ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu

ANINDITA, Sepenggal Kisah Masa Lalu
Dua Garis Merah


__ADS_3

Satu bulan berlalu, Anindita benar-benar merasakan kehidupan yang sempurna. Menjadi seorang ibu rumah tangga. Mempunyai seorang suami yang begitu mencintainya dan selalu menghujaninya dengan kasih sayang. Mempunyai anak yang pintar dan anak sambung yang akhirnya bisa menerima kehadirannya.


" Anak-anak sudah tidur?" tanya Arya saat melihat Anindita masuk ke dalam kamar.


" Sudah, Mas." Anindita melonggarkan tali rambutnya hingga tidak terlalu kencang mengikat rambut panjangnya.


" Sekarang giliran Papanya yang dikelonin." Arya menyeringai seraya menaruh buku yang sedang dibacanya di atas nakas.


" Memang Papanya nggak bisa tidur kalau nggak dikelonin, ya?" Anindita kini sudah mulai terbiasa meladeni interaksi Arya yang kadang senang menggodanya.


" Sudah pasti itu." Arya merentangkan tangannya dan Anindita pun segera menjatuhkan diri ke dalam pelukannya hingga tak lama tubuhnya kini sudah berada di atas tubuh Anindita.


" Kamu semakin hari semakin cantik, Sayang." Arya mendekatkan bibirnya dengan milik sang istri. Memberikan sentuhan yang sangat menghanyutkan membuat Anindita terbuai kenikmatan, hingga kini dia pun merangkulkan lengannya ke leher Arya.


" Apa kau bahagia menikah dengan Mas, Sayang?" Kini Arya mulai menjelajahi leher jenjang Anindita dan meninggalkan jejak-jejak merah di kulit putih mulus istrinya itu.


" Rasa bahagiaku nggak bisa diungkapkan lewat kata-kata, Mas." Anindita jujur mengatakan apa yang dirasanya.


" Sudah pandai ngegombal sekarang kamu, ya?" Arya terkekeh. membuat Anindita mencebikkan bibirnya.


" Ya ampun, Mas. Aku serius, kenapa dibilang ngegombal?" protes Anindita.


" Hahaha ... bercanda, Sayang." Arya kembali menautkan bibir mereka hingga menimbulkan suara decapan yang terdengar di dalam ruang kamar itu karena Anindita pun kini mulai tak canggung merespon apa yang dilakukan suaminya itu.


Setelah dirasa cukup melakukan pemanasan dengan menjelajahi hampir seluruh bagian tubuh istrinya, kini Arya mulai melakukan penyatuan sebagai ungkapan rasa cinta mereka berdua.


" Aku mencintaimu, Anindita," bisik Arya memperdalam penyatuan mereka.


" Aku juga mencintaimu, Mas Arya. Aakkhh ..." lirih Anindita dibarengi suara de*sahan panjang karena dia merasakan pelepasan yang membawanya serasa terbang di atas awan.


" Terima kasih, Sayang." Arya mencium seluruh wajah Anindita setelah melepaskan penyatuan dengan istrinya.


" Mas aku lelah, aku mau istirahat. Jangan minta lagi, ya!" pinta Anindita memohon. Karena dia biasanya suaminya itu selalu memintanya mengulang penyatuan mereka.


" Kok cuma sekali?" Arya memprotes karena tentu saja ga*irah dia sebagai pria normal seakan tidak cukup hanya melakukan percintaan hanya satu kali saja.


" Besok lagi, Mas. Rasanya aku lelah sekali," rintih Anindita.


" Ya sudah kalau begitu, kamu istirahat saja." Arya pun membersihkan sisa percintaan mereka dan memakaikan baju tidur istrinya sebelum akhirnya dia ikut bergabung bersama istrinya dan memeluk tubuh Anindita dari belakang.

__ADS_1


***


Anindita menyibak kasar selimutnya karena serbuan rasa mual di dalam perutnya yang naik ke atas dan memaksa ingin keluar. Anindita bergegas turun dari tempat tidur dan berlari ke dalam kamar mandi untuk mengeluarkan apa yang ada di dalam perutnya.


" Huek ... huek ..." Anindita sampai merasakan sesuatu yang pahit di tenggorokannya.


" Huek ... huek ..." Anindita terus merasakan mual di perutnya dan rasa tak nyaman di tenggorokannya.


" Sayang, kamu kenapa?" Arya yang terbangun saat mendengar istrinya muntah-munah langsung menyusul ke kamar mandi


Arya terkejut melihat istrinya duduk terkulai di lantai kamar mandi dekat wastafel.


" Sayang ..." Arya langsung merengkuh tubuh Anindita dan mendudukkannya di atas kloset. Dia melihat wajah Anindita yang nampak pucat dan bermandikan peluh.


" Kamu sakit?" tanya Arya khawatir seraya menyeka peluh Anindita dengan tangannya.


" Aku mual, Mas." keluh Anindita.


" Mual?" Arya menatap Anindita lekat. Tak lama seulas senyuman mengembang di sudut bibirnya.


" Sayang selama kita nikah, Mas belum pernah lihat kamu berhalangan. Apa jangan-jangan ..." Arya langsung mengangkat tubuh Anindita dan membawa keluar dari kamar mandi. Dia lalu merebahkan istrinya itu di atas tempat tidur kemudian dia bergegas memakai bajunya.


" Mas mau ke apotik sebentar."


" Ke apotik? Mau beli apa, Mas? Aku hanya mual, sebentar lagi juga pasti hilang."


Arya menggenggam tangan Anindita.


" Sayang, Mas mau beli alat test kehamilan. Kamu mual dan sudah sebulan ini tidak berhalangan. Mas menduga kalau kamu sedang hamil."


Anindita menutup mulut dengan kedua telapak tangannya dengan mata berbelalak. Dia kemudian teringat ketika awal hamil Ramadhan, dia pun mengalami hal yang sama dengan sekarang ini.


" Aku beneran hamil, Mas?" Anindita seolah tidak percaya.


" Makanya Mas mau beli alatnya dulu. Kamu tunggu sebentar di sini, nanti Mas suruh Tita buatkan air jahe untukmu agar menghilangkan rasa mual, ya!" Arya mengecup kening Anindita sebelum akhirnya keluar kamarnya.


" Ta, Tita ... tolong kamu buatkan air jahe untuk ibu, ya! Saya mau ke apotik sebentar." Perintah Arya kepada Tita yang terlihat baru keluar dari kamarnya.


" Ibu kenapa memangnya, Pak? Sakit?" tanya Tita.

__ADS_1


" Morning sickness, sepertinya anggota keluarga ini akan bertambah, Ta." Arya tersenyum bahagia.


" Maksud Pak Arya, Ibu hamil?" Tita membelalakkan matanya.


" Doakan saja, Ta. Ini saya mau beli alat test packnya. Sudah kamu cepat buatkan minumannya."


" Baik, baik, Pak." Tita dengan semangat langsung menuju dapur, sedangkan Arya menuju ke garasi untuk mengambil motor mencari apotik terdekat yang buka dua puluh empat jam karena saat ini belum masuk waktu Shubuh.


***


Dengan hati berdebar-debar Anindita memasukan test pack ke dalam cairan air seni yang dia isi dalam wadah kecil. Tak lupa dia membaca doa agar apa yang dia dan suaminya harapkan benar-benar menjadi kenyataan. Anindita bahkan memejamkan matanya menunggu hasil alat test kehamilan itu.


Beberapa detik kemudian dia mengeluarkan alat itu dan dia pun mencoba membuka matanya perlahan dan matanya langsung terbelalak setelah mendapati dua garis merah pada alat test pack itu.


" Mas ...! Mas Arya ...!!" teriak Anidita menahan haru atas hasil yang dia dapat dari alat test yang dipegangnya.


" Kenapa, Sayang? Gimana hasilnya?" Arya yang mendengar teriakan Anindita langsung berlari ke kamar mandi.


" A-aku hamil, Mas." Anindita seketika terisak bahagia menunjukkan alat test pack itu ke Arya.


" Kamu benar hamil?" Arya merebut alat test pack itu dari tangan Anindita. Dan dia melihat dua garis merah di alat itu.


" Alhamdulillah, Ya Allah ..." Arya tidak dapat menyembunyikan rasa bahagianya hingga dia mengangkat tubuh Anindita lalu dia berputar-putar begitu excited atas berita membahagiakan ini.


" Mas, jangan berputar-putar aku takut jatuh!" pekik Anindita menanggapi sikap suaminya itu.


" Mas bahagia, Sayang. Akhirnya kita akan segera mempunyai momongan. Anak kita, buah cinta kita." Arya kemudian menyematkan sebuah kecupan penuh kelembutan di bibir Anindita.


*


*


*


Bersambung ...


Kakak Readers jangan Julita jaya sama Mas Arya . Mas Arya itu sosok suami idaman banget gitu malah didoain suruh pisah ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚


Btw yg nunggu up KCA, sebenarnya dari malam Minggu aku udah setor. Total ada 3 bab. Cuma entah kenapa sampai sekarang masih review aja๐Ÿ™„๐Ÿ™„. Harap sabar menunggu saja ya, makasih๐Ÿ™๐Ÿ™

__ADS_1


Happy Readingโค๏ธ


__ADS_2