edward yang membuatnya jadi salah tingkah di hadapan Anindita.
" Si*alan, Edo!" umpat Ricky mendengus kasar. Dia duduk bersandar di sofa di kamar tidur kemudian mengambil ponsel dari saku blazernya dan kembali membuka pesan video dari Edward. Ricky justru terlihat serius menonton aktivitas dua orang berlawanan jenis sedang memadu kasih dan melakukan penyatuan yang membuat si wanita di video itu mendesah dan melenguh seakan menikmati permainan yang dilakukan oleh pria di video yang terdurasi beberapa menit itu.
Ricky mengusap kasar wajah dan tengkuknya, kemudian melepas beberapa kancing bagian atas kemejanya dan mulai nampak gelisah. Tanpa dia sadari apa yang dilihatnya mulai memacu adrenalinnya dan membangkitkan ga*irah nya, bahkan sesuatu di bagian bawahnya mulai nampak mengeras.
Saat melihat si wanita di video itu nampak agresif memimpin permainan, Ricky sampai berhalusinasi membayangkan wanita itu adalah Anindita. Dengan gerakan refleks tangan Ricky mengusap bagian bawahnya yang menegang dan masih terbalut celana katun.
" Ah, si*al, Edo!" Ricky mengerjap lalu melempar ponselnya ke sudut sofa kemudian dia bangkit dan berjalan menuju arah bathroom di kamarnya.
***
Usia kandungan Anindita sudah masuk minggu ke tiga puluh delapan. Wanita itu tinggal menunggu waktu melahirkan yang diperkirakan akan terjadi satu Minggu lagi.
Pagi ini, seperti biasa semua sarapan pagi bersama di apartemen yang disebut Ricky adalah apartemen milik Ramadhan. Anindita, Ricky, Ramadhan dan juga Mama Arya terlihat menyantap hidangan sarapan pagi.
" Dimakan buahnya ya, Nin." Mama Arya menyodorkan potongan buah apel ke Anindita setelah mereka menghabiskan sarapannya.
" Makasih, Ma." Anindita pun kemudian menghabiskan potongan buah apel yang disodorkan Mama mertuanya itu dengan lahap.
" Mbak Tita ...!" seru Anindita memanggil ART nya itu.
" Ada apa, Bu?" Tita mendekat ke arah meja makan.
" Mbak tolong kupasin dan potongin apel satu lagi, saya masih kepingin makan apel lagi." ucap Anindita.
" Apelnya habis, Bu. Adanya tinggal pear sama anggur, nanti siang rencananya mau belanja lagi," sahut Tita.
" Pear saja kalau begitu, satu saja dan tolong dikupas kulitnya ya, Mbak!" pinta Anindita.
" Baik, Bu." Tita kemudian mengambil satu buah pear besar untuk dia kupas dan potong-potong.
__ADS_1
" Sshhh ..." Anin mengusap kasar punggungnya.
" Kenapa, Anin?" tanya Mama Arya. " Apa sudah mulai terasa?"
" Apa akan melahirkan?" Ricky langsung berdiri lalu mendekat dan berdiri di samping Anindita duduk.
Anindita menggelengkan kepalanya.
" Punggung Anin rasanya kaya kram, Ma." keluh Anindita.
" Tanda-tanda mendekati melahirkan memang seperti itu," sahut Mama Arya.
" Apa Anin akan melahirkan sekarang, Bu?" tanya Ricky kepada Mama Arya.
" HPL nya satu Minggu lagi, Nak." Mama Arya menjawab pertanyaan Ricky yang menampakkan kecemasan.
" Apa sudah ada flek, Nin?" tanya Mama Arya.
" Belum sih, Ma." jawab Anindita.
" Jadi kapan Anin harus ke rumah sakit, Bu?" tanya Ricky.
" Saya sudah bilang ke adik saya untuk menyiapkan kamar persalinan dalam waktu satu Minggu ke depan untuk Anin, Bu." Ricky menjelaskan.
" Terima kasih ya, Nak." Mama Arya sungguh merasa terharu terhadap sikap Ricky yang begitu memperhatikan kehamilan Anindita meskipun itu bukan darah dagingnya sendiri.
" Ssshhh ..." Anindita kembali mengusap punggungnya yang terasa nyeri.
" Sebaiknya kamu kembali ke kamar saja, Anin." perintah Mama Arya melihat menantunya itu terus saja meringis.
" Bu, apa sebaiknya kita ke rumah sakit sekarang saja?" cemas Ricky.
" Gimana, Nin? Apa kamu mau ke rumah sakit sekarang?" Mama Arya menyerahkan keputusan kepada Anindita.
" Mama mau melahirkan ya, Eyang?" tanya Ramadhan yang melihat Mama nya nampak kesakitan.
" Iya, sebentar lagi adiknya Rama akan lahir," jawab Mama Arya.
" Kita ke rumah sakit sekarang saja." Ricky kemudian mengeluarkan ponselnya ingin menghubungi adiknya.
__ADS_1
" Nggak usah, cuma kram sebentar lagi juga reda." Anindita menolak permintaan Ricky yang akan membawanya ke rumah sakit sekarang ini. Kemudian dia bangkit dari tempat duduk.
" Kamu mau ke mana?" tanya Ricky memegang lengan Anindita..
" Saya mau ke kamar."
" Nak, sebaiknya antar Anin ke kamarnya nanti Mama menyusul ke sana." Mama Arya meminta Ricky mengantar Anindita ke kamar.
" Baik, Bu." Ricky kemudian membawa Anindita ke kamarnya. Karena rasa sakit yang dirasa Anindita membuat wanita itu tak menolak bantuan Ricky.
Sesampainya di kamar, Anindita merebahkan tubuhnya dengan posisi miring karena punggungnya masih terasa nyeri.
" Kalau kamu merasa nggak kuat menahan rasa sakitnya sebaiknya kita ke rumah sakit saja biar ada yang menanggani kamu." Ricky yang duduk di tepi tempat tidur kembali membujuk wanita yang tidur membelakanginya itu.
" Saya nggak apa-apa, kemarin juga seperti ini nanti juga hilang sendiri." Anindita bersikukuh menolak ajakan Ricky.
" Nak, kalau kamu mau berangkat, berangkat saja nggak apa-apa. Anin biar Mama yang urus." Mama Arya yang sudah sampai di kamar Anindita menyuruh Ricky meninggalkan Anindita karena dia tahu pria itu mempunyai aktivitas rutin. Posisi Ricky yang sangat vital di perusahaan tempat dia bekerja membuatnya tidak bisa seenaknya saja melanggar waktu kerja Ricky. Itulah yang ada di pikiran Mama Arya.
" Saya tidak bisa bekerja dengan tenang kalau melihat Anindita seperti ini, Bu." Sementara Ricky sendiri berniat mengambil cuti menjelang hari melahirkan Anindita.
" Tapi kamu mesti bekerja, Nak. Tidak enak dengan bos kamu itu kalau kamu telat berangkat karena mengurusi Anin." Mama Arya menyampaikan rasa khawatirnya jika sikap Ricky akan berimbas dengan pekerjaan pria itu.
" Bu, saat ini Anin jadi prioritas utama saya. Saya ingin memastikan Anin baik-baik saja sampai dia melahirkan dengan selamat. Tidak masalah Pak Dirga akan marah atau menganggap saya tidak profesional. Karena saya ingin menebus kesalahan saya dulu terhadap Anin dan Rama," tegas Ricky seraya menggenggam tangan Mama Arya.
" Tapi kalau sampai kamu dikeluarkan dari perusahaan bagaimana, Nak?" Bola mata Mama Arya mulai mengembun karena dia sudah menganggap Ricky seperti anaknya hingga dia merasa khawatir dengan karir Ricky.
" Saya masih bisa mencari pekerjaan di tempat lain, Bu. Saya yakin banyak perusahaan lain yang mau menerima saya bekerja di sana dan jika itu sampai terjadi maka suatu kerugian besar untuk Angkasa Raya, karena Pak Dirga selama ini sangat mengandalkan saya," tegas Ricky dengan penuh percaya diri.
*
*
*
Bersambung...
Readers tercinta, kisah Ramadhan sudah nongol nih, silahkan masukin ke daftar favorit kasih dukungan like & komennya ya, Makasih🙏
__ADS_1
Happy Reading❤️