
" Nin, Cici minta maaf, ya! Cici lupa kasih tahu kamu. Tadi orang itu memang masuk ke toko, tanya-tanya soal kamu, tapi Cici nggak bilang kalau kamu tinggal di sini, kok. Cici juga bilang kalau kamu sudah tidak kerja dari toko. Cici heran bagaimana orang itu bisa sampai ke sini." Lucy mengungkapkan penyesalannya setelah Ricky pergi meninggalkan mereka.
" Bagaimana orang itu bisa sampai ke sini?" tanya Arya heran.
" Anin bilang, dia melihat orang itu waktu antar karangan bunga ke apartemen Angkasa Raya Landmark siang tadi." Lucy yang menjawab pertanyaan Arya.
" Dan orang itu tahu soal Rama. Nin, apa orang itu selama ini mengawasi kamu?" Lucy menduga-duga.
" Saya rasa tidak mungkin orang itu mengawasi Anin selama ini, Ci. Kalau memang selama ini Anin diawasi, kenapa tidak dari dulu orang itu datang kemari? Kenapa setelah Anin secara tak sengaja melihat orang itu siang tadi baru orang itu datang kemari?" Arya berusaha berpikir rasional.
" Iya benar juga, ya!" Lucy menganggukkan kepala tanda setuju.
" Dia sudah tahu tempat ini, dia juga sudah tahu tentang Rama. Bagaimana kalau orang itu datang kemari lagi dan ingin mengambil Rama, Mas?" Anindita kembali tersedu.
" Aku pastikan itu tidak akan terjadi, Nin!" tegas Arya.
" Tapi aku takut, Mas..." cemas Anindita.
"Tidak ada yang perlu kamu takutkan, Nin. Aku akan melindungi kamu." Arya mencoba terus menenangkan Anindita.
" Jadi sekarang bagaimana, Pak Arya?" Lucy pun ikutan cemas.
Arya berpikir sejenak seraya menghela nafas pajang.
" Saya akan membawa Anin dan Rama keluar dari tempat ini sekarang juga, Bu Lucy," tegas Arya.
Sontak apa yang dikatakan Arya membuat Anindita terperanjat.
" Mas Arya mau bawa aku ke mana?" tanya Anindita.
" Malam ini aku akan carikan kamu penginapan. Nanti kalau aku sudah suruh orang merapihkan rumah pribadiku, aku akan membawa kamu untuk tinggal di sana. Karena rencananya setelah kita menikah nanti kita akan tinggal di sana." Arya membelai kepala Anindita.
Anindita kini menoleh ke arah Lucy seolah dia meminta persetujuan bos nya itu.
" Cici setuju sama Pak Arya, Nin. Karena Cici juga khawatir nanti malam dia kembali lagi ke sini. Cici takut dia memerintahkan orang suruhan untuk menculik kamu, Nin. Karena kalau dilihat dari penampilan dia sama kendaraan yang dia pakai sepertinya dia bukan orang sembarangan lho, Nin." Lucy terlihat paranoid.
" Tidak usah bawa pakaian banyak-banyak. Siapkan beberapa potong saja." Arya kemudian berjalan menuju kamar Anindita. " Mana kopermu? Biar aku bantu siapkan." Arya kemudian menurunkan koper milik Anindita dari atas lemari lalu membantu Anindita mengemas pakaian Anindita juga Ramadhan.
Sementara itu sesampainya Ricky di apartemen, dia langsung mengambil sesuatu di laci meja kerjanya. Dua buah foto yang diberikan Sandra dua tahun lalu kepadanya. Hati Ricky seakan berdesir saat memandangi Ramadhan. Bocah yang tadi dia lihat secara langsung berhadapan dengannya.
__ADS_1
" Ya Tuhan, dia benar-benar darah dagingku." Dada Ricky terasa sesak dan dengan bola mata yang mengembun.
" Dia anakku, darah dagingku." Ricky memeluk erat foto itu. " Sabar ya, Nak. Papa pasti akan datang untukmu." Janji Ricky dalam hati. Dia sangat menyesal karena selama ini telah menelantarkan anaknya itu.
***
Keesokkan hari nya Ricky kembali ke Alabama Florist. Dia adalah pria yang ulet. Apalagi selama lima tahun ini dia berusaha mencari keberadaan Anindita, mana mungkin setelah dia menemukannya dia akan menyerah begitu saja.
Ricky berjalan menuju bangunan tempat kediaman Anindita.
" Ada apa Tuan datang kemari lagi? Mbak Anin sudah tidak tinggal di sana," seorang pegawai toko florist yang kemarin sempat melihat Ricky bersitegang dengan Arya langsung memberitahu Ricky saat melihat Ricky berjalan menuju tempat tinggal Anindita
" Dia di mana sekarang? Apa kamu tahu dia sekarang di mana?" selidik Ricky.
" Maaf saya tidak tahu, Tuan. Permisi ..." pegawai itu langsung meninggalkan Ricky.
Mendengar informasi dari pegawai toko bunga tentang Anindita yang sudah tidak tinggal di sana membuat Ricky akhirnya memilih masuk ke dalam toko florist.
" Tu -tuan?" Mita yang kembali mendapati kemunculan Ricky langsung terkesiap.
" A-ada apa Tuan datang kemari lagi?" tanya Mita.
" Saya ingin mencari Nona Anindita, saya dengar dia sudah pindah dari tempat tinggalnya di belakang. Apa kamu tahu ke mana dia pindah?" tanya Ricky dengan lugas.
" Kalau begitu saya ingin bertemu dengan bos kamu, bisa saya bicara dengan beliau?"
" Sebentar, Tuan. Saya tanyakan dulu apa Ci Lucy sedang sibuk atau tidak." Mita kemudian menelepon Lucy.
" Hallo, Ci. Ci, papanya Rama datang lagi, dia bilang ingin bicara dengan Cici. Gimana, Ci?" ucap Mita berbicara pelan di telepon.
" Datang lagi? Mau apa dia bicara sama saya?" sahut Lucy kaget.
" Nggak tahu, Ci. Jadi gimana ini, Ci?" tanya Mita lagi.
" Ya sudah, suruh masuk saja."
" Baik, Ci." Mita lalu mematikan teleponnya.
" Mari ikut saya, Tuan." Mita pun berjalan menuju ruang kerja Lucy.
__ADS_1
Setelah mempersilahkan Ricky masuk, Mita pun langsung ke luar ruangan Lucy meninggalkan Ricky dan Lucy berdua.
" Permisi, Nyonya. Maaf jika saya mengganggu waktu Anda," sapa Ricky saat memasuki ruang kerja Lucy.
" Ada apa lagi Tuan datang kemari?" Lucy to the point menanyakan. Tentu saja Lucy masih merasa kesal dengan Ricky, karena yang dia tahu adalah Ricky sudah merenggut kesucian Anindita tanpa mengetahui betapa menyesalnya dia selama ini.
" Saya mengerti jika Nyonya bersikap terkesan kurang bersahabat terhadap saya. Mungkin karena Nona Anindita sudah bercerita tentang apa yang saya lakukan dulu terhadapnya. Saya memang breng*sek. Tapi percayalah saya tidak seperti yang Nyonya pikirkan. Saya sangat menyesali perbuatan saya itu. Sehari setelah kejadian malam itu, saya berusaha mencari Nona Anindita namun selama lima tahun ini tidak juga mendapatkan titik temu." Ricky mulai menceritakan kepada Lucy tentang bagaimana usaha dia menyuruh beberapa orang mencari keberadaan Anindita, sampai sempat berhenti karena dia salah menduga orang yang telah menjadi korbannya hingga pertemuan dengan keluarga Koh Leo, orang baik yang selama ini menampung Anindita hingga Anindita melahirkan Ramadhan. Ricky juga menceritakan bagaimana akhirnya Anindita harus keluar dari rumah Koh Leo karena kakak sepupu Leo itu menginginkan Anindita.
Lucy mendengar cerita Ricky soal keluarga Koh Leo semuanya mirip seperti yang pernah Anindita ceritakan kepadanya. Dan akhirnya Lucy pun tahu bagaimana Ricky bisa tahu soal Ramadhan karena Ricky mendapatkan informasi dari Koh Leo. Lucy mendengarkan dan memperhatikan Ricky saat menceritakan semuanya. Dia juga melihat betapa Ricky sangat menyesali perbuatannya itu. Namun Lucy bingung harus berkata apa? Dia tidak mungkin memberitahukan keberadaan Anindita tanpa seijin Anindita terlebih dahulu, walaupun Ricky sudah menyakinkannya jika dia tidak bermaksud mengambil Ramadhan dari tangan Anindita.
Ricky lalu mengeluarkan kartu nama dari dompetnya lalu menyodorkan kepada Lucy.
" Jika Nyonya berubah pikiran dan berkenan memberikan informasi kepada saya, Nyonya bisa hubungi saya di nomer itu."
Lucy hanya diam tak langsung menerima kartu nama yang diletakkan Ricky di meja kerjanya.
" Kalau begitu saya permisi, Nyonya. Maaf jika menganggu waktu Anda." Ricky kemudian bangkit dan meninggalkan ruang kerja Lucy.
Lucy menghela nafas panjang setelah kepergian Ricky, dia sendiri bingung harus bersikap bagaimana. Dia lalu meraih kartu nama yang tadi disodorkan oleh Ricky.
...Ricky Pratama...
...Executive Assistant...
...Angkasa Raya Corporation...
...0811 2xx xxx...
Mata Lucy membulat sempurna, bahkan bulu kuduknya seketika berdiri saat melihat jabatan ayah dari Ramadhan ternyata orang penting di salah satu perusahaan besar di Negeri ini.
*
*
*
Bersambung ....
Yang ikut GA silahkan PC no hp ya, makasih🙏
__ADS_1
Happy Reading❤️